Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَوَلَا يَذْكُرُ الْاِ نْسَا نُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًـا
"Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, padahal (sebelumnya) dia belum berwujud sama sekali?" (QS. Maryam 19: Ayat 67)
اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الْخٰلِقُوْنَ
"Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (QS. At-Tur 52: Ayat 35)
____________________________________________
Oleh: Syamsul Ulum
SEJAK dahulu kala, jauh sebelum lahirnya ilmu pengetahuan modern, manusia telah berusaha memahami misteri terbesar: dari manakah alam semesta dan segala isinya berasal? Bagaimana mungkin ada sesuatu dari ketiadaan? Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini menggema lintas generasi, memicu perenungan mendalam dan melahirkan berbagai cara untuk memahami keberadaan Sang Pencipta.
Artikel ini membahas perbandingan antara hujjah sederhana seorang Arab badui sebagaimana dikutip dalam kitab Ma‘ârij al-Qabûl karya Hafizh al-Hakamî, dengan argumen kosmologis para filsuf Muslim klasik seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina. Analisis menunjukkan bahwa hujjah badui berbasis fitrah dan pengalaman empiris sederhana, sementara para filsuf Muslim menekankan pendekatan filosofis rasional. Artikel ini menyimpulkan bahwa meskipun kedua pendekatan memiliki kontribusi dalam pembahasan teologi Islam, hujjah fitrah lebih bersifat universal dan membumi, sementara argumen filsafat lebih cocok dalam konteks dialog intelektual dan apologetika.
Hujjah Sang Badui
Di tengah hamparan pasir yang luas, seorang Badui dengan kecerdasannya yang alami memberikan jawaban lugas nan memukau ketika ditanya tentang bagaimana ia mengenal Tuhannya?. Dengan lugas sang Badui menjawab:
اَلْبَعْرَةُ تَدُلُّ عَلَى الْبَعِيرِ، وَأَثَرُ الْأَقْدَامِ يَدُلُّ عَلَى الْمَسِيرِ، فَسَمَاءٌ ذَاتُ أَبْرَاجٍ، وَأَرْضٌ ذَاتُ فِجَاجٍ، وَبِحَارٌ ذَاتُ أَمْوَاجٍ، أَلَا تَدُلُّ
عَلَى اللَّطِيفِ الْخَبِيرِ؟
"Kotoran unta menunjukkan adanya unta, jejak kaki menunjukkan adanya orang berjalan. Maka langit dengan bintang-bintangnya, bumi dengan jalannya yang luas, dan lautan dengan ombaknya, bukankah itu semua menunjukkan adanya Tuhan yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui?"¹
Ucapannya bagai oase di tengah dahaga logika, sebuah pengakuan fitri bahwa keteraturan dan desain yang menakjubkan di alam semesta pastilah memiliki Sang Perancang.
Analogi Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah rh, seorang cendekiawan Muslim terkemuka, menggunakan analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari untuk membungkam para pengingkar Pencipta (Tuhan). Dalam Ma‘ārij al-Qabūl karya Syaikh Hafizh Hakami mengatakan:
قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ: بَلَغَنِي أَنَّ قَوْمًا يُنْكِرُونَ الصَّانِعَ، فَقَالَ: أَخْبِرُونِي عَنْ سَفِينَةٍ فِي دِجْلَةَ تَجْرِي مَلْأَى مِنَ الْأَمْتِعَةِ وَالْأَحْمَالِ الْعِظَامِ، وَتَذْهَبُ وَتَجِيءُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُدَبِّرَهَا أَحَدٌ، أَكَانَ يَجُوزُ ذَلِكَ فِي الْعَقْلِ؟
قَالُوا: لَا، هَذَا مُحَالٌ لَا يُمْكِنُ أَبَدًا.
فَقَالَ لَهُمْ: فَإِذَا كَانَ هَذَا مُحَالًا فِي سَفِينَةٍ، فَكَيْفَ فِي هَذَا الْعَالَمِ كُلِّهِ عُلُوِّهِ وَسُفْلِهِ؟
Imam Abu Hanifah rh berkata:
“Telah sampai kepadaku kabar bahwa ada suatu kaum yang mengingkari adanya Pencipta (Tuhan). Maka aku berkata kepada mereka: ‘Beritahukan kepadaku tentang sebuah kapal di Sungai Dajlah, ia berlayar penuh dengan berbagai barang dagangan dan muatan yang berat, ia pergi dan kembali tanpa ada seorang pun yang mengatur dan mengendalikannya. Apakah hal itu mungkin menurut akal?’ Mereka menjawab: ‘Tidak, itu mustahil dan tidak akan mungkin terjadi.’ Lalu Abu Hanifah berkata: ‘Jika hal itu mustahil pada sebuah kapal, maka bagaimana dengan seluruh alam semesta, langit dan bumi, yang berada di atas dan di bawah, dengan segala isinya yang tertata rapi adakah mungkin itu ada tanpa Pencipta?’”²
Argumen ini bagai palu godam yang menghantam kesombongan akal, menyadarkan bahwa keberadaan Sang Pencipta adalah konsekuensi logis dari keteraturan alam semesta. Inti dari argumen ini adalah sebagai berikut:
1. Analogi Kapal.
Abu Hanifah meminta orang-orang tersebut membayangkan sebuah kapal di sungai Tigris (Dajlah) yang penuh dengan barang-barang berat. Kapal itu bergerak sendiri, bolak-balik tanpa ada nahkoda, pengemudi, atau pengatur yang mengendalikannya.
2. Respons Akal Sehat
Para pendengar sepakat bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil secara akal dan logika. Sebuah kapal pasti memiliki pengemudi atau seseorang yang mengaturnya agar bisa bergerak dan tidak menabrak.
3. Penerapan pada Alam Semesta.
Abu Hanifah kemudian menerapkan kesimpulan yang sama pada alam semesta yang jauh lebih besar dan kompleks. Jika sebuah kapal yang sederhana saja tidak mungkin bergerak sendiri tanpa pengatur, maka bagaimana mungkin seluruh alam semesta dengan segala kompleksitas, keteraturan, dan keajaibannya, dari langit hingga bumi bisa ada dan berfungsi secara teratur tanpa ada Pencipta, Pengatur, dan Pengelola yang Maha Kuasa?
Secara ringkas, argumen ini menyimpulkan bahwa keteraturan dan desain yang luar biasa di alam semesta ini adalah bukti yang paling jelas akan keberadaan Pencipta. Mustahil alam ini ada secara kebetulan atau tanpa campur tangan dari kekuatan yang mengatur. Ini adalah bukti bahwa Tuhan itu ada, dan akal sehat manusia akan menolak gagasan bahwa sesuatu yang begitu kompleks bisa ada dengan sendirinya tanpa Pencipta.
Metode Argumentasi (Dalil al-Tamtsil / Qiyās al-Tamtsīlī)
Abu Hanifah menggunakan analogi (tamtsil) yang sederhana tapi sangat kuat:
1. Kapal penuh muatan adalah simbol alam semesta.
2. Nahkoda yang mengatur adalah Allah sebagai al-Khāliq dan al-Mudabbir.
Abu Hanifah rh ingin menunjukkan bahwa jika akal sehat menolak kapal berlayar tanpa pengemudi, maka lebih tidak mungkin lagi alam semesta berjalan tanpa pengatur.
Kekuatan Hujjah
Fitrah: Menyentuh nalar alami manusia.
Logis: Tidak perlu filsafat rumit, cukup analogi keseharian.
Qur’ani: Sejalan dengan ayat-ayat seperti:
“أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ”
“Apakah mereka tercipta tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri?” – (QS. At-Thur: 35).
Para Filosof Muslim Merumuskan Bukti
Seiring dengan perkembangan intelektual Islam, para filosof Muslim mencoba membangun argumentasi yang lebih sistematis berdasarkan kerangka pemikiran filsafat Yunani.
Al-Kindi (w. 873 M)
Dengan argumen hudûts al-‘alam (kebaruan alam), Al-Kindi menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah baru dan pasti memiliki permulaan. Sesuatu yang baru pasti membutuhkan pencipta. Oleh karena itu, alam semesta yang kita saksikan ini pasti diciptakan oleh Zat Yang Maha Dahulu (Qadîm), yang tidak memiliki permulaan, yaitu Allah SWT.
Al-Farabi (w. 950 M)
Mengembangkan teori emanasi (al-faidh), Al-Farabi menggambarkan bagaimana alam semesta terpancar dari Tuhan Yang Maha Esa. Ibarat cahaya yang memancar dari matahari, keberadaan alam semesta merupakan pancaran dari keagungan dan kekuasaan Allah. Keteraturan kosmos yang menakjubkan adalah bukti dari proses emanasi yang teratur dan sempurna.
Ibn Sina (w 1037 M)
Melalui argumen Wajib al-Wujûd (Wujud Yang Niscaya), Ibn Sina menjelaskan bahwa segala sesuatu yang mungkin ada pasti memiliki penyebab. Jika rantai penyebab ini terus berlanjut tanpa akhir, maka tidak akan ada sesuatu pun yang terwujud. Oleh karena itu, harus ada satu Wujud yang keberadaannya tidak bergantung pada apapun, yang niscaya ada dengan sendirinya, yaitu Allah SWT. Dialah penyebab pertama dari segala yang ada.
Pandangan Ulama Tafsir dan Akidah
Perkataan Badui yang singkat itu sesungguhnya mengandung hujjah yang sangat mendalam, dan para ulama menjadikannya contoh fitrah tauhid.
1. Menurut Ulama Tafsir
a. Al-Qurthubi (Tafsir al-Jami‘ li Ahkâm al-Qur’ân)
Ketika menafsirkan ayat-ayat tentang tanda-tanda alam (آيات الآفاق), beliau sering mengutip ungkapan badui ini sebagai contoh dalîl al-‘inayah (tanda perhatian Allah melalui penciptaan).
“Seperti seorang badui berkata: kotoran menunjukkan adanya unta, jejak kaki menunjukkan adanya orang berjalan; maka langit, bumi, dan lautan dengan segala keteraturannya adalah tanda pasti adanya Pencipta.”
Artinya, sebagaimana tanda kecil (jejak kaki) tidak mungkin muncul tanpa pelaku, maka tanda besar berupa alam semesta lebih layak lagi tidak mungkin muncul tanpa Sang Pencipta.
b. Ibn Katsir (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhîm)
Para ulama tafsir dan akidah juga memberikan perspektif berharga dalam memahami keberadaan Tuhan. Dalam tafsir surat Adz-Dzâriyât: 20–21, Ibn Katsir menyebutkan bahwa setiap ciptaan Allah adalah dalîl qâthi‘ (bukti pasti) atas wujud-Nya. Keindahan, keteraturan, dan keselarasan alam semesta adalah saksi bisu akan kebesaran Sang Khalik.
Ungkapan badui ini mencerminkan pemahaman fitrah: “Jika sesuatu yang kecil saja bisa menunjukkan adanya pembuat, maka bagaimana dengan langit yang luas, bumi yang luas, dan laut yang penuh dengan ombak?”
2. Menurut Ulama Akidah
a. Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (Miftâh Dâr as-Sa‘âdah)
Ibn Qayyim Al-Jauziyyah menekankan bahwa akal sehat yang jernih sudah cukup untuk mengenali tanda-tanda keberadaan Tuhan melalui ciptaan-Nya, tanpa perlu terjebak dalam kerumitan filsafat. Beliau mengutip pernyataan badui ini dan menegaskan bahwa akal yang lurus tidak memerlukan filsafat rumit untuk mengenal Allah. Tanda-tanda alam adalah dalil paling dekat dan mudah difahami. “Cukuplah bagi hati yang selamat melihat ciptaan, maka ia pasti menunjuk kepada Sang Pencipta.”
Beliau sependapat dengan kekuatan hujjah badui yang bersumber dari fitrah manusia
b. Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah (Dar’ Ta‘ârudh al-‘Aql wa an-Naql)
Seorang pemikir besar seperti Ibn Taimiyyah lebih cenderung pada dalil fitrah dan akal sehat (seperti yang dicontohkan dalam hujjah badui) daripada argumen-argumen filosofis yang rumit seperti teori emanasi atau ontologi Ibn Sina. Menurutnya, pendekatan yang lebih dekat dengan ajaran Al-Qur'an adalah dengan merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terhampar di alam semesta dan tertanam dalam fitrah setiap manusia. Beliau menegaskan bahwa fitrah manusia sudah mengakui adanya Allah. Perkataan badui ini adalah contoh spontan dari fitrah itu. Jejak kecil saja menunjukkan ada pelaku, apalagi alam semesta yang penuh keteraturan.
“Semua makhluk adalah ayat (tanda) bagi adanya Rabb, sebagaimana kotoran dan jejak adalah tanda bagi pemiliknya.”
c. Syaikh Hafizh al-Hakamî (Ma‘ârij al-Qabûl)
Kitab yang Anda sebutkan sendiri (Ma‘ârij al-Qabûl) mencatat kisah badui ini untuk menjelaskan dalil aqli (rasional) yang sederhana namun kuat. Beliau menegaskan bahwa hujjah seperti ini lebih mengena bagi masyarakat awam daripada perdebatan panjang filsafat.
d. Menurut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as (Al-Mahdi wal Masihil Mau'ud)
Cara Mengetahui Keberadaan Tuhan.
"Mengingat Wujud dari Allah Yang Maha Kuasa meskipun begitu cemerlang namun tersembunyi dari pandangan mata dan alam Jasmani ini tidak cukup mampu mengenalinya, karena itulah maka mereka bertumpu pada sistem fisika yang tertata rapi dalam usahanya memahami segala keajaiban melalui ilmu (astronomi), fisika maupun filosofi yang telah menembus ke langit dan bumi, tidak bisa menghilangkan keraguan dan kualitatif mereka sehingga mereka menjadi hanyut dalam berbagai bentuk terkadang jauh di bawah bayangan pikiran mereka sendiri. Kalau mereka memandang alam semesta ini dan memperhatikan keteraturan di dalamnya, mereka baru sampai pada kesimpulan bahwa mungkin memang ada sesosok Wujud Pencipta. Jelas bahwa pandangan seperti itu belum lengkap dan pemahaman seperti itu tidak sempurna karena mengatakan bahwa sistem ini memerlukan keberadaan Tuhan tidak sama dengan menyatakan bahwa Tuhan memang ada. Ini hanyalah duga-dugaan mereka yang tidak bisa memberikan kepuasan dan keselesaan batin, serta tidak bisa menghilangkan keraguan. Semuanya itu belum merupakan cawan yang bisa menghilangkan dahaga manusia akan pemahaman seutuhnya yang sudah melekat dalam tabiat manusia. Bahkan pemahaman mentah seperti itu membawa bahaya karena setelah menimbulkan kegalauan saat lalu berakhir dengan tertidur.”
“Sepanjang Allah Yang Maha Kuasa tidak mengukuhkan eksistensi-Nya melalui firman-Nya penelaahan atas hasil kinerja-Nya semata tidak akan memberikan kepuasan. Sebagai contoh, kalau kita melihat sebuah kamar yang terkunci dari dalam, reaksi pertama kita adalah mengatakan bahwa ada seseorang di dalam kamar yang telah menguncinya dari dalam karena mengunci dari luar jelas tidak mungkin. itu kosong, sedangkan kuncinya terpasang melalui suatu cara yang canggih.
Hal seperti inilah yang terjadi pada diri para filosof yang tidak melampaui batas semata hanya menelaah hasil kinerja Tuhan. Adalah suatu kekeliruan besar untuk membayangkan bahwa Tuhan itu seperti mayat yang harus dikeluarkan manusia dari kuburnya. Jika Tuhan harus ditemukan melalui usaha manusia maka semua harapan kita atas Tuhan tersebut menjadi tidak ada artinya. Tuhan Sejati adalah Wujud yang selalu memanggil manusia ke arah-Nya dengan menyatakan: 'Aku ini ada.' Merupakan suatu kekonyolan untuk membayangkan bahwa Tuhan harus sejalan dengan pemahaman manusia dan berasumsi bahwa jika tidak karena para filosof maka Dia tidak akan dikenal. Juga merupakan kekurangajaran untuk menanyakan apakah Tuhan memiliki lidah untuk berbicara. Bukankah Dia telah menciptakan semua benda di langit dan di bumi tanpa bantuan tangan fisik? Bukankah Dia memandang ke seluruh alam ini tanpa mata fisik? Tidakkah Dia itu mendengar tanpa telinga fisik? Dengan sendirinya juga maka Dia bisa berbicara.
Adalah keliru untuk mengatakan bahwa Tuhan hanya berbicara di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi yang tersisa di masa depan. Kita tidak akan pernah bisa mematok firman atau kata-kata-Nya hanya pada suatu jangka waktu tertentu saja. Tidak diragukan lagi bahwa Dia akan memperkaya para pencari-Nya dari sumber mata air wahyu sebagaimana yang telah dilakukan-Nya sejak dulu. Gerbang keridhaan-Nya tetap terbuka sekarang sebagaimana juga terbuka sejak sebelumnya. Yang benar adalah, setelah kebutuhan akan kaidah dan petunjuk telah terpenuhi, maka semua Kenabian dan Kerasulan mencapai kulminasi kesempurnaannya pada titik akhir dalam diri Junjungan dan Penghulu kita, Yang Mulia Rasulullah Muhammad saw .”³
3. Makna Tauhid
Langit, bumi, laut diciptakan dengan keteraturan yang sempurna, maka pasti ada Perancang Maha Bijaksana. Sesuatu yang ada setelah sebelumnya tidak ada pasti membutuhkan pencipta. Tidak perlu logika filsafat Yunani; cukup dengan fitrah akal sehat: setiap tanda ada yang menunjukinya.
Jika kita bandingkan, ada tiga jalur menuju pengenalan Allah:
- Fitrah Badui: sederhana, langsung, dan menyentuh hati.
- Filsuf Muslim: rasional, sistematis, dan memuaskan kalangan intelektual.
- Sains Modern: berbasis data, dapat diuji, dan sesuai penemuan terbaru.
Meskipun berbeda bahasa, ketiganya bermuara pada kesimpulan yang sama: alam semesta tidak mungkin ada tanpa Tuhan sebagai Pencipta.
4. Relevansi dalam Aqidah
Untuk Menjawab orang yang mengingkari Allah: “Jika engkau percaya kotoran unta tak mungkin tanpa unta, maka bagaimana engkau tidak percaya langit dan bumi ada tanpa Allah?” Hal tersebut Menunjukkan bahwa tauhid bukan sekadar dogma, tapi bisa ditangkap oleh akal sehat manusia.
Menjadi dasar da‘wah tauhid yang lembut, logis, dan menyentuh hati.
Jadi, ulama tafsir menekankan sisi ayat kauniyah (tanda-tanda alam), sementara ulama akidah menekankan sisi fitrah dan dalil rasional sederhana. Keduanya berpadu menunjukkan bahwa perkataan badui ini bukan sekadar ucapan polos, tapi argumen tauhid yang mendalam.
Dari Hujjah Sederhana hingga Teori Kosmologi Modern
Menariknya, meskipun berbeda dalam redaksi dan kerangka argumentasi, inti dari berbagai "jejak Tuhan" ini memiliki benang merah yang sama: alam semesta dengan segala keteraturannya tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dari kesimpulan sederhana seorang Badui di gurun pasir, hingga perenungan mendalam para filosof Muslim, hingga bahkan teori Big Bang dalam kosmologi modern yang mengakui adanya permulaan alam semesta, semuanya mengarah pada pemahaman bahwa ada kekuatan Mahabesar di balik terciptanya jagat raya ini. Perjalanan mencari jejak Tuhan adalah perjalanan tanpa akhir, sebuah undangan untuk terus merenungkan keajaiban ciptaan dan mengakui kebesaran Sang Pencipta yang telah mewujudkan alam semesta dari ketiadaan.
Kesimpulan
Hujjah badui dan argumen kosmologis filsuf Muslim sama-sama bertujuan meneguhkan eksistensi Tuhan, tetapi berbeda dari segi epistemologi dan pendekatan. Hujjah badui menekankan kesederhanaan fitrah yang bersifat universal, sedangkan filsuf Muslim menekankan rasionalitas filosofis yang lebih cocok untuk dialog dengan kaum intelektual. Dalam konteks dakwah dan penguatan iman, hujjah fitrah lebih membumi dan dekat dengan Al-Qur’an. Namun dalam konteks perdebatan intelektual, argumen kosmologis filsafat memiliki kontribusi penting dalam sejarah teologi Islam.
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan atas orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.
_________________
Catatan kaki:
¹ Syarh al-Bukhari li al-Safiry, 1/461).
² kitab Ma‘ārij al-Qabūl bi Syahri sulam alwushul, karya Syaikh Hafizh al-Hakamî, Jilid 1 hal. 136)
³ Filsafat Usulki Islami , Ruhani Khazain , vol. 10, hal. 363-367, London, 1984.
Komentar
Posting Komentar