Memahami Konsep "Kedatangan Kembali" Seorang Nabi yang Sudah Wafat.

Memahami Makna “نزول” (Turun) Dari Langit


Oleh: Syamsul Ulum 


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَ رْضَ كِفَا تًا اَحْيَآءً وَّاَمْوَا تًا 

"Bukankah Kami telah menjadikan bumi tempat berkumpul bagi orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati?" (QS. Al-Mursalat 77:25-26)

وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ

"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?" (QS. Ya-Sin 36: Ayat 68)

Penjelasan:

KONSEP "kedatangan kedua" atau kedatangan kembali seorang nabi yang telah wafat dan makna "turun" dari langit merupakan salah satu isu teologis yang kompleks dan sering diperdebatkan dalam kajian agama, khususnya dalam Islam. Mayoritas umat Muslim meyakini bahwa Nabi Isa {as} akan turun kembali secara fisik dari langit menjelang Hari Kiamat. Namun, Jamaah Muslim Ahmadiyah menawarkan perspektif yang berbeda, berargumen bahwa "kedatangan kedua" tersebut bersifat rohaniah dan metaforis, merujuk pada bangkitnya seorang pembaharu yang mewarisi sifat dan semangat Isa {as}, yang dikenal sebagai "Nabi Buruzi." 

Artikel ini akan mengeksplorasi argumen-argumen teologis di balik pemahaman ini, dengan menelaah ayat-ayat Al-Qur'an, Hadis, dan interpretasi dari para ulama tasawuf serta pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad {as}. kedatangan kedua kali" bukanlah reinkarnasi fisik, melainkan penjelmaan sifat, kekuatan, dan semangat dalam diri seorang yang diutus oleh Tuhan.

Makna "Turun dari Langit": Bukan Fisik, Melainkan Penjelmaan Spiritual.

Jamaah Muslim Ahmadiyah meyakini bahwa Nabi Isa as dari Bani Israel telah wafat, sesuai dengan ayat Al-Qur'an (QS.5: 117) dan tentunya mustahil orang yang sudah wafat itu menurut Allah tidak akan mungkin dihidupkan kembali di dunia fana ini (lihat Qs. Al-Anbiya ayat 95). Hadits Rasulullah ﷺ  juga menjelaskan bahwa Nabi Isa as  wafat dalam usia 120 tahun. Namun, di sisi lain, terdapat nubuwah yang mengabarkan bahwa nabi yang sudah wafat itu akan "turun" (diutus) kembali ke bumi. Jamaah Muslim Ahmadiyah memahaminya bahwa yang akan diutus tersebut bukan Nabi Isa dari Bani Israel tetapi Al-Masih dari umat Islam pengikut Rasulullah ﷺ

Memahami Makna “Kedatangan Kedua” Dari Seorang Nabi Yang Sudah Wafat

Menurut Ahli Tashawwuf, Buruzi adalah pemunculan kembali seseorang dalam sifat, kekuatan dan semangat orang lain yang sudah meninggal (wafat). Seperti Yahya Pembaptis (nabi Yahya as) adalah Elia kedua (Nabi Ilyas a.s) yang ditunggu kedatangan kedua kalinya oleh umat Yahudi Padahal Nabi Ilyas a.s telah wafat dan beliau a.s tidak akan hidup kembali. Jadi Keyakinan terhadap seseorang yang sudah wafat tersebut yang dikabarkan akan “Datang Kembali atau diutus kembàli” ke dunia ini, oleh Ahli Tashawuf dimaknai dalam pengertian Keruhanian dan Kiasan.

Misalnya Istilah Isa kedua atau Budha kedua bukanlah berarti bahwa kedua orang yang telah meninggal dunia itu memperoleh suatu kelahiran baru (reinkarnasi). Kedatangan orang kedua (seperti Isa kedua atau Budha kedua) itu secara pribadi (personalnya) berbeda dari orang pertama. (misalnya Nabi Isa yang pertama (dari Bani Israel ) yang sudah wafat, tidak sama dengan Nabi Isa Kedua atau al-Masih yang dijanjikan) yang dinubuwatkan Rasulullah ﷺ akan turun (diutus) kembali, tetapi nabi yang menggunakan gelar atau julukan dari nama nabi yang sudah wafat itu mempunyai persamaan dan sifat serta spirit dengan prototipenya (jenis atau modelnya) dalam beberapa sifat dan ruhaninya.

Ahli-ahli Tashawwuf dulu mengemukakan salah satu sabda Nabi Muhammad ﷺ bahwa beberapa orang diantara para pengikut beliau ﷺ akan lahir dalam jiwa Ibrahim a.s, sedangkan lainnya dalam semangat Musa a.s, Isa a.s dan nabi-nabi lainnya, tetapi mereka tidak sama dengan nabi aslinya. Hanya penonjolan dalam persamaan yang memberi hak kepada seseorang untuk memakai nama tertentu. 

Dalam ilmu tasawuf, fenomena ini disebut sebagai Nabi Buruzi, yaitu seorang nabi atau utusan Tuhan yang menyandang gelar dari nama seorang nabi yang sudah wafat namun dinubuwahkan akan datang kembali.

Buruzi Bukan Reinkarnasi 

 Abu al-Baqa’ Ayyub ibn Musa al-Kafawi (wafat 1094 H/1683 M) Pengikut mazhab Hanafi, menulis dalam karya leksikalnya, Kulliyatul ‘Ulum (Totalitas Ilmu Pengetahuan) tentang Istilah ilmiah tersebut sebagai berikut:

والْبُروزُ : هوَ أَنْ يَفِيضَ الرّوحُ مِنْ أَرْواحِ الكُمَّلِ عَلَى كامِلٍ كَمَا يَفِيضُ عَلَيْهُ التَّجَلّياتُ وَهُوَ يَصيرُ مَظْهَرَهُ وَيَقُولُ أَنَا هوَ

“Buruz: adalah tatkala ruh manusia yang kamil mengalir ke dalam wujud manusia yang sempurna. Sama seperti Tajalli Allah yang mengalir dalam diri seseorang dan ia menjadi tempat penzahiran-Nya. Sehingga ia berkata “aku adalah Dia.” ¹

Menurut Abu al-Baqa' Ayyub ibn Musa al-Kafawi menjelaskan bahwa Buruzi adalah ketika ruh manusia yang kamil (sempurna) mengalir ke dalam wujud manusia yang sempurna lainnya, menjadikannya tempat penzahiran ruh tersebut. Ini berbeda dengan reinkarnasi, di mana ruh meninggalkan satu raga dan masuk ke embrio lain untuk memberikan kehidupan.

Definisi tersebut dapat ditelusuri kembali pada pendiri tariqah Nurbakhsyiyah, Muhammad Ibn Abdullah Nurbakhsh al-Khurasani (wafat 1464 M). Ia menulis dalam kitabnya Risalatul Huda (Risalah Petunjuk):

وَمِثْلُ ذَلِكَ الظُّهورِ كَانَ مِنْ بَرْزَاتِ المُكَمِّلِ لَا مِنْ التَّناسُخِ ، والْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ التَّناسُخَ وُصولَ رُوحٍ إِذَا فارَقَ مِنْ جَسَدٍ إِلَى جِنينَ قابِلٍ لِلرُّوحِ ، يَعْنِي فِي الشَّهْرِ الرّابِعِ مِنْ وَقْتِ سُقوطِ النُّطْفَةِ وَقَرارَها فِي الرَّحِمِ ، وَكَانَ ذَلِكَ المُفارَقَةُ مِنْ جَسَدٍ والْوُصولِ إِلَى أُخَرَ مَعًا مِنْ غَيْرِ تَرَاخٍ ، والْبُروزُ أَنْ يَفِيضَ رُوحٌ مِنْ أَرْواحِ المُكَمِّلِ عَلَى كامِلٍ ، كَمَا يُقْبَضُ عَلَيْهُ التَّجَلّياتُ وَهُوَ يَصيرُ مَظْهَرَهُ ، وَيَقُولُ أَنَا هوَ

“Perwujudan [realitas Muhammad dalam tubuh manusia berasal dari proses] pantulan rohani (barzaat) orang-orang mulia dan bukan dari proses reinkarnasi (tanasukh). Perbedaannya adalah reinkarnasi (tanasukh) terjadi saat ruh meninggalkan raganya dan masuk ke dalam sebuah embrio yang sudah siap untuk menerima ruh itu. Artinya pada saat menginjak bulan ke empat tatkala sperma yang membuahi rahim telah berwujud, maka saat itu terjadi proses pemindahan sebuah ruh dari satu raga, masuk ke raga yang lain (yaitu wujud yang ada dalam rahim tersebut) secara instan tanpa jedah waktu. Sementara buruzi terjadi tatkala ruh manusia yang kamil mengalir ke dalam wujud manusia yang sempurna. Sama seperti Tajalli Allah yang mengalir dalam diri seseorang, sehingga orang itu menjadi tempat penzahiran-Nya. Dan ia berkata “aku adalah Dia.” ² 

Jadi Muhammad Ibn Abdullah Nurbakhsh al-Khurasani mempertegas bahwa Buruzi adalah pantulan rohani orang-orang mulia, bukan reinkarnasi. Perbedaannya terletak pada tujuan penyatuan ruh. Dalam reinkarnasi, tujuannya adalah memberikan kehidupan fisik, sedangkan dalam Buruzi, tujuannya adalah menerima kemuliaan dan meningkatkan level derajat dari ruh orang lain.

Selain itu, Sufi terbesar India dan juga pemikir reformis, Imam Rabbani Mujaddid Alif Tsani Ahmad Sirhindi (wafat 1624 M) menjelaskan dalam salah satu suratnya yang kemudian dikumpulkan serta diterbitkan menjadi Maktubat:

و بروز کہ بعضی از مشایخ گفته اند بتناسخ مساس ندارد زیرا که در تناسخ تعلق نفس ببدن ثانی از برایی ثبوت حیات است و برایی حصول حس و حرکت آن بدن است و در بروز تعلق نفس ببدن دیگر از برایی حصول این غرض نیست بلکه مقصود از این تعلق حصول کمالات است مر آن بدن را و وصول بدرجات است

“Adapun buruzi yang telah dibicarkan beberapa ulama tidak ada kaitannya dengan reinkarnasi (tanasukh). Dalam Reinkarnasi sebuah ruh bersatu dengan raga lain untuk memberikannya kehidupan, menciptakan perasaan dan pergerakan dalam tubuhnya. Sementara Buruzi adalah penyatuan ruh dengan tubuh lain yang tujuannya bukan seperti itu, melainkan tujuannya guna menerima kemuliaan yang dimiliki ruh orang lain serta untuk meningkatkan level derajatnya.” ³ 

Imam Rabbani Mujaddid Alf Tsani Ahmad Sirhindi juga menegaskan bahwa Buruzi tidak ada kaitannya dengan reinkarnasi. Buruzi bertujuan untuk mencapai kesempurnaan dan derajat, bukan sekadar untuk keberlangsungan hidup fisik. 

Qadi Kamaluddin Husein Ibn Mu‘inuddin ‘Ali al-Maybudi (w. 1504 M), seorang Ulama dan juga hakim dari Persia, yang kemungkinan berafiliasi dengan tariqah Nurbakhshi, berkorespondensi dengan al-Lahiji dalam bab tentang kenabian dan kewalian dalam karya utamanya, Sharhi Divani ‘Ali (Penjelasan tentang Puisi ‘Ali) yang juga dikenal sebagai al-Fawatih sebagai berikut:

وَ بَعْضِي بَرَانَدْ كِهْ رُوحِ عِيسَى دَرْ مَهْدِي بُرُوزْ كُنَدْ وَ نُزُولِ عِيسَى عِبَارَتْ أَزْ اِينْ بُرُوزْ أَسْتْ وَ مُطَابِقِ اِينْ أَسْتْ حَدِيثْ: لَا مَهْدِيَّ إِلَّا عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ.

“Sebagian ulama mengatakan bahwa ruh Isa as akan diburuzikan (dipancarkan) ke dalam diri Imam Mahdi. Dimana maksud turunnya Isa as adalah sebuah proses manifestasi ruh ini (kepada sosok Imam Mahdi). Hal ini sesuai dengan pandangan hadits nabi yang berbunyi, ‘Laa Mahdiyya illa ‘Isa ibn Maryam’ (Ia tidak hanya bergelar Al-Mahdi tapi juga bergelar Isa putra Maryam).’⁴

Menurut Qadi Kamaluddin Husein Ibn Mu‘inuddin ‘Ali al-Maybudi bahkan mengutip hadis "Laa Mahdiyya illa ‘Isa ibn Maryam" untuk mendukung pandangan bahwa ruh Isa as akan diburuzikan (dipancarkan) ke dalam diri Imam Mahdi, yang berarti turunnya Isa as adalah proses manifestasi ruh ini kepada sosok Imam Mahdi.

Syekh Fariduddin Ath-Thar ra telah mengutip perkataan Hadhrat Abbasiyah Thasi ra sebagai berikut: Pada Hari Kiamat ketika datang seruan, “Wahai Laki-laki, kalian dari shaf laki-laki yang paling pertama harus mengikuti jejak langkah Maryam.” ⁵

Makna "Kelahiran Kembali" Menurut Injil.

Yesus as bersabda: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah," (Yohanes 3: 3)

Penjelasan:

Merupakan bagian dari percakapan antara Yesus dan Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi dan anggota Sanhedrin. Ayat ini mengandung pesan teologis mendalam yang berfokus pada kebutuhan akan kelahiran baru untuk memasuki Kerajaan Allah. Berikut adalah penjelasannya:

1. Makna "Dilahirkan Kembali"

Dilahirkan kembali tidak merujuk pada kelahiran fisik, tetapi kelahiran rohani. Yesus menjelaskan bahwa manusia harus mengalami transformasi batiniah melalui karya Roh Kudus. Kelahiran baru ini adalah pembaruan hidup, di mana seseorang menerima Roh Kudus (Jibril as) dan mengalami hubungan yang dekat dengan Allah. Ini menandakan perubahan hati, pikiran, dan hidup menuju kehendak Allah.

2. Kerajaan Allah

Kerajaan Allah adalah tempat pemerintahan Allah, baik di dunia ini melalui iman dan ketaatan, maupun di kehidupan kekal setelah kematian. Untuk dapat "melihat" Kerajaan Allah berarti memahami, mengalami, dan menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah yang hanya bisa diperoleh melalui kelahiran baru.

3. Pesan bagi Nikodemus.

Nikodemus awalnya mengira bahwa ketaatan pada hukum Taurat dan status keagamaannya sudah cukup untuk mencapai keselamatan. Namun, Yesus menekankan bahwa perubahan lahiriah saja tidak cukup; seseorang harus mengalami kelahiran dari atas, yaitu dari Roh Kudus (lihat Yohanes 3:5-6). Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan tidak bisa dicapai melalui usaha manusia, tetapi hanya melalui anugerah Allah dan iman kepada Yesus Kristus.

4. Relevansi bagi Kehidupan Saat Ini

Ayat ini menegaskan pentingnya hubungan pribadi dengan Allah melalui iman dan pertobatan. Menjadi "dilahirkan kembali" berarti meninggalkan dosa, hidup menurut pimpinan Roh Kudus, dan menerima kasih karunia Allah.

Rasulullah Saw Menjelma di Setiap Zaman dan Konsep Kelahiran Kedua Kali.

Syeikh Abdul Karim Al-Jili, seorang sufi terkemuka, berbagi pengalamannya bertemu Nabi Muhammad ﷺ dalam rupa gurunya, Al-Jabarti. 

Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki kemampuan untuk menjelma dalam berbagai rupa, bukan sebagai reinkarnasi, melainkan sebagai penampakan spiritual untuk meninggikan derajat orang-orang yang paling sempurna di setiap zaman, karena merekalah khalifah beliau di dunia. Ini sejalan dengan kemampuan Jibril as yang menjelma dalam rupa manusia, seperti Dhiyah Al-KalbiBeliau menceritakan:

 "Maka aku bertemu dengannya (Rasulullah ﷺ ) dalam rupa guruku, Syekh Syarafuddin Ismail Al-Jabarti, dan aku tidak tahu bahwa beliau adalah Nabi Muhammad , dan aku hanya tahu bahwa beliau adalah sang Syekh. Dan ini adalah salah satu dari sekian banyak penglihatan yang aku saksikan di Zabid pada tahun 697. Dan rahasia dari perkara ini adalah kemampuan beliau ﷺ untuk menjelma dalam segala rupa." 

Al-Jili segera menjauhkan tuduhan tentang reinkarnasi dari pernyataannya, ia berkata kepada pembaca:

"Janganlah kamu sangka sesuatu dalam perkataanku yang menyerupai paham reinkarnasi melainkan bahwa Rasulullah SAW memiliki kemampuan untuk menjelma dalam segala rupa ketika beliau menampakkan diri dalam rupa tersebut. Dan sudah menjadi sunnah beliau ﷺ bahwa beliau terus-menerus menjelma di setiap zaman dalam rupa orang yang paling sempurna, untuk meninggikan derajat mereka dan meneguhkan kecenderungan mereka, karena merekalah khalifahnya di dunia dan beliau adalah hakikat mereka di alam gaib."

Jika kita ingin memahami penglihatan Al-Jili dengan akal sehat kita, kita kembali kepada kemampuan Jibril as untuk menjelma dalam rupa manusia. Salah satu contohnya adalah penjelmaan beliau as dalam rupa Dhiyah Al-Kalbi, dan penampakannya kepada Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya, duduk, berbicara, dan berdiri, semua itu dalam rupa Dhiyah. Al-Jili meringkas dalam bab ini, apa yang telah ia uraikan secara lengkap dalam bukunya, tentang pertemuan manusia sempurna dengan semua hakikat keberadaan dalam dirinya sendiri "...Ia menyaingi Arsy dengan hatinya dan menyaingi Kursi dengan niatnya, dan menyaingi Sidratul Muntaha dengan kedudukannya, dan menyaingi Qalam (pena) yang Agung dengan akalnya, dan menyaingi Lauh Mahfuz dengan dirinya, dan menyaingi unsur-unsur dengan tabiatnya..." Dan demikianlah Al-Jili merinci bagian demi bagian dari alam dan apa yang menjadi padanannya pada manusia sempurna." ⁶ 

Al-Imām ‘Abd al-Karīm al-Jīlī, dalam kitabnya al-Insanul Kamil mengatakan:

بل أن رسول الله صلى الله عليه وسلم له من التمكين في التصور بكل صورة حتى يتجلى بتلك الصورة ..

وقد جرت سنته صلى الله عليه وسلم أنه لا يزال يتصور في كل زمان بصورة أكملهم ليعلي شأنهم ويقيم ميلانهم ..

فهم خلفاؤه في الظاهر وهو في الباطن حقيقتهم ..

"Bahkan sesungguhnya Rasulullah ﷺ memiliki kemampuan (kedudukan spiritual) untuk menampakkan diri (secara ruhani) dalam setiap bentuk (orang) sehingga beliau dapat tajalli (termanifestasi) dalam bentuk tersebut. Dan sudah menjadi sunnah beliau ﷺ bahwa beliau senantiasa menampakkan diri (secara ruhani) pada setiap zaman dalam rupa orang yang paling sempurna pada zamannya, untuk meninggikan derajat mereka dan meluruskan penyimpangan mereka. Maka mereka adalah para khalifah beliau secara lahiriah, dan beliau  pada hakikatnya  adalah inti batin mereka." ⁷

Penjelasan :

Ini adalah keterangan khas dalam tasawuf falsafi atau tasawuf hakikat, khususnya dari aliran Wahdatul Wujūd, di mana Nur Muhammad  yang diyakini sebagai hakikat spiritual Nabi ﷺ senantiasa tajalli (termanifesta) dalam diri para wali kamil (wali yang sempurna) di setiap zaman. Al-Jīlī menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ secara ruhani terus hadir dan muncul dalam sosok orang-orang suci yang paling sempurna pada zamannya. Artinya, Rasulullah tidak lenyap, tetapi hakikat batin beliau hidup dalam diri para pewaris sejatinya. Maka para wali yang agung disebut khalifah Rasulullah ﷺ secara lahiriah, namun hakikat ruhani di dalam batin mereka adalah hakikat Rasulullah ﷺ sendiri.

Konsep Kelahiran Kedua Kali juga dibahas oleh Syihabuddin Yahya bin Habash bin Amirak as-Suhrawardi dikenal dengan nama Al-Suhrawardi (w.1154 M/549 H) seorang sufi besar asal Persia yang bermazhab Syafi‘i. Beliau mengatakan dalam kitabnya "‘Awarif al-Ma‘arif":

 وَتَصِيرُ هَذِهِ الْوِلَادَةُ آنِفًا وِلَادَةً مَعْنَوِيَّةً، كَمَا وَرَدَ فِي عِيسَى صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ: “ لَنْ يَلِجَ مَلَكُوتَ السَّمَاءِ مَنْ لَمْ يُولَدْ مَرَّتَيْنِ “. فَبِالْوِلَادَةِ الْأُولَى يَصِيرُ لَهُ ( لِلْوَلَدِ ) ارْتِبَاطٌ بِعَالَمِ الْمُلْكِ، وَبِهَذِهِ الْوِلَادَةِ ( الْمَعْنَوِيَّةِ ) يَصِيرُ لَهُ ارْتِبَاطٌ بِالْمَلَكُوتِ. ( و ) يَسْتَحِقُّ مِيرَاثَ الْأَنْبِيَاءِ وَمَنْ لَمْ يَصِلْهُ مِيرَاثُ الْأَنْبِيَاءِ مَا وُلِدَ “ ( ص ٨٥).

"Seorang murid menjadi bagian dari sang syaikh, (secara maknawi /spiritual), sebagaimana seorang anak dalam kelahiran alami. Kelahiran ini kemudian menjadi kelahiran maknawi (spiritual), sebagaimana disebutkan dalam ucapan Isa, semoga shalawat Allah tercurah kepadanya: 'Tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga orang yang tidak dilahirkan dua kali.' Melalui kelahiran pertama, seorang anak memiliki keterkaitan dengan alam duniawi (alam al-mulk), sedangkan melalui kelahiran ini (maknawi), ia memiliki keterkaitan dengan alam Malakut (kerohanian). Dan ia layak menerima warisan para nabi. Barang siapa yang tidak memperoleh warisan para nabi, ia belum dilahirkan." ⁸

Manifestasi "Kedatangan Kedua Kali" di Zaman Sekarang

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, mengklaim sebagai Al-Masih kedua atau Al-Masih Al-Mau'ud yang bangkit di zaman ini (awal abad ke-14 H) dengan kekuatan, jiwa, dan spirit Isa Ibnu Maryam. Oleh karena itu kedatangannya diyakini sebagai kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam yang kedua. Beliau mengatakan:

 “Al-Masih yang kedua ini telah datang dengan kekuatan dan sifat Al-Masih yang pertama (Isa dari Bani Israel) pada zaman yang sama dengan dan setelah lewat jangka waktu yang sama setelah zaman kalimnya sendiri (masa ketika Nabi Isa as hidup dan menjalankan misi kenabiannya) yakni setelah kurang lebih 1400 tahun.” ⁹ 

Hal tersebut sesuai dengan sebuah Ilham yang diterima oleh hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as (Al-Mahdi wal Masihil Mau'ud):

مسیح ابن مریم رسول اللہ فوت ہو چکا ہے اور اس کے رنگ میی ہو کر وعدہ کے موافق تو ایا ہے

"Masih bin Maryam, Rasulullah, telah wafat, dan engkau telah datang dalam rupanya (nabi Isa as) sesuai dengan janji-Nya." ¹⁰ 

Ini menegaskan bahwa konsep "kedatangan kedua kali" merujuk pada kemunculan seseorang yang memiliki kesamaan sifat dan semangat dengan nabi terdahulu, bukan kembalinya sosok fisik yang sama. Nabi Muhammad SAW sendiri, sebagai "Insan Kamil" (Manusia Sempurna), memiliki Nur (cahaya) yang telah terwujud melalui para nabi lain sebelumnya, dan kesempurnaan itu secara penuh telah terwujud tatkala beliau sendiri muncul. Para nabi lain datang sebagai pelopor dan pembawa kabar kedatangan beliau.

Ibnu Al-Wardi lahir tahun 1292 Masehi atau 691 Hijriah di Ma’arrah Al-Nu’man dan wafat tahun 1349 Masehi atau 749 Hijriah di Aleppo. Beliau seorang ahli sejarah, Sastrawan dan juga seorang penulis. Dalam kitabnya beliau menjelaskan bahwa akan diutusnya seseorang yang menyerupai Isa Ibnu Maryam as:

وقالت فرقة: نزل عِيْسى: خُرُوْجُ رَجُلٍ يُشَبِّهُ عِيْسٰى فِي الْفَضْل ِ وَالشَّرَفِ، كَمَا يُقَالُ لِلرَّجُل الْخَيْرِ مَلَكٌ وَلِلشِّرِّيْرِ شَيْطَانٌ، تَشْبِيْهًا بِهِمَا وَلَا يُرَادُ الْأَعْيَانُ  

“Segolongan ahli takwil berkata: Turunnya ‘Īsā as adalah “Keluarnya seseorang yang menyerupai ‘Īsā a.s dalam kemuliaan dan kehormatan sebagaimana seorang yang baik hati disebut malaikat dan seorang yang buruk hati disebut setan semata-mata untuk penyerupaan dan bukan berarti sosok yang berlainan.” ¹¹

Sebagaimana Nabi Suci Muhammad SAW bersabda:
 وَلَا الْمَهْدِيُّ إِلَّا عِيْسَى ابْنُ مَرْيَم (ابن ماجه) 

”Tidak ada Al-Mahdi (yang ma'shum) kecuali ‘Isā bin Maryam as.” ¹² 

Mujāhid bin Jabr ra, seorang murid terkemuka dari Ḥaḍrat 'Alī ra dan Ḥaḍrat Ibn 'Abbās ra menyatakan:
حدثنا الوليد بن عتبة؛ عن زائدة، عن ليث، عن مجاهد، قال: المهدي عيسى ابن مريم.

