Menggali Makna Yalasy: Nama Tuhan yang Tersembunyi
Oleh: Syamsul Ulum
Dalam diskursus keagamaan, sering kali muncul perdebatan mengenai nama-nama Tuhan. Salah satu nama yang pernah diperkenalkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah Yalasy.
Pernyataan ini menimbulkan berbagai reaksi, namun jika dikaji lebih dalam, nama ini memiliki makna yang mendalam dan relevan dengan konsep tauhid dalam Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. pernah mengatakan:
"Allah telah mengajak berbicara kepadaku dan Dia berkata Yalasy. Dan Yalasy ini adalah salah satu nama Allah. Ini adalah kalimat ilham yang baru yang aku tidak menemukan bentuknya di dalam Al-Qur`an dan hadits dan tidak juga di dalam kitab-kitab kamus bahasa. Dan aku telah menemukan artinya (arti kata Yalasy) yaitu, Wahai yang tidak ada Sekutu…" (Ruhani Khazain jilid 17, hal 203)
Pernyataan ini mungkin terdengar asing, namun penjelasan yang menyertainya mengungkap bahwa Yalasy bukanlah kata yang berdiri sendiri, melainkan singkatan dari frasa Arab yang sangat familiar.
Asal-Usul Nama Yalasy
Secara linguistik, Yalasy merupakan singkatan dari kalimat tauhid: Yaa Laa Syarika Lahu (يا لا شريك له), yang berarti "Wahai Yang Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya".
Teknik penyingkatan seperti ini dalam ilmu Fiqhul Lughoh dikenal sebagai Isytiqaq Kubbar (الإشتقاق الكبّار)
Isytiqaq adalah proses pembentukan kata (derivasi) di mana satu kata diambil dari kata lain dengan perubahan tertentu, namun tetap memiliki keterkaitan makna. Sementara itu, Isytiqaq Kubbar adalah bentuk penyingkatan dua kata atau lebih menjadi satu kata. Contoh-contoh lain dari Isytiqaq Kubbar adalah:
-Bismillaah (بسم الله) disingkat menjadi --Basmalah (بسمل).
-Alhamdulillaah (الحمدلله) disingkat menjadi Hamdalah (حمدله).
Dengan demikian, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan bahwa ketika Tuhan menyebut Yalasy kepadanya, yang dimaksud adalah hakikat nama Allah yang pasti tidak ada sekutu bagi-Nya. Ini bukan nama yang sama sekali baru, melainkan esensi dari keesaan Tuhan yang diringkas dalam satu kata.
Nama-Nama Allah yang Tersembunyi
Pernyataan tentang nama Allah yang tidak ada dalam Al-Qur'an atau hadis mungkin menimbulkan pertanyaan. Namun, hal ini sesungguhnya selaras dengan ajaran Islam itu sendiri. Nama-nama Allah (Asmaul Husna) tidak terbatas pada 99 nama yang sering kita dengar.
Sebuah hadis sahih dari Nabi Muhammad ﷺ menegaskan hal ini: "Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ"
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau nama yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku." ¹
Hadis ini secara gamblang menunjukkan bahwa menurut Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ada nama-nama Allah yang diwahyukan di dalam Kitab suci Al-Qur’an, ada juga nama-nama Allah yang lain yang diwahyukan kepada hamba-hamba Allah dan ada pula nama-nama Allah yang hanya Dia ketahui, yang tidak diturunkan dalam kitab suci mana pun. Nama-nama Allah ini tersimpan dalam "ilmu ghaib".
Selain itu, Al-Qur'an juga menyatakan bahwa Allah tidak memperlihatkan hal ghaib kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai.
عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖۤ اَحَدًا
اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِ نَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًا
"Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya." (QS. Al-Jinn 72: Ayat 26-27)
Ini menjelaskan bahwa pengetahuan tentang nama-nama tersembunyi ini bisa saja diberikan kepada para Rasul Allah. Memang benar menurut Al-Qur’an Allah itu memiliki 99 sifat, namun Dia tidak terbatas pada nama-nama itu saja. Dalam Al-Qur’an Allah disebut memiliki 99 nama sifat, tetapi bukan berarti Allah hanya memiliki 99 nama saja Itu hanya menunjukkan bahwa Allah memiliki 99 sifat yang ada disebutkan di dalam Al-Qur’an. Bahkan dalam satu keterangan dalam sebuah tafsir ada dikatakan bahwa Allah SWT itu mempunyai 4000 nama.
Disebutkan dalam kitab tafsir Istirobadi yang ditulis oleh Muhammad Amīn ibn Muḥammad Sharīf al-Istarābādī, juga dikenal sebagai Amin al-Istarabadi. Beliau adalah ulama beraliran Syiah dan pendiri aliran Akhbārī pada abad ke-17. Amin al-Istarabadi wafat sekitar tahun 1036 H / 1626–1627 M, di Mekkah. Dalam tafsirnya yang dikutip oleh Yasin Hamami Jaddah disebutkah:
وذكر فى تفسير الاسترابادى ان لله تعالى أربعة الاف اسم ألف منها لا يعرف غير الله وألف منها لا يعرف غير الملائكة وألف فى لوح المحفوظ وثلثمائة فى التوراة وثلثمائة فى الانجيل وثلثمائة فى الزبور ومائة منها فى القرأن تسعة وتسعون ظاهرة وواحد منها خفى وهو الاسم الاعظم لا يعرفه الا الانبياء والمرسلين
Dan disebutkan dalam tafsir al-Istarabadi bahwa Allah Ta‘ala memiliki 4.000 nama. 1000 di antaranya tidak diketahui kecuali oleh Allah sendiri. 1000 di antaranya tidak diketahui kecuali oleh para malaikat. 1000 berada di Lauh al-Mahfuzh. 3000 terdapat dalam Taurat. 3000 dalam Injil. 3000 dalam Zabur. 100 di antaranya berada dalam Al-Qur’an — 99 di antaranya tampak (terkenal) dan satu di antaranya tersembunyi, yaitu al-Ism al-A‘zhom (Nama yang Paling Agung) yang tidak mengetahuinya kecuali para nabi dan para rasul." ²
Penjelasan:
4000 nama bukan berarti jumlah pasti yang terhitung secara literal. Dalam tradisi tasawuf, angka sering digunakan sebagai isyarat kepada keluasan sifat-sifat Allah yang tidak terbatas. Nama-nama Allah (Asmaul Husna) dalam Al-Qur’an yang kita kenal memang 99, tapi hadis tentang “Allah memiliki 99 nama” bukan berarti Allah hanya punya 99 nama, melainkan 99 nama yang istimewa dan diriwayatkan. Ism al-A‘zhom (Nama Allah yang Paling Agung) adalah nama khusus yang apabila diucapkan dalam doa akan dikabulkan, namun tidak semua orang mengetahuinya. Para ulama berbeda pendapat mengenai nama ini; ada yang mengatakan “Allah”, ada yang mengatakan “Al-Hayy al-Qayyum”, ada pula yang mengatakan gabungan beberapa nama.
Kesimpulan
Dengan memahami penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa nama Yalasy bukanlah nama baru yang dibuat-buat, melainkan sebuah penyingkatan yang padat makna dari frasa Yaa Laa Syarika Lahu. Ini adalah cara lain untuk menekankan keesaan Allah, sebuah konsep fundamental dalam Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tidak mengklaim nama baru, melainkan menyampaikan ilham yang didapatnya, yang ternyata memiliki dasar linguistik dan teologis yang kuat dalam Islam.
لا يجوز أن تفسير القول بما لا يرضى به قا ئله
"Janganlah Menafsirkan suatu perkataan yang tidak dikehendaki oleh orang yang mengatakannya."
Pernyataan ini mengingatkan kita untuk selalu mencari pemahaman yang utuh dan tidak terburu-buru menghakimi, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan keimanan. Dengan demikian, kita dapat lebih bijak dalam menyikapi setiap perbedaan pendapat.[] Wallaahu ‘Alam
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya.
________________________
Catatan kaki
¹HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani.
² Tafsir Yasin Hamami Jaddah
Komentar
Posting Komentar