Benarkah Ada Nabi Setelah Muhammad? Simak Penjelasan Syeikh Ibnu Arabi.
Kenabian Tasyri (pembawa syariat) dan Tabi'ah (pengikut Nabi Tasyri) Menurut Syeikh Ibnu Arabi
Oleh: Syamsul Ulum
PERSOALAN mengenai konsep Khatamun Nabiyyin (Penutup syariat para Nabi) merupakan salah satu pilar fundamental dalam aqidah Islam. Namun, munculnya diskursus mengenai turunnya Nabi Isa as di akhir zaman sering kali memicu pertanyaan mendalam: Bagaimana posisi kenabian Isa as di tengah ketetapan bahwa tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ?
Syeikhul Akbar Muhyidin Ibnu Arabi radhiyallahu 'anhu, (1165–1240 M) seorang ulama dan sufi besar dari Andalusia (Spanyol) yang sangat berpengaruh yang dikenal dengan kedalaman intuitifnya, memberikan penjelasan yang sangat mencerahkan mengenai hal ini. Dalam Magnum opusnya yang monumental Al-Futuhat al-Makkiyah (Penyingkapan-penyingkapan Mekkah) beliau mengurai simpul kerumitan tersebut dengan membedakan dimensi kenabian antara pembawa syariat baru (Tasyri') dengan kenabian yang bersifat mengikuti syariat yang ada (Tabi'ah). Pemahaman ini penting guna mendudukkan kemuliaan para nabi sekaligus menjaga kemurnian doktrin finalitas syariat Islam. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai pandangan beliau tentang jenis kenabian sebagai berikut :
وَنُبُوَّةُ عِيسَى ثَابِتَةٌ لَهُ مُحَقَّقَةٌ، فَهَذَا نَبِيٌّ وَرَسُولٌ، قَدْ ظَهَرَ بَعْدَهُ، وَهُوَ الصَّادِقُ فِي قَوْلِهِ: إِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، فَعَلِمْنَا قَطْعًا أَنَّهُ يُرِيدُ التَّشْرِيعَ خَاصَّةً. فَالنُّبُوَّةُ مَقَامٌ عِنْدَ اللَّهِ يَنَالُهُ الْبَشَرُ، وَهُوَ مُخْتَصٌّ بِالْأَكَابِرِ مِنَ الْبَشَرِ، يُعْطَى لِلنَّبِيِّ الْمُشَرِّعِ، وَيُعْطَى لِلتَّابِعِ لِهَذَا النَّبِيِّ الْمُشَرِّعِ الْجَارِي عَلَى سُنَّتِهِ. قَالَ تَعَالَى: "وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا" ... فَسَدَدْنَا بَابَ إِطْلَاقِ لَفْظِ النُّبُوَّةِ عَلَى هَذَا الْمَقَامِ، مَعَ تَحَقُّقِهِ، لِئَلَّا يَتَخَيَّلَ مُتَخَيَّلٌ أَنَّ الْمُطْلِقَ لِهَذَا اللَّفْظِ يُرِيدُ: نُبُوَّةَ التَّشْرِيعِ
(الفتوحات المكية حاد ٢ ص. ٣)
"Dan kenabian Isa itu tetap ada dan nyata baginya. Maka beliau (Isa) adalah seorang Nabi dan Rasul yang telah muncul setelah beliau (Nabi Muhammad dalam konteks turunnya kembali di akhir zaman), sementara Nabi Muhammad adalah sosok yang jujur dalam sabdanya: 'Bahwa tidak ada Nabi setelahku.'( إِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ). Maka dari itu, kami mengetahui secara pasti bahwa yang beliau maksud (dengan 'tidak ada nabi setelahnya') adalah Kenabian Syariat (Nubuwwah at-Tasyri’) secara khusus.
Sebab, kenabian adalah sebuah kedudukan (maqam) di sisi Allah yang dapat dicapai oleh manusia, dan ia dikhususkan bagi orang-orang besar (al-akabir) dari kalangan manusia; kedudukan ini diberikan kepada Nabi yang membawa syariat (Al-Musyarrri'), dan diberikan pula kepada pengikut Nabi pembawa syariat tersebut yang berjalan di atas sunnahnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا"
'Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya (Musa) sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun, sebagai seorang nabi.' (QS. Maryam: 53).
Oleh karena itu, kami menutup pintu penggunaan istilah 'Kenabian' (Nubuwwah) secara mutlak terhadap kedudukan ini meskipun kedudukan tersebut secara hakikat ada hanyalah agar tidak ada seorang pun yang berkhayal bahwa orang yang mengucapkan istilah tersebut bermaksud mengacu pada Kenabian Syariat." (Asy-Syaikh Ibnu 'Arabi, kitab Al-Futuhat Al-Makkiyyah jilid. 2 hal. 3.).
Penjelasan:
Syeikh Ibnu Arabi dalam kitabnya Al-Futuhat al-Makiyah, beliau membahas tentang hierarki dan jenis kenabian dengan fokus pada status Nabi Isa (Yesus) dan Nabi Muhammad ﷺ.
1. Konfirmasi Kenabian Isa as
Syeikh Ibnu Arabi menegaskan bahwa Isa Al-Masih adalah seorang Nabi dan Rasul yang diakui dalam Islam. Ini adalah keyakinan pokok Aqidah Islam.
2. Nabi setelah Muhammad vs. Tidak ada Nabi setelahnya.
Ini adalah poin kritis. Di satu sisi, Isa adalah nabi. Di sisi lain, Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa tidak ada nabi setelahnya.
Lalu Bagaimana menyelaraskannya?
Syeikh Ibnu Arabi mencoba memberikan solusi dengan membedakan dua jenis kenabian:
1· النبوة التشريعية (An-Nubuwwah at-Tasyri'iyyah)
An-Nubuwwah at-Tasyri'iyyah adalah Kenabian Pembawa Syariat Baru. Menurut beliau inilah kenabian tingkat tertinggi yang membawa hukum dan ajaran baru dari Allah, yang menghapus atau menyempurnakan syariat sebelumnya. Inilah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai "Khatamul Anbiya" (Penutup syariat Para Nabi). Setelah beliau, tidak ada lagi nabi jenis ini.
2· النبوة التابعة (An-Nubuwwah at-Tabi'ah)
An-Nubuwwah at-Tabi'ah adalah Kenabian Pengikut. Ini adalah gelar kenabian yang diberikan kepada seorang manusia agung yang tidak membawa syariat baru, tetapi mengikuti, menegakkan, dan berjalan di atas syariat nabi sebelumnya. Statusnya seperti seorang nabi yang juga menjadi pengikut (ummat) dari nabi pembawa syariat sebelumnya. Allah SWT Berfirman:
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَا دِنَا ۚ فَمِنْهُمْ ظَا لِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚ وَمِنْهُمْ سَا بِقٌ بِۢا لْخَيْرٰتِ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ
"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." (QS. Fatir 35: Ayat 32)
3. Penerapan pada Nabi Isa as
Menurut pandangan Syeikh Ibnu Arabi, ketika Nabi Isa as turun (diutus) kembali di akhir zaman (keyakinan Islam), beliau tidak datang dengan membawa syariat baru. Beliau akan turun sebagai pengikut dan pelaksana syariat Nabi Muhammad ﷺ (menjadi bagian dari Ummat Muhammad), menghakimi dengan hukum Islam, mematahkan salib, membunuh Dajjal, dsb. Dengan demikian, kenabian Isa tidak bertentangan dengan klausul "tidak ada nabi setelah Muhammad", karena kenabiannya di masa datang adalah kenabian jenis kedua yakni Kenabian pengikut (Tabi'ah), bukan Tasyri'iyyah.
4. Nabi pengikut: Nabi Harun as
Syeikh Ibnu Arabi mengutip ayat tentang Nabi Harun as untuk menguatkan argumen. Harun adalah seorang nabi, tetapi dia diutus bersama dan di bawah kepemimpinan syariat Nabi Musa as. Dia adalah nabi, tetapi sekaligus "wakil" dan pendukung Musa. Ini dianggap sebagai contoh historis dari "kenabian pengikut".
5. Tujuan Kesimpulan (Menutup Pintu Kesalahpahaman)
Dalam hal ini Syeikh Ibnu Arabi sangat berhati-hati. Dia mengatakan: meskipun secara teknis kita bisa menyebut seorang tokoh agung pengikut syariat Muhammad sebagai "nabi" (dalam pengertian Tabi'ah), lebih baik kita tidak menggunakan istilah "nabi" secara longgar untuk konteks ini. Mengapa? Untuk mencegah kesalah pahaman dan kekeliruan di kalangan awam, agar tidak ada yang mengira bahwa ada nabi pembawa syariat baru setelah Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah upaya melindungi doktrin finalitas kenabian Muhammad ﷺ.
Ringkasan :
Maqalah ini adalah upaya teologis untuk mempertahankan dua keyakinan sekaligus:
1. Mengakui kenabian Isa as sebagai bagian dari rukun iman.
2. Menjaga keabsahan dan finalitas kenabian Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi pembawa syariat. Caranya adalah dengan membuat klasifikasi internal dalam konsep kenabian, sehingga kedatangan Nabi Isa as di masa depan tidak lagi dilihat sebagai "nabi baru" yang menggugat posisi Nabi Muhammad ﷺ, melainkan sebagai pembenaran dan penegasan terakhir atas syariat yang dibawanya.
Penutup:
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pemikiran Syeikh Ibnu Arabi menawarkan harmonisasi yang presisi antara teks hadits tentang berakhirnya kenabian dengan realitas teologis turunnya Nabi Isa as. Penekanan beliau pada pembedaan antara Nubuwwah at-Tasyri’iyyah dan Nubuwwah at-Tabi’ah bukan bermaksud membuka celah bagi munculnya nabi-nabi baru, melainkan untuk mempertegas keagungan syariat Muhammad ﷺ yang bersifat abadi hingga akhir zaman.
Langkah Syeikh Ibnu Arabi dalam membatasi penggunaan istilah "Nabi" secara mutlak kepada selain Nabi Muhammad ﷺ menunjukkan sikap ihtiyat (kehati-hatian) yang luar biasa dalam menjaga aqidah umat. Akhirnya, pemahaman ini membawa kita pada satu kesimpulan: bahwa seluruh cahaya kenabian yang hadir kemudian, semata-mata adalah pantulan dari kemuliaan syariat Nabi Muhammad ﷺ yang telah sempurna.[] Wallahu 'Alam
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya
Komentar
Posting Komentar