Postingan

Ulama Tanpa Bimbingan Allah SWT

Gambar
Ulama Tanpa Bimbingan Dari Allah Swt Oleh: Syamsul Ulum  Pendahuluan Artikel ini membahas kritik fundamental terhadap paradigma keulamaan yang berbasis pada hafalan dan reproduksi teks semata, tanpa disertai pemahaman mendalam, analisis rasional, dan pengalaman spiritual langsung. Melalui eksplorasi pemikiran Ibnu Rusyd, Syams Tabrizi, dan Ibn 'Arabi, artikel ini mengungkap perlunya transformasi epistemologi (teori pengetahuan) keilmuan Islam dari sekadar taklid tekstual menuju ilmu laduni yang bersumber dari Allah Swt. Kritik terhadap " ulama tanpa bimbingan Allah " ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan otoritas keilmuan, melainkan untuk mengembalikan esensi ilmu sebagai cahaya hati yang hidup dan kontekstual. Pada masa klasik Islam, kecenderungan umum masyarakat menganggap bahwa orang alim, ulama, atau cerdik pandai adalah orang yang banyak menghafal pendapat-pendapat para ulama sebelumnya berikut teks-teks mereka, bahkan juga menghafal nama-nama kitab dan...

Membongkar Miskonsepsi Kenabian Pasca-Nabi Muhammad SAW: Sebuah Kajian Komprehensif

Gambar
Oleh: Syamsul Ulum  BENARKAH keyakinan adanya nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ itu sesat? Pertanyaan ini telah menjadi salah satu poin perdebatan paling sensitif dan fundamental dalam diskursus Islam modern. Mayoritas umat Muslim meyakini bahwa tidak akan ada lagi nabi atau rasul setelah Nabi Muhammad ﷺ secara mutlak. Namun, melalui penelaahan mendalam terhadap Al-Qur'an, Hadis Nabi, dan pandangan ulama klasik, sebuah pemahaman yang lebih nuansa tentang " penutup para nabi" dapat terungkap.  Artikel ini bertujuan untuk menerangi kompleksitas masalah ini dan menunjukkan bahwa nubuat tentang adanya nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan merupakan bagian integral dari eskatologi Islam. Misi Kenabian dan Keunggulan Rasulullah ﷺ Al-Qur'an menjelaskan misi para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan: وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّا مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۚ وَيُ...

Meluruskan Pemahaman Keliru Tentang Nabi Isa as akan Sholat dibelakang Imam Mahdi

Gambar
Oleh: Syamsul Ulum.  Imam Abdul Wahhab Sya’rani (973 H/1552 M) seorang ulama besar abad 9 hijriah dalam kitabnya Mizanal–Kubra pernah mengatakan: أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ فِي جَمِيعِ الدُّنْيَا إِمَامَانِ لَا مُتَّفِقَانِ وَلَا مُتَفَرِّقَانِ “Tidak diperbolehkan bagi umat Islam pada satu waktu di seluruh dunia untuk memiliki dua orang Imam (Khalifah) yang berbeda, apakah mereka sepakat atau berbeda”. [Al-Mīzan al-Kubrā 2/131] Hadits Yang Sering Disalah-pahami oleh umat Islam pada umumnya, mereka memahami hadits tersebut bahwa nanti Akhir Zaman jika ‘Isa Ibnu Maryam as datang maka beliau as akan shalat bermakmum di belakang Imam Mahdi as, mereka mengutip sebuah hadits sebagai berikut:  Dari Jabir bin Abdullah ra, Rasulullah ﷺ bersabda:  لَاتَزَالُ طَانِفَةٌ مِنْ اُمَّتِىْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ اَمِيْرُهُمْ تَعَالَ صَلّ...

Benarkah Mirza Ghulam Ahmad Adalah Imam Mahdi yang Dijanjikan?

Gambar
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi wal Masihil Mau’ud as ______________________________________________ Oleh: Syamsul Ulum Allah SWT berfirman: وَقَا لَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ ۖ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ اِيْمَا نَهٗۤ اَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا اَنْ يَّقُوْلَ رَبِّيَ اللّٰهُ وَقَدْ جَآءَكُمْ بِا لْبَيِّنٰتِ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ وَاِ نْ يَّكُ كَا ذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهٗ ۗ وَاِ نْ يَّكُ صَا دِقًا يُّصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِيْ يَعِدُكُمْ ۚ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّا بٌ “ Dan seseorang yang beriman di antara keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, ‘Tuhanku adalah Allah’, padahal sungguh, dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dia sendiri yang akan menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika dia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepa...

Ketika Para "Sengkuni" Didekat Telinga Kekuasaan

Gambar
" Kekuasaan itu seperti pedang bermata dua; di tangan seorang pemimpin yang bijaksana, ia bisa menjadi alat untuk menegakkan keadilan, namun di tangan seorang pemimpin yang zalim, ia akan menjadi senjata untuk melakukan penindasan. Keadilan sejati tidak pernah berpihak pada kekuasaan, melainkan kekuasaanlah yang harus tunduk pada keadilan. Kezaliman adalah anak kandung dari ambisi buta dan kekuasaan tanpa batas."  Oleh: Syamsul Ulum  DALAM lembaran hitam sejarah dan mitologi, kehancuran sebuah bangsa sering kali tidak dimulai dari serbuan musuh luar, melainkan dari pembusukan di dalam istana. Kitab Mahabharata memberikan kita alegori yang sempurna tentang kehancuran ini melalui sosok Raja Destarata. Ia bukan sekadar raja yang buta matanya, tetapi raja yang "buta" nurani dan logikanya karena kecintaan yang berlebihan (blind love) kepada anak-anaknya dan kekuasaan yang ia genggam. Namun, Destarata tidak menghancurkan Hastinapura sendirian. Di samping telin...