Ketika Para "Sengkuni" Didekat Telinga Kekuasaan
"Kekuasaan itu seperti pedang bermata dua; di tangan seorang pemimpin yang bijaksana, ia bisa menjadi alat untuk menegakkan keadilan, namun di tangan seorang pemimpin yang zalim, ia akan menjadi senjata untuk melakukan penindasan. Keadilan sejati tidak pernah berpihak pada kekuasaan, melainkan kekuasaanlah yang harus tunduk pada keadilan. Kezaliman adalah anak kandung dari ambisi buta dan kekuasaan tanpa batas."
Oleh: Syamsul Ulum
DALAM lembaran hitam sejarah dan mitologi, kehancuran sebuah bangsa sering kali tidak dimulai dari serbuan musuh luar, melainkan dari pembusukan di dalam istana. Kitab Mahabharata memberikan kita alegori yang sempurna tentang kehancuran ini melalui sosok Raja Destarata. Ia bukan sekadar raja yang buta matanya, tetapi raja yang "buta" nurani dan logikanya karena kecintaan yang berlebihan (blind love) kepada anak-anaknya dan kekuasaan yang ia genggam.
Namun, Destarata tidak menghancurkan Hastinapura sendirian. Di samping telinganya, berdiri sosok Sengkuni sang manipulator licik yang membisikkan data palsu, hasutan, dan strategi kotor demi memuaskan dendam pribadinya. Hari ini, di panggung politik bangsa, kita melihat pola yang sama berulang: para pejabat dan oknum yang seharusnya menjadi pelayan rakyat, justru menjelma menjadi "Sengkuni-Sengkuni" busuk yang mengerumuni pusat kekuasaan.
Ulama Menjadi Lalat diatas Bangkai
Tragedi ini menjadi kian memilukan ketika mereka yang memiliki gelar agama para ulama dan pejabat yang seharusnya menjadi kompas moral justru ikut mengantre di pintu istana. Bukannya menjadi penawar racun bisikan Sengkuni, sebagian mereka malah menjadi pembenar bagi kebohongan tersebut. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin memberikan tamsil yang sangat keras bagi fenomena ini:
عُلَمَاءُ السُّوءِ هُمْ ذُبَابُ المُلُوكِ، يَقَعُونَ عَلَى القَاذُورَاتِ وَيَأْكُلُونَ الحَرَامَ
"Ulama su' (ulama buruk) adalah lalat-lalat para penguasa; mereka hinggap di atas kotoran dan memakan harta haram."
Ketika seorang alim kehilangan independensinya dan mulai mendatangi pintu-pintu penguasa demi materi, ia bukan lagi pewaris Nabi, melainkan "pencuri" kemuliaan ilmu. Sufyan Ats-Tsauri memperingatkan dengan tegas:
إِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُكْثِرُ الدُّخُولَ عَلَى السَّلَاطِينِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ
"Jika kamu melihat seorang alim banyak mendatangi pintu penguasa, ketahuilah bahwa dia adalah pencuri.'
Bisikan Sengkuni dan Data yang Dimanipulasi
Dalam mitologi, Sengkuni meyakinkan Destarata bahwa permainan dadu adalah satu-satunya jalan untuk kejayaan Kurawa, padahal itu adalah awal dari genosida Bharatayudha. Di dunia nyata, para "Sengkuni" di sekitar presiden sering kali menyodorkan data-data palsu, laporan "asal bapak senang", dan kebijakan yang tampak manis namun mematikan rakyat kecil.
Rasulullah ﷺ telah mengantisipasi kehadiran para "Sengkuni" berjubah dan berseragam ini dalam sabdanya:
سَيَكُونُ أُمَرَاءُ، فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ، وَلَا يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ
"Akan ada para pemimpin (yang zalim). Barangsiapa yang mendatangi mereka lalu membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan golonganku dan aku bukan golongannya." (HR. Tirmidzi & An-Nasa'i).
Pengkhianatan terbesar seorang pejabat atau ulama adalah ketika mereka tahu kebenaran, namun memilih membisikkan kebohongan ke telinga "Destarata" demi mengamankan jabatan. Mereka telah mengkhianati amanah kenabian yang ditegaskan dalam hadis:
الْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ مَا لَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ، فَإِذَا خَالَطُوا السُّلْطَانَ فَقَدْ خَانُوا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوهُمْ وَاعْتَزِلُوهُمْ
" Para ulama adalah pemegang amanah para Rasul atas hamba-hamba Allah selama mereka tidak bergaul (masuk dalam lingkaran kekuasaan) penguasa. Maka apabila mereka telah bergaul dengan penguasa, sungguh mereka telah mengkhianati para Rasul. Maka waspadalah terhadap mereka dan menjauhlah dari mereka." (HR. Al-Aqili).
Kebutaan Moral: Akar Kehancuran
Destarata mengabaikan peringatan sosok bijak seperti Widura dan Bhisma karena ia lebih memilih mendengar bisikan manis Sengkuni. Inilah yang kita sebut sebagai "kebutaan moral". Seorang pemimpin yang dikelilingi oleh para penjilat yang busuk tidak akan pernah bisa melihat penderitaan rakyatnya yang sesungguhnya.
Seorang pemimpin seharusnya memiliki prinsip spiritual yang tinggi, sebagaimana kaidah:
اِرْتَفِعْ لِتَرَى لَا لِتُرَى
"Naiklah (tingkatkan kualitas dirimu) agar kamu bisa melihat dunia lebih luas, bukan agar dunia melihatmu."
Seorang pemimpin dan ulama harus "naik" untuk mendapatkan perspektif keadilan, bukan "naik" ke panggung kekuasaan hanya untuk dipuja-puji atau dilihat hebat oleh manusia.
Membasuh Wajah Bangsa
Jika bangsa ini tidak ingin berakhir seperti Hastinapura yang luluh lantak dalam perang saudara, maka "Destarata" harus membuka mata hatinya. Para "Sengkuni" yang busuk harus disingkirkan dari lingkaran telinga kekuasaan, dan para ulama harus kembali ke khittahnya: menjadi penjaga umat, bukan menjadi "lalat" yang mengerumuni bangkai kekuasaan. Sebab, pada akhirnya, kekuasaan hanyalah pinjaman. Dan sejarah akan selalu mencatat dengan tinta hitam mereka yang menjual kebenaran demi segenggam perhiasan di pintu penguasa.
Kesimpulan dan Rekonstruksi Integritas Bangsa
Tragedi "Destarata" yang dikelilingi oleh para "Sengkuni" bukanlah sekadar dongeng masa lalu, melainkan sebuah siklus sejarah yang selalu mengintai setiap kekuasaan yang kehilangan kompas moral. Ketika data dimanipulasi, bisikan bohong dianggap kebenaran, dan ulama menjadi pembenar bagi kezaliman, maka kehancuran hanyalah tinggal menunggu waktu.
Benalu di Pohon Kekuasaan
Kekuasaan yang "buta" (seperti Destarata) sangat rentan terhadap parasit politik (seperti Sengkuni). Sengkuni tidak pernah bekerja untuk kejayaan negara; ia bekerja untuk dendam dan kepentingan pribadinya. Begitu pula para pejabat busuk yang membisikkan data palsu kepada pemimpin; mereka sedang menggali lubang kubur bagi bangsa ini.
Ulama yang ikut serta dalam lingkaran ini yang dalam bahasa Imam Al-Ghazali disebut sebagai "lalat di atas bangkai" telah melakukan pengkhianatan ganda: pengkhianatan terhadap amanah kenabian dan pengkhianatan terhadap rakyat yang seharusnya mereka bela.
Rekomendasi untuk Para Pemegang Ilmu (Ulama)
Untuk mengembalikan marwah ilmu dan menjauh dari label "pencuri" (seperti kata Sufyan Ats-Tsauri), para ulama harus:
1. Menjaga Jarak yang Sehat (I'tizal)
Mendatangi penguasa hanya untuk memberikan nasihat yang pahit namun benar, bukan untuk meminta fasilitas.
2. Kemandirian Ekonomi
Belajar dari para Imam Madzhab yang berdagang atau bertani agar lisan mereka tidak kelu saat harus menegur penguasa karena perut mereka telah "dibeli".
3. Prinsip Irtafi' Li Tarā
Fokus pada peninggian kualitas batin dan ilmu agar mampu melihat realitas rakyat kecil yang terhimpit, bukan sekadar mencari panggung agar "dilihat" (Li Turā) sebagai penasihat istana.
Rekomendasi untuk Pemegang Kebijakan (Umara)
Seorang pemimpin harus sadar bahwa ia memegang amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Maka ia wajib:
1. Membersihkan Lingkaran Dalam
Dengan Membuang para "Sengkuni" yang hanya memberikan laporan "asal bapak senang" (ABS) dan menggantinya dengan sosok seperti Widura penasihat yang jujur meski bicaranya pedas.
2. Mendatangi Ulama Akhirat
Sebagaimana kaidah "Sebaik-baik penguasa adalah yang mendatangi ulama", pemimpin harus proaktif mencari nasihat dari ulama yang dikenal zuhud dan tidak memiliki kepentingan proyek di pemerintahan.
3. Verifikasi dan Tabayyun
Jangan menjadi "Destarata" yang menelan mentah-mentah bisikan dadu curang. Pemimpin harus turun ke bawah untuk melihat kebenaran dengan mata kepalanya sendiri.
Memutus Rantai Kebusukan
Kehancuran Hastinapura terjadi karena tidak ada keberanian untuk memutus pengaruh Sengkuni sebelum semuanya terlambat. Bangsa ini masih memiliki kesempatan untuk berbenah. Ulama harus kembali ke masjid dan pesantren sebagai penjaga moral, dan pejabat harus kembali ke meja kerja sebagai pelayan rakyat.
Hanya dengan integritas yang teguh, kita dapat memastikan bahwa pemimpin kita tidak lagi buta, dan para pembisiknya tidak lagi busuk. Sebab, ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan pernah bersatu dengan kegelapan manipulasi.[] Wallaahu 'Alam
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan atas orang-orang yang mengikuti petunjuk
Komentar
Posting Komentar