Mengucapkan "Selamat Natal", Tepatkah? Sebuah Tinjauan Iman, Sejarah, dan Logika.



Oleh: Syamsul Ulum 

SETIAP bulan Desember, diskusi mengenai ucapan "Selamat Natal" selalu menghangat di tengah masyarakat. Namun, jika kita menyelami lebih dalam dari sudut pandang akidah Islam, fakta sejarah, bahkan naskah Alkitab sendiri, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Benarkah ucapan tersebut tepat secara substansi?

Natal dalam Kacamata Iman Islam

Bagi umat Islam, mengimani Nabi Isa AS (Yesus) adalah bagian tak terpisahkan dari rukun iman. Namun, Islam meletakkan beliau pada derajat yang sangat mulia sebagai manusia yang diangkat menjadi Nabi dan Rasul, bukan sebagai Tuhan atau anak Tuhan.

Dalam Al-Qur'an Surah Al-Ikhlas ayat 3, ditegaskan bahwa Allah tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Kelahiran Isa Al-Masih dari rahim Bunda Maryam adalah bukti bahwa beliau adalah makhluk, karena hanya makhluk yang mengalami proses dilahirkan. Islam memuliakan Isa AS sebagai utusan Allah yang lahir dari mukjizat melalui wanita suci, bukan sebagai personifikasi Tuhan di bumi.

Misteri Tanggal 25 Desember: Musim Dingin atau Musim Panas?

Secara tradisi, Natal dirayakan pada 25 Desember yang identik dengan musim dingin dan salju di belahan bumi utara. Namun, mari kita perhatikan catatan dalam Injil Lukas 2:6-8:
"...Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam."

Logika sederhana mengatakan: mungkinkah para gembala tetap berada di padang rumput terbuka pada malam hari di tengah puncak musim dingin yang membeku? Uskup Barns dalam bukunya The Rise of Christianity menyatakan bahwa sangat tidak mungkin para gembala berada di luar jika salju turun. Hal ini diperkuat oleh Encyclopaedia Britannica yang menyebutkan bahwa penetapan 25 Desember baru terjadi sekitar tahun 300 Masehi.

Kesaksian Al-Qur'an dan Musim Kurma

Berseberangan dengan narasi musim dingin, Al-Qur'an memberikan detail yang sangat spesifik mengenai suasana kelahiran Nabi Isa AS. Dalam Surah Maryam ayat 23-25, Allah memerintahkan Maryam untuk menggoyang pangkal pohon kurma agar buahnya yang masak (ruthab) jatuh. AlQuran menceritakan peristiwa kelahiran Yesus atau Isa Ibnu Maryam as:

فَاَجَآءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِ ۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا

"Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan." (QS. Maryam 19: Ayat 23)

فَنَادٰٮهَا مِنْ تَحْتِهَاۤ اَ لَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا

"Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu."
(QS. Maryam 19: Ayat 24)

وَهُزِّيْۤ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا 

"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (QS. Maryam 19: Ayat 23-25)

Menurut ayat ini (QS. 19:25), kelahiran Isa As telah terjadi pada musim, ketika pohon-pohon kurma di Yudaea sedang melebat dengan buah-buahnya yang segar. Musim itu jelas jatuh pada bulan-bulan Agustus dan September, tetapi menurut anggapan kalangan umat Kristen pada umumnya Isa As dilahirkan pada tanggal 25 Desember.

Secara botani, pohon kurma di wilayah Yudea (Palestina) hanya berbuah lebat dan masak pada bulan Agustus atau September (musim panas). Hal ini sejalan dengan penelitian Dr. John D. Davis dalam Dictionary of the Bible dan Dr. Peake dalam Commentary on the Bible yang memperkirakan kelahiran Isa AS terjadi antara bulan September atau Oktober tahun 8 SM.

Kontradiksi Makna "Selamat"

Satu poin paling menarik yang jarang dibahas adalah makna kata "Selamat" itu sendiri.
Dalam keyakinan Kristen (dan Yahudi pada masanya), Yesus dianggap tidak selamat dari penyaliban. Mereka meyakini Yesus wafat di tiang salib demi menebus dosa manusia. Jika mereka meyakini beliau "tidak selamat" di akhir hayatnya (menurut versi mereka), lantas apakah tepat kita mengucapkan kata "Selamat"?

Sebaliknya, Islam meyakini bahwa Nabi Isa AS adalah sosok yang benar-benar selamat. Beliau hidup hingga usia 120 tahun (sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dalam Al-Mu’jam al-Kabīr) dan mengemban tugas risalahnya dengan sempurna.  Nabi Suci Muḥammad SAW bersabda:
وَأَنَّهُ أَخْبَرَنِيْ أَنَّ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَاشَ عِشْرِيْنَ وَمِائَةَ سَنَةٍ

"Jibrīl as mengabarkan kepadaku bahwa ‘Īsā as hidup selama 120 tahun.” (Al-Mu‘jam al-Kabīr,Fī Mā Rawat Umm-ul-Mu’minīn ‘Ā’isyah ‘An Fāṭimah raḍiyallāhu ‘anhumā, no. 1301).

Kesimpulan

Menghormati keyakinan orang lain adalah bagian dari toleransi, namun memahami akar keyakinan sendiri adalah bagian dari integritas iman. Dengan melihat fakta bahwa 25 Desember bukanlah tanggal kelahiran yang didukung sejarah maupun teks suci, serta adanya perbedaan fundamental mengenai akhir hidup beliau, maka ucapan tersebut menjadi tidak relevan secara substansi bagi seorang muslim.

Bagi kita, Nabi Isa AS adalah simbol kesucian dan keteguhan iman yang lahir di musim panas yang hangat, membawa pesan kedamaian sebagai hamba Allah yang mulia.[] Wallahu 'Alam bishawab 

والسلام على من اتبع الهدى 

Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian