Jalsah Salanah Dalam Nubuwah Rasulullah SAW
"TUJUAN utama Jalsah ini ialah agar setiap orang yang tulus ikhlas, secara pribadi dapat memperoleh pengalaman kerohanian; mereka dapat menambah ilmu, dan karena mereka diberkahi oleh Allah Ta’ala, pemahaman mereka tentang Allah makin bertembah maju. Di antara manfaat–manfaat lainnya, bahwa pertemuan di dalam Jalsah Salanah ini, akan menjadi ajang saling kenal-mengenal antar sesama saudara rohani, sehingga makin memperkokoh ikatan persaudaraan di dalam Jemaat...”(Ḥazrat Mirza Ghulam Ahmad, Isytihar tanggal 7 Desember 1892, Majmu`ah Isytiharat Vol. I, Hal. 340)
Oleh: Syamsul Ulum
DALAM lembaran nubuwah Rasulullah ﷺ dan riwayat para Imam Ahlul Bait, kita menemukan isyarat akan munculnya suatu kaum istimewa pada akhir zaman. Kaum yang cahaya iman mereka bersinar laksana matahari, walau mereka datang dari tempat-tempat terpencil, terasing di antara umat manusia, namun menjadi tanda dari zaman kebangkitan ruhani.
Dalam hadis yang luar biasa ini memberikan gambaran tentang sebuah fenomena di masa depan yang, bagi kebanyakan orang, terasa sejalan dengan apa yang kini kita saksikan dalam Jalsah Salanah (Konferensi Tahunan) Komunitas Muslim Ahmadiyah. Jika kita cermati dan perhatikan bagaimana kedua nubuwah ini seolah menemukan pemenuhan di era modern ini.
Cahaya para "Orang Asing" yang Menyeluruh
Hadis pertama mengisahkan tentang pertanyaan Abu Bakar ra kepada Rasulullah ﷺ:
يَأْتِي قَوْمٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نُورُهُمْ كَنُورِ الشَّمْسِ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: نَحْنُ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لَا، وَلَكُمْ خَيْرٌ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّهُمُ الْفُقَرَاءُ وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ يُحْشَرُونَ مِنْ أَقْطَارِ الْأَرْضِ، ثُمَّ قَالَ: طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، قِيلَ: مَنْ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: نَاسٌ صَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ
"Akan datang suatu kaum pada hari Kiamat yang cahaya mereka seperti cahaya matahari." Abu Bakar bertanya, "Apakah kami termasuk mereka, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bukan, tetapi bagi kalian banyak kebaikan. Namun mereka adalah orang-orang fakir dan muhajirin yang dikumpulkan dari penjuru bumi (Jalsah)." Kemudian beliau bersabda, "Beruntunglah orang-orang yang terasing (gharib)! Beruntunglah orang-orang yang terasing!" Ditanya, "Siapakah orang-orang yang terasing itu?" Beliau menjawab, "Orang-orang saleh di tengah banyak orang-orang jahat, yang membangkang mereka lebih banyak daripada yang menaati." ¹
Dalam hadits yang lain yang senada, Rasulullah ﷺ bersabda:
يأتي الله بقوم يوم القيامة نورهم كنور الشمس، فقال أبو بكر: نحن هم يا رسول الله؟ قال: لا، ولكم خير كثير، ولكنهم فقراء المهاجرين، يُحشرون من أقطار الأرض، طوبى للغرباء، طوبى للغرباء. فقيل: ومن الغرباء يا رسول الله؟ قال: أناس صالحون قليل، في أناس سوء كثير، من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم.
"Allah akan mendatangkan suatu kaum pada hari kiamat, cahaya mereka seperti cahaya matahari." Abu Bakar bertanya, "Apakah kami termasuk mereka, wahai Rasulullah?"Nabi ﷺ menjawab:
"Bukan, tetapi kalian memiliki banyak kebaikan. Mereka adalah fakir miskin dari kalangan muhajirin, yang akan dikumpulkan dari berbagai penjuru bumi. Berbahagialah orang-orang yang terasing (ṭūbā lil-ghurabā’), berbahagialah orang-orang yang terasing."
Para sahabat bertanya, "Siapakah orang-orang yang terasing itu (Al-Ghuroba), ya Rasulullah?" Beliau Saw menjawab:
"Orang-orang saleh yang jumlahnya sedikit di tengah banyaknya orang jahat. Orang-orang yang menentang mereka lebih banyak daripada yang mengikuti (menaati) mereka".²
Penjelasan:
Hadis tersebut menggambarkan sekelompok manusia yang pada hari Kiamat akan memiliki cahaya terang benderang, bukan karena kekayaan atau kekuasaan, melainkan karena keimanan dan hijrah mereka dari berbagai pelosok bumi (negara). Mereka disebut "orang-orang terasing" (al-Ghuraba') yang berpegang teguh pada kebaikan di tengah mayoritas yang menentang.
Jika kita melihat Komunitas Muslim Ahmadiyah, mereka seringkali menghadapi penolakan dan pengasingan di banyak tempat. Namun, mereka terus berkembang di seluruh dunia, dengan anggota yang "dikumpulkan dari penjuru bumi" untuk tujuan keimanan. Jalsah Salanah, yang diadakan setiap tahun di berbagai negara, adalah manifestasi fisik dari "pengumpulan" ini. Di sana, ribuan, bahkan puluhan ribu orang dari berbagai negara berkumpul dalam satu tempat, memancarkan semangat persatuan dan ketaatan yang seolah-olah memancarkan "cahaya" spiritual (keimanan). Mereka adalah kelompok "minoritas" yang berusaha menjaga kesalehan dan kedamaian di tengah tantangan.
Zaman Penggunaan Teknologi Modern
Hadis kedua, dari Imam Ja'far bin Muhammad Ash-Shadiq nama lengkapnya adalah Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, ra (w. 148H/702 M), dengan luar biasa beliau menjelaskan berkaitan teknologi modern di akhir zaman:
Dari Imam Abu Abdullah Ja‘far bin Muhammad Ash-Shadiq (semoga Allah meridainya), bahwa beliau berkata:"
«إِنَّ الْمُؤْمِنَ فِي زَمَانِ الْقَائِمِ وَهُوَ بِالْمَشْرِقِ لَيَرَى أَخَاهُ الَّذِي فِي الْمَغْرِبِ، وَكَذَلِكَ الَّذِي فِي الْمَغْرِبِ يَرَى أَخَاهُ الَّذِي فِي الْمَشْرِقِ.»
"Sesungguhnya seorang mukmin di zaman Al-Qaim (Imam Mahdi), yang berada di Timur, benar-benar akan melihat saudaranya yang di Barat, demikian pula yang di Barat akan melihat saudaranya yang di Timur." ³
Penjelasan Makna dan Tafsirnya:
1. Zaman al-Qā’im
Yang dimaksud dengan "Zaman al-Qā’im" adalah masa kemunculan Imam Mahdi Al-Mau'ud (as) menurut kepercayaan Syiah, khususnya dari riwayat Ahlul Bait. Dalam pandangan Ahmadiyah, konsep ini selaras dengan zaman kedatangan al-Masih al-Maw‘ūd (Imam Mahdi yang dijanjikan).
2. Mukjizat Teknologi atau Karunia Ilahi.
Riwayat ini sering ditafsirkan dalam dua pendekatan:
A. Makna Harfiah: Isyarat kepada Kemajuan Teknologi Komunikasi
Hadis ini membuka kemungkinan tentang kemajuan teknologi komunikasi dan informasi di zaman Mahdi, sehingga orang bisa saling melihat meskipun berada di tempat yang sangat jauh (Timur dan Barat).
Dalam konteks zaman modern, hal ini bisa menunjuk pada video call, konferensi daring, siaran langsung global, dan sebagainya — yang pada masa Imam Ja'far Shadiq (abad ke-2 H) tentu tidak terbayangkan secara teknis. Ini menunjukkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mendukung dakwah dan persatuan umat di masa Mahdi.
B. Makna Kiasan: Persatuan dan Kesatuan Ruhani.
Jika ditafsirkan secara rohani bahwa di zaman al-Qā’im (al-Mahdi Al-Mau'ud), ruh para mukmin menjadi begitu terang dan kuat sehingga mampu “melihat” dan merasakan keadaan saudaranya yang jauh, karena persaudaraan spiritual mereka sangat mendalam. Artinya, terjadi kesatuan batin dan ruhani di antara orang-orang beriman, meski secara fisik mereka berjauhan.
3. Penguatan Ukhuwah dan Persaudaraan Tanpa Batas
Riwayat ini menyiratkan bahwa di masa Imam Mahdi (al-Qā’im), batas-batas geografis tak lagi menjadi penghalang ukhuwah. Komunikasi antarumat Islam akan menjadi mudah, langsung, dan menyatukan. Ini mendukung misi global al-Mahdi untuk mempersatukan umat dalam satu jamaah kebenaran.
Pandangan Ahmadiyah
Dalam perspektif Jamaah Muslim Ahmadiyah, zaman al-Qā’im (Al-Mahdi) telah dimulai dengan kemunculan Imam Mahdi dan al-Masih al-Maw‘ūd yakni Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as). Maka, hadis ini dapat ditafsirkan:
1. Sebagai nubuwatan tentang zaman kebangkitan ruhani dan kemajuan teknologi.
2. Dunia menjadi "desa global"; mukmin di berbagai belahan bumi dapat saling melihat dan berkomunikasi melalui teknologi, serta menyatu dalam satu sistem kepemimpinan rohani (Khilafah)
3. Ini terbukti melalui sistem bai‘at, khutbah khalifah, dan komunikasi internasional Jamaah yang memungkinkan jamaah di seluruh dunia "melihat dan mendengar" seruan Khalifah secara langsung setiap pekan.
Hadis ini adalah nubuwatan tentang fenomena luar biasa di zaman Imam Mahdi, yang dapat dipahami sebagai berikut:
1. Isyarat teknologi komunikasi global, yang mendekatkan orang-orang beriman meski berjauhan.
2. Isyarat kedekatan ruhani dan kekuatan ukhuwah, yang menjadikan sesama mukmin seperti satu tubuh.
3. Kondisi zaman globalisasi keimanan, yang memperkuat dakwah dan persaudaraan umat Islam lintas benua.
Penjelasan:
Di masa lalu, gagasan ini mungkin terdengar mustahil atau hanya kiasan. Bagaimana mungkin seseorang di Timur bisa melihat orang di Barat secara langsung? Namun, di era digital saat ini, dengan adanya internet, siaran langsung, dan konferensi video, hal ini bukan lagi fiksi ilmiah. Jalsah Salanah, terutama Jalsah Salanah Internasional di Inggris, disiarkan langsung ke seluruh dunia melalui MTA International (Muslim Television Ahmadiyya) dan platform daring lainnya.
Ini memungkinkan seorang Muslim Ahmadi yang berada di Indonesia (Timur) untuk melihat dan mendengarkan langsung khotbah Khalifah atau acara-acara di Jalsah Salanah di Inggris (Barat), dan sebaliknya. Koneksi visual dan audio antar benua ini adalah pemenuhan literal yang luar biasa dari nubuwah kuno tersebut. Ini menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi dapat menjadi sarana untuk memenuhi janji-janji ilahi.
Riwayat dari Imam Ja‘far As-Shafiq Ra tentang mukmin di Timur melihat saudaranya di Barat menjadi kenyataan secara harfiah di era ini. Dalam Jalsah Salanah, para Ahmadi di seluruh dunia dapat melihat Khalifah mereka secara langsung melalui satelit, televisi MTA (Muslim TV Ahmadiyya), atau streaming internet. Tidak ada penghalang geografis antara Timur dan Barat. Ini adalah cermin dari kesatuan umat yang dijanjikan dalam nubuwwah para Imam Ahlul Bait.
Jalsah Merupakan Miniatur Umat Islam Global
Jalsah Salanah bukan sekadar pertemuan tahunan. Ia adalah Simbol perwujudan nubuwwah Rasulullah ﷺ, tentang umat terasing yang bercahaya. Dan Bukti penggenapan nubuwatan ruhani Imam Ja‘far, tentang zaman di mana mukmin bisa saling menyaksikan lintas benua. Jalsah merupakan Panggung persaudaraan spiritual, di mana tidak ada perbedaan bangsa, warna kulit, atau bahasa semua bersatu di bawah satu panji: “Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah.”
Kesimpulan
Kedua hadis ini, ketika direnungkan dalam konteks Jalsah Salanah Komunitas Muslim Ahmadiyah, menawarkan perspektif yang menarik. Mereka tidak hanya menggambarkan sekelompok orang yang saleh dan terasing yang berkumpul dari berbagai penjuru bumi dengan cahaya keimanan mereka, tetapi juga meramalkan kemampuan untuk saling melihat dan terhubung melintasi benua.
Bagi Komunitas Muslim Ahmadiyah, Jalsah Salanah bukan hanya sebuah pertemuan biasa. Ia adalah wadah spiritual yang mengumpulkan "orang-orang terasing" dari seluruh dunia, menyatukan mereka dalam tujuan spiritual yang sama, dan secara menakjubkan memenuhi nubuwah kuno melalui perkembangan teknologi. Ini adalah bukti bahwa janji-janji ilahi dapat terwujud dalam berbagai bentuk, bahkan dengan cara yang tidak terbayangkan oleh generasi sebelumnya. [] Wallaahu 'Alam
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan, kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya.
_____________________________________________
Footnote:
¹Musnad Ahmad, no. 16637, dari Ibn ‘Amr dan Ath-Thabrani.
²Thabrani dan Al-Khatib dalam Al-Mutafaq wal-Muftaraq (No. 16638).
³ Allāmah Muḥammad Bāqir al‑Majlisī dalam Bihar al-Anwar, jilid 52, hal. 391/Tafsir al‑Tabarsi an‑Nuri dalam An‑Najm ath‑Thāqib.
Komentar
Posting Komentar