Klenik, Mistik dan Meminta Pertolongan Roh Ghaib dalam Sorotan Tafsir



Klenik, Mistik, dan Meminta Pertolongan Roh Ghaib dalam Sorotan Tafsir

Oleh: Syamsul Ulum 

DUNIA kontemporer seringkali terjebak dalam dua kutub ekstrem: rasionalisme yang menolak segala sesuatu yang tak terlihat atau justru jatuh ke dalam jurang klenik dan mistisisme yang menyimpang. Islam, sebagai agama yang sempurna, memberikan tuntunan yang jernih mengenai hakikat "Ghaib" dan batasan interaksi manusia dengannya.

1. Memahami Hakikat Al-Ghaib

Secara bahasa, Ghaib (الغيب) berasal dari kata ghaba-yaghiibu yang berarti tidak kelihatan. Pakar bahasa Al-Qur'an, Ar-Raghib al-Asfahani, menjelaskan dalam al-Mufradat:
"Kata al-ghaib digunakan untuk menyebut semua yang tidak bisa ditangkap indra dan semua yang tidak bisa dijangkau oleh ilmu manusia."

Namun, ghaib bukanlah sesuatu yang khayali. Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menegaskan bahwa ghaib adalah hal-hal yang nyata dan dibenarkan adanya, meski tak tampak. Islam tidak menuntut kepercayaan buta, melainkan iman yang didasari bukti akal dan keterangan yang kuat. Beliau menjelaskan makna al-Ghaib dalam Tafsir AlQuran nya:

"AL-GHAIB berarti: sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab). Allah Swt, para malaikat dan hari kiamat, semuanya al-Ghaib. Lagi pula, kata yang digunakan dalam Al-Qur’an tersebut tidak berarti hal-hal yang KHAYALI dan TIDAK NYATA, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya meskipun tak nampak (QS.32:7; QS.49:19)."   (AlQuran dan terjemah Tafsir singkat, catatan no. 20)

2. Roh: Rahasia Ilahi, Bukan Alat Klenik

Fenomena orang-orang yang mengejar kekuatan batin melalui bantuan roh-roh bukanlah hal baru. Al-Qur'an menjawab tantangan ini dalam QS. Al-Isra' (17:85):
وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا 
"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah: 'Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'."

Kajian Tafsir:

Dalam sejarahnya, kaum Yahudi di masa kemunduran rohani mereka sering terjebak dalam ilmu klenik (occult), mirip dengan gerakan teosofi atau meditasi menyimpang masa kini. Mereka menggunakan isu "roh" untuk menguji Nabi SAW. Hazrat Mirza Basyirudin Mahmud Ahmad dalam tafsirnya menjelaskan: 

"Dalam masa kemunduran dan kejatuhan rohani mereka, nampaknya orang-orang Yahudi asyik berkecimpung dalam Kebiasaan-kebiasaan ilmu KLENIK (occult), seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi Hindu. 

Nampaknya di masa Rasulullah Saw pun beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa ketika orang-orang musyrik Mekah mencari bantuan orang-orang Yahudi untuk membungkam Rasulullah Saw, mereka memberi saran supaya orang-orang musyrik Mekah itu menanyakan kepada Rasulullah Saw hakikat roh manusia. 

Dalam ayat yang sedang dibahas ini Al-Qur’an menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan, bahwa roh memperoleh daya kekuatannya dari perintah Ilahi; dan apa pun yang menurut kepercayaan orang dapat diperoleh dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan batin dan ilmu sihir, adalah semata-mata tipu dan omong-kosong belaka. (AlQuran dan terjemah Tafsir singkat, catatan no. 1647)

Al-Qur'an menegaskan bahwa roh adalah jenis penciptaan Amr (perintah langsung tanpa zat sebelumnya), bukan alat yang bisa dimanipulasi melalui sihir atau latihan batin untuk meramal nasib. Apa yang diklaim sebagai kekuatan sakti dari roh-roh sering kali hanyalah tipu daya dan omong kosong belaka.

3. Klenik vs Spiritualitas: Jurang Pemisah yang Nyata

Seringkali masyarakat mencampuradukkan antara praktik klenik dengan spiritualitas. Padahal keduanya bertolak belakang:

Klenik: Aktivitas mistis yang meminta bantuan dukun atau roh leluhur untuk tujuan pragmatis (harta, kesehatan, atau mencelakai orang). Ini adalah bentuk penyimpangan tauhid.

Spiritualitas Islam: Hubungan mendalam dengan Allah (Tauhid) melalui penyucian jiwa (Tazkiyatun Nafs). Tujuannya adalah ketenangan batin dan ridha Allah, bukan kesaktian.

4. Nubuatan Lenyapnya Ruh Al-Qur'an

Dalam QS. Al-Isra' (17:86), Allah memperingatkan tentang kemungkinan dicabutnya wahyu. Para ulama melihat ini sebagai nubuatan akan datangnya masa di mana ruh ajaran Al-Qur'an lenyap.
Pada masa tersebut, akan muncul orang-orang yang mengaku sebagai ahli mistik atau sufi gadungan yang mengklaim memiliki kekuatan batin istimewa. Namun, sebanyak apapun mereka berkumpul, mereka tidak akan pernah bisa mengembalikan kemuliaan agama tanpa petunjuk murni dari Allah. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قُلْ لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْاِ نْسُ وَا لْجِنُّ عَلٰۤى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰ نِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَا نَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

"Katakanlah, "Seandainya manusia dan jin berhimpun bersama untuk mendatangkan yang semisal (dengan) Al-Qur'an ini, tidaklah mereka akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini. Walaupun sebagian mereka membantu sebagian yang lain."(QS. Al-Isra' 17: Ayat 89)

Penjelasan:

Hazrat Mirza Basyirudin Mahmud Ahmad menjelaskan: "Tantangan ini pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung dalam Kebiasaan-kebiasaan KLENIK, supaya mereka meminta pertolongan ROH-ROH GAIB, yang darinya orang-orang Ahli KEBATINAN itu yang menurut pengakuannya sendiri menerima ilmu rohani. Tantangan ini berlaku pula untuk semua orang yang menolak Al-Qur’an bersumber pada Tuhan dan untuk sepanjang masa". (AlQuran dg Terjemah dan Tafsir singkat, Catatan no. 1649)

5. Tantangan Bagi Pemuja Roh Ghaib

Allah menantang manusia dan jin dalam QS. Al-Isra' (17:88) untuk mendatangkan yang semisal Al-Qur'an. Tantangan ini secara khusus ditujukan kepada:
1. Para pelaku Klenik yang merasa mendapat ilmu dari roh-roh ghaib.
2. Para ahli kebatinan yang merasa memiliki sumber pengetahuan selain wahyu. Sebagaimana ditegaskan dalam tafsir, meskipun mereka saling membantu, kekuatan ghaib yang mereka sembah tidak akan pernah mampu menandingi kebenaran firman Allah.

6. Monopoli Ilmu Ghaib Hanya Milik Allah

Islam menutup rapat pintu perdukunan dengan menegaskan bahwa tidak ada yang tahu perkara ghaib kecuali Allah.

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah ....." (QS. An-Naml: 65)

Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan:

يَقُولُ تَعَالَىٰ آمِرًا رَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقُولَ مُعَلِّمًا لِجَمِيعِ الْخَلْقِ: أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ.

“Allah Ta‘ala berfirman dengan memerintahkan Rasul-Nya ﷺ agar mengatakan sebagai pengajaran kepada seluruh makhluk bahwa tidak ada seorang pun dari penghuni langit dan bumi yang mengetahui perkara gaib.” Hanya melalui jalur Wahyu informasi ghaib itu diberikan, dan itu pun hanya kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/207) 

Pada asalnya manusia tidak bisa mengetahui hal ghaib mutlak kecuali melalui jalur wahyu. Dan tidak ada yang mendapatkan wahyu kecuali para utusan Allah, baik utusan dari kalangan manusia maupun malaikat. Allah berfirman:

عَلٰمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖۤ اَحَدً اِلَّا مَنِ ارْتٰضَى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًا ۙ

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. Al-Jin: 26-27)

Dalam ayat di atas, Allah menegaskan bahwa Allah tidak pernah membocorkan hal ghaib itu kepada siapapun, kecuali kepada utusannya. Al- Hafidz Ibnu Katsir menegaskan:

إنه یعلم الغیب والشهادة، وانه لا يطلع أحد من خلقه علی شيء من علمه إلا مما أطلعه تعالی علیه؛ ولهذا قال: {فلا يظهر على غيبه أحدا إلا من ارتضى من رسول} وهذا يعم الرسول الملكي والبشري

Allah-lah yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak, dan Allah tidak menunjukkan ilmunya kepada siapapun diantara makhluk-Nya kecuali apa yang Allah sampaikan kepadanya. Karena itu, Allah berfirman:

فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا () إِلّا مَنِ ازْتَصی مِنْ رَسُولٍ

Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya Dan ini mencakup rasul dari kalangan malaikat dan manusia. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/247)

Jika ada manusia biasa yang mengklaim tahu hal ghaib, seperti tahu kondisi di alam kubur, tahu nasib seseorang, tahu tentang kondisi akhirat, dst., bisa kita pastikan bahwa dia seorang PENDUSTA.

Kesimpulan:

Barangsiapa yang mengklaim mengetahui hal ghaib seperti nasib seseorang, kondisi ahli kubur secara detail tanpa dalil, atau ramalan masa depan maka ia telah mendustakan Al-Qur'an.

Imam Asy-Syafi'i pernah memberikan peringatan keras (atsar) yang senada:

"Jika kalian melihat seseorang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, janganlah kalian tertipu hingga kalian menimbang perbuatannya di atas timbangan Al-Qur'an dan As-Sunnah."

Marilah kita memperkuat tauhid dan menjauhi segala bentuk praktik klenik yang dibungkus dengan bahasa agama. [] Wallahu 'Alam.

والسلام على من اتبع الهدى 

Keselamatan dan kedamaian bagi mereka yang mengisi petunjuk Allah dan Rasul-Nya ( ﷺ)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian