Mengapa Diam Tak Lagi Emas di Zaman Ini?
Oleh: Syamsul Ulum
Di tengah hiruk pikuk kehidupan sosial yang penuh dengan ketidakadilan, penyimpangan moral, dan penyalahgunaan kekuasaan, sering kali kita menyaksikan satu sikap yang lebih membahayakan daripada pelaku kemungkaran itu sendiri yakni: diamnya orang-orang baik. Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru. Al-Qur'an, Hadis Nabi, ucapan para sahabat, dan nasihat para ulama telah lama memperingatkan umat agar tidak terjebak dalam kesunyian ketika kezaliman menjalar.
Seruan Ilahi dan Amanah Moral
Allah Ta'ala dalam Surah Ali 'Imran menegaskan:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali 'Imran: 104)
Ayat ini bukan hanya seruan, tapi sebuah mandat ilahi. Umat Islam diperintahkan untuk tidak hanya menjadi pemirsa pasif dalam kehidupan sosialnya. Mereka harus tampil sebagai pelita dalam kegelapan, penyeru kepada kebaikan, dan penolak kemungkaran.
Ulama yang Diam: Aib atau Kebijaksanaan?
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
سُكُوتُ الْعَالِمِ شَيْنٌ، وَكَلامَهُ زَيْنٌ، وَكَلَامُ الْجَاهِلِ شَيْءٌ، وَسُكُوتُهُ زَيْنٌ
"Diamnya orang alim (ulama/muballig) adalah cela, dan bicaranya adalah keindahan. Sedangkan bicaranya orang bodoh adalah aib, dan diamnya adalah keindahan." (Syeikh Nawawi al-Bantani, Syarh Tanqih al-Qaul, no. 53)
Ada sebuah ungkapan Inggris mengatakan "enough for evil to thrive when the good people do nothing”. Arti ungkapan tersebut kira-kira begini: "cukuplah kejahatan itu akan merajalela ketika orang-orang baik tidak melakukan apa-apa”.
Jadi diamnya seorang alim atau ulama atau muballig yang seharusnya menjadi rujukan umat adalah sebuah kecacatan moral. Sebab ilmu tanpa keberanian untuk menyuarakan kebenaran hanya akan menjadi beban yang memberatkan di akhirat. Sebaliknya, jika orang jahil berbicara, justru mendatangkan kekacauan. Maka diam adalah hiasan terbaiknya.
Ucapan legendaris Imam Abu ‘Ali ad-Daqqaq yang dikutip Imam an-Nawawi juga menguatkan hal ini:
"من سكت عن الحق فهو شيطان أخرس"
"Siapa yang diam dari kebenaran, maka dia adalah setan yang bisu."
Jangan Jadi Mayat yang Hidup
Sikap diam terhadap kemungkaran bahkan digambarkan sebagai "kematian spiritual". Dalam Ihya' ‘Ulum ad-Din, Imam Al-Ghazali meriwayatkan:
"سُئِلَ حُذَيْفَةُ... عَنْ مَيْتِ الْأَحْيَاءِ فَقَالَ: الَّذِي لَا يُنْكِرُ الْمُنْكَرَ..."
“Ditanya kepada Hudzaifah RA tentang mayat di antara orang-orang hidup. Ia menjawab: orang yang tidak mengingkari kemungkaran dengan tangan, lisan, maupun hatinya.”
Betapa ironis, hidup tapi mati. Bernafas, beraktivitas, namun telah kehilangan jiwa kepekaan sosialnya.
Tiga Level Perlawanan
Dalam Hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ memberikan pedoman tingkat perlawanan terhadap kemungkaran:
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim, no. 49)
Hadis ini menolak netralitas. Ia menegaskan bahwa keimanan sejati selalu menunjukkan ekspresi aktif terhadap ketidakadilan. Diam bukanlah pilihan yang netral. Dalam banyak kasus, diam berarti setuju.
Kebenaran yang Dibungkam
Ali bin Abi Thalib RA pernah mengingatkan:
"المصيبة ليس في ظلم الأشرار بل في صمت الأخيار"
“Musibah itu bukan karena kezaliman para pelaku kejahatan, tapi karena diamnya orang-orang baik.”
Inilah realitas sosial yang menyesakkan. Banyak yang tahu, namun memilih bungkam. Banyak yang sadar, tapi tidak mau ambil risiko. Padahal, sejarah mencatat bahwa kejahatan yang besar tak pernah terjadi tanpa kontribusi dari sikap diam yang meluas.
Kisah Tragis Sang Ahli Ibadah
Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa:
"Suatu ketika Allah memerintahkan malaikat untuk menghacurkan sebuah kota atau kampung (qaryah). Setiba di kampung itu sang malaikat ternyata menemukan ada seorang yang saleh, yang kerjanya hanya beribadah dan berdzikir.
Malaikat pun menjadi ragu melakukan perintah Allah itu. Maka dia kembali menyampaikan kepada Allah bahwa ada seorang ahli ibadah dan dzikir di kampung itu. Kalau kampung itu dihancurkan maka dia akan ikut jadi korban. Mengejutkan, Allah ternyata berkata kepada sang malaikat itu:
“Hancurkanlah dulu orang itu. Karena dia sadar akan agama dan Tuhan, tapi dia tidak peduli dengan berbagai kejahatan dan dosa di kampung itu”. []
Ini adalah pelajaran keras: ketaatan ritual tak bisa menggantikan tanggung jawab sosial. Seorang mukmin tak boleh hanya peduli dengan keselamatan pribadinya. Ia wajib menjadi penjaga moral lingkungan sekitarnya.
Penutup: Saatnya Bicara
Tugas menyuarakan kebenaran bukan monopoli para khatib dan ulama. Itu adalah beban kolektif seluruh umat. Di era informasi saat ini, kejahatan tak lagi bersembunyi, melainkan ditampilkan terang-terangan. Maka suara kebaikan pun tak boleh bersembunyi di balik alasan keamanan, kenyamanan, atau netralitas.
"Diam memang emas. Tapi dalam menghadapi kemungkaran, diam justru berkarat dan menghitamkan nurani."
Jika engkau tahu kebenaran, maka suarakanlah. Jika engkau melihat kezaliman, maka lawanlah. Karena kelak di hadapan Tuhan, kita akan ditanya: Apa yang engkau lakukan ketika kebenaran dibungkam dan kezaliman merajalela?
_________________
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya.
Komentar
Posting Komentar