Waspada Pembisik yang Menjerumuskan: Nasihat Rasulullah Saw untuk Pemimpin


Oleh: Syamsul Ulum 


Allah SWT Berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا ۖ وَدُّوا۟ مَا عَنِتُّمْ ۚ قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ ۖ وَمَا تُخْفِى 
صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

 "Wahai orang-orang yang beriman Janganlah kamu mengambil orang-orang yang bukan dari golonganmu sebagai ‘biṭānah’ (orang dalam/kepercayaan), karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkanmu. Telah tampak kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan hati mereka lebih besar lagi. Sungguh, telah Kami jelaskan ayat-ayat kepada kalian jika kalian mengerti." (Qs. Ali ‘Imran ayat 118)

KEPEMIMPINAN adalah amanah yang teramat besar. Di balik setiap keputusan dan kebijakan, seringkali ada suara-suara yang membisikkan saran, masukan, bahkan dorongan. Para pemimpin, entah itu presiden, gubernur, bupati, umaro atau siapa pun yang mengemban tanggung jawab publik atau umat, umumnya dikelilingi oleh para penasihat, staf, atau figur-figur kepercayaan yang memiliki akses dekat. Mereka inilah yang sering disebut "pembisik" atau "orang dalam" (bithanah). Namun, tahukah Anda bahwa fenomena "pembisik" ini sudah menjadi perhatian serius sejak zaman Rasulullah ﷺ ?

Fenomena "pembisik" ini bukanlah hal baru. Islam, dengan ajarannya yang komprehensif, telah memberikan panduan tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya menyikapi lingkaran terdekatnya. Ini bukan hanya masalah etika atau manajemen pemerintahan semata, melainkan juga bagian dari integritas spiritual dan keberlangsungan sebuah kepemimpinan yang adil dan benar.
Peringatan Rasulullah ﷺ tentang Bitanah (Orang Kepercayaan)

Rasulullah ﷺ, sebagai pemimpin umat terbaik, tidak luput dari realitas adanya "orang dalam" ini. Beliau bahkan memberikan peringatan yang sangat jelas mengenai dualisme sifat para pembisik atau penasihat. Hadits ini menjadi landasan utama bagi setiap pemimpin untuk senantiasa waspada dan hati-hati. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

"مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى."

"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi dan tidak pula menjadikan seorang khalifah (pemimpin) melainkan ia memiliki dua jenis orang dekat (penasihat): satu golongan yang menyuruhnya kepada kebaikan dan mendorongnya kepadanya, dan satu golongan yang menyuruhnya kepada keburukan dan mendorongnya kepadanya. Maka yang terlindungi adalah orang yang dilindungi oleh Allah Ta'ala." ¹

Realitas Universal Kepemimpinan

Hadits mulia ini memberikan gambaran yang sangat realistis tentang tantangan yang dihadapi oleh para pemimpin, baik nabi maupun khalifah (pemimpin setelah nabi), dalam menjalankan amanah mereka. Ia menegaskan pentingnya memilih orang-orang terdekat yang jujur dan tulus.
"مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ" (Tidaklah Allah mengutus seorang nabi dan tidak pula mengangkat seorang khalifah)

Kalimat ini menegaskan bahwa fenomena "dua jenis bitanah" berlaku universal untuk semua pemimpin. Baik nabi (yang menerima wahyu dan secara umum maksum dari dosa besar) maupun khalifah (pemimpin umat yang tidak maksum), semua akan menghadapi realitas ini. Ini menunjukkan bahwa godaan dan tantangan dalam kepemimpinan adalah hal yang melekat pada fitrah manusia dan jabatan kekuasaan.

"Khalifah" di sini tidak hanya merujuk pada khalifah setelah Nabi, tetapi juga dapat diartikan sebagai setiap pemimpin yang diberikan amanah kekuasaan atau pemerintahan dari tingkat tertinggi hingga terendah.

"إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ" (melainkan baginya ada dua bitanah)

Kata "Bitanah" (بِطَانَةٌ) secara harfiah berarti "lapisan dalam" atau "bagian dalam pakaian yang menyentuh kulit." Dalam konteks ini, ia merujuk pada orang-orang terdekat, penasihat utama, pembantu, atau lingkaran dalam seorang pemimpin. Mereka adalah orang-orang yang paling sering berinteraksi dengan pemimpin, mengetahui rahasianya, dan menjadi tempatnya meminta nasihat dan arahan. Hadits ini secara eksplisit menyebutkan ada dua jenis bitanah. Ini adalah realitas yang tidak terhindarkan dalam setiap kepemimpinan.

"بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ" (satu bithanah yang menyuruhnya kepada kebaikan dan menganjurkannya)

Ini adalah jenis bitanah yang ideal dan sangat bermanfaat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ketakwaan, kejujuran, keikhlasan, dan integritas moral.

"Tā'muruhu bil-ma'rūf" تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ (Menyuruhnya kepada kebaikan): Maksudnya adalah segala sesuatu yang sesuai dengan syariat Allah, akal sehat, etika, dan kemaslahatan umum bagi rakyat dan negara.

"Wa taḥuḍḍuhu 'alaih" وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ (Dan menganjurkan/mendorongnya kepadanya): Mereka bukan hanya sekadar memberi nasihat, tetapi juga memberikan dukungan, motivasi, dan mungkin strategi agar kebaikan itu terwujud.

"وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ" (dan satu bitanah yang menyuruhnya kepada keburukan dan menganjurkannya)

Ini adalah jenis bithanah yang berbahaya dan merusak. Mereka adalah orang-orang yang mungkin memiliki niat buruk, kepentingan pribadi, ambisi tersembunyi, atau tidak memiliki integritas moral.

"Tā'muruhu bish-sharr" تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ (Menyuruhnya kepada keburukan): Maksudnya segala sesuatu yang bertentangan dengan syariat, merugikan rakyat, mengarah pada kemaksiatan, kezaliman, korupsi, atau penyalahgunaan kekuasaan.

"Wa taḥuḍḍuhu 'alaih" وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ (Dan menganjurkan/mendorongnya kepadanya). Mereka bisa jadi para penjilat, koruptor, provokator, atau bahkan pihak-pihak yang ingin menjatuhkan. Mereka tidak hanya memberi saran, tetapi juga memfasilitasi pemimpin untuk melakukan keburukan tersebut.

"فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى." (Maka yang terlindungi adalah orang yang dilindungi oleh Allah Ta'ala)

Ini adalah bagian penutup hadits yang sangat krusial.

"Al-Ma'sum": Orang yang terpelihara, terjaga, atau terlindungi dari kesalahan dan dosa.
"Man 'Asama Allah": Adalah orang yang Allah jaga.

Frasa ini mengandung makna bahwa meskipun seorang pemimpin akan selalu dihadapkan pada dua jenis pengaruh ini, pada akhirnya perlindungan dan petunjuk dari Allah-lah yang menentukan apakah ia akan terjerumus ke dalam keburukan atau tetap berada di jalan kebaikan. Bagi nabi, mereka maksum dari dosa besar dan dilindungi dari kesalahan fatal dalam menyampaikan risalah. Namun, untuk khalifah (pemimpin selain nabi), mereka tidak maksum. Oleh karena itu, bagi khalifah, memohon penjagaan Allah dan berusaha memilih bitanah yang baik adalah kunci. Penjagaan Allah ini datang kepada mereka yang berusaha sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, menaati-Nya, dan bersandar pada-Nya.

Al-Qur'an dan Kriteria Penasihat yang Baik.

Al-Qur'an juga memberikan isyarat tentang pentingnya memilih penasihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi orang kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (bukan dari golonganmu) karena mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memikirkan." (QS. Ali Imran: 118)

Penjelasan 

Ayat ini memperingatkan kaum beriman agar tidak menjadikan orang luar (yang tidak satu visi dan tidak setia pada kebenaran) sebagai biṭānah yaitu orang dalam, penasihat dekat, atau tokoh kepercayaan. Kata biṭānah berasal dari “baṭn” (perut dalam), maknanya adalah orang yang sampai ke sisi paling dalam seseorang, alias: orang dalam lingkaran kekuasaan/pengaruh yang sangat pribadi dan strategis.

Ciri-ciri Orang yang Tidak Layak Jadi Orang Kepercayaan

Ayat ini menyebut tanda-tandanya:

1. "لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا" : Mereka tidak akan segan-segan merusak kalian. Mereka akan terus mengupayakan keburukan dan kekacauan.

2. "وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ" : Mereka senang jika kalian susah atau menderita.

3. "قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ" : Kebencian mereka sudah tampak dari ucapan mereka.

4. "وَمَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ" : Apa yang tersembunyi di hati mereka lebih berbahaya daripada yang mereka ucapkan.

Salah Pilih Orang Kepercayaan

Dalam konteks seorang pemimpin, ayat ini sangat relevan sebagai peringatan serius:

1. Ketika seorang pemimpin memilih orang-orang kepercayaan dari kalangan yang tidak jujur, tidak amanah, atau memiliki niat memecah persatuan, maka ia telah membuka pintu bagi kerusakan dari dalam.

2. Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan paling parah justru datang dari dalam lingkaran kepercayaan yang salah. Musuh yang nyata mungkin dapat dihadapi, tapi pengkhianat dari dalam jauh lebih berbahaya karena mereka mengetahui titik-titik lemahnya. Pemimpin seperti ini tidak bijak dan tidak cerdas, karena ayat ini ditutup dengan:

 "قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ"

“Kami telah menjelaskan ayat-ayat ini jika kalian mau berpikir (berakal).”

Meskipun ayat ini secara spesifik berbicara tentang memilih orang kepercayaan dari kalangan non-Muslim dalam konteks tertentu, pesan esensialnya sangat relevan. Hati-hati dalam memilih siapa yang Anda percaya dan jadikan bitanah. Orang yang tidak tulus atau memiliki niat buruk akan senantiasa berusaha menimbulkan kerusakan (khabalan) dan menyukai kesulitan yang menimpa Anda (ma 'anittum). Kebencian dan niat buruk mereka bisa saja tersembunyi dalam sanubari, meski terkadang bocor melalui ucapan.

Kisah Raja Yoas dan Para Pembisik

Sejarah juga mencatat banyak kisah yang mengilustrasikan kebenaran hadits ini. Salah satu contoh klasik adalah kisah Raja Yoas dari Bani Israil, yang diceritakan dalam Kitab Suci. Kisahnya menjadi cermin betapa vitalnya pengaruh bitanah terhadap arah kepemimpinan.

Yoas adalah seorang raja yang awalnya menunjukkan potensi besar. Ketika masih berada di bawah bimbingan dan pengaruh Imam Yoyada yang saleh, ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Yoas, atas nasihat Yoyada, bahkan mengambil keputusan bijaksana untuk merenovasi Rumah Tuhan yang telah dirusak dan mengganti barang-barang kudus yang sebelumnya digunakan untuk penyembahan berhala. Ini menunjukkan bahwa dengan bitanah yang baik, seorang pemimpin bisa membawa perbaikan dan kemaslahatan.

Namun, setelah Imam Yoyada wafat, Yoas jatuh ke dalam perangkap. Ia mulai mengikuti nasihat para pemimpin Yehuda yang menyesatkan. Para pembisik baru ini memiliki kebiasaan kafir dan berhasil memengaruhi Yoas dan rakyat Yehuda untuk meninggalkan Tuhan dan kembali beribadah kepada berhala Baal. Puncaknya, mereka bahkan membunuh Zakharia, anak Imam Yoyada, yang menegur perbuatan mereka.

Perjalanan hidup Raja Yoas menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya para pemimpin. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin bisa menjadi baik atau buruk, sangat tergantung pada siapa yang ia jadikan orang kepercayaan dan pembisik terdekatnya. Bisikan-bisikan yang dikemas dengan sanjungan, atau yang menjanjikan keuntungan sesaat, seringkali dapat menjerumuskan seorang pemimpin pada dosa dan kesesatan.

Refleksi Penting bagi Pemimpin 

Hadits Nabi Muhammad ﷺ dan kisah-kisah sejarah ini adalah "lampu kuning" bagi setiap pemimpin. Ini bukan hanya tentang integritas moral pribadi, tetapi juga tentang kecerdasan dalam memilah informasi dan menimbang setiap saran. Pemimpin yang bijak akan senantiasa:

1. Mendengarkan semua masukan, namun memilah dengan cermat mana yang berdasarkan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan umum, serta mana yang berbalut kepentingan pribadi atau menyesatkan.

2. Mengutamakan kejujuran dan keberanian dari penasihat, daripada sekadar "tukang setuju" yang hanya menyenangkan hati dan melanggengkan kekuasaan tanpa kritik.
Memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hanya dengan penjagaan-Nya seorang pemimpin bisa terhindar dari jerat godaan dan pengaruh buruk. Ketakwaan dan tawakal adalah perisai terkuat.

3. Membuka diri terhadap kritik konstruktif dari masyarakat, karena terkadang kebenaran dan peringatan datang dari arah yang tak terduga, bahkan dari pihak yang tidak dianggap "lingkaran dalam".

Bagi kita sebagai masyarakat, pelajaran ini juga mengajarkan pentingnya untuk senantiasa menjadi bagian dari bitanah yang menyeru pada kebaikan. Mari kita menjadi warga negara yang kritis namun konstruktif, senantiasa mengingatkan pemimpin pada jalan yang benar demi kemaslahatan bersama, dan bukan menjadi pembisik yang menyesatkan.

Pada akhirnya, sebuah kepemimpinan akan tegak dan membawa berkah yang abadi jika fondasinya adalah kebenaran dan keadilan, yang dibangun atas dasar ketaatan kepada Allah dan didukung oleh orang-orang yang tulus ikhlas serta takut kepada-Nya.

Semoga artikel ini bermanfaat dan mencerahkan kita semua!. Aamiin

والسلام على من اتبع الهدى 

Keselamatan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya 

_____________
Catatan kaki:

¹ HR. Bukhari, Kitab Al-Mazalim, Bab "إذا اختلفوا إلى السلطان في الخصومة", Hadits No. 2458/Fathul Bari, jilid 13, hal. 202).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian