Memaknai Filosofi Dua Mata, Dua Telinga dan Satu Mulut


Oleh: Syamsul Ulum 


PERNAHKAH kita merenung sejenak, mengapa Sang Pencipta mendesain anatomi raga kita dengan komposisi yang begitu presisi? Di atas takhta kepala ini, Dia meletakkan dua jendela mata untuk menatap cakrawala realitas dan dua pintu telinga untuk menyaring gema kebenaran. Namun, di bawahnya, hanya ada satu lisan yang terkunci rapat di balik pagar gigi dan bibir. Desain ilahi ini bukan sekadar urusan biologis, melainkan sebuah 'instruksi bisu' bagi setiap jiwa yang memegang amanah kekuasaan: bahwa untuk setiap satu kata yang terucap, harus didahului oleh dua penglihatan yang tajam dan dua pendengaran yang jernih. Inilah awal dari marwah seorang pemimpin, atau justru awal dari keruntuhannya.

Di panggung politik yang penuh dengan kebisingan pencitraan, kita sering kali mendapati sebuah ironi ada seorang pemimpin yang memiliki alat indra lengkap, namun bertindak seolah buta dan tuli. Mereka sibuk memproduksi narasi dari satu mulutnya, sembari menyumbat dua telinganya dari kritik dan menutup dua matanya dari realitas sosial. Padahal, desain fisik manusia telah memberikan peringatan keras, kita diberi porsi mendengar dan melihat dua kali lebih banyak daripada berbicara. Tulisan ini bermaksud membongkar tragedi kepemimpinan modern yang gagal menyelaraskan gerak lidah dengan kejujuran mata dan telinga.

Filosofi Dua Mata, Dua Telinga dan Satu Mulut

FILOSOFI organ tubuh pada kepala ini adalah sebuah tamsil kuno yang sangat mendalam jika dikaitkan dengan seni kepemimpinan (The Art of Leadership). Tuhan menciptakan struktur anatomi ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai "desain instruksional" bagi manusia, terutama bagi mereka yang memegang tampuk kekuasaan. Inilah filosofinya:

1. Dua Telinga: Input yang Luas dan Adil

Filosofinya adalah Kita diberi dua telinga agar bisa mendengar dua kali lebih banyak daripada berbicara. Dua telinga juga melambangkan keseimbangan informasi. Seorang pemimpin tidak boleh memiliki "telinga tipis" atau hanya mendengar dari satu pihak (one-sided hearing). Telinga Kanan digunakan untuk Mendengar laporan formal, data, dan prestasi. Sedangkan Telinga Kiri digunakan untuk Mendengar kritik, keluhan rakyat, dan suara sumbang yang mungkin pahit.

Pemimpin yang hebat adalah pendengar yang aktif. Ia harus mampu menyaring bisikan para "Sengkuni" dalam hal ini para pejabat bawahannya dan harus mencari suara "Widura" (kebenaran). Jika telinga pemimpin tersumbat oleh penjilat, maka kebijakan yang lahir akan cacat.

2. Dua Mata: Visi dan Pengawasan Langsung

Filosofinya adalah Mata berada di bagian depan dan berjumlah dua untuk memberikan perspektif ruang (depth perception) yang akurat. Satu mata saja tidak cukup untuk melihat jarak dan kedalaman secara sempurna. Jadi Seorang pemimpin harus memiliki pandangan yang tajam dan tidak boleh "buta" seperti Destarata.

Mata Pertama (Visi) yang digunakan untuk melihat jauh ke depan, merencanakan masa depan bangsa, dan membaca arah zaman.

Sedangkan Mata Kedua (Realisme) digunakan untuk melihat ke bawah, melihat kenyataan di lapangan, dan memastikan bahwa apa yang dilaporkan oleh bawahan sesuai dengan kenyataan di akar rumput.

Seorang Pemimpin harus melakukan Check and Balances. Ia tidak boleh hanya melihat "angka di atas kertas", tetapi harus melihat "air mata di wajah rakyat".

3. Satu Mulut: Output yang Terukur dan Berwibawa

Filosofinya adalah Mulut hanya ada satu, letaknya di bawah mata dan telinga, serta dijaga oleh dua lapis "pagar" (gigi dan bibir). Ini melambangkan bahwa kata-kata harus melewati proses penyaringan yang ketat.

Jadi Mulut seorang pemimpin adalah titah. Sekali kata keluar, ia menjadi hukum atau janji. Seorang pemimpin harus bicara sedikit, bekerja  anyak. Seorang Pemimpin tidak boleh terjebak dalam retorika kosong atau janji-janji palsu. Sebelum bicara, informasi harus sudah "dilihat" oleh dua mata dan "didengar" oleh dua telinga.

Pemimpin yang terlalu banyak bicara biasanya kurang bekerja. Satu mulut berarti satu kata dan perbuatan (Satya Wacana). Kata-katanya harus mengandung solusi, bukan sekadar pembelaan diri atau narasi bohong.

Sintesis Kepemimpinan

Jika seorang pemimpin menggunakan mulutnya (bicara) lebih banyak daripada telinganya (mendengar) dan matanya (melihat), maka ia akan menjadi pemimpin yang tiran dan narsistik. Sebaliknya, jika ia menggunakan proporsi desain Tuhan ini dengan benar maka:
1. Ia akan menjadi bijaksana karena banyak mendengar.
2. Ia akan menjadi waspada karena banyak melihat.
3. Ia akan menjadi berwibawa karena hanya bicara hal yang benar dan penting.

Kesimpulannya:

Tuhan mendesain kepala kita agar kita menjadi makhluk yang Reseptif (menerima kebenaran lewat mata dan telinga) sebelum menjadi makhluk yang Ekspresif (mengeluarkan pernyataan lewat mulut). Pemimpin yang gagal adalah mereka yang mulutnya lebih cepat bertindak daripada telinga dan matanya. Ada kata mutiara (aphorism) yang indah dalam bahasa Arab dan Indonesia yang mengandung filosofi yang sangat dalam tentang Allah SWT menciptakan pada satu kepala ada dua telinga, dua mata dan satu mulut ? Yaitu:

 "جَعَلَ اللَّهُ لَكَ أُذُنَيْنِ وَعَيْنَيْنِ وَلِسَانًا وَاحِدًا، لِتَسْمَعَ وَتُبْصِرَ ضِعْفَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ."

"Allah menjadikan bagimu dua telinga dan dua mata, namun hanya satu lidah; agar engkau mendengar dan melihat dua kali lebih banyak daripada apa yang engkau bicarakan."

"Pemimpin yang bijaksana membasuh matanya dengan kenyataan dan menajamkan telinganya dengan kebenaran, sebelum ia membuka mulutnya untuk sebuah titah. Sebab, satu lidah yang tanpa kendali mata dan telinga adalah awal dari singgasana yang runtuh."

 "Dua mata untuk melihat jelata, dua telinga untuk mendengar fakta, dan satu mulut untuk menjaga wibawa. Itulah fitrah kepala, jangan biarkan syahwat kekuasaan membalikkan fungsinya."

Penutup:

 Sebagai penutup, marilah kita merenungi desain Tuhan pada raga kita. Kita diberi dua mata untuk melihat realitas, dua telinga untuk menyaring kebenaran, namun hanya satu mulut agar kita berhati-hati dalam berucap. Pemimpin yang gagal adalah ia yang mulutnya lebih cepat bertindak daripada matanya melihat dan telinganya mendengar.[] Wallahu 'Alam 

والسلام على من اتبع الهدى 

Keselamatan atas orang-orang yang mengikuti petunjuk 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian