Oleh: Syamsul Ulum
Allah SWT berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berbuat adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Mā'idah: 8)
TIAP TAHUN, bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan dengan gegap gempita. Dari lomba panjat pinang di kampung-kampung hingga pidato kenegaraan di Gedung DPR, suasana Agustus dipenuhi semangat nasionalisme dan simbol-simbol kebangsaan.
Namun di tengah segala euforia itu, ada satu pertanyaan mendasar yang layak diajukan secara jujur: Apakah kita benar-benar sudah merdeka?
Kemerdekaan bukan hanya soal lepas dari penjajahan asing. Ia adalah kebebasan untuk hidup bermartabat, menyatakan pendapat, meyakini iman, dan menjalankan ibadah tanpa rasa takut atau tekanan. Maka menjadi ironi yang menyakitkan ketika sebagian warga negara Indonesia yang lahir dan besar di tanah ini masih harus berjuang keras sekadar untuk bisa beribadah. Imam Al-Ghazali rh dalam Iḥyā' ‘Ulūm ad-Dīn berkata:
السلطان ظلّ الله في الأرض، يأوي إليه كل مظلوم، فمن عدل كان له الأجر، ومن جار كان عليه الوزر."
Penguasa adalah bayangan Allah di muka bumi, tempat berlindungnya orang-orang yang teraniaya. Maka siapa yang berlaku adil, baginya pahala; dan siapa yang berlaku zalim, baginya dosa." ¹
Kebebasan Beribadah: Hak yang Belum Tuntas
Dalam berbagai kasus, pembangunan rumah ibadah kelompok minoritas masih dipersulit dengan dalih "izin lingkungan". Izin yang tidak jarang menjadi alat tekan yang efektif untuk membungkam hak konstitusional warga negara. Di sisi lain, ada pula komunitas keagamaan yang dibubarkan saat sedang melaksanakan ibadah, bahkan dipersekusi oleh kelompok intoleran yang dibiarkan oleh aparat.
Ini bukan hanya pelanggaran atas asas keadilan, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanat konstitusi. Pasal 28E dan 29 UUD 1945 dengan tegas menjamin kebebasan setiap warga untuk memeluk agama dan beribadah menurut keyakinannya. Lantas, mengapa hak itu masih sulit diwujudkan bagi sebagian rakyat?
Jika seseorang tidak bisa membangun rumah ibadah karena agamanya berbeda dari mayoritas, atau jika ia harus sembunyi-sembunyi saat beribadah karena khawatir diusir, maka kita patut bertanya: "Kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan setiap tahun?"
Imam Ibnu Qayyim Jauziyyah rh mengatakan:
السُّلْطَانُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Penguasa adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya." ²
Ironi Demokrasi dalam Negara Pancasila
Kita sering mengklaim sebagai negara demokrasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa demokrasi kita kerap hanya milik mayoritas. Sementara kelompok minoritas sering kali harus bernegosiasi, mengalah, bahkan berdiam demi bertahan.
Dalam banyak kasus, negara tampak lebih sibuk menjaga "stabilitas sosial" daripada menegakkan keadilan substantif. Padahal, tugas negara bukan hanya meredam konflik, melainkan menjamin hak dasar setiap warga, termasuk hak untuk beragama dan beribadah. Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَلَى يَمِينِ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا
"Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil akan ditempatkan di sisi Allah Ta'ala di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, di sisi sebelah kanan 'Arrahman. Yaitu, orang-orang yang adil dalam menghukumi mereka, adil dalam keluarga mereka dan dalam mengerjakan tugas mereka." ³
Kemerdekaan Bukan Milik Segelintir Orang
Kemerdekaan sejati bukan hanya tentang mengganti bendera penjajah dengan bendera sendiri. Ia adalah kondisi di mana setiap orang—siapa pun dia, dari kelompok mana pun ia berasal merasakan hak dan perlindungan yang sama di hadapan hukum dan negara.
Jika perayaan kemerdekaan hanya dirasakan oleh sebagian masyarakat, sementara yang lain masih harus “meminta izin” untuk menjalankan keyakinannya, maka kita belum benar-benar merdeka. Kita baru berpindah dari satu bentuk penindasan ke bentuk penindasan lainnya yang lebih halus, tapi tetap menyakitkan.
Saatnya Jujur dalam Merayakan Kemerdekaan
Sudah saatnya kita jujur dalam merayakan kemerdekaan. Euforia simbolik tidak boleh menutupi luka-luka kebebasan yang belum sembuh. Jika kita benar-benar ingin menghormati jasa para pahlawan, maka perjuangan kita hari ini bukan hanya mengibarkan bendera, melainkan juga mengibarkan keadilan dan kesetaraan bagi semua.
"Merdeka sejati adalah ketika tak satu pun warga negara merasa takut menjalankan imannya (keyakinannya). Merdeka sejati adalah ketika tak ada lagi pintu rumah ibadah yang digembok oleh intoleransi. Dan merdeka sejati adalah ketika semua warga, tanpa kecuali, diperlakukan setara oleh negara."
Dalam satu hadits Rasulullah ﷺ memperingatkan kepada orang-orang yang memegang jabatan dan kekuasaan agar benar-benar dalam menjalankan pemerintahannya. Beliau Saw bersabda:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
Dari Abu Dzar, ia berkata: "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mengangkatku menjadi seorang pemimpin?' Maka, beliau menepuk bahuku dengan tangannya, lalu bersabda, 'Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan jabatan itu adalah amanah. Dan sesungguhnya pada hari kiamat nanti, ia kekuasaan (jabatan) adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan kewajiban yang ada padanya'." ⁴
Kekuasaan adalah amanah besar, dan siapa pun yang tidak menjalankan kewajibannya—termasuk menjamin hak-hak dasar rakyat seperti kebebasan beribadah akan mengalami kehinaan dan penyesalan di akhirat.
Kesimpulan:
Dalam Islam, penguasa yang tidak menjamin kebebasan beribadah, atau bahkan membiarkan rakyatnya dipersekusi karena beribadah, telah melalaikan amanahnya dan akan dimintai pertanggungjawaban. Islam memandang keadilan dan perlindungan atas hak asasi manusia (terutama dalam beragama) sebagai pondasi utama kekuasaan yang sah dan diridhai Allah SWT.[]
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan, kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya.
____________________________________________
Catatan kaki:
¹ Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, 1/120
² I’lām al-Muwaqqi’īn, 1/95)
³ Sunan An-Nasai, hadits no. 5284
⁴ HR. Muslim hadits no. 3404
Komentar
Posting Komentar