Khalifah yang Mengajarkan Cinta Tanah Air: Memahami Loyalitas dalam Islam
Khalifah Islam Yang Mengajarkan Cinta Tanah Air, Perdamaian, Kemanusiaan Dan Loyalitas
Oleh: Syamsul Ulum
DI TENGAH hiruk-pikuk wacana tentang khilafah yang sering diasosiasikan dengan politik, perebutan kekuasaan, bahkan ancaman terhadap kedaulatan negara, ada sebuah model kepemimpinan Islam yang berbeda: Khilafah Islam yang tidak membahayakan negara manapun.
Khilafah ini bukanlah proyek politik, bukan pula ambisi untuk merebut pemerintahan dunia, melainkan sebuah khilafah ruhiyah (spiritual). Ia mengajarkan cinta damai, menolak kekerasan atas nama agama, serta mengusung moto universal: “Love for All, Hatred for None” — Cinta bagi semua, tiada kebencian bagi siapapun.
Khilafah yang Menyerukan Perdamaian
Jika ada yang mencari seorang Khalifah Islam yang konsisten menyerukan perdamaian, menghapus diskriminasi, menolak peperangan, serta menekankan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah ﷺ, maka jawabannya ada pada ajaran Khalifah Islam Ahmadiyah.
Sejak awal berdirinya pada tahun 1908, Khilafah Ahmadiyah menegaskan diri sebagai khilafah non-politik yang berperan membina umat agar mencintai tanah airnya, menghormati pemerintah yang sah (ulil amri), serta menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil-‘alamin).
Saat ini, Khilafah tersebut dipimpin oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (Ayyadahullahu Ta‘ala binashrihil ‘Aziz), Khalifah ke-5 dari Khilafatul Masih, yang diyakini umat Muslim Ahmadiyah sebagai kelanjutan dari nubuwah dan khilafah ala minhajin-nubuwah sebagaimana dijanjikan dalam hadits Nabi Muhammad ﷺ.
Ketaatan Kepada Pemimpin (Ulil Amri)
Allah Ta’ala berfirman:
اٰمَنُوۡۤا اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ اَطِیۡعُوا الرَّسُوۡلَ وَ اُولِی الۡاَمۡرِ مِنۡکُمۡ ۚ فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِیۡ شَیۡءٍ فَرُدُّوۡہُ اِلَی اللّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ ذٰلِکَ خَیۡرٌ وَّ اَحۡسَنُ تَاۡوِیۡلًا ﴿٪﴾
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu. Dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal demikian itu paling baik dan paling bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa: 60).
Siapa Ulil Amri itu?
Pertama adalah para pemegang kekuasaan dan raja dan tingkatan dan Kedua adalah para ulama dan orang arif bijaksana. (Al-Haj Hakim Nurudin Ra, Khalifah Islam Ahmadiyah al-awal )
Tafsir at-Thabari, sebuah kitab tafsir klasik yang ditulis oleh ulama besar Abu Jafar Muhammad bin Jarir at-Thabari dan banyak dirujuk oleh para mufassir berikutnya, menyebutkan bahwa para ahli ta’wil berbeda pandangan mengenai arti ulil amri. Satu kelompok ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ulil amri adalah umara. Berkata sebagian ulama lain, masih dalam kitab tafsir yang sama, bahwa ulil amri itu adalah ahlul ilmi wal fiqh (mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan akan fiqih). Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah-lah yang dimaksud dengan ulil amri. Sebagian lainnya berpendapat ulil amri itu adalah Abu Bakar dan Umar. ¹
Ketaatan Kepada Ulil Amri Menurut Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad
Mengenai ayat ini (Qs. An-Nisa:60) Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Pendiri Jama’ah Muslim Ahmadiyyah, Al-Mahdi wal Masihil Mau'ud as ) mengatakan: “Taatlah kepada Allah, para Rasul, dan para pemimpin (raja-raja) kalian.” ²
Kemudian beliau mengatakan : “Yakni taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, serta negara-negara kalian serta Taatlah kepada raja-raja (pemimpin) kalian”.³
Dalam kitab Izalah Auham beliau as menyerukan: “Wahai kaum Muslimin! Jika diantara kalian terjadi perselisihan mengenai suatu perkara, maka untuk menyelesaikannya ambilah rujukan dari Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, maka lakukanlah ini, karena ini adalah yang paling baik dan paling bagus.”⁴
Beliau juga menegaskan: “Jika kalian berselisih tentang suatu perkara, maka keputusannya kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadikanlah hanya Allah dan Rasul-Nya sebagai hakim, jangan sesuatu yang lain.” ⁵
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Mahdi wal Masihil Mau’ud as) juga menulis di suatu tempat :
“Terdapat perintah dalam Al-Qur’an al-Karim :
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ.
(Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan ulil amri atau para pemimpin dari antara kalian)
Di sini, perintah taat kepada ulil amri (pemimpin) tertera dengan jelas. Jika ada orang yang mengatakan, bahwa pemerintah tidak termasuk ke dalam “minkum” (di antara kamu) maka jelas-jelas ia salah. Pemerintah yang memerintah sesuai dengan syariat, maka ia masuk ke dalam kata minkum (di antara kamu). Misalnya: “orang yang tidak menentangku maka ia termasuk dari antaraku”. Sebagai nash petunjuk, telah terbukti dari Al-Qur’an bahwa “hendaklah taat kepada pemerintah dan mematuhi perintahnya.” ⁶
Beliau juga mengatakan:
“Jika pemimpin bersikap zalim, maka jangan kesana kemari mengatakan keburukannya, melainkan perbaikilah keadaan kalian sendiri, maka Allah akan mengubahnya, dan akan memperbaikinya. Kesulitan yang datang itu muncul disebabkan amalan-amalan buruk kalian sendiri, jika tidak, naungan Tuhan bersama dengan orang mukmin, Allah Ta’ala sendiri akan menyediakan sarana-sarana untuk orang mukmin. Nasehat saya adalah, dengan segala cara jadilah kalian contoh dalam kebaikan. Jangan merusak hak-hak Tuhan dan jangan pula mengingkari hak-hak makhluk.” ⁷
Inilah contoh yang seharusnya ditegakkan oleh orang-orang Ahmadi (sebutan bagi pengikut Muslim Ahmadiyah, pen.) Maksud dari “ulil amri minkum” bukan hanya untuk pemerintah Muslim saja.
Mengenai hal itu Hadhrat Mirza Basyirudin Mahmud Ahmad ra (Khalifah Ahmadiyyah yang ke-2) menjelaskan:
“Sebagian kaum Muslimin memahami ayat itu dengan keliru. Mereka menganggap bahwa ini hanya perintah berkaitan dengan pemerintah Muslim, yakni mereka hendaknya ditaati. Tetapi hal ini salah dan bertentangan dengan pokok Al-Qur’an al-Karim. Memang benar, disini terdapat kata ‘minkum’, tetapi ‘minkum’ disini bukan berarti orang yang sama agamanya, tetapi orang diantara kalian yang ditunjuk sebagai pemimpin. Kata ‘min’ digunakan dalam makna itu. Dalam Al-Qur’an al-Karim Allah Ta’ala berfirman, ditujukan kepada orang kafir :أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ — “tidakkah telah datang rasul-rasul dari antara kamu” (QS. Al-An’aam: 131).
Jika kita mengartikan kata "minkum" dalam ayat itu sebagai “agama yang sama”, maka arti ayat itu, na’uudzubillaahi min dzaalik, bahwa Rasulullah ﷺ sama agamanya dengan orang orang kafir (na’uudzubillaahi min dzaalik,). Jadi, tidak mesti kata minkum itu diartikan “agama yang sama”. Ini juga digunakan dalam makna lain, dan dalam ayat ini artinya adalah pemerintah atau pemimpin di negara kalian bukannya setiap pemimpin kamu harus taati melainkan “taatilah mereka yang merupakan pemimpin kalian”.
Dan maksud dari ayat:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu kembalilah kepada Allah dan rasul-Nya” bukan artinya “Ambilah keputusan oleh kalian berdasarkan Quran dan hadits”, melainkan maknanya adalah apabila terjadi perselisihan dengan para pemimpin maka kembalikanlah itu kepada hukum-hukum Allah dan RasulNya. Dan hukum (perintah) itu adalah beritahukanlah kepada pemerintah mengenai kesalahan mereka. Jika mereka tidak mau menerima, maka serahkanlah urusannya kepada Allah Ta’ala, Dia sendiri akan memutuskan, dan akan memberikan hukuman kepada orang yang zalim atas perilakunya.”.
Mengenai hal tersebut Hadhrat Al-Haj Hakim Noorudin (Khalifah Ahmadiyyah al-Awal r.a) menjelaskan:
“Bagi setiap orang, taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan ulil amri merupakan keharusan bagi setiap Muslim. Jika Ulil Amri nyata-nyata menentang firman-firman Allah dan sabda-sabda Nabi [saw], maka sesuai dengan kemampuan, orang Islam hendaknya tidak menuruti perintah mereka dalam perkara-perkara pribadi. Allah SWT berfirman:
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ
merupakan nash yang jelas. [maksud[ ulil amri itu, yang pertama adalah para pemegang kekuasaan dan raja, tingkatan kedua adalah para ulama dan orang arif bijaksana.” ⁸
Rasulullah ﷺ bersabda:
حَدِ يْثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا, أَطِيْعُواللهَ وَأَطِيْعُو الرَّسُوْلَ وَأَوْلِي اْلأَمْرِمِنْكُمْ, قَالَ: نَزَلَتْ فِي عَبْدِاللهِ بْنِ خُذَافَةَ بْنِ قَيْسِ بْنِ عَدِيٍّ, إِذْبَعَثَهُ النَّبِيُّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ. (أخر جه البخاري )
Ibn Abbas r.a. berkata: Ayat : Athi’ullaha wa athi’urrasula wa ulil amri minkum (taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasulullah dan pemerintah dari golonganmu). Ayat ini turun mengenai Abdullah bin Hudzaifah bin Qais bin Adiketika diutus oleh Nabi ﷺ Memimpin suatu pasukan.⁹
حَدِيْثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَ مَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَ مَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، مَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي. (أخرجه البخاري)
Ḥaḍhrat Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Siapa yang taat kepadaku maka berarti taat kepada Allah, dan siapa yang maksiat kepadaku berarti maksiat kepada Allah, dan siapa yang taat kepada pimpinan yang aku angkat berarti taat kepada taat kepadaku, dan siapa yangmelanggar amier yang aku angkat berarti melanggar kepadaku. ¹⁰
حَدِيْثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، قَالَ: اَلسَّمْعُ وَ الطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْاِ الْمُسْلِمِ فيما أحب و كره، مالم يؤمر بمعصية، فإذا أمر بمعصية فلا سمع و لا طاعة.أخرجه البخاري)
Abdullah bin Umar ra berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda: mendengar dan taat itu wajib bagi seorang dalam apa yang ia suka atau benci, selama ia tidak diperintah berbuat maksiat, maka jika diperintah maksiat maka tidak wajib mendengar dan tidak wajib taat. ¹¹
حَدِيْثُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: بَعَثَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَرِيَّةً وَ أَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلاً مِنَ اْلأَنْصَارِ وَ أَمَرَهُمْ أَنْ يُطِيْعُوْهُ. فَغَضَبَ عَلَيْهِمْ، وَ قَالَ: أَلَيْسَ قَدْ أَمَرَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ تَطِيْعُوْنِي؟ قَالُوْا: بَلَى. قَالَ: عَزَمْتَ عَلَيْكُمْ لَمَا جَمَعْتُمْ حَطَبًا وَ أَوْقَدْتُمْ نَارًا ثُمَّ دَخَلْتُمْ فِيْهَا. فَجَمَعُوْاحَطَبًا، فَأَوْقَدُوْا. فَلَمَّا هَمُّوْا باِلدُّخُوْلِ، فَقَامَ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا تَبِعْنَا النَّبِي صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِرَارًا مِنَ النَّارِ، أَفَنَدْخُلُهَا؟ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذلِكَ اِذْ خَمَدَتِ النَّارِ، وَ سَكَنَ غَضْبُهُ. فَذُكِرَلِلنَّبِي صلي الله عليه سلم فَقَالَ: لَوْ دَخَلُوْهَا مَا خَرَجُوْا مِنْهَا أَبَدًا، إِنَّمَا الطّاَعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ. (أخرجه البخاري)
Ali ra berkata: Rasulullah ﷺ mengirim pasukan dan diserahkan pimpinannya kepada sekorang sahabat Anshar, tiba-tiba ia marah kepada merekadan berkata: Tidakkah Nabi ﷺ telah menyuruh kalian menurut kepadaku? Jawab mereka Benar. Kini aku perintahkan kalian supaya mengumpulkan kayu dan menyalakan api kemudian kalian masuk ke dalamnya. Maka mereka mengumpulkan kayu dan menyalakan api, dan ketika akan masuk ke dalam api satu sama lain pandang memandang dan berkata: Kami mengikuti Nabi ﷺ hanya karena takut kepada api, apakah kami akan memasukinya. Kemudian tidak lama padamlah api dan reda juga marah pemimpin itu, kemudian kejadian itu diberitakan kepada Nabi saw maka sabda Nabi ﷺ: Andaikan mereka masuk api itu niscaya tidak akan keluar selamanya. Sesungguhnya wajib taat hanya dalam kebaikan. ¹²
Khalifah Islam Ahmadiyyah ke-5 Menyerukan dan Mengajarkan:
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifah Muslim Ahmadiyyah ke-5, yang saat ini sedang memimpin ), menyerukan:
1. Agar Mencintai Tanah Air
“PERTAMA-TAMA, saya ingin menyampaikan kepada anda, bahwa Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengajarkan bahwa “Cinta kepada tanah air adalah bagian dari iman”. Karenanya, patriotisme yang tulus adalah suatu keharusan dalam Islam. Kecintaan sejati kepada Tuhan dan kepada Islam, menyaratkan orang itu harus mencintai bangsanya sendiri. Jadi hal ini sangat jelas bahwa tidak ada pertentangan kepentingan kecintaan seseorang kepada Allah dan kecintaannya pada tanah airnya. Karena cinta tanah air telah menjadi bagian dari ajaran Islam, sudah jelas bahwa seorang muslim harus mencapai standar loyalitas tertinggi terhadap tanah airnya, karena hal tersebut adalah jalan untuk meraih Allah dan menjadi lebih dekat kepada-Nya. Dengan demikian, adalah tidak mungkin bahwa cinta seorang muslim sejati pada Tuhannya akan menjadi penghalang baginya untuk menunjukkan cinta dan kesetiaan pada tanah airnya.” ¹³
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifatul Masih al-khamis) mengatakan:
“Adalah sangat mudah untuk mendengar atau mengatakan “setia dan cinta tanah air ” namun pada kenyataannya, kalimat tersebut bermakna sangat luas, indah dan dalam. Tentunya, untuk lebih mengerti dan memahami apa arti sesungguhnya dari kalimat tersebut, dan apa yang dituntut oleh kalimat tersebut adalah sangat sulit. Tapi dalam waktu yang pendek ini saya akan mencoba menjelaskan konsep Islam mengenai loyalitas dan cinta tanah air .
Pertama-tama prinsip yang utama dalam Islam adalah perkataan dan perbuatan seseorang tidak boleh mencerminkan standar ganda atau kemunafikan. Kesetiaan sejati membutuhkan suatu hubungan yang dibangun berdasarkan ketulusan dan integritas. Hal ini membutuhkan apa yang seorang tampilkan di permukaan sama dengan apa yang ada dalam hatinya. Dalam konteks nasionalisme, prinsip-prinsip ini sangat penting. Oleh karena itu sangat penting bagi warga setiap warga negara membangun hubungan dengan tanah airnya dengan loyalitas dan kesetiaan yang murni. Tidak peduli apakah ia terlahir sebagai warga negara tersebut, atau mendapatkan kewarganegaraannya dengan cara imigrasi ataupun cara lain.
LOYALITAS atau kesetiaan adalah suatu kualitas utama, dan orang yang telah menunjukkan sikap ini dengan derajat dan standar tertinggi adalah para nabi Allah. Cinta dan ikatan mereka dengan Tuhan sangat kuat dalam segala hal sehingga mereka menjaga perintah Tuhannya dan berjuang untuk menjalankannya apapun yang terjadi. Hal ini menggambarkan komitmen mereka pada Tuhan dan standar yang sempurna mengenai loyalitas. Dengan demikian, standar loyalitas seperti itulah yang harus kita gunakan sebagai contoh dan model. Namun demikian, sebelum kita bicara lebih lanjut, adalah penting untuk memahami dahulu apa yang dimaksud dengan loyalitas.”¹⁴
Beliau aba menjelaskan:
“Ketika cinta tanah air merupakan hal mendasar dalam Islam, bagaimana bisa seorang Muslim sejati akan menunjukkan ketidaksetiaan atau mengkhianati bangsanya.” (Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba)
2. Agar Jangan Memberontak
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifatul Masih al-khamis), bersabda:
“Ajaran lain yang diberikan oleh Al-Quran dalam kaitannya dengan loyalitas adalah manusia harus menjauhkan diri dari semua perbuatan keji, dan munkar dan segala bentuk pemberontakan. Sebuah gambaran yang indah dan membedakan Islam adalah ia tidak hanya menarik perhatian kita ke titik kulminasi, dimana hal itu memiliki konsekuensi yang sangat berbahaya, tatapi juga memperingatkan kita tentang masalah-masalah yang lebih kecil, yang dapat menjadi batu pijakan manusia untuk melewati jalan yang penuh bahaya. Jadi, jika petunjuk Islam diikuti dengan benar, maka setiap permasalahan dapat diselesaikan sedini mungkin, sebelum situasinya sebelum situasi menjadi tak terkendali.
Sebagai contoh, sebuah permasalahan yang dapat merugikan Negara adalah korupsi. Seringkali orang terasuki oleh keinginan materialistis yang berputar tanpa kendali, dan akhirnya keinginan tersebut membawa manusia pada tindakan tidak terpuji. Hal tersebut dapat menjadi penyebab penghianatan pada Negara. Mari saya jelaskan sedikit. Dalam bahasa Arab kata bagha telah digunakan untuk menggambarkan orang-orang atau tindakan orang-orang yang menimbulkan kerugian bagi negara mereka, ini merujuk pada mereka yang melakukan hal-hal yang buruk atau mencelakakan orang lain.
Hal ini juga termasuk orang-orang yang melakukan penipuan dan mencoba untuk mendapatkan sesuatu secara ilegal atau tidak adil. Kata ini juga merujuk pada orang-orang yang melewati batas sehingga menyebabkan kerugian dan kerusakan. Islam mengajarkan bahwa orang yang bersikap demikian tidak dapat diharapkan bersikap setia, karena kesetiaan berkaitan erat dengan nilai moral yang tinggi. Kesetiaan tidak akan terjadi tanpa nilai-nilai moral yang tinggi, dan nilai moral yang tinggi tidak akan terjadi tanpa kesetiaan.¹⁵
3. Islam Melarang Pemberontakan
“Menurut ajaran Islam, Allah melarang semua bentuk pengkhianatan atau pemberontakan, baik terhadap negara atau pemerintah. Karena hal itu menjadi ancaman bagi perdamaian dan keamanan suatu bangsa.” ¹⁶
Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ Adalah Matahari Kebebasan
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifah Islam Ahmadiyyah yang ke-5), mengatakan:
“Di hadapan kita ada matahari kebebasan, dialah sosok Rasulullah (saw) yang memberi petunjuk pembebasan dari perbudakan lahiriah dan juga membebaskan manusia dari belenggu dan ikatan yang mencekik leher-leher manusia.” ¹⁷
“Secara umum, di era modern ini, sebagian besar pemerintah dijalankan secara demokratis. Oleh karena itu jika seseorang atau kelompok berkeinginan untuk mengubah suatu pemerintahan, maka mereka harus melakukannya dengan mengikuti proses demokrasi yang tepat. Mereka harus membuat diri mereka didengar melalui pemungutan suara di kotak suara. Suara tidak boleh diberikan atas dasar preferensi atau kepentingan pribadi, tetapi Islam mengajarkan bahwa memilih seseorang harus diberikan kepada orang yang memiliki rasa kesetiaan dan cinta tanah air nya. Karenanya seseorang tidak boleh melihat pada prioritasnya sendiri atau kandidat mana dan dari partai apa yang bisa mendapatkan keuntungan, namun seseorang harus membuat keputusan secara berimbang dimana ia menilai mana kandidat atau partai yang akan membantu kemajuan bangsa dan Negara. Kunci pemerintah adalah kepercayaan yang tinggi sehingga mereka harus menyerahkan kepada partai dimana para pemilih dengan jujur mempercayakan kepada sosok yang paling pantas dan layak. Ini adalah Islam yang benar dan ini adalah kesetiaan sejati.” ¹⁸
Beliau juga menjelaskan:
“Sebuah prinsip emas diajarkan oleh Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah yaitu dalam semua keadaan, kita harus selalu taat kepada Allah, kepada Nabi dan para penguasa bangsa kita. Ini adalah ajaran yang sama diajarkan dalam Al-Quran. Oleh karena itu, sekalipun suatu negara mengizinkan aksi mogok atau demonstrasi, maka hal itu hanya boleh dilakukan sebatas mereka tidak membahayakan atau menyebabkan kerusakan pada bangsa atau ekonomi.” ¹⁹
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifatul Masih al-khamis), menyerukan:
“Para pemimpin dan pemerintahan mereka harus berusaha membuat undang-undang yang menciptakan lingkungan dan spirit kebenaran serta keadilan, bukannya membuat undang-undang yang menjadi sarana yang menyebabkan kesulitan dan frustrasi warga. Ketidakadilan dan kekejaman harus dihilangkan dan sebaliknya kita harus mengupayakan keadilan sejati. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dunia harus mengenali Sang Pencipta. Setiap bentuk loyalitas harus dikaitkan dengan loyalitas dengan Tuhan. Jika hal ini terjadi maka kita akan menyaksikan dengan mata kita sendiri standar loyalitas yang tinggi akan terbentuk oleh orang-orang dari semua negara dan sebuah jalan baru akan membimbing kita menuju perdamaian dan serta akan membuka keamanan di seluruh dunia.²⁰
4. Memberikan Dedikasi Untuk Bangsa
Kemanapun para Ahmadi pergi, mereka akan mencintai negara mereka seperti warga negara sejati yang mendedikasikan hidup mereka untuk kebaikan dan kemajuan bangsa.” ²¹
5. Kesetiaan Pada Negara
“Sebagai Muslim Ahmadi, mereka menjadi warga negara yang setia kepada negara di mana mereka berada. Tidak ada pertentangan antara cinta mereka pada Islam dan negara. Di manapun mereka tinggal, Muslim Ahmadi akan menjadi warga negara yang sangat taat hukum.” ²²
6. Persatuan, Kemerdekaan Dan Keadilan
Pernyataan yang fenomenal dari Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifatul Masih al-khamis/pemimpin Jamaah Ahmadiyah Internasional), beliau menyampaikan:
“Ajaran Islam bertujuan menyatukan umat manusia di bawah bendera kemanusiaan dan menjamin hak setiap individu untuk hidup dengan bebas, setara, merdeka dan penuh keadilan.” ²³
Imam Jalaluddin Al-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih menyebutkan:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا»، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: جُدُرَاتِ، تَابَعَهُ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ. (درجات): بفتح المهملة والراء والجيم، جمع “درجة”، وهي طرقها المرتفعة، وللمستملي: “دوحات” بسكون الواو، وحاء مهملة جمع دوحة، وهي الشجرة العظيمة. (أوضع): أسرع السير. (مِنْ حُبِّها) أي: المدينةِ، فِيْهِ مَشْرُوعِيَّةُ حُبِّ الوَطَنِ والحَنينِ إليه
“Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengkabarkan padaku Humaid, bahwasannya ia mendengan Anas RA berkata: Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Bercerita kepadaku Qutaibah, bercerita padaku Ismail dari Humaid dari Anas, ia berkata: dinding-dinding. Harits bin Umair mengikutinya.” ²⁴
Kesimpulan
Khilafah Ahmadiyah mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai, dan loyalitas kepada negara adalah bagian dari iman. Dengan menaati Allah, Rasul, dan pemimpin yang sah, seorang Muslim dapat menjadi warga negara yang bertanggung jawab, menjunjung tinggi perdamaian, dan berkontribusi pada kemajuan bangsanya. Ini adalah visi Islam yang toleran dan universal, yang berusaha mewujudkan harmoni di tengah keberagaman.
Apakah Anda sudah menemukan jawaban atas pencarian Anda?
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya
______________________
Catatan kaki:
¹ Tafsir at-Thabari, juz 5, h. 147-149
² kitab Syahadatul Quran, Ruhani Khazain, Jilid 6, hal. 332.
³ kitab Al-Hakam, 10 Februari 1901, jilid 5, No. 5, hal. 1
⁴ kitab Izalah Auham, Ruhani Khazain jilid 3, hal. 596
⁵ Al-Haqq Mubahatsah Dhelwi, kitab Ruhani Khazain jilid 4, hal. 184
⁶ kitab Malfuzhat, jilid 1, hal. 171, Cetakan Rabwah
⁷ kitab Al-Hakam, 24 Mei 1901, No. 19, Jld. 5, hal. 9, kalam no 2.
⁸ Surat Khabar Al-Badar no. 8, jilid 9, 16 Desember 1909, halaman 4, kalam ke 2.
⁹ HR. Bukhari no. 1203)
¹⁰ HR. Bukhari, no. 1204
¹¹ HR Bukhari, no.1205
¹² HR Bukhari no.1206
¹³ Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012)
¹⁴ Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012.
¹⁵ Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012
¹⁶ Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Pidato di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012
¹⁷ Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khutbah 25 November 2011)
¹⁸ Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012
¹⁹ Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012.
²⁰ Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012)
²¹ Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, 2012
²² Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba, 2012
²³ Hazrat Mirza Masroor Ahmad 2018
²⁴ Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih, Riyad, Maktabah Al-Rusyd, 1998, Juz 3, hal. 1360.
Komentar
Posting Komentar