Meluruskan Pemahaman Keliru Tentang Nabi Isa as akan Sholat dibelakang Imam Mahdi


Oleh: Syamsul Ulum. 

Imam Abdul Wahhab Sya’rani (973 H/1552 M) seorang ulama besar abad 9 hijriah dalam kitabnya Mizanal–Kubra pernah mengatakan:

أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ فِي جَمِيعِ الدُّنْيَا إِمَامَانِ لَا مُتَّفِقَانِ وَلَا مُتَفَرِّقَانِ

“Tidak diperbolehkan bagi umat Islam pada satu waktu di seluruh dunia untuk memiliki dua orang Imam (Khalifah) yang berbeda, apakah mereka sepakat atau berbeda”. [Al-Mīzan al-Kubrā 2/131]

Hadits Yang Sering Disalah-pahami oleh umat Islam pada umumnya, mereka memahami hadits tersebut bahwa nanti Akhir Zaman jika ‘Isa Ibnu Maryam as datang maka beliau as akan shalat bermakmum di belakang Imam Mahdi as, mereka mengutip sebuah hadits sebagai berikut: 

Dari Jabir bin Abdullah ra, Rasulullah ﷺ bersabda: 

لَاتَزَالُ طَانِفَةٌ مِنْ اُمَّتِىْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ اَمِيْرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُوْلُ لَا اَنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ اُمَرَاءُ تَكْرِ مَةَ اللهِ هَذِهِ الْاُمَّةَ 

Artinya: ”Di antara umatku akan selalu ada satu golongan yang berjuang mempertahankan kebenaran sampai hari kiamat.” Kemudian beliau saw bersabda lagi: ”Maka, Isa Ibnu Maryam akan turun dan “Amir” mereka (أميرهم) akan berkata, ‘Shalatlah bersama kami!’. Beliau as bersabda, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah “Umaro (para pemimpin) atas sebagian lainnya, sebab Allah telah memuliakan umat ini’.” (Hadits terdapat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal Juz 3/345, 384 dan Shahih Muslim Juz 2/193). 

Penjelasan: 

Kata amiiruhum (اَمِيْرُهُمْ) merujuk kepada imam masjid yang mempersilahkan ‘Isa Ibnu Maryam Al-Mau'ud as untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Tetapi, karena beliau as sedang berhalangan, maka beliau as menolak dan bersabda: ”Tidak. Sesungguhnya sebagian dari kalian adalah amir/pemimpin/imam shalat (اُمَرَاءُ) atas sebagian lainnya, sebab Allah telah memuliakan umat ini.” 

Ada beberapa “ulama” yang mengutip hadits yang sama seperti hadits diatas yang berasal dari riwayat Al Hakim, akan tetapi status hadits tersebut adalah dhoif karena dalam hadits tersebut ada ditambahkan kata Al Mahdi setelah kata Amiiruhum padahal Rasulullah ﷺ tidak menyebut al-Mahdi dalam hadits tersebut. 

Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi (w.1505 M) dalam kitabnya Nuzul Isa Ibnu Maryam akhir az-zaman, hal.58, mengutip hadits yang menyatakan bahwa ‘Isa ibnu Maryam menjadi Imam bagi umat Islam, dan dari Imam tersebut kalangan umat Islam sendiri. Hadits ini sangat masyhur, diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dimana Rasulullah ﷺ bersabda: 

كَيْفَ اَنْتُمْ اِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَاِمَامُكُمْ مِنْكُمْ 

“Bagaimana keadaan kalian jika Ibnu Maryam turun pada kalian, dan imam kalian dari antara kalian (orang-orang yang mengikuti/beriman kpd Al-Masih al-Mau'ud).” (Shahih Bukhari Juz 6/358, Shahih Muslim Juz 2/193, Musnad Ahmad bin Hanbal Juz 1/336 dan Sunan Al Baihaqi, 424 dari Abu Hurairah ra). 

Ada juga hadits yang senada yang diriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِمَامُهُمْ رَجُلٌ صَالِحٌ فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّى بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ فَرَجَعَ ذَلِكَ الإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِى الْقَهْقَرَى لِيَتَقَدَّمَ عِيسَى يُصَلِّى بِالنَّاسِ فَيَضَعُ عِيسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ تَقَدَّمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيمَتْ. فَيُصَلِّى بِهِمْ إِمَامُهُمْ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ افْتَحُوا الْبَابَ.

