Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW



Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَاۤ اَوْ اٰذَا نٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَا ۚ فَاِ نَّهَا لَا تَعْمَى الْاَ بْصَا رُ وَلٰـكِنْ تَعْمَى الْـقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

"Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj 22: Ayat 46)
____________________________________________

Oleh: Syamsul Ulum 

HADITS-hadis Nabi Muhammad SAW menggambarkan Dajjal sebagai makhluk akhir zaman yang bermata satu (a‘war), dengan fitnah besar yang melampaui fitnah seluruh nabi sebelumnya. Pemahaman umum atas hadis ini cenderung literalistik, memvisualisasikan Dajjal sebagai individu bermata satu secara fisik. Namun, dalam perspektif Jamaah Muslim Ahmadiyah, makna Dajjal dan ciri-cirinya  termasuk buta sebelah mata ditafsirkan secara simbolik. Artikel ini menelaah hadis tentang “mata satu” Dajjal dalam Shahih Bukhari dan mengkaji interpretasi alegorisnya dalam ajaran Ahmadiyah. Dalam penafsiran ini, Dajjal dipahami sebagai sistem kekuatan kolektif yang sangat maju dalam sains dan teknologi tetapi buta terhadap kebenaran rohani dan wahyu Ilahi. Artikel ini juga menunjukkan relevansi tafsir ini dalam konteks peradaban Barat modern dan dominasi ideologis global.

1. Pendahuluan

Dalam khazanah hadis Nabi Muhammad SAW, sosok Dajjal digambarkan secara sangat mencolok, termasuk ciri-ciri fisiknya yang unik dan kemampuan-kemampuan luar biasa yang dimilikinya. Salah satu hadis yang sangat terkenal berbunyi:

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ سَالِمٌ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ إِنِّي لَأُنْذِرُكُمُوهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ لَقَدْ أَنْذَرَ نُوحٌ قَوْمَهُ وَلَكِنِّي أَقُولُ لَكُمْ فِيهِ قَوْلًا لَمْ
يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ تَعْلَمُونَ أَنَّهُ أَعْوَرُ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
صحيح البخاري (٣٠٨٩)

Diriwayatkan dari Abdān, ia berkata, "Abdullah memberitahu kami dari Yunus, dari Az-Zuhri, ia berkata, Sālim berkata, dan Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhumā berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri di tengah-tengah manusia lalu memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau menyebutkan Dajjal seraya bersabda:

"Sesungguhnya aku akan memperingatkan kalian tentangnya. Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentangnya. Sungguh, Nuh telah memperingatkan kaumnya tentangnya. Tetapi aku akan menyampaikan kepada kalian tentangnya suatu perkataan yang belum pernah dikatakan seorang Nabi pun kepada kaumnya: Kalian mengetahui "Sesungguhnya dia (Dajjal) itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Tuhan kalian tidak buta sebelah." (Shahih Bukhari, no. 3089)

Hadis ini sering dipahami secara literal, namun muncul pertanyaan teologis dan filosofis yang penting: apakah Allah mengirim peringatan hanya tentang seorang monster bermata satu secara fisik? Ataukah terdapat makna yang lebih dalam di balik simbol "mata satu" tersebut?

2. Konsep Dajjal dalam Islam dan Hadis

Makna Bahasa

Kata Dajjal berasal dari akar kata Arab dajala yang berarti “menutupi” atau “menipu”. Dalam tradisi Islam, Dajjal digambarkan sebagai pendusta besar yang menyebarkan kebohongan kepada umat manusia dan mengaku sebagai Tuhan.

Deskripsi Hadis tentang A‘war

Hadis-hadis sahih, termasuk yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, menyebut bahwa Dajjal adalah a‘war yaitu buta sebelah mata:
 "تعلمون أنّه أعور، وأنّ الله ليس بأعور"
"Kalian tahu bahwa ia bermata satu, dan Allah tidak bermata satu." (Shahih Bukhari, Kitab al-Fitan, Bab Dzikr al-Dajjal)

Maksudnya hadits tersebut adalah Nabi Muhammad SAW ingin membuat perbedaan yang sangat mencolok dan tidak ambigu antara Dajjal dan Allah SWT. Dajjal digambarkan sebagai "اعور" (buta sebelah/bermata satu) yang menunjukkan ketidaksempurnaan dan kekurangannya. Ini adalah ciri fisik atau metaforis yang menandakan kelemahan atau cacat. Sebaliknya, Allah SWT sama sekali tidak memiliki kekurangan atau cacat seperti itu. Ungkapan "الله ليس بأعور" menekankan kesempurnaan mutlak Allah dalam segala aspek.

3. Tafsir Alegoris¹ Menurut Ahmadiyah

Penolakan terhadap Tafsir Literal

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as, pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, menolak pemahaman literal terhadap ciri fisik Dajjal. Beliau menegaskan bahwa seluruh gambaran tersebut adalah simbol-simbol yang mewakili suatu golongan atau sistem, bukan individu biologis. Beliau menjelaskan:
دجال کوئی شخص نہیں ہے بلکہ ایک گروہ ہے جو گمراہی پھیلا رہا ہے اور اس کی ایک ہی آنکھ ہے یعنی صرف دنیاوی زندگی پر نظر رکھتا ہے اور الٰہی سچائیوں سے اندھا ہے۔"
 “Dajjal bukanlah seseorang, melainkan suatu bangsa yang menyesatkan, yang hanya memiliki pandangan terhadap kehidupan duniawi dan buta terhadap kebenaran Ilahi.” (Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, Ruhani Khaza’in, vol. 3, hlm. 364)

Maksud dari perkataan beliau ini adalah bahwa:

1. Dajjal bukan individu tunggal: Dajjal tidak diartikan sebagai seseorang dengan ciri fisik tertentu yang akan muncul di akhir zaman. Ini berbeda dengan penafsiran umum di sebagian besar mazhab Islam.

2. Dajjal adalah sebuah "bangsa" atau entitas kolektif: "Bangsa" di sini merujuk pada suatu kekuatan, ideologi, peradaban, atau sistem yang dominan dan menyesatkan. Ini bisa jadi kumpulan orang-orang, negara-negara, atau bahkan tren pemikiran global.

3. Fokus pada duniawi: Ciri utama "bangsa" Dajjal ini adalah orientasi mereka yang murni materialistis. Mereka hanya melihat dan mengejar kemajuan, kekayaan, kekuasaan, dan kesenangan duniawi.

4. Buta terhadap kebenaran Ilahi: Ini adalah esensi dari "mata satu" Dajjal. Mereka tidak memiliki pandangan atau pemahaman tentang spiritualitas, nilai-nilai agama, tujuan hidup yang lebih tinggi, atau keberadaan Tuhan. Mereka buta terhadap dimensi rohani dan moralitas yang bersumber dari wahyu Ilahi.

Jadi, secara keseluruhan, pernyataan ini menjelaskan bahwa Dajjal adalah metafora untuk sebuah kekuatan atau peradaban yang berpusat pada materialisme dan sekularisme ekstrem, yang menyesatkan umat manusia dengan membutakan mereka dari nilai-nilai spiritual dan kebenaran agama.

Makna Dajjal Bermata Satu Menurut Ahmadiyah

Menurut Muslim Ahmadiyah, Dajjal bukanlah sosok individu tunggal yang akan muncul di akhir zaman dengan fisik bermata satu. Sebaliknya, Dajjal adalah sebuah metafora atau kiasan untuk menggambarkan kekuatan-kekuatan anti-agama atau sistem-sistem yang menyesatkan yang akan muncul di akhir zaman.

Sifat "Bermata Satu" yang disebutkan dalam hadis tidak diartikan secara harfiah sebagai kebutaan fisik pada satu mata. Dalam penafsiran Ahmadiyah, ini melambangkan kekurangan spiritual atau buta mata rohani. Dajjal atau kekuatan-kekuatan Dajjal hanya melihat atau mementingkan aspek-aspek duniawi, materialisme, dan kekuasaan fisik, tanpa memiliki pandangan atau pemahaman tentang nilai-nilai spiritual, kebenaran ilahi, atau kehidupan akhirat. Mereka hanya memiliki "satu mata" yang melihat kemajuan duniawi, tetapi buta terhadap kebenaran agama, Wahyu iman dan spiritualitas. Jadi, Dajjal bermata satu menurut Ahmadiyah merujuk pada:

 1. Penyebaran materialisme dan ateisme:  Kekuatan-kekuatan yang hanya berfokus pada kemajuan materi dan menolak keberadaan Tuhan atau nilai-nilai spiritual.

2. Peradaban Barat yang sekuler:  Meskipun Ahmadiyah mengakui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Barat, mereka melihat bahwa dominasi sekularisme dan materialisme di sana telah membutakan masyarakat dari kebenaran agama.

3. Sistem-sistem penindasan dan ketidakadilan:   Rezim atau ideologi yang menindas kebebasan beragama dan menyebarkan kerusakan di muka bumi.

4. Kesesatan pemikiran dan ajaran: Ideologi atau filosofi yang menyesatkan manusia dari jalan yang benar, seringkali dengan daya tarik duniawi yang kuat.

Jadi dalam Tafsir Ahmadiyah, Dajjal "bermata satu" adalah simbol ketimpangan antara penglihatan duniawi dan penglihatan ruhani. Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan:

 “Mereka memiliki penglihatan duniawi yang sangat tajam, namun sama sekali buta terhadap kebenaran dari Tuhan.” (Tuhfa Golarwiyya, Ruhani Khaza’in, vol. 17, hlm. 217)

Allah Tidak Bermata Satu: Penegasan Tauhid

Hadis juga menyatakan bahwa: وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ " (Allah tidak buta sebelah)"

Penjelasan ini bukan semata-mata perbandingan fisik, melainkan penegasan konsep ketuhanan Islam: bahwa Tuhan dalam Islam sempurna dalam penglihatan dan pengetahuan  mencakup dunia dan akhirat, materi dan spiritual, lahir dan batin. Sedangkan Dajjal hanya menawarkan pandangan dunia semata, tanpa cahaya iman.

4. Dajjal dan Peradaban Barat

Dalam konteks sejarah, Ahmadiyah memandang Dajjal sebagai representasi kekuatan Barat pasca-Renaissance dan Revolusi Industri, yang Mempunyai dominasi global melalui kolonialisme, Menyebarkan ideologi materialisme dan sekularisme, Menyebarkan agama Kristen sebagai upaya menyamarkan kebenaran Islam. Dengan kekuatan ekonomi, militer, dan teknologi, bangsa Barat tampil “bermata satu”: mampu melihat kebutuhan jasmani, tetapi buta terhadap kehausan ruhani umat manusia.

Relevansi Kontemporer

Pandangan Ahmadiyah terhadap Dajjal bermata satu menjadi sangat relevan dalam melihat kondisi dunia modern sekarang ini misalnya:
1. Ilmu dan teknologi telah mencapai puncak, namun krisis spiritual melanda banyak masyarakat. 
2. Materialisme dan hedonisme semakin menguasai gaya hidup global. 
3. Media dan propaganda digunakan sebagai alat menyesatkan dan mencuci otak (fitnah Dajjal).

Dalam situasi ini, Ahmadiyah melihat solusi bukan dengan kekerasan, tetapi dengan jihad pena dan pemikiran, sebagaimana diusung oleh pendirinya, Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad, beliau mengatakan:  “Jihad melawan Dajjal bukan dengan pedang, tetapi dengan pena dan argumen.” (British Government and Jihad, Ruhani Khaza’in, vol. 17)

 Menurut Ahmadiyah Dajjal bukanlah musuh fisik yang dilawan dengan kekerasan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Ahmadiyah menafsirkan Dajjal sebagai kekuatan-kekuatan penyesat, materialisme, ateisme, dan kesesatan pemikiran yang merusak moral dan spiritualitas manusia. Perlawanan terhadap Dajjal dilakukan secara intelektual dan spiritual. "Pena dan argumen" melambangkan penggunaan pengetahuan, bukti logis, ajaran-ajaran spiritual, dan penyebaran kebenaran melalui tulisan dan diskusi. Ini adalah bentuk jihad akbar (jihad besar) yang menekankan perjuangan internal melawan keburukan dan perjuangan damai untuk menegakkan kebenaran. Fokus pada reformasi moral dan spiritual. Daripada konflik fisik, tujuan utama adalah untuk melawan pengaruh buruk Dajjal dalam pikiran dan hati manusia, membawa mereka kembali kepada Tuhan, serta memulihkan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan.
Jadi, ungkapan ini menegaskan bahwa perang terhadap Dajjal adalah perang ide, bukan perang fisik. Ini adalah seruan untuk berjuang menegakkan kebenaran dan agama melalui cara-cara damai dan persuasif, bukan dengan kekerasan.

Bersama Dajjal ada Surga dan Neraka

Ketika fitnah Dajjal keluar ke tengah ummat manusia di Akhir Zaman ia akan membawa surga dan nerakanya sendiri. Yang dikatakan Surga pada hakikatnya adalah neraka sedangkan yang dikatakan neraka pada hakikatnya adalah surga. Rasulullah Saw bersabda:

وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنَّ مَعَهُ جَنَّةً وَنَارًا فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ
فَمَنْ ابْتُلِيَ بِنَارِهِ فَلْيَسْتَغِثْ بِاللَّهِ وَلْيَقْرَأْ فَوَاتِحَ الْكَهْفِ

“Di antara fitnah-fitnah (Ad-Dajjal) adalah, bahwa bersamanya ada surga dan neraka. Padahal sesungguhnya nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka. Barangsiapa mendapatkan cobaan dengan nerakanya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan hendaklah ia membaca ayat-ayat di awal surah Al Kahfi. (HR Ibnu Majah – Shahih)

Penjelasan:

Mengartikannya secara lahir atau literal adalah mustahil dan bertentangan dengan tauhid. Inilah sebabnya Allamah Ibnu Hajar menjelaskan:

“Dajjal berkuasa terhadap nikmat, kemuliaan dan hukuman. Orang yang mentaatinya akan dianugerahi nikmat dan kemuliaan. Seolah-olah dia akan memasukkannya ke dalam surga. Tetapi, pada hakikatnya secara ukhrawi itu adalah Jahannam. Sedangkan orang yang tidak mentaatinya, dia akan menjadikan dunia Jahannam baginya. Namun, orang-orang ini akan menjadi pewaris surga ukhrawi.” (Fathul Bari Syarh Al-Bukhari, bab Al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal)

Pemahaman Hadis Ini Menurut Jamaah Muslim Ahmadiyah adalah:

1. Makna Metaforis, Bukan Harfiah

Jamaah Muslim Ahmadiyah memahami bahwa sabda-sabda Nabi ﷺ tentang Dajjal tidak dipahami secara literal, tetapi simbolik dan penuh makna batin. Maka, hadis ini tidak menunjukkan bahwa Dajjal membawa api fisik dan taman fisik, melainkan:

"Neraka Dajjal" adalah sistem hidup dan ideologi yang tampak menakutkan atau penuh penderitaan bagi orang beriman, padahal sebenarnya itu adalah jalan keselamatan dan kesabaran dalam kebenaran.

"Surga Dajjal" adalah gambaran kemewahan, kebebasan duniawi, modernitas tanpa nilai spiritual, yang pada hakikatnya akan menjerumuskan ke dalam kerusakan ruhani dan jauh dari Tuhan. Jadi tentang Surga yang dibawa Dajjal Ahmadiyah menafsirkannya sebagai ilusi kehidupan modern. Apa yang tampak sebagai ‘kemajuan’ material (surganya Dajjal), sebenarnya mengarah pada kehancuran moral dan spiritual (neraka Allah).

2. Dajjal sebagai Sistem, Bukan Individu

Ahmadiyah menafsirkan bahwa Dajjal bukanlah satu orang bertubuh aneh, melainkan simbol sistem kekuatan anti-Tuhan dan anti-nabi, khususnya: Bangsa atau kekuatan Barat yang menyebarkan materialisme, ateisme, dan kolonialisme, Lembaga agama yang menyeleweng dari ajaran sejati, serta Ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan tanpa nilai ketakwaan. Dalam sistem ini, “surga” ditampilkan sebagai dunia yang nyaman, tetapi tanpa Allah. Sebaliknya, pengorbanan hidup karena iman ditampilkan seperti “neraka”, namun justru menyelamatkan ruh.

3. Perlindungan dengan Membaca Surat Al-Kahfi

Nabi ﷺ menyuruh agar membaca awal Surah Al-Kahfi. Dalam pemahaman Ahmadiyah, surah ini menggambarkan pemuda-pemuda beriman yang mengasingkan diri dari sistem kafir pada zamannya, demi menjaga iman. Jadi dengan Membaca dan memahami Surah Al-Kahfi berarti mengambil pelajaran dan kekuatan dari kisah pemuda Kahfi, yakni tetap berpegang teguh pada tauhid, menjauhi fitnah dunia, dan menyadari nilai akhirat di atas dunia.

4. Nasehat untuk Zaman Sekarang

Menurut pemahaman Ahmadiyah, saat ini kita hidup dalam fitnah Dajjal yang besar yakni zaman kemajuan duniawi tanpa Tuhan, ilmu dan budaya Barat yang menolak kenabian, serta menyesatkan umat dari wahyu dan kebenaran. Maka Yang dianggap "surga" oleh dunia saat ini (seperti gaya hidup bebas, kekayaan tanpa ibadah, sekularisme) adalah sebenarnya “neraka”. Sedangkan perjuangan hidup seorang mukmin, meskipun tampak “susah”, adalah jalan menuju surga sejati.

Jadi Menurut Ahmadiyah Surga Dajjal Kesenangan duniawi yang menyesatkan dari Tuhan. Neraka Dajjal Jalan penuh tantangan dan penderitaan dalam iman, tapi menyelamatkan. Membaca Surah Al-Kahfi Perlindungan ruhani, mengambil teladan dari pemuda beriman yang menolak sistem batil
Berlindung kepada Allah Memperkuat doa, iman, dan tawakal kepada Allah dalam menghadapi ujian zaman

Kesimpulan

Pandangan Ahmadiyah tentang Dajjal sebagai simbol kekuatan yang “bermata satu” memberikan pendekatan yang logis dan kontekstual terhadap hadis Nabi SAW. Dengan menafsirkan mata satu sebagai simbol dari kebutaan spiritual dalam sistem yang maju secara teknologi, Ahmadiyah berhasil menghadirkan kritik tajam terhadap peradaban modern yang timpang. Maka, tantangan terbesar umat Islam bukanlah melawan makhluk aneh bermata satu, tetapi melawan ideologi dan sistem yang hanya memandang dunia, namun mengabaikan akhirat.[] Wallahu 'Alam 

والسلام على من اتبع الهدى 

Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya 
____________________________________________
¹ Metode eksegesis yang mencari makna tersembunyi, simbolis, atau spiritual di balik teks harfiah
______________
Daftar Pustaka

1. Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Hadis no. 3089
2. Mirza Ghulam Ahmad. Izalah Auham. Ruhani Khaza’in, vol. 3
3. Mirza Ghulam Ahmad. Tuhfa Golarwiyya. Ruhani Khaza’in, vol. 17
4. Mirza Ghulam Ahmad. The British Government and Jihad. Ruhani Khaza’in, vol. 17
5. Muhammad Ali. The Dajjal or Anti-Christ. Lahore Ahmadiyya Movement, 1921
6. Fazl-ur-Rahman. The Philosophy of the Teachings of Islam. Islam International Publications
7. Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, entry: “dajala”
8. Ali, M.M. Religion of Islam. Ahmadiyya Anjuman Isha’at-e-Islam Lahore, 1936




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian