Membongkar Miskonsepsi Kenabian Pasca-Nabi Muhammad SAW: Sebuah Kajian Komprehensif

Oleh: Syamsul Ulum 

BENARKAH keyakinan adanya nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ itu sesat? Pertanyaan ini telah menjadi salah satu poin perdebatan paling sensitif dan fundamental dalam diskursus Islam modern. Mayoritas umat Muslim meyakini bahwa tidak akan ada lagi nabi atau rasul setelah Nabi Muhammad ﷺ secara mutlak. Namun, melalui penelaahan mendalam terhadap Al-Qur'an, Hadis Nabi, dan pandangan ulama klasik, sebuah pemahaman yang lebih nuansa tentang "penutup para nabi" dapat terungkap. 

Artikel ini bertujuan untuk menerangi kompleksitas masalah ini dan menunjukkan bahwa nubuat tentang adanya nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan merupakan bagian integral dari eskatologi Islam.
Misi Kenabian dan Keunggulan Rasulullah ﷺ
Al-Qur'an menjelaskan misi para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan:

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّا مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۚ وَيُجَا دِلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِا لْبَا طِلِ لِـيُدْحِضُوْا بِهِ الْحَـقَّ وَا تَّخَذُوْۤا اٰيٰتِيْ وَمَاۤ اُنْذِرُوْا هُزُوًا

"Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan; tetapi orang yang kafir membantah dengan (cara) yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak (kebenaran), dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan apa yang diperingatkan terhadap mereka sebagai olok-olokan." (QS. Al-Kahf [18]: 56).

Ayat ini menegaskan fungsi universal para utusan Ilahi. Di antara mereka semua (para nabi), Nabi Muhammad ﷺ yang memiliki kedudukan yang sangat mulia dan istimewa. 

Syekh Al-Jazairy dalam kitab al-Jawahir al-Kalamiyah merangkum keunggulan Rasulullah ﷺ dengan tiga sifat utama:
امتاز نبينا عليه الصلاة والسلام عن سائر الأنبياء بثلاث صفات: الأولى أنه أفضل الأنبياء. الثانية أنه أرسل إلى 
الناس كافة. الثالثة أنه خاتم الانبياء فلا يأتي بعده نبي

Nabi kita Muhammad melebihi sekalian para Nabi dengan tiga macam sifat: (1) Sesungguhnya beliau adalah Nabi yang paling utama. (2) Sesungguhnya beliau diutus kepada seluruh umat manusia. (3) Sesungguhnya beliau adalah penutup para Nabi (yang membawa syariat) sehingga tidak akan ada Nabi lagi yg membawa syariat yang datang (diutus) sesudah beliau.”

Keistimewaan ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi ﷺ sendiri:

فُضِّلْتُ عَلىَ اْلأَنْبِياَءِ بِسِتٍّ : اُعْطِيْتُ جَوَامِعَ اْلكَلِمَ وَ نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَاُحِّلْتُ لِيَ اْلغَنَائِمُ وَجُعِلْتُ لِيَ الأَرْضُ طَهُوْرًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ اِلَى الْخَلْقِ كآفّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ

"Aku dilebihkan dari para nabi yang lain dengan enam keistimewaan berupa; (1) diberikan kepadaku 'jawami’ al-kalim' (kemampuan menyusun kalimat ringkas berjangkauan makna luas), (2) aku diberikan pertolongan dalam peperangan dengan tergetarnya hati musuh, (3) dihalalkan bagiku harta rampasan perang, (4) dijadikan bagiku bumi untuk bersuci dan bersujud, (5) aku diutus bagi semua makhluk, dan (6) aku sebagai Nabi yang terakhir (syariat)." (HR. Muslim: 812, At-Tirmidzi: 1474, dan Ahmad: 21130).

Penekanan pada "Nabi terakhir " dalam pandangan ulama seperti Syekh Al-Jazairy adalah kunci untuk memahami konsep Khatamun Nabiyyin.

Nubuat Kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam kedua di Akhir Zaman

Meskipun Nabi Muhammad ﷺ adalah Khatamun Nabiyyin, banyak hadis sahih yang secara eksplisit menubuatkan kedatangan seorang nabi setelah beliau, yaitu Isa Ibnu Maryam {as}. Hal ini seringkali menjadi titik kebingungan, namun sejatinya, hadis-hadis ini tidak bertentangan dengan konsep penutupan kenabian.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
كيف انتم إذا نزل ابن مريم فيكم وإمامكم منكم (رواه البخاري)

"Bagaimana sikapmu apabila turun (diutus) Nabi Isa ibnu Maryam pada kalian (umat Islam) dan yang jadi imam kalian dari antara kalian." (Shahih Bukhari, Jilid 2, Juz 4, h. 141, Cet. Istambul).

Hadis ini diperkuat oleh riwayat lain dari Abu Hurairah, di mana Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
وَحَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنِي الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ نَافِعٍ، مَوْلَى أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ فَأَمَّكُمْ مِنْكُمْ ‏”‏ ‏.‏ فَقُلْتُ لاِبْنِ أَبِي ذِئْبٍ إِنَّ الأَوْزَاعِيَّ حَدَّثَنَا عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ نَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏”‏ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ تَدْرِي مَا أَمَّكُمْ مِنْكُمْ قُلْتُ تُخْبِرُنِي ‏.‏ قَالَ فَأَمَّكُمْ بِكِتَابِ رَبِّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم ‏.‏

"Bagaimana keadaan kalian apabila Isa putera Maryam turun (diutus) pada kalian dan menjadi Imam (pemimpin) kalian? Lalu aku berkata kepada Ibnu Abu Dzi’b... 'Pemimpin (Imam) kalian adalah dari antara kalian (umat Islam yang beriman kepada Al-Masih al-Mau'ud).' Ibnu Abu Dzi’b berkata: 'Apakah kamu tahu sesuatu apa (yang dijadikan dasar) Imam (memimpin) kalian?' Aku balik bertanya, 'Apakah kamu akan mengabarkannya kepadaku?' Ibnu Abu Dzi’b berkata, 'Dia akan memimpin kalian berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi Kalian shallallahu ‘alaihi wasallam'." ( Sahih Muslim Nomor: 155/224).

Hadits ini menggambarkan bahwa Nabi Isa as ketika diutus di akhir zaman, ia tidak membawa syariat baru, dan tidak menghapus syariat Nabi Muhammad ﷺ. Justru ia akan mengikuti Al-Qur’an dan sunnah, serta menjadi bagian dari umat ini, bukan membawa syari'at baru, tapi sebagai pengikut Nabi Muhammad ﷺ. Hal itu menunjukkan bahwa Nabi Isa yang akan datang itu bukanlah Isa yang dahulu yang berasal dari Bani Israel yang beragama Yahudi dan ber kitab suci Taurat dan Injil tapi nabi Isa  yang berasal dari umat Nabi Muhammad Saw yang beragama Islam dan ber kitab suci Al-Quran.

Ungkapan "فَأَمَّكُمْ مِنْكُمْ" (dia mengimami kalian dari kalangan kalian sendiri) mengindikasikan bahwa beliau Isa as yang akan datang itu adalah berasal dari umat Islam, bukan Isa Ibnu Maryam dari bani Israil yang konon akan turun dari langit. Isa as akan datang di akhir zaman ini akan mengokohkan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ, bukan membawa misi kenabian baru.

Jangan Katakan "Tidak Ada Nabi Setelah Nabi Muhammad ﷺ"

Pernyataan "tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ" secara mutlak seringkali menjadi sumber kesalahpahaman. Namun, beberapa riwayat dan pandangan ulama justru menyarankan interpretasi yang lebih mendalam.

Ibn Abi Syaibah adalah seorang ulama besar hadits dan fiqih dari kalangan Ahlus Sunnah, hidup pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriyah dan generasi ketiga Islam (Tābi‘ut-Tābi‘īn). Guru dari Imam Bukhari dan Muslim. Nama lengkapnya Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin Abī Syaibah al-Kūfī (w. 235 H/849 M) dalam Al-Mushannaf, meriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Ra:

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قُولُوا: خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَلَا تَقُولُوا: لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ."
(المصنّف في الأحاديث والآثار لابن أبي شيبة، ٥/٣٣٦، رقم ٢٦٦٥٣)

"Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim, dari ‘Aisyah, ia berkata: Katakanlah: Khaatamun Nabiyyīn, dan jangan kalian katakan: laa nabiyya ba’dahu (tidak ada nabi setelahnya)." (Al-Mushannaf fī al-Aḥādīts wa al-Ātsār karya Ibn Abī Syaibah, jilid 5, halaman 336, hadits nomor 26653)"

Pernyataan Hadhrat Aisyah Ra ini sangat signifikan. Mengapa beliau melarang mengucapkan "tidak ada nabi setelah beliau"? Mughirah bin Syu'bah {ra} seorang sahabat lain, juga memberikan perspektif serupa. Ketika seseorang berkata di hadapannya: "Mudah-mudahan Allah memberikan shalawat serta rahmat kepada Muhammad Khaatamul Anbiya, yang tidak ada nabi sesudahnya," Mughirah bin Syu'bah {ra} menjawab:

حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ مَجَالِدٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَامِرٌ -الشعبي-، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ عِنْدَ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ: صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، قَالَ الْمُغِيرَةُ: «حَسْبُكَ إِذَا قُلْتَ: خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ، فَإِنَّا كُنَّا نُحَدَّثُ أَنَّ عِيسَى خَارِجٌ، فَإِنْ هُوَ خَرَجَ فَقَدْ كَانَ قَبْلَهُ وَبَعْدَهُ».

Abu Usamah meriwayatkan dari Mujālid, ia berkata: 'Āmir (asy-Sya‘bī) mengabarkan kepada kami, ia berkata: Seorang laki-laki berkata di hadapan al-Mughīrah bin Syu‘bah: "Shalawat Allah atas Muhammad, penutup para nabi, tidak ada nabi setelahnya." Maka al-Mughīrah berkata: "Cukup bagimu jika engkau mengatakan: ‘Khaatamul Anbiya’, karena dulu kami pernah diberi kabar bahwa Isa akan keluar (diutus). Jika ia benar diutus maka sungguh ia (Isa) telah ada sebelum Muhammad dan setelahnya."(Tafsir Ad-Durrul Manstur, Jilid 5, h. 204; Ibnu Abi Syaibah al-Kufi, Jilid 6, h. 259, Hadis No. 27187).

 Penjelasan:

1. Al-Mughīrah bin Syu‘bah adalah salah seorang sahabat Nabi ﷺ yang masyhur, dikenal sebagai pemimpin dan perawi hadits terpercaya.

2. Ketika seseorang berkata:
صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ،
(“Semoga Allah bershalawat kepada Muhammad, penutup para nabi, tidak ada nabi setelahnya”). Al-Mughīrah menyela dengan bijak, dan mengatakan:
«حَسْبُكَ إِذَا قُلْتَ: خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ
“Cukup kamu hanya mengatakan ‘Khaatamul Anbiya’.”

3. Mengapa Al-Mughīrah berkata demikian?

Ia menjelaskan bahwa menurut kabar (hadits atau ilmu yang diterima oleh para sahabat), Nabi Isa ‘alaihis salām akan diutus kembali menjelang kiamat. Jika benar Nabi Isa akan diutus kembali, artinya akan ada lagi nabi setelah nabi Muhammad ﷺ.

Jadi, "laa nabiyya ba‘dah" bukan berarti mutlak tidak akan ada seorang nabi pun secara fisik setelah Nabi Muhammad ﷺ, karena setelah Rasulullah ﷺ akan diutus seorang nabi yang dikenal dengan sebutan Isa Ibnu Maryam, dalam pengertian bahwa Tidak ada nabi baru yang membawa syariat baru setelah Nabi Muhammad ﷺ

Kesimpulan:

Riwayat ini mendukung pandangan bahwa kenabian Nabi Isa as setelah diutusnya kelak tidak bertentangan dengan keyakinan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah Khatam an-Nabiyyīn (penutup para nabi).

Istilah "lāa nabiyya ba‘dah" harus difahami dengan konteks penutup kenabian syariat dan bukan menafikan diutusnya Nabi Isa di akhir zaman.

Penjelasan ini sangat penting, Ibn Qutaybah (w. 276 H), seorang sarjana filologi dan hadis terkemuka, menjelaskan maksud perkataan Aisyah (Ra):

وَأَمَّا قَوْلُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: "قُولُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ، وَلَا تَقُولُوا: لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ"، فَإِنَّهَا تَذْهَبُ إِلَى نُزُولِ عِيسَىٰ عَلَيْهِ السَّلَامُ. وَلَيْسَ هَذَا مِنْ قَوْلِهَا نَاقِضًا لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَا نَبِيَّ بَعْدِي"، لِأَنَّهُ أَرَادَ: لَا نَبِيَّ بَعْدِي يَنْسَخُ مَا جِئْتُ بِهِ، كَمَا كَانَتِ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ تُبْعَثُ بِالنَّسْخِ، وَأَرَادَتْ هِيَ: لَا تَقُولُوا إِنَّ الْمَسِيحَ لَا يَنْزِلُ بَعْدَهُ.

Adapun ucapan ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā — “Katakanlah bahwa Rasulullah ﷺ adalah Khaatamun Nabiyyiin, dan jangan kalian katakan: tidak ada nabi setelahnya” — maka maksud beliau adalah tentang akan diutusnya Nabi Isa ‘alaihis salām. Dan perkataannya itu tidak bertentangan dengan sabda Nabi ﷺ: “Tidak ada nabi sesudahku”, karena maksud Nabi ﷺ adalah: tidak ada nabi setelahku yang membatalkan (ajaran) yang aku bawa, sebagaimana para nabi sebelumnya diutus dengan membawa pembatalan terhadap syariat sebelumnya. Sedangkan maksud ‘Aisyah adalah: jangan kalian katakan bahwa Al-Masih (Isa) tidak akan turun setelah Nabi Muhammad ﷺ." (Rūḥ al-Ma‘ānī fī Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm Karya: Al-‘Allāmah Al-Ālūsī al-Baghdādī (w. 1270 H)— Tafsir surat al-Aḥzāb: 40 (خاتم النبيين)

"Adapun perkataan Ḥaḍrat ‘Ā’isyah{ra} – Katakanlah bagi Ḥazrat Rasūlullāh ﷺ Khātam-un-Nabiyyīn. Dan janganlah katakan: Tidak ada nabī setelah beliau – sesungguhnya itu merefer kepada turunnya ‘Īsā {as}. Perkataan beliau ini tidaklah bertentangan dengan sabda Nabī ﷺ Tidak ada nabī setelahku, karena yang beliau ﷺ maksudkan adalah Tidak ada nabī setelahku yang akan membatalkan apa yang aku bawa, sebagaimana para nabī alayhim as-salām diutus untuk saling membatalkan hukum yang satu dengan yang lainnya. Yang Ḥaḍrat ‘Ā’isyah {ra} maksudkan adalah: Janganlah katakan bahwa al-Masīḥ {as} tidak akan turun setelah Nabī Muḥammad ﷺ."

Ini menunjukkan bahwa Khatamun Nabiyyin tidak berarti tidak ada nabi sama sekali, melainkan tidak ada nabi yang akan membawa syariat baru yang menghapus syariat Nabi Muhammad ﷺ. Penjelasan Aisyah {ra} ini memiliki bobot besar, karena beliau digambarkan oleh para ulama sebagai:

لم يكن في الأمم مثل عائشة في حفظها وعلمها وفصاحتها وعقلها

 "Tidak pernah ada di antara ummat mana pun seorang yang semisal Ḥazrat ‘Ā’isyah {ra} dalam hafalan beliau, ilmu beliau, kefasihan beliau, dan akal budi beliau."

Makna Kontekstual "Terputusnya Kerasulan dan Kenabian".

Dalam Hadis lain Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ انْقَطَعَتْ فَلاَ رَسُولَ بَعْدِي وَلاَ نَبِيَّ

"Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus sehingga tidak ada rasul dan nabi sepeninggalku." (HR. At-Tirmidzi 4/533 no. 2272; Ahmad 3/267; Al-Hakim 4/433, disahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati Adz-Dzahabi).

Syaikh Akbar Muhyiddin Ibn Arabi (w. 638 H/1240 M), seorang tokoh sufi besar, menjelaskan makna hadis ini dengan sangat detail dalam Futuhatul Makiyah:
فإن النبوة التي انقطعت بوجود رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما هي نبوة التشريع، لا مقامها. فلا شرع يكون ناسخا لشرعه صلى الله عليه وسلم، ولا يزيد في حكمه شرعا آخر. وهذا معنى قوله صلى الله عليه وسلم:إن الرسالة والنبوة قد انقطعت فلا رسول بعدي ولا نبي، أي لا نبي بعدي يكون على شرع يخالف شرعي، بل إذا كان يكون تحت حكم شريعتي، ولا رسول أي لا رسول بعدي إلى أحد من خلق الله بشرع يدعوهم إليه. فهذا هو الذي انقطع وسد بابه، لا مقام النبوة. فإنه لا خلاف إن عيسى عليه السلام نبي ورسول، وأنه لا خلاف أنه ينزل في آخر الزمان حكما مقسطا عدلا بشرعنا لا بشرع آخر ولا بشرعه الذي تعبد الله به بني إسرائيل.

"Sesusungguhnya kenabīan yang terputus dengan kedatangan Ḥaḍrat Rasūlullah ﷺ hanyalah kenabīan dengan syarī‘at baru, tidak ada lagi maqām-nya. Maka, tidak akan ada lagi syarī‘at yang membatalkan syarī‘at beliau dan menambah hukum baru di dalamnya. Inilah makna dari sabda beliau ﷺ: Sesungguhnya kerasūlan dan kenabīan telah terputus, maka tidak ada rasūl dan nabī setelahku, Yakni, tidak akan ada lagi nabī yang akan membawa syarī‘at yang menyelisihi syarī‘at-ku. Bahkan, jika dia ada, dia akan berada di bawah hukum syarī‘at-ku. Juga, tidak ada lagi rasūl setelahku yang akan di utus kepada manusia dengan syarī‘at baru, yang dia menyeru mereka kepadanya. Inilah dia syarī‘at yang telah terputus dan terkunci pintunya, bukan maqām kenabīan secara umum." (Kitab Futuhatul Makiyah, Jilid 3, h. 159).

Ibnu Arabi menegaskan bahwa kenabian (maqam) itu sendiri dapat diperoleh manusia sebagai anugerah Ilahi. Ia bisa diberikan kepada Nabi Pembawa Syariat dan juga kepada para pengikut Nabi Pembawa Syariat, dengan syarat mereka senantiasa mengikuti ajarannya. Ini adalah kenabian yang bukan membawa syariat baru, melainkan menguatkan syariat yang sudah ada. Karena itu Ibnu Arabi menegaskan pandangannya demikian:

فالنبوة مقام عند الله يناله البشر وهو مختص بالأكابر من البشر، يعطى للنبي المشرع ويعطى للتابع لهذا النبي المشرع الجاري على سننه

“Kenabian merupakan maqam ruhani di sisi Allah yang dapat diperoleh seorang hamba. Kendati bisa diperoleh, kenabian hanya anugerah yang diperuntukkan bagi manusia-manusia spesial (al-akabir minal basyar); singkatnya, kenabian bisa diberikan kepada Nabi Pembawa Syariat dan bisa pula dikaruniakan kepada para pengikut Nabi Pembawa Syariat itu sendiri. Tentu, dengan catatan mereka selalu mengikuti ajaran-ajaran nabi pembawa syariat. ” (al-Futuhat al-Makkiyyah jilid 3, bab ke-73, bab Fi Ma’rifati Adadi Ma Yuhsal minal Asrar lil-Musyahid Indal Muqabalah wal Inhiraf)

Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin ‘Umar asy-Syihi, yang dikenal sebagai Al-Khazin (w. 741 H), dalam tafsirnya Lubab at-Ta’wil fii Ma’ani at-Tanzil, juga berpendapat serupa:
ختم الله به النبوة فلا نبوة بعده أي ولا معه
“Dengannya Allah telah menutup kenabian, maka tidak ada kenabian setelahnya, dan juga tidak ada nabi bersamanya (dimasa beliau Saw hidup).” (Imam al Khazin, Lubab at Ta’wil fii Ma’ani at Tanzil, Juz. 5, Hal. 199. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Syaroni (w. 973 H) juga mengutip pandangan ulama Ahlussunnah:

نَقَلَ الإِمَامُ الشَّعْرَانِيُّ: قَالَ العُلَمَاءُ: إِنَّهُ إِذَا نَزَلَ عِيسَىٰ فِي آخِرِ الزَّمَانِ، يَكُونُ مُقَرِّرًا لِشَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ، وَمُجَدِّدًا لَهَا، لِأَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ يَحْكُمُ بِشَرِيعَةٍ غَيْرِ شَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ، لِأَنَّهَا آخِرُ الشَّرَائِعِ، وَنَبِيُّهَا آخِرُ النَّبِيِّينَ.
(مُخْتَصَرُ التَّذْكِرَةِ لِلْقُرْطُبِيِّ)

Imam asy-Sya‘rānī menukil: Para ulama berkata, sesungguhnya jika Isa turun di akhir zaman, maka ia akan menjadi peneguh syariat Muhammad dan pembaharu (mujaddid) baginya. Karena tidak ada nabi setelah Rasulullah yang berhukum dengan syariat selain syariat Muhammad, sebab ia adalah syariat terakhir, dan nabinya adalah penutup para nabi. (Mukhtaṣar at-Tadhkirah, karya al-Qurṭubī, hal. 151)

Penjelasan:

Sumber kutipan ini adalah ringkasan kitab at-Tadhkirah karya Imam al-Qurṭubī, yang diringkas oleh Imam asy-Sya‘rānī. Pesan utama kutipan ini adalah Ketika Nabi Isa turun kembali di akhir zaman, beliau tidak membawa syariat baru, tetapi meneguhkan dan memperbarui syariat Nabi Muhammad ﷺ.

Ini menegaskan bahwa kenabian Isa setelah Nabi Muhammad bukanlah kenabian yang independen atau membawa hukum baru, melainkan dalam kerangka syariat Muhammad ﷺ. Pada kalimat:
"لا نبي بعد رسول الله يحكم بشريعة غير شريعة محمد"
 Tidak ada nabi setelah Rasulullah yang berhukum dengan selain syariat Muhammad.
"لأنها آخر الشرائع ونبيها آخر النبيين"
Karena syariat itu adalah syariat terakhir dan juga nabi terakhir pembawa syariat

Kesimpulan:

Kutipan ini merupakan dukungan tegas terhadap konsep "khatm an-nubuwwah" (penutupan kenabian), namun dengan pembatasan makna bahwa Yang dimaksud “tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ” adalah tidak ada nabi yang datang membawa syariat baru. Maka turunnya Nabi Isa tidak bertentangan dengan penutupan kenabian, selama ia datang sebagai pengikut dan peneguh syariat Nabi Muhammad ﷺ, bukan sebagai pembawa hukum atau agama baru.

Nabi Muhammad ﷺ Sudah Menjadi Khaataman Nabiyyiin Sebelum Nabi Adam As Menjadi Nabi

Nabi Muhammad ﷺ sebagai Khaataman Nabiyyin Sebelum Nabi Adam {as}
Konsep Khatamun Nabiyyin juga perlu dipahami dari perspektif yang lebih mendalam mengenai kedudukan spiritual Nabi Muhammad ﷺ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

عن العرباض بن سارية رضي الله عنه، عن رسول الله ﷺ أنه قال:

"إِنِّي عِندَ اللَّهِ مَكْتُوبٌ: خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ، وَسَأُخْبِرُكُمْ بِأَوَّلِ أَمْرِي: دَعْوَةُ إِبْرَاهِيمَ، وَبِشَارَةُ عِيسَى، وَرُؤْيَا أُمِّيَ الَّتِي رَأَتْ، حِينَ وَضَعَتْنِي، وَقَدْ خَرَجَ لَهَا نُورٌ أَضَاءَ لَهَا مِنْهُ قُصُورُ الشَّامِ."

Dari al-‘Irbaḍ bin Sāriyah ra., dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:

"Sesungguhnya aku (telah) tertulis di sisi Allah sebagai Khatam an-Nabiyyīn, padahal Adam masih dalam keadaan tanah liatnya. Dan akan aku ceritakan kepada kalian permulaan urusanku: yaitu (aku adalah) doa Nabi Ibrahim, kabar gembira Nabi Isa, dan mimpi ibuku yang ia lihat saat melahirkan diriku—yakni muncul darinya cahaya yang menyinari istana-istana di negeri Syam."

Sumber Hadits:

1. Hadits ini diriwayatkan oleh:
Imam Aḥmad dalam Musnad-nya (4/128, no. 17203)
2.Ibn Sa‘d dalam Ṭabaqāt (1/149)
3. Ṭabarānī dalam al-Mu‘jam al-Kabīr (18/253, no. 631)
4. Al-Ḥākim dalam al-Mustadrak (2/656, no. 4175) — beliau berkata: "Ṣaḥīḥ al-isnād" (sanadnya sahih)
5. Al-Albānī juga mensahihkan hadits ini dalam Syarḥ as-Sunnah dan Mishkāt al-Maṣābīḥ (3/251, no. 5759)

Catatan Penting:

Bagian "وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينِهِ" → menunjukkan bahwa kenabian Nabi Muhammad ﷺ sebagai Khaatamun Nabiyyiin telah ditetapkan bahkan sebelum penciptaan manusia selesai, artinya kenabian beliau adalah kenabian yang telah ditetapkan secara azali (abadi di sisi Allah).

Hadis ini menunjukkan bahwa kenabian Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya bersifat kronologis (datang terakhir), tetapi juga memiliki keutamaan dan status spiritual yang telah ditetapkan jauh sebelum penciptaan nabi-nabi lain. Beliau adalah 'meterai' kenabian dalam arti beliau adalah puncak dan penyempurna dari seluruh rangkaian kenabian, yang mana semua kenabian sebelumnya menjadi pendahuluan bagi kenabian beliau.

Dukungan dari Ulama Kontemporer: Pandangan Nahdlatul Ulama (NU)

Menariknya, pandangan mengenai kedatangan nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ (dalam konteks Isa {as} yang mengikuti syariat beliau) juga diakui oleh beberapa lembaga Islam terkemuka. Dalam Mu'tamar Nahdlatul Ulama ke-3 di Surabaya, tanggal 12 Rabiul Tsani 1347 H./28 September 1928 M, Muktamar mengeluarkan ittifaq (kesepakatan) hukum mengenai masalah Al-Mahdi dan Nabi Isa {as}.

Pertanyaan: "Bagaimana pendapat Muktamar tentang Nabi Isa {as} telah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai Nabi dan Rasul? Padahal Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi terakhir. Dan apakah mazhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu?"

Jawab: "Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa {as} itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad ﷺ dan hal itu, tidak berarti menghalangi Nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir, sebab Nabi Isa hanya akan melaksanakan syari’at Nabi Muhammad. Sedang mazhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku)." (Masalah Keagamaan Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama, h. 36).

Pendapat ini, yang juga didukung oleh Syarah Ar-Raudh, menegaskan bahwa turunnya Nabi Isa {as} di akhir zaman tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur'an tentang Khatamun Nabiyyin, karena beliau tidak menghapus syariat Nabi Muhammad ﷺ, bahkan menguatkannya. Cara Allah mengajarkan syariat kepada Al-Mahdi atau Nabi Isa {as} adalah melalui wahyu via malaikat Jibril {as}.

Pendapat Ulama Nahdlatul Ulama (NU) tersebut, mereka sokong dengan keterangan dari kitab Syarakh Ar-Raudh Juz III yang tertulis sebagai berikut:

فى شرح الروض و نصه: قال تعال: وَلٰكِن
ْ رَّسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ ولا يعارضه ماثبت من نزول عيسى عليه السّلام اخر الزمان لانّه لايأتى بطريقة ناسخة بل مقررة نبيّينا صلّى الله عليه وسلّم بها. وفى الفتاوى الحديثية ما نصه: سئل نفع اللهبه بما لفظه اجمعوا على انّ عيسى يحكم بشر يعتنا فما كيفية حكمة بذلك بمذهب احد من المجتهدين ام باجتهاد؟ فاجاب بقوله عيسى عليه السلام مترّة عن ان يقلد غيره من بقيةالمجتهدين بل هو اولى بالاجتهاد. وفى اوّل الجزء الاوّل من ميزان الشعر انى تحت صورة الشحرة بيان معنى الشحرة بقوله: فانظر يا اخى الى العين فى اسفل الشحرة والى الفروع والاغصان والثمارتجدهاكلها متفرعة من عين الشريعة الى ان قالى الى ان يخرج المهدي عليه السلام فيطل في عصره التقيّد بالعمل بقول من قبله من المذاهبكما صرّح به اهل الكشف الى ان قال ثم اذا نزل عيسى عليه السلام انتقل الحكم الى امر اخر وهو انّه يوحى الى السيّد عيسى عليه السلام بشريعة محمّد صلّى الله عليه وسلّم على لسان جبريل عليه السلام

Penjelasan tersebut menyatakan bahwa turunnya Nabi Isa as akhir zaman itu tidak bertentangan dengan ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw itu Khataman Nabiyyin karena beliau tidak menghapus, bahkan menetapkan syari’at Nabi Muhammad Saw dengan mengamalkannya. Adapun cara Allah Swt dalam mengajarkan syari’at Nabi Muhammad saw kepada Al-Mahdi atau Nabi Isa as itu dengan memberikan wahyu melalui malaikat Jibril as.

Kritik Terhadap Makna Literal Khaataman Nabiyyiin sebagai "Nabi Terakhir"

Beberapa ulama bahkan secara langsung mengkritik penafsiran Khatamun Nabiyyin sebagai "nabi terakhir" dalam arti kronologis semata. Syekh Abu Abdullah Muhammad bin Ali Al-Hakim At-Tirmidzi (w. 320 H) dalam kitabnya Khaatamul Auliya menulis:
فإنّ الذى عَمي عن خبر هذا يظنّ انّ خاتم النّبيّن تأويله أنّه أخرهم مبعثا فأ يّ منقبة في هذا ؟
و أيّ علمٍ في هذا؟ هذا تأويل البُله الجهلة

"Maka sesungguhnya orang yang buta tentang hadits ini menyangka bahwa arti Khaataman-nabiyyin adalah nabi yang diutus paling akhir sekali. Apakah kelebihannya (bagi Nabi Muhammad ﷺ) di dalam arti ini? Dan apakah ilmu pengetahuan yang terkandung dalam arti demikian (nabi terakhir) ini? Arti demikian itu hanya dipakai oleh orang-orang yang dungu dan bodoh saja." (Khaatamul Auliya, h. 341).

Kritik ini menunjukkan bahwa para ulama terdahulu pun menyadari adanya kedalaman makna di balik Khatamun Nabiyyin yang melampaui sekadar urutan waktu. Makna sejati adalah kesempurnaan, penyempurnaan syariat, dan kedudukan spiritual yang tak tertandingi.

Kesimpulan

Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an, Hadis sahih, dan interpretasi ulama klasik yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa keyakinan akan adanya nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ tidaklah sesat, asalkan nabi tersebut adalah nabi pengikut (ummati) yang berhukum dan menguatkan syariat Nabi Muhammad ﷺ, bukan membawa syariat baru yang menghapusnya. Konsep Khatamun Nabiyyin harus dipahami sebagai penutup kenabian pembawa syariat baru, sekaligus sebagai puncak dan penyempurna seluruh risalah kenabian.

Nubuat tentang kedatangan Isa Ibnu Maryam {as} di akhir zaman, yang akan menjadi pemimpin dari kalangan umat Muslim dan berhukum dengan Al-Qur'an dan Sunnah, adalah bukti konkret dari keberadaan kenabian yang terus berlanjut dalam bentuk yang sesuai dengan status kenabian Nabi Muhammad ﷺ sebagai Khatamun Nabiyyin. Memahami nuansa ini adalah kunci untuk menghindari miskonsepsi dan memperkaya pemahaman kita tentang eskatologi Islam. Jika yang akan diutus kembali adalah nabi Isa dari Bani Israil tentunya beliau akan mengajarkan kitab Taurat dan Injil bukan Al-Quran tetapi didalam hadits disebutkan bahwa Isa as yang akan diutus (turun) diakhir zaman itu adalah nabi Isa yang akan mengajarkan kitab suci Al-Quran dan berhukum pada AlQuran, hal tersebut menunjukkan bahwa nubuwah tentang turunnya Isa kembali bukan Nabi Isa dari Bani Israel (Nazareth) tetapi seseorang dari umat Islam dan pengikut setia Nabi Muhammad Saw yang disebut Isa Al-Masih Al-Mau'ud atau sebagai Matsil Isa Ibnu Maryam [] Wallahu A'lam bis Shawab.

والسلام على من اتبع الهدى 

Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian