Mengurai Polemik Klaim Kenabian Mirza Ghulam Ahmad dalam Perspektif Prof. Dr. Menachem Ali



Oleh: Syamsul Ulum 


PERDEBATAN seputar posisi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dalam teologi Islam, khususnya mengenai klaim kenabian, telah menjadi titik kontroversi utama terhadap Jemaat Ahmadiyah. Banyak kalangan menganggap Ahmadiyah mengajarkan adanya “nabi baru” setelah Nabi Muhammad ﷺ. 

Dalam sebuah forum diskusi bertajuk “Nabi Isa a.s. dalam Al-Qur’an dan Bible” yang diadakan oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Masjid Fadhlullah, Cisaranten, Bandung. Dr. Menachem Ali, s s, M.Min (Universitas Airlangga) menekankan bahwa problem utama bukan semata-mata doktrin, melainkan bahasa komunikasi. 

Artikel ini mengulas pandangan tersebut dalam kerangka akademik dan menilai implikasinya terhadap strategi dakwah serta penerimaan sosial.

Menurut Dr. Menachem Ali salah satu kritik yang sering diarahkan kepada Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah tuduhan bahwa Jemaat Muslim Ahmadiyah telah mengangkat seorang “nabi baru”, yang bernama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Tuduhan ini mengandung konsekuensi serius, sebab dalam teologi Islam mainstream, Nabi Muhammad ﷺ diyakini sebagai khatamun-nabiyyin yang diartikan sebagai penutup para nabi dan nabi terakhir.

Namun, Jemaat Muslim Ahmadiyah menegaskan bahwa yang mereka yakini bukanlah kenabian independen (berdiri sendiri) di luar Islam, melainkan sebagai penggenapan nubuwat (ramalan) akan kedatangan kembali Nabi Isa a.s. di akhir zaman. Menurut Muslim Ahmadiyah, sosok yang dijanjikan oleh Rasulullah ﷺ itu telah datang dalam diri Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Al-Masih dan juga Imam Mahdi.

Bahasa sebagai Instrumen Dakwah

Bahasa bukan sekadar medium, melainkan penentu arah persepsi publik. Dalam teori komunikasi agama, pilihan diksi dapat memperkuat atau justru melemahkan penerimaan pesan. Menurutnya, Jika Ahmadiyah menggunakan istilah “Al-Masih yang dijanjikan” alih-alih “nabi baru”, maka resistensi publik berpotensi berkurang. Dr. Menachem Ali menekankan perlunya strategi komunikasi yang lebih inklusif agar substansi ajaran dapat dipahami tanpa menimbulkan kesalahpahaman teologis.

Menurutnya Pandangan ini membuka ruang bagi kajian perbandingan teologi Islam kontemporer, khususnya mengenai konsep tajdid (pembaharuan agama) dan mab‘utsiyyah (pengutusan rohani). Di Indonesia, di mana ormas Islam beragam (NU, Muhammadiyah, Persis, Syiah, hingga Ahmadiyah), komunikasi lintas kelompok menjadi kunci meredam konflik. Dalam Dakwah Pemilihan bahasa yang tepat dapat menghindarkan stigma dan membuka ruang dialog sehat. Dr. Menachem Ali juga menanggapi diskusi tentang keberadaan Nabi Isa a.s. dan kaitannya dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Sebagaimana kita saksikan Pernyataan beliau pada saat sesi tanya jawab dalam kajian 'Nabi Isa a.s. dalam Al-Qur'an dan Bible. Beliau menyampaikan bahwa polemik tentang “nabi baru” bisa dipahami secara lebih sederhana jika dilihat dari sudut pandang bahasa dan strategi komunikasi dakwah. Beliau mengatakan:

"Saya bisa menemukan titik temu di antara pendapat-pendapat yang beragam itu, apakah diangkat ke langit atau tidak, tapi ketemunya di satu pemahaman bahwa Isa Al Masih itu, kalau dikaitkan dengan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Ghulam Ahmad itu disebut Isa Al-Masih. Berarti logikanya, Isa Al-Masih itu nabi, jadi tidak ada nabi Mirza Ghulam Ahmad, tapi nabi Isa Al Masih yang namanya Mirza Ghulam Ahmad, selesai sudah. Jadi ga ada istilah fitnahan nabi baru, ga ada, tapi dari situlah orang mulai faham, oh yang dimaksud nabi itu, nabi Isa Al Masih yang bernama Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Persoalannya kan bahasa komunikasi yang dikatakan nabi Mirza Ghulam Ahmad, itu yang menjadi problem, tapi kalau dikaitkan dengan Nabi Isa Al masih, mungkin selesai. Nah, saya kira bahasa dakwah itu tidak mudah, harus ada strategi, bagaimana menyatakan sesuatu supaya dipahami oleh masyarakat awam. Ini lepas dari kita mau meyakini yang mana ya, karena disini kan beragam, ada yang NU, ada yang Muhamadiyah, ada yang mana lagi, ada Persis, ada Syiah juga:"

Pandangan Prof. Dr. Menachem Ali

Prof. Dr. Menachem Ali mengatakan bahwa “Mirza Ghulam Ahmad itu disebut Isa Al-Masih. Berarti logikanya, Isa Al-Masih itu nabi. Jadi tidak ada nabi Mirza Ghulam Ahmad, tapi yang ada adalah Nabi Isa Al-Masih yang namanya Mirza Ghulam Ahmad, selesai sudah. Jadi ga ada istilah fitnahan nabi baru, ga ada. Persoalannya kan bahasa komunikasi yang dikatakan nabi Mirza Ghulam Ahmad, itu yang menjadi problem.”

Dalam diskusi tersebut beliau menyampaikan bahwa Masalah “apakah Isa a.s. masih hidup di langit atau sudah wafat” memang menjadi perbedaan tafsir di kalangan umat Islam. Tapi, dalam pandangan beliau, titik temunya bisa ditemukan pada figur yang disebut sebagai Al-Masih yang dijanjikan (Al-Masih Al-Mau'ud)..

Menurutnya Mirza Ghulam Ahmad bukan “nabi baru”, tapi penggenapan dari Isa Al-Masih a.s. yang dinubuwatkan akan datang di akhir zaman. Beliau juga menjelaskan bahwa Jemaat Ahmadiyah memandang Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Al-Masih yang dijanjikan. Maka, secara teologis, beliau bukanlah nabi baru yang berdiri sendiri (Mustaqil) atau pembawa syariat melainkan perwujudan dari kedatangan kembali Nabi Isa a.s. dalam arti rohani. Jadi menurut beliau istilahnya: “Bukan ada Nabi Mirza Ghulam Ahmad, tetapi ada Nabi Isa Al-Masih yang datang kembali dengan nama Mirza Ghulam Ahmad.”

Menurut beliau, kesalahpahaman muncul karena penggunaan istilah. Jika dikatakan “nabi baru bernama Mirza Ghulam Ahmad”, masyarakat Muslim langsung menolak, karena bertentangan dengan keyakinan khatamun-nabiyyin. Namun, jika dikomunikasikan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Al-Masih yang dijanjikan (Isa a.s.kedua), maka istilah “nabi baru” menjadi tidak relevan.

Beliau menekankan pentingnya strategi komunikasi dakwah agar pesan dapat dipahami oleh masyarakat awam. Bahasa yang salah bisa menimbulkan kesalahpahaman dan fitnah.

Prof. Dr. Menachem menegaskan bahwa ia tidak sedang memihak atau mengajak orang meyakini satu pandangan tertentu. Ia hanya menunjukkan cara pandang yang lebih komunikatif agar diskusi tidak buntu, terutama di forum yang terdiri dari berbagai golongan seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Syiah, maupun Ahmadiyah.

Dari pernyataan tersebut, terdapat dua poin penting:

1. Mirza Ghulam Ahmad diposisikan sebagai Isa Al-Masih yang dijanjikan (Al-Masih Al-Mau'ud), bukan nabi independen (terpisah dari Islam).

2. Problem Bahasa yakni Frasa “nabi baru” muncul bukan dari doktrin Ahmadiyah, melainkan dari cara masyarakat menerima dan mengartikulasikan pesan.

Kesimpulan:

Pernyataan Prof. Dr. Menachem Ali menegaskan bahwa polemik “nabi baru” dalam konteks Ahmadiyah lebih banyak dipicu oleh masalah terminologi daripada substansi teologi. Mirza Ghulam Ahmad dipahami sebagai Isa Al-Masih yang dijanjikan, bukan nabi independen di luar Islam. Oleh karena itu, strategi komunikasi dakwah yang menekankan pada aspek ini berpotensi mengurangi salah paham dan meningkatkan penerimaan sosial.

Perdebatan tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad as dapat dijembatani dengan penjelasan bahwa beliau adalah kedatangan kembali Isa a.s. dalam wujud seorang hamba (pengikut) Nabi Muhammad ﷺ, bukan nabi independen di luar Islam. [] Wallaahu 'Alam 

_________________________
Sumber: https://youtu.be/Dftns_iYVJ4?si=EpF_auY3f 4rUgJpt (Menit ke: 25':12 - 26':45)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian