Ulama Tanpa Bimbingan Allah SWT
Ulama Tanpa Bimbingan Dari Allah Swt
Oleh: Syamsul Ulum
Pendahuluan
Artikel ini membahas kritik fundamental terhadap paradigma keulamaan yang berbasis pada hafalan dan reproduksi teks semata, tanpa disertai pemahaman mendalam, analisis rasional, dan pengalaman spiritual langsung. Melalui eksplorasi pemikiran Ibnu Rusyd, Syams Tabrizi, dan Ibn 'Arabi, artikel ini mengungkap perlunya transformasi epistemologi (teori pengetahuan) keilmuan Islam dari sekadar taklid tekstual menuju ilmu laduni yang bersumber dari Allah Swt. Kritik terhadap "ulama tanpa bimbingan Allah" ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan otoritas keilmuan, melainkan untuk mengembalikan esensi ilmu sebagai cahaya hati yang hidup dan kontekstual.
Pada masa klasik Islam, kecenderungan umum masyarakat menganggap bahwa orang alim, ulama, atau cerdik pandai adalah orang yang banyak menghafal pendapat-pendapat para ulama sebelumnya berikut teks-teks mereka, bahkan juga menghafal nama-nama kitab dan silsilah masing-masing mereka sampai Nabi. Semakin banyak hafalan seseorang, semakin dipandang alim allamah. Sebaliknya, orang yang tidak hafal teks, betapapun cerdas dan tangkasnya dia berargumentasi, ia tidak layak disebut orang alim atau ulama, melainkan lebih sebagai cendekiawan, intelektual, sarjana, atau sebutan lainnya.
Pandangan ini mendapat kritik keras dari sejumlah tokoh besar Islam sepanjang sejarah. Artikel ini akan memaparkan kritik-kritik tersebut secara sistematis, dimulai dari Ibnu Rusyd, kemudian Syams Tabrizi, dan diakhiri dengan perspektif Ibn 'Arabi, untuk kemudian ditarik benang merah tentang hakikat keulamaan sejati.
A. Kritik Ibnu Rusyd: Analogi Tukang Sepatu versus Penjual Sepatu
Ibnu Rusyd al-Hafid (w. 1198 M), filsuf, komentator utama Aristoteles, faqih terkemuka dari Andalusia (Spanyol), dan mujtahid besar, melontarkan kritik tajam terhadap para ulama pada masanya yang lebih rajin menghafal teks-teks keilmuan dan mengikuti pandangan-pandangan tekstual para ulama sebelumnya daripada melakukan analisis dan kajian-kajian mendalam, rasional, dan empiris.
Para ahli fiqh, menurut Ibnu Rusyd, seyogyanya tidak terus-menerus bertaklid kepada orang lain dan tidak hanya sibuk menghafal atau mereproduksi fiqh dan pikiran-pikiran para pendahulu mereka. Orang yang menghafal produk-produk hukum para mujtahid, betapapun banyaknya, tidaklah patut disebut "faqih" dan "alim" (ulama). Seseorang baru bisa disebut "faqih" (ahli fiqh) dan "alim" (ulama) jika ia mampu menganalisis dan menggali teks-teks hukum secara mendalam melalui argumen-argumen yang dapat diterima akal sehat (rasional) dan sejalan dengan realitas yang berkembang. Apalagi jika ia bisa menciptakan kerangka dan metodologinya sendiri.
Untuk memperjelas kritiknya, Ibnu Rusyd membuat analogi melalui seorang ahli sepatu. Ahli atau tukang sepatu, katanya, bukanlah orang yang punya banyak sepatu yang siap pakai. Ia bukanlah kolektor sepatu atau pemilik toko sepatu. Memang baik saja orang yang punya banyak koleksi sepatu yang dengannya dia bisa memakainya, menjualnya kepada masyarakat, atau memberikannya kepada yang memerlukannya. Akan tetapi, repotnya adalah jika pada suatu saat ada pembeli atau ada orang yang meminta model terbaru atau dengan ukuran tertentu. Apalagi perubahan gaya hidup adalah keniscayaan hidup. Ia adalah karakter makhluk hidup dan alam semesta. Masyarakat terus berkembang dari waktu ke waktu, cepat bosan, dan selalu ingin hal-hal baru. "Kullu jadīd ladzīdz" (setiap yang baru itu enak). Maka bagaimanakah dia harus memenuhi permintaan orang tersebut bila model baru atau ukuran (size) tertentu tidak tersedia di rumah atau di tokonya? Ia tentu saja tidak bisa melayaninya atau memenuhinya.
Menurut Ibnu Rusyd, ahli atau tukang sepatu adalah orang yang bisa membuat sepatu dan mampu menciptakan serta mengkreasikan model-model yang sesuai dengan trend zamannya. Dengan begitu, ia akan bisa memenuhi kebutuhan orang yang berbeda-beda dan dengan model apa saja yang baru.
Kritik Ibnu Rusyd ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ:
وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ
"Dan Allah membenci kalian yang menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya (hanya katanya dan katanya)..."¹
B. Kritik Syams Tabrizi: "Sampai Kapan Kalian Hanya Mengutip?"
1. Peristiwa Historis di Konya
Suatu hari Syams Tabrizi, sang darwish pengembara dari Tabriz (Persia), hadir dalam pertemuan para ulama di Konya yang diadakan di sebuah "pondok" atau padepokan atau zawiyah. Para ulama itu sedang mendiskusikan sejumlah isu sosial—kira-kira semacam "Bahtsul Masail". Kitab-kitab referensi diletakkan di atas meja yang telah disediakan. Masing-masing ulama menyampaikan pendapatnya atas isu-isu itu sambil mengutip "ibarah" (redaksi/teks) hadits Nabi, al-Atsar (pernyataan sahabat Nabi), dan ucapan para "Auliya" (waliyullah) serta para ulama fiqh yang terkenal.
Syams Tabrizi tampak resah mendengar dan menyaksikan perdebatan itu. Ia terusik dan tak tahan ingin sekali ikut bicara. Ia berdiri dan minta bicara. Lalu dia mengatakan:
إِلَى مَا تَمْضُونَ أَوْقَاتَكُمْ فِي النَّقْلِ عَنْ فُلَانَ وَفُلَانَ. أَلَيْسَ لَدَيْكُمْ شَيْءٌ جَدِيدٌ تَقُولُونَهُ؟ وَمَتَى سَيَقُولُ أَحَدُكُمْ: قَلْبِي نَقَلَ عَنْ إِلَـهِي كَذَا وَكَذَا. بَدَلًا مِنْ أَنْ تَسْتَعِيدُوا كَلَامًا مُكَرَّرًا مَسْمُوعًا وَمَعْرُوفًا؟
"Sampai kapan kalian menghabiskan waktu-waktu kalian dengan mengutip ucapan dari si Fulan dan si Fulan? Apakah kalian tidak memiliki sesuatu yang baru yang kalian katakan sendiri? Kapan ada orang yang mengatakan: 'Hatiku menerima dari Tuhanku begini dan begini,' daripada kalian terus mengulang-ulang perkataan yang sama yang telah didengar dan dikenal sebelumnya?"²
2. Analisis Kritik Syams Tabrizi
Ucapan Syams Tabrizi (w. 1248 M) guru spiritual Jalaluddin Rumi ini mengandung beberapa pesan mendasar:
Pertama, kritik terhadap kepasifan intelektual dan spiritual. Syams mengkritik kecenderungan untuk hanya meniru dan mengutip tanpa merenung atau memperdalam secara pribadi. Ilmu sejati bukan sekadar dihafal, tapi dihidupkan dalam hati dan diamalkan.
Kedua, ajakan untuk mengalami kebenaran secara langsung. Ia mendorong orang untuk mendekat kepada Allah hingga hatinya sendiri menjadi sumber ilham dan pemahaman, bukan sekadar lidah yang mengulang. Ungkapan "qalbī naqala 'an ilāhī" (hatiku menukil dari Tuhanku) menandakan kedalaman hubungan batin seseorang dengan Allah, di mana ilmu dan hikmah muncul dari hati yang bersih dan terhubung.
Ketiga, pentingnya orisinalitas dalam jalan ruhani. Dalam tasawuf, seorang salik (penempuh jalan spiritual) harus berjalan hingga merasakan cahaya ilahi dalam hatinya sendiri, bukan hanya mengandalkan wacana dari luar.
Guru Maulana Jalaluddin Rumi dan sufi "nyentrik" ini tampaknya sedang mengkritik pengetahuan eksoteris, pandangan-pandangan, dan metode bahtsul masail yang bernuansa konservatif dan tekstualistik, yang belum beranjak ke pemecahan substantif, filosofis, dan esoteris/sufistik.
Kritik Syams yang tajam itu mengundang kontroversi bahkan kemarahan para ulama eksoteris. Ia dikecam dan distigmatisasi sebagai liberal. Tetapi ia tak peduli. Ia kembali menemui dan berdiskusi dengan Maulana Rumi, muridnya, tentang filsafat Neoplatonisme. Di tangan Syekh Syams-i inilah Rumi berubah total, dari seorang faqih yang rigid menjadi seorang sufi yang terbuka, inklusif, dan toleran sekaligus penyair besar.
C. Epistemologi Ilmu Laduni: "Ilmu dari Yang Maha Hidup"
Pergeseran paradigma dari tekstualisme menuju spiritualitas langsung ini juga ditegaskan oleh Ibn 'Arabi. Dalam magnum opusnya, Al-Futuhat Al-Makkiyah, beliau mengutip pernyataan Abu Yazid al-Bustami:
أَخَذْتُم عِلْمَكُمْ مَيِّتًا عَنْ مَيِّتٍ، وَأَخَذْنَا عِلْمَنَا عَنِ الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ
"Kalian mengambil ilmu kalian dari orang mati yang mendapatkannya dari orang mati pula, sedangkan kami mengambil ilmu kami dari Yang Maha Hidup yang tidak akan pernah mati."³
Kutipan lengkapnya dalam kitab tersebut berbunyi:
قَالَ أَبُو يَزِيدَ: أَخَذْتُمْ عِلْمَكُمْ مَيِّتًا عَنْ مَيِّتٍ، وَأَخَذْنَا عِلْمَنَا عَنِ الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَقَامِ لَمَّا ذَكَرَ الْأَنْبِيَاءَ
"Abu Yazid berkata: Kalian mengambil ilmu kalian dalam keadaan mati dari orang yang sudah mati, sedangkan kami mengambil ilmu kami dari Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan pernah mati. Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ dalam maqam (kedudukan) seperti ini ketika Beliau menyebutkan perihal para nabi."⁴
Penjelasan:
Ungkapan ini adalah salah satu kutipan paling masyhur dalam tradisi tasawuf untuk membedakan antara jalur keilmuan formal dan jalur keilmuan spiritual.
Makna "Mengambil ilmu mati dari orang mati"
Ini adalah kritik Abu Yazid terhadap ulama yang hanya bersandar pada transmisi hafalan (naql) dan sanad lahiriah semata (si A dari si B dari si C). Orang mati" dalam pernyataan ini merujuk pada manusia biasa (para ulama atau guru) yang telah wafat. Ibn 'Arabi menyiratkan bahwa ada golongan yang ilmunya tidak hanya diperoleh dari manusia melalui pembelajaran biasa, tetapi langsung dari Allah melalui ilham, kasyf (penyingkapan), atau inspirasi batin yang disebut juga ilmu laduni. Ilmu ini dianggap "mati" karena hanya berpindah dari kertas ke kertas atau lisan ke lisan tanpa ada "ruh" atau penyaksian batin (musyahadah).
"Dari Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan mati"
Merujuk pada konsep Ilmu Laduni, yaitu pengetahuan yang dicurahkan langsung oleh Allah ke dalam hati seorang hamba melalui pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs). Ilmu ini dianggap "hidup" karena bersumber langsung dari sumber segala ilmu.
Kalimat terakhir merujuk pada isyarat bahwa para nabi pun mendapatkan wahyu/ilmu secara langsung dari Allah, dan para pewaris nabi (dalam dimensi spiritual) berusaha menggapai "cahaya" dari sumber yang sama.
Dalam kutipan ini, Ibn 'Arabi mengutip ucapan Abu Yazid al-Bustami untuk menekankan perbedaan antara dua jenis ilmu:
1. Ilmu yang diperoleh melalui transmisi manusiawi: Ilmu yang dipelajari dari guru ke murid, yang pada akhirnya berasal dari manusia yang telah wafat.
2. Ilmu yang diperoleh langsung dari Allah: Ilmu yang diberikan langsung oleh Allah kepada hamba-Nya melalui ilham atau inspirasi, tanpa perantara manusia yang terbatas.
Ibn 'Arabi menekankan bahwa ilmu yang diperoleh langsung dari Allah memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena sumbernya adalah Yang Maha Hidup yang tidak pernah mati.⁵
D. Antara Tafsir dan Takwil: Kuburan versus Kehidupan
Syams Tabrizi (bahasa Persia: شمس تبریزی) atau Syams al-Din Muhammad (1185-1248)—seorang penyair Persia bermazhab Syafi'i yang dianggap sebagai guru spiritual Jalaluddin Rumi juga melontarkan pernyataan fundamental tentang metodologi penafsiran Al-Qur'an:
التَّفْسِيرُ قَبْرٌ لِلْقُرْآنِ، وَالتَّأْوِيلُ حَيَاةٌ لَهُ
"Tafsir (harfiah) adalah kuburan bagi Al-Qur'an, sedangkan ta'wil (penafsiran spiritual) adalah kehidupannya."
Penjelasan:
Ungkapan ini mengandung makna filosofis yang mendalam mengenai cara berinteraksi dengan teks suci. Kalimat ini biasanya dikaitkan dengan pandangan kaum sufi atau filosof Islam untuk membedakan antara pendekatan tekstual dan kontekstual:
Tafsir sebagai "Kuburan"
Tafsir sering kali bersifat menetapkan satu makna tekstual, historis, atau harfiah yang kaku. Ketika sebuah ayat "dikunci" hanya pada satu makna tertentu, ia dianggap seolah-olah "mati" atau berhenti berkembang karena hanya terpaku pada konteks masa lalu.
Ta'wil sebagai "Kehidupan"
Ta'wil adalah upaya menggali makna batin, esensi, dan relevansi spiritual yang melampaui batas teks. Pendekatan ini membuat Al-Qur'an tetap "hidup" dan senantiasa relevan bagi setiap individu dan setiap zaman melalui penyingkapan makna-makna baru yang dinamis.
Syams mengkritik penafsiran literalis yang "membunuh" ruh dan kedalaman Al-Qur'an. Ia menganjurkan ta'wil (interpretasi batin, kontekstual, dan spiritual) yang menghidupkan pesan Al-Qur'an untuk setiap zaman dan hati. Para ulama diajak untuk tidak "mengubur" Al-Qur'an di balik makna literal masa lalu. Penerjemahan kata qabr (kubur) dan hayah (hidup) di sini adalah bentuk metafora untuk membandingkan antara kekakuan teks dan kelenturan makna.
Kesimpulan:
Berdasarkan pemaparan kritik dari Ibnu Rusyd, Syams Tabrizi, dan Ibn 'Arabi, dapat ditarik beberapa kesimpulan:
1. Paradigma keulamaan yang hanya berbasis hafalan dan reproduksi teks tanpa pemahaman mendalam serta kemampuan analisis kontekstual mendapat kritik tajam dari para pemikir besar Islam. Ibnu Rusyd menganalogikan hal ini dengan perbedaan antara "tukang sepatu" yang mampu menciptakan dan "penjual sepatu" yang hanya memiliki koleksi.
2. Ilmu yang hakiki, menurut perspektif sufi-filosofis, bukan sekadar transmisi dari generasi ke generasi, melainkan bersumber langsung dari Allah SWT melalui bimbingan spiritual dan penyingkapan hati (kasyf). Ibn 'Arabi menyebutnya sebagai ilmu dari "Yang Maha Hidup yang tidak akan pernah mati."
3. Metodologi pemahaman teks suci perlu bergeser dari tafsir literal yang kaku menuju ta'wil yang dinamis dan kontekstual. Syams Tabrizi dengan tegas menyatakan bahwa tafsir harfiah dapat menjadi "kuburan" bagi Al-Qur'an, sementara ta'wil menghidupkan pesan ilahi sepanjang zaman.
4. Kritik ini tidak dimaksudkan untuk meremehkan ilmu para ulama atau otoritas tekstual, melainkan untuk mengajak pada peningkatan level—dari sekadar penghafal ilmu menjadi orang yang merasakan, menghayati, dan memancarkan ilmu dari kedalaman hati yang tersambung dengan Allah.
5. Dampak transformatif dari paradigma ini terlihat jelas pada diri Jalaluddin Rumi, yang berubah dari seorang faqih yang rigid menjadi sufi besar yang terbuka, inklusif, toleran, dan produktif secara spiritual-intelektual.
Ucapan Syams Tabrizi "kapan salah seorang di antara kalian berkata: Hatiku menerima dari Tuhanku begini dan begini?" menjadi seruan abadi untuk mengembalikan ilmu pada sumbernya yang sejati, yaitu bimbingan langsung dari Allah Swt (Ilham atau Wahyu), tanpa mengabaikan sanad dan tradisi keilmuan yang telah mapan.[] Wallāhu a'lam bi al-ṣawāb.
___________________
Catatan kaki:
¹HR. Muslim no. 1715
²Syarh Qawa'id al-Isyq al-Arba'un / Empat Puluh Kaedah Cinta
³Al-Futuhat Al-Makkiyah, jilid 2, halaman 253
⁴Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn 'Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyah, jilid 2, halaman 253
⁵Sumber: FUTMAK.COM - Al-Futuhat Al-Makkiyah, halaman 253, jilid kedua)
DAFTAR PUSTAKA
Ibn 'Arabi, Muhyiddin. Al-Futuhat Al-Makkiyah. Jilid 2, halaman 253.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. No. 1715.
Syams Tabrizi. Syarh Qawa'id al-Isyq al-Arba'un (Empat Puluh Kaedah Cinta).
Ibnu Rusyd al-Hafid. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid (pemikiran-pemikiran terkait kritik taklid - dirujuk melalui literatur sekunder).
FUTMAK.COM. Al-Futuhat Al-Makkiyah: Halaman 253 Jilid Kedua (dokumentasi digital).
Komentar
Posting Komentar