“Imam mereka adalah seorang laki-laki yang shalih. Ketika pemimpin mereka hendak maju ke depan untuk mengimami dalam shalat subuh, tiba-tiba turunlah Isa bin Maryam, maka mundurlah imam mereka ke belakang supaya Isa maju untuk mengimami shalat. Isa lalu meletakkan tangannya di antara dua bahunya (pemimpin mereka) sambil berkata, ‘Majulah engkau dan pimpinlah shalat, karena sesungguhnya ia ditegakkan untuk kalian.’ Akhirnya pemimpin mereka pun mengimami mereka shalat, dan ketika shalat telah usai, Isa berkata, ‘Bukalah pintu.’ (HR. Ibnu Majah no. 4067. Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ Ash Shogir no. 13833 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Benarkah Isa Ibnu Maryam dan Imam Mahdi Dua Sosok yang Berbeda? 

Pemahaman umat Islam yang menganggap bahwa al-Mahdī dan Isa Ibnu Maryam as itu adalah dua sosok (dua orang) yang berlainan maka pemahaman tersebut justru akan merusak salah satu prinsip dalam islam yang paling pokok (inti). Sebagaimana yang diuraikan oleh Imam Madzhab yang 4 (empat) yakni: 

أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ فِي جَمِيعِ الدُّنْيَا إِمَامَانِ لَا مُتَّفِقَانِ وَلَا مُتَفَرِّقَانِ 

“Tidak diperbolehkan bagi umat Islam pada satu waktu di seluruh dunia untuk memiliki dua orang Imam yang berbeda, apakah mereka sepakat atau berbeda”.[Al-Mīzan al-Kubrā 2/131] 

Al-Imām an-Nawawī rh (w.676 H), seorang ulama syafi’ī, berpendapat dalam asy-Sharḥ sebagai berikut: 

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعْقَدَ الْخَلِيفَتَانِ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ سَوَاءً اتَّسَعَتْ دَارُ الْإِسْلَامِ أَمْ لَا 

Dan para ulama sepakat bahwa tidak boleh ada dua khalifah yang diangkat dalam satu zaman, baik jika wilayah Islam luas atau tidak.”.[Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim 12/232] 

Beliau rh juga berkata: 

قَالَ الْإِمَامُ النَّوَوِيُّ: "فِيهِ الْأَمْرُ بِقِتَالِ مَنْ خَرَجَ عَلَى الإِمَامِ أَوْ أَرَادَ تَفْرِيقَ الْمُسْلِمِينَ وَنَحْوَ ذَٰلِكَ، وَنَهْيٌ عَنْ ذَٰلِكَ فَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا قُوتِلُوا، وَإِنْ لَمْ يُنْدَفِعْ شَرُّهُمْ إِلَّا بِقَتْلِهِ قُتِلَ. وَفِي الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى مَنْعِ إِقَامَةِ إِمَامَيْنِ أَوْ خَلِيفَتَيْنِ لِأَنَّ ذَٰلِكَ يُؤَدِّي إِلَى الشَّقَاقِ وَالْمُخَالَفَةِ، وَحُدُوثِ الْفِتَنِ وَزَوَالِ النِّعَمِ، وَقَدْ نُقِلَ الْإِجْمَاعُ عَلَى ذَٰلِكَ." 

"Di dalamnya terdapat perintah untuk memerangi mereka yang memberontak terhadap imam atau yang ingin memecah belah umat Islam dan sejenisnya, serta larangan terhadap hal tersebut. Jika mereka tidak berhenti, mereka harus diperangi, dan jika kejahatannya tidak dapat diatasi kecuali dengan membunuhnya, maka dia harus dibunuh. Dalam hadis tersebut terdapat petunjuk untuk melarang penetapan dua imam atau dua khalifah, karena hal itu akan menyebabkan perpecahan, perselisihan, munculnya fitnah, dan hilangnya nikmat. Telah dinyatakan bahwa ada konsensus (ijma) mengenai hal ini." 