"Telah menceritakan kepada kami Al-Walīd bin 'Utbah, dari Zā'idah, dari Layth, dari Mujāhid, ia berkata: Al-Mahdī adalah Isa Putra Maryam". ¹³ 

Menurut Ibnu al-Wardī bahwa "keluarnya seseorang yang menyerupai 'Īsā as dalam kemuliaan dan kehormatan" adalah bentuk penyerupaan, bukan berarti sosok asli yang sama. Ini mirip dengan menyebut orang baik sebagai "malaikat" atau orang jahat sebagai "setan"  hanya untuk penyerupaan, bukan berarti mereka adalah makhluk tersebut secara harfiah. Kata kharaja (keluar) dalam Al-Qur'an juga digunakan untuk kelahiran manusia dari rahim ibu, menunjukkan permulaan yang baru. Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُون
ِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَۙلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴿

Dan, Allāh telah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui sedikit pun, lalu Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kamu bersyukur”. [Qs. an-Naḥl {16}:79]

Dengan memahami konsep Buruzi dan kelahiran spiritual, kita dapat melihat bahwa nubuwah tentang "kedatangan kedua kali" seorang nabi yang sudah wafat bukanlah tentang kebangkitan fisik, melainkan tentang manifestasi spiritual dari sifat, kekuatan, dan semangat kenabian dalam diri seorang utusan baru di setiap zaman, sebagai bagian dari rencana ilahi untuk membimbing umat manusia. 

Permasalahan Mengenai Lafal Nuzūl (نزول)

Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad as, al-Masīḥ al-Mau‘ūd as telah banyak sekali menguraikan hakikat dan makrifat dari lafal nuzūl ini di dalam buku-buku beliau. Oleh karena itu, Saya tidak mampu menuliskan semuanya di sini. Saya hanya ingin mengetengahkan di sini secercah baṣīrat yang beliau sampaikan bahwa lafal nuzūl yang dikenakan kepada Al-Masīḥ Akhir Zaman as pada dasarnya serupa dan setara dengan lafal nuzūl yang dikenakan kepada Junjungan beliau, Muḥammad Al-Muṣṭafā ﷺ. Allah Taala berfirman dalam Surah Aṭ-Ṭalāq:

قَدْ أَنْزَلَ اللّٰهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا ﴿﴾ رَسُوْلًا يَّتْلُوْ عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللّٰهِمُ بَيِّنَاتٍ 

“Kami telah menurunkan kepada Kalian sebuah dzikr, yaitu seorang rasul yang membacakan kepada Kalian ayat-ayat Allah yang terang.” (Qs. Aṭ-Ṭalāq ayat 11-12)

Para mufasir mengemukakan bahwa lafal (رَسُوْلًا ) adalah badal dari ( ذِكْرًا ). Kata Dzikir menurut para ahli takwil juga merupakan salah satu Nama Nabi Muhammad SAW. ¹⁴ 

Dengan demikian, ayat itu bermakna:
أظهر اللّٰه لكم ذكرا رسولا.
“Allah menciptakan kepada Kalian Dzikr (Muḥammad ﷺ) sebagai seorang Rasul.”¹⁵ 

Dan sebagian lain dari para mufassir berkata:
"Bahwa yang dimaksud dengan Zikr adalah seorang Rasul."

Imam al-Qurthubi memaparkan makna menarik tentang " nuzul " (turunnya) dari seorang tabi'in ternama, Sayidina Sa'id bin Jubair ra . Tertulis:

وقالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ أنْزَلْنا عَلَيْكُمْ (أيْ) خَلَقْنا لَكُمْ

“Saeed bin Jubair berkata: 'Aku menurunkan untukmu, berarti aku menciptakan untukmu (lahir).'”¹⁶ 

Dari sini, kita melihat bahwa kata " nuzul (turun) " tidak berarti kembali dari langit ke bumi. Kata ini digunakan untuk ciptaan baru Allah, yaitu seseorang yang lahir di bumi. Nubuat-nubuat tentang Mesias akhir zaman juga menggunakan kata " nuzul " dan bukan " ruju' " (kembali). Hal ini memperjelas bahwa Al-Masih (Isa as) yang akan datang turun itu adalah seseorang yang lahir di bumi yang akan bergelar Al-Masih Al-Mau'ud as bukan nabi Isa as yang berasal dari Bani Israel, yang lahir 2000 tahun yang lalu.

Penjelasan:

Dari keterangan ini, Kita dapat menarik kesimpulan bahwa lafal Inzal (menurunkan) dapat pula bermakna Izhar (menciptakan/mewujudkan), tidak melulu turun dari langit. Sejarah sendiri menuturkan bahwa Nabi Muḥammad Rasūlullah ﷺ tidaklah terbang melayang dari langit ketika datang ke dunia, tetapi lahir dari rahim ibunda beliau, Ḥaḍhrat Amīnah. Demikian pula halnya dengan Ḥaḍrat Imām Mahdī as, lafal Nuzul (نزول) yang dipergunakan bagi nabi Isa Ibnu Maryam as ke-dua (Al-Masih al-Mauud) tidak berarti bahwa beliau as akan turun dari Langit kalimat itu hanya sebuah ungkapan saja. Namun, serupa dengan Nabi Muhammad ﷺ, lafa Nuzul (نزول)l itu bermakna ẓuhūr (ظهور), artinya beliau dilahirkan dari rahim ibunda beliau, Chirāgh Bībī. Inilah hakikat yang beliau terangkan ketika bersabda:

وَأَنْزَلَ أَحْمَدَيْنِ مِنَ السَّمَاءِ لِيَكْوْنَا كَالْجِدَارَيْنِ لِحِمَايَةِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ.

“Dan Dia menurunkan dua Aḥmad dari langit untuk menjadi dua benteng yang kuat sebagai perlindungan bagi orang-orang yang datang terdahulu dan orang-orang yang datang belakangan.” ¹⁷

Sangat benar sekali apa yang telah disabdakan oleh Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad as, mengenai tidak adanya hadis yang menyatakan bahwa ‘Īsa bin Maryam as akan turun dari langit telah terbukti benar adanya. Dengan cerdas dan cemerlang. Beliau mengatakan:
نَعَمْ، يُوْجَدُ فِيْ بَعْضِ الْأَحَادِيْثِ لَفْظُ نُزُوْلِ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ، وَلٰكِنْ لَّنْ تَجِدَ فِيْ حَدِيْثٍ ذِكْرَ نُزُوْلِهِ مِنَ السَّمَاءِ.

“Benar, lafad turunnya ‘Īsa bin Maryam as memang dijumpai dalam beberapa hadis. Namun, Engkau tidak akan dapat menjumpai dalam satupun hadis penyebutan turunnya beliau dari langit.” ¹⁸

Lalu Beliau as Menjelaskan lagi:

“Mereka menggabungkan kata langit dari diri mereka sendiri dan berpikir bahwa wujud yang akan datang itu turun dari langit. Meski demikian, bacalah hadis, Engkau tidak akan menjumpai kata langit dalam satupun hadis sahih!”.¹⁹

Makna "Turun Dari Langit".

Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Mahdi wal Masihil Mauud as Menjelaskan Firman Allah SWT:

اِنَّاۤ اَرْسَلْنَاۤ اِلَيْكُمْ رَسُوْلًا ۙ شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَاۤ اَرْسَلْنَاۤ اِلٰى فِرْعَوْنَ رَسُوْلًا 
"Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul (Muhammad) kepada kamu, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir`aun." (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 15). 

Sesuai dengan ayat itu (QS. Muzammil:15) kepada Kalim yang kedua ini, yang sama dengan yang pertama, tetapi lebih unggul dalam derajat kerohanian, juga telah dijanjikan al-Masih seperti yang pertama. Al-Masih yang kedua ini telah datang dengan kekuatan dan sifat Al-Masih yang pertama, pada zaman yang sama dengan dan setelah lewat jangka waktu yang sama setelah zaman Kalimnya sendiri, yakni setelah kurang lebih 1400 tahun. Kedatangannya digambarkan dalam nubuatan sebagai “yang turun dari langit”, akan tetapi turunnya itu Bersifat Ruhaniyah. Dalam muhawarah (bahasa) kerohanian, orang yang mencapai kesempurnaan itu dikatakan sebagai "Naik ke Langit." Bila mereka datang untuk memperbaiki umatnya, mereka bisa dikatakan sebagai "Turun dari Langit". Al-Masih yang kedua telah turun pada saat-saat yang serupa dalam segi-segi utamanya dengan saat-saat Al-Masih yang pertama, Al-Masih putera Maryam, agar menjadi tanda bagi mereka yang memiliki pengertian." ²⁰

LALU ISA IBNU MARYAM YANG MANA YANG MENURUT RASŪLULLAH ﷺ AKAN DIUTUS DI AKHIR ZAMAN ITU?

JAWAB:

Yang jelas bukan Isa Ibnu Maryam dari Bani Israel yang sudah wafat yang akan diutus itu tapi seseorang utusan Allah yang berasal dari umat Islam yang meyandang gelar nama Isa Ibnu Maryam yakni Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Masih wal Mahdi al-Mau'ud menyatakan:

Pada tahun 1891 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., dari Qadian mengaku sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat Islam. Pengakuan ini didukung oleh wahyu yang beliau a.s. terima dari Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam kitab Ruhani Khazain:

واني انا المسيح الموعود الذي يحي الأموات وان موت عيسى خير لهم لو كانوا يعلمون

"Dan sesungguhnya aku adalah al-Masih Al-Mau'ud (al-Masih Ibnu Maryam yang dijanjikan) yang akan menghidupkan orang-orang yang sudah mati ruhaninya. Dan sesungguhnya kematian Isa itu lebih baik bagi mereka (umat Islam) seandainya mereka mengetahui". ²¹ 

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as mendapatkan Ilham dari Allah bahwa dirinya adalah Al-Masih Al-Mauud as. Ilham tersebut adalah:

مسیح ابن مریم رسول اللہ فوت ہو چکا ہے اور اس کے رنگ میی ہو کر وعدہ کے موافق تو ایا ہے

"Masih bin Maryam, Rasulullah, telah wafat, dan engkau (Mirza Ghulam Ahmad) telah datang (diutus) dalam rupanya (nabi Isa as) sesuai dengan janjiNya." ²²

Kesimpulan:

Berdasarkan analisis Al-Qur'an, Hadis, dan interpretasi para ahli tasawuf, Jamaah Muslim Ahmadiyah memahami bahwa konsep "kedatangan kedua" Nabi Isa {as} dan makna "turun" dari langit harus diinterpretasikan secara metaforis dan rohaniah. Nabi Isa Ibnu Maryam {as} yang dinubuatkan akan datang di akhir zaman bukanlah Isa {as} dari Bani Israil yang sudah wafat, melainkan seorang utusan Allah dari kalangan umat Islam yang menyandang gelar Isa Ibnu Maryam yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad {as}. Beliau akan menghidupkan kembali ruhani umat dan menegakkan syariat Nabi Muhammad ﷺ, tanpa membawa syariat baru.

Allah SWT tidak pernah mengutus seorang nabi atau rasul dari atas langit secara fisik. Konsep "turun" dalam teks-teks suci seringkali merujuk pada penciptaan, penyediaan, atau kemunculan seseorang dengan kualitas rohaniah yang tinggi. Pemahaman ini penting untuk menafsirkan nubuat akhir zaman secara konsisten dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah, serta untuk menghindari interpretasi harfiah yang dapat menimbulkan kontradiksi teologis.[] Wallaahu 'Alam 

والسلام على من اتبع الهدى

Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya
______________________________________________

Catatan Kaki:

¹ Ayyub ibn Musa al-Kafawi, 1998. al-Kulliyyat: Mu‘jam fil mustalahat wal furuqul lughawiyyah, ed. ‘Adnan Darwish;Muhammad al-Misri, Beirut, Mu’assasat al-Risalah, hal. 305.
² Shahzad Bashir, 2001, The Risalat al-huda of Muhammad Nurbakhsh, Critical Edition with Introduction in Rivista Degli Studi Orientali, 75 (1-4): hal. 107.
³ Maktubat Imam Rabani, Vol.2, Letter no.58
⁴ Husein ibn Mu‘inuddin al-Maybudi, Sharhi Divanul Mansub ila li Imam, Tehran, 1868, hal. 89).
⁵ Tadzkiratul Auliya, Dzikir Hadhrat Rabiah Bashra, Bab 9, hal. 51. cetakan Syeh Barkat Ali, Edisinal Lahore wa Zhahirul Asyifa, terjemahan Urdu, Tadzkiratul Auliya, hal. 55.
⁶ Syaikh ‘Abd al-Karīm b. Ibrāhīm al-Jīlī (w. 805 H), al-Insān al-Kāmil fī Ma‘rifat al-Awākhir wa al-Awā’il jilid 2, hal.74-75 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997/1418), hlm. 211.
⁷ kitab al-Insān al-Kāmil karya al-Imām ‘Abd al-Karīm al-Jīlī, jilid 2, halaman 74–75)
⁸ Kitab 'Awarif al-Ma‘arif":
hal. 85.
⁹ Mirza Ghulam Ahmad, Kemenangan Islam, JAI, 1987, h.12
¹⁰ Ruhani khazain jilid 3 hal. 402.
¹¹ Ibnu al-Wardī,Kharīdat al-‘Ajā’ib Wa Farīdat al-Gharā’ib; Kairo: Maktabat ats-Tsaqāfah ad-Dīniyyah, 2007), hlm. 442.
¹² Ibnu ‘Adī Al-Jurjānī, Al-Kāmil Fī Ḍu‘afā’ ar-Rijāl jilid. 5 (Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1998 M/1418), h. 515.
¹³ Al-Muṣannaf, Kitāb al-Fitan, no. 38660.
¹⁴ Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī, Tahdzīb at-Tahdzīb, jilid 3 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1995 M/1416 H), h. 677.
¹⁵ Sunan Ibni Mājah,Kitāb al-Fitan,Bāb Syiddat az-Zamān, no. 4039)
¹⁶ Tafsir al-Qurtubi , Vol. 9, hal. 185)
¹⁷ Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Tahdzīb at-Tahdzīb jilid. 2 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1995 M/1416 H), h. 198.
¹⁸ Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad as, Ḥamāmat al-Busyrā dalam Rūḥānī Khazā’in jilid 7, (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 202)
¹⁹ Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad, Chasma-e-Ma‘rifat dalam Rūḥānī Khazā’in jilid 23 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 229)
²⁰ Kitab Kemenangan Islam, hal. 10
²¹ Ruhani Khazain, jilid 19, Mawahibur Rahman, hal. 277
²² Ruhani khazain jilid 3 hal. 402

___&&&&____






























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian