Postingan

Menyibak Tabir Keberadaan Sang Pencipta

Gambar
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: اَوَلَا يَذْكُرُ الْاِ نْسَا نُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًـا "Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, padahal (sebelumnya) dia belum berwujud sama sekali?" (QS. Maryam 19: Ayat 67) اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الْخٰلِقُوْنَ  "Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (QS. At-Tur 52: Ayat 35) ____________________________________________ Oleh: Syamsul Ulum  SEJAK dahulu kala, jauh sebelum lahirnya ilmu pengetahuan modern, manusia telah berusaha memahami misteri terbesar: dari manakah alam semesta dan segala isinya berasal? Bagaimana mungkin ada sesuatu dari ketiadaan? Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini menggema lintas generasi, memicu perenungan mendalam dan melahirkan berbagai cara untuk memahami keberadaan Sang Pencipta. Artikel ini membahas perbandingan antara hujjah sederhan...

Pembelaan Syeikh Nasiruddin Al-Bani Terhadap Muslim Ahmadiyah dari Tuduhan yang Tidak Benar

Gambar
Oleh: Syamsul Ulum  SIAPA yang tidak kenal dengan Syeikh Nasiruddin Al-Albani (1914-1999) adalah salah satu ulama terkemuka abad ke-20 yang dikenal luas sebagai pakar hadis. Beliau lahir di Shkodra, Albania, dan kemudian pindah ke Suriah bersama keluarganya. Al-Albani memiliki spesialisasi dalam ilmu hadis, terutama dalam bidang takhrij (penelitian derajat hadis).  Beliau terkenal dengan metode kritik ilmiah terhadap hadis, yang sering kali menimbulkan perdebatan di kalangan ulama. Selain itu, Syeikh Al-Albani juga dianggap sebagai tokoh penting dalam gerakan salafi modern. Karya-karyanya, seperti Silsilah Ahadits Shahihah dan Silsilah Ahadits Dha'ifah, menjadi rujukan utama bagi para peneliti hadis hingga hari ini. Meskipun demikian, pandangan-pandangannya dalam beberapa hal sering diperdebatkan dan menuai kontroversi. Syeikh Al-Albani mengabdikan hidupnya untuk menulis, mengajar, dan menyebarkan ilmu Islam, serta memiliki pengaruh besar dalam dunia keilmuan Islam...

Pendapat Ulama Tentang Kenabian Setelah Rasulullah SAW dan Makna Khaataman Nabiyyin.

Gambar
Oleh: Syamsul Ulum SESUNGGUHNYA tema mengenai khaatamun Nabiyyin, penutupan kenabian dan pengakuan bahwa kenabian Nabi Muhammad ﷺ adalah kenabian yang tidak mungkin diikuti oleh kenabian lainnya adalah salah satu topik yang masih sangat panas diperdebatkan antara sebagian besar umat Islam dan kelompok dari jamaah Islam Ahmadiyah. Kami berharap kepada para ulama yang terhormat dan umat Islam pada umumnya untuk menilai masalah ini dengan menggunakan akal dan logika, sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam kitab Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya, dan tidak tergesa-gesa dalam memberikan vonis dan kafir, sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama yang fanatik di masa Imam Mahdi as terkait dengan isu kematian Isa bin Maryam as kemudian setelah beberapa waktu berlalu para ulama yang tercerahkan dan kalangan intelektual mengakui kebenaran pendapat yang disuarakan oleh Sayyidina Ahmad as." Dan perbedaan pendapat mengenai penutupan kenabian terpusat pada satu ayat yan...

Mengapa Diam Tak Lagi Emas di Zaman Ini?

Gambar
Oleh: Syamsul Ulum  DI TENGAH hiruk pikuk kehidupan sosial yang penuh dengan ketidakadilan, penyimpangan moral, dan penyalahgunaan kekuasaan, sering kali kita menyaksikan satu sikap yang lebih membahayakan daripada pelaku kemungkaran itu sendiri yakni: diamnya orang-orang baik. Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru. Al-Qur'an, Hadis Nabi, ucapan para sahabat, dan nasihat para ulama telah lama memperingatkan umat agar tidak terjebak dalam kesunyian ketika kezaliman menjalar. Seruan Ilahi dan Amanah Moral Allah Ta'ala dalam Surah Ali 'Imran menegaskan:  وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali 'Imran: 104) Ayat ini bukan hanya seruan, tapi sebu...

Rekonstruksi Makna “Turunnya Nabi Isa a.s” Melalui Lensa Ushul Fiqih

Gambar
Rekonstruksi Makna “Turunnya Nabi Isa a.s” Melalui Lensa Ushul Fiqih                         foto hanya ilustrasi Oleh: Syamsul Ulum Diskursus mengenai eksatologi Islam, khususnya mengenai nubuatan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam di akhir zaman, kerap kali terjebak dalam perdebatan tekstual yang kaku. Sebagian besar umat Muslim tumbuh dengan narasi literalis bahwa Nabi Isa as. akan turun secara fisik dari langit, menapakkan kakinya di menara putih Damaskus, dan memimpin perang akhir zaman. Namun, di balik dominasi pemahaman literalis tersebut, khazanah intelektual Islam menyimpan ruang metodologis yang sangat kaya melalui ilmu Ushul Fiqih. Artikel ini bermaksud membedah pandangan sebagian ulama moderen dan klasik yang berargumen bahwa turunnya Nabi Isa as. tidak dapat dimaknai secara hakiki (fisik), melainkan harus dialihkan ke makna majazi (kiasan). Dengan basis metodologi hukum Islam, pengalihan makna ini ...