Imam al-Haramain Al-Juwaini (w. 478 H/1085 M) dalam bukunya "al-Irsyad" mengatakan: 

وَقَالَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِي كِتَابِهِ “الْإِرْشَادِ”: قَالَ أَصْحَابُنَا لَا يَجُوزُ عَقْدُهَا لِشَخْصَيْنِ، قَالَ: وَعِندِي أَنَّهُ لَا يَجُوزُ عَقْدُهَا لِاثْنَيْنِ فِي صِقْعٍ وَاحِدٍ، وَهَـٰذَا مُجْمَعٌ عَلَيْهِ

"Para ulama kami berkata bahwa tidak boleh mengangkat dua orang sebagai khalifah. Beliau juga mengatakan bahwa menurut pandangannya, tidak boleh mengangkat dua khalifah dalam satu wilayah, dan hal ini merupakan kesepakatan (ijma).  (Syarah Imam An-Nawawi atas Shahih Muslim, Kitab al-Imarah,  Bab Kewajiban Menepati Bai‘at kepada para Khalifah  yang pertama kemudian yang berikutnya, juz. 12 hal. 543)

Ibn Ḥazm, (w.1064 M) Daud aẓ-Ẓāhirī (w.884 M) seorang sarjana Hijrī ke-4, menulis: 

وَلَا يَحِلُّ أَنْ يَكُونَ فِي الدُّنْيَا إِلَّا إِمَامٌ وَاحِدٌ 

“Tidak sah di dunia kecuali hanya satu Imam”.[al-Muḥallā 9/360] 

Al-Imām al-Mawardī (w.1058 M), seorang pakar as-Siyāsah al-Islāmiyyah, menjelaskan: 

وَإِذَا عُقِدَتِ الْإِمَامَةُ لِإِمَامَيْنِ فِي بِلَادَيْنِ لَمْ تَنْعَقِدْ إِمَامَتُهُمَا 
لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ لِلْأُمَّةِ إِمَامَانِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ

“Jika imamah (kepemimpinan) diserahkan kepada dua orang imam di dua negara yang berbeda, maka imamah mereka tidak bisa dibenarkan, karena umat tidak boleh memiliki dua orang imam dalam satu waktu”. (al-Aḥkām as-Sulṭāniyyah, 1/10). 

Jadi menurut penjelasan para ulama bahwa tidak mungkin Islam akan dipimpin oleh 2 orang Imam atau khalifatullah dalam satu waktu karena hal tersebut menyalahi syari'at Islam. 

Imam Mahdī Adalah Isa Ibnu Maryam dalam Umat Islam. 

Rasulullah SAW bersabda: 

حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَىٰ؛ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيُّ؛ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ الْجُنْدِيُّ؛ عَنْ أَبَانِ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ الْحَسَنِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَزْدَادُ الْأَمْرُ إِلَّا شِدَّةً، وَلَا الدُّنْيَا إِلَّا إِدْبَارًا، وَلَا النَّاسُ إِلَّا شُحًّا، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شَرَّارِ النَّاسِ، وَلَا الْمَهْدِيُّ إِلَّا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ. 

Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abdil A’lā, telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Idrīs asy-Syāfi’ī, telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Khālid al-Janadī, telah menceritakan kepadaku; dari Abbān bin Ṣāliḥ, dari al-Ḥasan, dari Ḥaḍrat Anas bin Malik, bahwa Ḥaḍrat Rasūlullāh Saw. bersabda: “Tidak akan meluas kecuali kekerasan, tidak akan meluas kecuali kerusakan, dan tidak akan meluas kecuali kekikiran. Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada manusia yang paling buruk. “Tidak ada seorang Mahdi pun kecuali Isa ibnu Maryam”.(Sunan Ibnu Majah, Kitāb al-Fitan, Bāb Shiddat az-Zamān, no. 4039) 

Mujāhid bin Jabr (642 – 722 M) seorang murid terkemuka dari Ḥaḍrat ‘Alī ra dan Ḥaḍrat Ibn ‘Abbās ra, menyatakan: 

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ عُتْبَةَ؛ عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: الْمَهْدِيُّ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ

Telah menceritakan kepada kami Al-Walīd bin ‘Utbah, dari Zā’idah, dari Layth, dari Mujāhid, ia berkata: “Al-Mahdī itu adalah Isa Putra Maryam”. (al-Muṣannaf, Kitāb al-Fitan, no. 38660– Ṣaḥīḥ) 

Al-‘Allāmah ‘Umar aṭ-Ṭibī berkata: 

إِنَّ هُنَاكَ فَرِيقًا كَبِيرًا مِنْ كُبَارِ رِجَالِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يَقُولُونَ لَا مَهْدِيَّ إِلَّا عِيسَى. 

“Ada segolongan besar dari Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengatakan bahwa “tidak ada Mahdi kecuali Isa as”.(Jarīdah al-Alif, Bāb ‘Adad, hal. 3499). 

Para ulama ḥadīṡ, meskipun menilai lemah, mereka juga mencoba menafsirkan dan menggunakan qā’idah al-jamā’. 

ويقول الحافظ ابن كثير: " وَعِنْدَ التَّأَمُّلِ لَا يَتَنَافَيَانِ، بَلْ يَكُونُ الْمُرَادُ مِنْ ذَلِكَ أَنْ الْمَهْدِيَّ حَقًّا هُوَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ.(النهاية في الفتن والملاحم: (١ / ٥٨) . 

Al-Hafiz Ibn Kathir berkata: 'Dan ketika diperhatikan, keduanya tidak saling bertentangan. Bahkan, yang dimaksud dari itu adalah bahwa Mahdi yang sebenarnya adalah Isa putra Maryam..."(Nihayat al-Bidāyah wa al-Nihāyah: (1 / 58)." 

Ibnul Qayyim al-Jauzi (w.1350 M) menyatakan: 

إِنَّمَا الْمَهْدِيُّ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ، يَعْنِي الْمَهْدِيُّ الْكَامِلُ الْمَعْصُومُ.(المنار المنيف (١٤٨) 

“Al-Mahdī itu adalah Isa ibnu Maryam. Yakni Al-Mahdi yang Sempurna dan ma’shum”. (al-Manār al-Munīf, hal. 148) 

الإمام القرطبي: يحتمل أن يكون قوله عليه الصلاة والسلام: «ولا مهدي إلا عيسى» : أي لا مهدي كاملا معصوما إلا عيسى، وعلى هذا تجتمع الأحاديث ويرتفع التعارض ( التذكرة (٢ / ٧٢٣)  

Imam al-Qurtubi, kemungkinan maksud ucapan beliau ﷺ: 'Tidak ada Mahdi kecuali Isa' adalah bahwa tidak ada Mahdi yang sempurna dan ma'sum kecuali Isa. Dengan demikian, hadis-hadis tersebut dapat dipahami secara bersamaan dan tidak ada pertentangan."(At-Tadzkirah (2/723) 

Derajat Imam Mahdi setara dengan Nabi 

Abubakar Muhammad bin Sirin al-Bashri atau disingkat Ibnu Sirin (w. 729 M), adalah salah seorang tokoh ulama ahli fiqih dan perawi hadis dari golongan tabi'in yang menetap di Bashrah. Beliau mengatakan: 

عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قِيلَ لَهُ: الْمَهْدِيُّ خَيْرٌ أَمْ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا؟ قَالَ: هُوَ خَيْرٌ مِنْهُمَا وَيُعَدِّلُ بِالنَّبِيِّ 

“Suatu kali, Imam Ibnu Sirin pernah ditanya: Yang manakah yang lebih baik, Al-Mahdi atau Abu Bakr dan ‘Umar. Beliau menjawab: Al-Mahdi lebih baik daripada keduanya. Ia setara dengan seorang nabi.”(Kitab al-Fitan oleh Nu’aim bin Hammad, Hadits no. 1027) 

Abu 'Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi (1273 M), seorang Imam, Ahli hadits, Alim, dan seorang mufassir Al-Qur’an yang terkenal. Nama lengkapnya adalah “Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi, menjelaskan: 

لَا مَهْدِيَّ كَامِلًا مَعْصُومًا إِلَّا عِيسَى

“Tidak ada Mahdi yang sempurna dan maksum kecuali Isa as”. (at-Tadhkirah, 2/723). 

Ibnu Katsīr (w.1374 M) nama lengkapnya adalah Ismail bin Umar bin Katsir al-Qursyi ad-Damasyqi adalah seorang hafiz, ulama dan pemikir, berkata: 

“Keduanya tidak saling bertentangan dengan perenungan. Namun, makna yang dimaksud adalah bahwa “al-Mahdi dalam arti yang sebenarnya adalah Isa Putra Maryam”. (Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, 19/67). 

Tiga Macam al-Mahdī 

Al-Walīd bin Muslim (w.195 H) salah seorang imam dari kalangan Tābi’īn, meriwayatkan: 

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ؛ قَالَ: سَمِعْتُ رَجُلًا يُحَدِّثُ قَوْمًا، فَقَالَ: الْمَهْدِيُّونَ ثَلاثَةٌ: مَهْدِيُّ الْخَيْرِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَمَهْدِيُّ الدَّمِ وَهُوَ الَّذِي تَسْكُنُ عَلَيْهِ الدِّمَاءُ، وَمَهْدِيُّ الدِّينِ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ تَسْلَمُ أُمَّتُهُ فِي زَمَانِهِ 

“Al-Walīd menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku pernah mendengar seseorang berkata kepada sekelompok orang, “Al-Mahdiyyūn (Imam Mahdi) itu ada tiga: Mahdi dari segi akhlak (Mahdi al-Khair), dia adalah Umar bin Abdul Aziz. Mahdī dari darah (penumpah darah), yang di dalamnya terdapat darah. Mahdi agama, dia adalah Isa Putra Maryam yang umatnya (pengikutnya) selamat di zamannya.” (Al-Fitan Li Nu’aim bin Ḥammād, no. 1043) – Ṣaḥīḥ 

Pendapat Ahmadiyyah Tentang Hadits “Laa Mahdiya Illa Isa Ibnu Maryam”. 

Di bawah ini, saya sajikan kepada para pembaca apa pandangan yang benar dari Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Masih Al-Mauud as) mengenai ḥadīṡ tersebut, beliau menjelaskan: 

“Ḥadīṡ yang masyhur, لا مهدي إلا عيسى ﴾Lā Mahdiyyah Illā ‘Īsā﴿, yang disebutkan dalam Sunan Ibn Mājah dan juga dalam kitab al-Mustadrak karya al-Ḥākim, dari Abbān bin Ṣāliḥ, dari al-Ḥasan al-Baṣrī, dari Ḥaḍrat Anas bin Mālik ra, dari Ḥaḍrat Rasūlullāh SAW, itu hanya berarti bahwa tidak akan datang seorang Mahdi pun, kecuali orang yang berada di atas fitrah, sifat, dan jalannya. Yakni, tidak akan datang al-Masīḥ al-Mau’ūd atau al-Imām al-Mahdī, kecuali orang yang memiliki sifat-sifat, dan jalan ajarannya. Dalam artian, ia tidak akan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan yang serupa dengannya, dan tidak akan berperang. Akan tetapi, ia akan menyebarkan petunjuk dengan teladan yang indah dan dengan tanda-tanda surgawi. Inilah yang didukung oleh ḥadīth lain yang diriwayatkan oleh al-Imām al-Bukhārī dalam kitab ṣaḥīḥ-nya, yang matannya berjudul ﴾Yaḍā’ al-Ḥarb – Dia akan mengakhiri peperangan). Yakni, al-Mahdī, yang juga disebut al-Masīḥ al-Mau’ūd, dia pasti akan mengakhiri perang. Dia akan memerintahkan manusia untuk tidak berperang demi agama. Akan tetapi, mereka harus menyebarkan agama dengan cahaya keikhlasan, kemuliaan akhlak, dan tanda-tanda kedekatan dengan Allah. Kebenaran dan kejujuran yang aku nyatakan bahwa orang yang berperang demi agama, akan menganjurkan pembunuhan, mengajak kepada hal tersebut baik secara pribadi maupun secara terbuka, atau menginginkan hal tersebut di dalam hatinya, maka ia benar-benar telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Dia telah keluar dari perintah-perintah mereka, batasan-batasan mereka, dan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan”. (Ḥaqīqat al-Mahdī, termasuk Rūḥānī-e-Khazā’in, jil. 14, hal. 431-432) 

Lalu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as mengatakan: 

“Barangsiapa yang menyangka bahwa al-Mahdī al-Ma’hūd dan al-Masīḥ al-Mau’ūd (al-Mahdi dan al-Masih yang dijanjikan) adalah dua orang yang berbeda yang akan muncul sebagai dua mujahid dan akan menghunus pedang kepada orang-orang Nasrani dan orang-orang kafir, maka ia telah melakukan fitnah terhadap Allah dan Rasul-Nya (Muhammad Khaataman Nabiyyiin). Dia juga telah mengatakan perkataan yang tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an, ḥadīts dan perkataan para penguji (muḥaqqiq). Namun, kebenaran yang pasti adalah bahwa tidak ada Mahdi kecuali Isa as, tidak ada perang, dan tidak ada pedang atau alqanā (tongkat yang di atasnya ada anak panah) yang dipungut. Inilah yang telah ditetapkan dari Nabi kita al-Muṣṭhafā Muhammad SAW. Tidak ada satu kata pun yang difitnah. Aṣ-Ṣaḥīḥain (Hadits Bukhari dan Muslim) telah memberikan kesaksian akan hal itu pada abad-abad sebelumnya dengan meninggalkan ḥadīṡ semacam itu. Sesungguhnya di dalamnya terdapat petunjuk bagi orang-orang yang berakal. Maka perhatikanlah, apakah kamu termasuk orang-orang yang benar?”. (Ḥaqīqat al-Mahdī, termasuk dalam Rūḥānī-e-Khazā’in, jil. 14, hal. 455-456) 

Nama Lain Imam Mahdi Adalah Isa Ibnu Maryam as 

Rasulullah ﷺ bersabda: 

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( عِصَابَتَانِ مِنْ أُمَّتِي أَحْرَزَهُمَا اللَّهُ مِنْ النَّارِ : عِصَابَةٌ تَغْزُو الْهِنْدَ ، وَعِصَابَةٌ تَكُونُ مَعَ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِمَا السَّلَام ) العصابة : الجماعة . أحرزهما : وقاهما . (رواه النسائي (رقم/ ٣١٧٥)، والإمام أحمد في " المسند " ( ٣٧/٨١) طبعة مؤسسة الرسالة ، وحسنه محققو هذه الطبعة ، وصححه الألباني في " السلسلة الصحيحة " (رقم/ ١٩٣٤) 

Dari Thuban, seorang pembantu Rasullullah SAW , dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Dua kelompok dari umatku yang dijaga Allah dari api neraka adalah: sebuah kelompok yang berperang ke India, dan sebuah kelompok yang akan bersama Isa bin Maryam AS." (Kata 'al-‘isabah' berarti kelompok, dan 'aḥrazaḥumā' berarti dilindungi). (Hadis ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i (nomor 3175), Imam Ahmad dalam "al-Musnad" (37/81) 

Hadhrat Muhammad al-Baqir bin Ali bin Husain, (Ahlul Bait Nabi SAW, cicit Imam Ali bin Abi Thalib ra, cucu dari Ḥaḍhrat Husain ra) atau dikenal dengan nama Abu Ja’far Al-Baqir (w.743 H) meriwayatkan tentang nama-nama Imam Mahdi, sebagai berikut: 

عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْبَاقِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الْآيَةِ الشَّرِيفَةِ، قَالَ: سُمِّيَ اللّٰهُ الْمَهْدِيَّ الْمَنْصُورَ كَمَا سُمِّيَ أَحْمَدُ وَمُحَمَّدٌ مَحْمُودًا، وَكَمَا سُمِّيَ عِيسَى الْمَسِيحُ عَلَيْهِمُ الصَّلَوَاتُ وَالسَّلَامُ. (تفسير فرات الكوفي : ص ٢٤٠ ج ٣٢٤/بحار الانوار ج. ه١, ص. ٣١) 

Dari Abu Ja'far al-Baqir (ra) tentang ayat yang mulia, beliau berkata: "Allah menamai al-Mahdi dengan sebutan al-Mansur (yang ditolong) sebagaimana Dia menamai Ahmad dan Muhammad dengan sebutan Mahmud (yang dipuji), dan sebagaimana disebut juga Isa sebagai al-Masih (yang diurapi), karena Allah akan menolongnya dalam urusannya." (Allamah Muhammad Baqir al-Majlisi, "Bihar al-Anwar", jilid 51, halaman 29/31 dan Tafsir Furat al-Kufi: hlm. 240, jilid 324) 

Hadits ini menjelaskan bahwa Imam Ja'far al-Sadiq (ra) menafsirkan ayat tertentu dengan menyatakan bahwa nama-nama para nabi dan imam memiliki makna yang signifikan. Nama "Al-Mahdi" menunjukkan bahwa beliau adalah pembimbing umat, sedangkan nama "Al-Mansur" menandakan pertolongan dan dukungan dari Allah SWT.[]Wallahu’Alam 

وسلام على من اتبع الهدى
Kedamaian dan keselamatan atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian