Kritik Syams Tabrizi dan Ibnu Rusyd terhadap Ulama Tanpa Ilham
Ketika Hafalan Mengalahkan Hakikat Ilmu
فَإِنَّهُ إِنِ اكْتَفَى بِحِفْظِ مَا يُقَالُ كَانَ وِعَاءً لِلْعِلْمِ وَلَا يَكُونُ عَالِمًا، وَلِذَلِكَ يُقَالُ: فُلَانٌ مِنْ أَوْعِيَةِ الْعِلْمِ، فَلَا يُسَمَّى عَالِمًا إِذَا كَانَ شَأْنُهُ الْحِفْظُ مِنْ غَيْرِ اطِّلَاعٍ عَلَى الْحُكْمِ وَالْأَسْرَارِ. وَمَنْ كُشِفَ عَنْ قَلْبِهِ الْغِطَاءُ وَاسْتَنَارَ بِنُورِ الْهِدَايَةِ صَارَ فِي نَفْسِهِ مَتْبُوعًا مُقَلَّدًا.
"Maka sesungguhnya, jika seseorang hanya puas dengan menghafal apa yang dikatakan (oleh orang lain), ia hanyalah wadah bagi ilmu dan belum menjadi seorang alim (ulama). Karena itu, dikatakan: “Si Fulan adalah salah satu dari wadah-wadah ilmu.” Maka ia tidak disebut alim jika keadaannya hanya sekadar menghafal tanpa memahami hukum-hukum dan rahasia-rahasianya." (Al-Ghazali rh, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 1, hlm. 78)
_____________________________________________
Oleh: Syamsul Ulum
DI TENGAH gemuruh zaman yang terus bergerak, pertanyaan tentang hakikat ilmu dan peran ulama sering kali mengemuka. Apakah seorang alim identik dengan mereka yang banyak menghafal teks-teks klasik? Atau adakah dimensi lain yang jauh lebih penting dari sekadar "katanya dan katanya"?
Di masa klasik Islam, seseorang dianggap alim jika ia menguasai hafalan dan hafal pendapat ulama, hafal nama kitab, hafal silsilah sanad sampai ke Rasulullah ﷺ. Semakin panjang daftarnya, makin tinggi pula gelar kealimannya. Tak peduli apakah ia punya pandangan baru atau tidak. Ulama bukan dinilai dari kedalaman hikmah yang ia hasilkan, tetapi dari banyaknya kutipan yang bisa ia sampaikan.
Namun pandangan ini tidak luput dari kritik. Dua tokoh besar dari dunia Islam Ibnu Rusyd dan Syams Tabrizi berani menggugat pandangan tersebut. Bagi mereka, ilmu sejati bukanlah salinan dari salinan dan kata dalam kitab ini dan kitab itu serta bukan pula tumpukan hafalan. Ilmu sejati itu tumbuh dari hati yang hidup, yang tersambung kepada Allah Yang Maha Hidup.
Artikel ini akan mengupas tuntas kritik tajam dari para pemikir besar Islam, mulai dari Ibnu Rusyd hingga Syams Tabrizi, yang mengajak kita meninjau ulang makna sebenarnya dari keilmuan dan bimbingan ilahi.
Ketika Hafalan Menjadi Raja
Di era keemasan peradaban Islam, pandangan umum masyarakat cenderung mengagungkan mereka yang memiliki daya hafal luar biasa. Seorang ulama dianggap semakin alim jika ia mampu menghafal pendapat para ulama sebelumnya, lengkap dengan teks-teks, nama kitab, bahkan silsilahnya hingga Nabi Muhammad ﷺ. Semakin banyak hafalan, semakin tinggi pula derajat kealimannya. Sebaliknya, mereka yang tidak piawai menghafal teks, sekalipun cerdas dalam berargumentasi, kerap dicap sebagai "cendekiawan" atau "intelektual" belaka, dan tidak layak menyandang gelar "alim" atau "ulama".
Namun, pandangan ini tak luput dari sorotan tajam. Salah satu kritik paling awal datang dari Ibnu Rusyd al-Hafid (w. 1198), seorang filsuf, komentator Aristoteles, dan ahli hukum Islam terkemuka dari Andalusia. Mujtahid besar ini melihat adanya kecenderungan di kalangan ulama pada masanya yang terlalu sibuk menghafal teks dan mengikuti pandangan tekstual tanpa mau melakukan analisis mendalam, rasional, dan empiris.
Analogi Brilian Ibnu Rusyd: Tukang Sepatu Dan Penjual Sepatu.
Bagi Ibnu Rusyd, seorang ahli fiqh seharusnya tidak terus-menerus bertaklid (mengikuti secara buta) kepada orang lain. Mereka tidak boleh hanya sibuk menghafal atau mereproduksi fiqh serta pemikiran para pendahulu. Seseorang yang hanya menghafal produk hukum para mujtahid, sebanyak apa pun itu, tidaklah pantas disebut "faqih" (ahli fiqh) atau "alim" (ulama).
Lalu, siapa yang pantas disebut 'Alim dan Faqih?
Menurut Ibnu Rusyd, seseorang baru bisa disebut "faqih" dan "alim" jika ia mampu menganalisis dan menggali teks-teks hukum secara mendalam, menggunakan argumen yang dapat diterima akal sehat (rasional) dan sejalan dengan realitas yang berkembang. Terlebih lagi jika ia mampu menciptakan kerangka dan metodologinya sendiri.
Ibnu Rusyd kemudian merangkum kritiknya dengan analogi yang cerdas: Tukang Sepatu dan Penjual Sepatu.
Menurut Ibnu Rusyd, Seorang tukang sepatu sejati, bukanlah sekadar orang yang punya banyak koleksi sepatu yang siap pakai. Ia bukan kolektor sepatu atau pemilik toko sepatu. Memang baik dan tidak masalah seseorang memiliki banyak koleksi sepatu untuk dipakai, dijual, ataupun diberikan. Namun, masalah muncul ketika ada pembeli yang mencari model terbaru atau ukuran tertentu. Apalagi, perubahan gaya hidup adalah keniscayaan; masyarakat terus berkembang, cepat bosan, dan selalu menginginkan hal-hal yang baru.
" لِكُلِّ جَدِيدٍ لَذَّةٌ" (setiap yang baru itu ada kelezatannya).
Bagaimana bisa memenuhi permintaan itu jika model baru atau ukuran tertentu tidak tersedia di rumah atau di toko? Tentu saja, ia tak akan bisa melayani. Sebaliknya, ahli/tukang sepatu adalah orang yang bisa membuat sepatu dan mampu menciptakan serta mengkreasikan model-model yang sesuai dengan tren zaman. Dengan demikian, ia akan bisa memenuhi kebutuhan orang yang berbeda-beda dengan model apa pun yang baru. Analogi ini menegaskan bahwa keilmuan sejati terletak pada kemampuan berkreasi, menganalisis, dan berinovasi, bukan sekadar menghafal dan mereproduksi yang sudah ada.
Kritik Syams Tabrizi: "Hatiku Menerima dari Tuhanku"
Jauh setelah Ibnu Rusyd, kritik serupa, bahkan lebih tajam, dilontarkan oleh Syams Tabrizi atau Syams al-Din Muhammad (w. 1248 M ), sang darwish pengembara dan juga guru spiritual Jalaluddin Rumi. Dalam sebuah pertemuan para ulama di Konya yang membahas isu-isu sosial (semacam; Bahtsul Masail), Syams Tabrizi menyaksikan para ulama sibuk mengutip "ibarah" (redaksi/teks) hadis Nabi, atsar (pernyataan sahabat Nabi), serta ucapan para auliya dan ulama fiqh terkenal. Merasa resah, Syams Tabrizi bangkit dan melontarkan kritik pedasnya:
إلى مَا تَمْضُونَ أَوْقَاتَكُمْ فِي النَّقْلِ عَنْ فُلَانَ وَفُلَانَ. أَلَيْسَ لَدَيْكُمْ شَيْءٌ جَدِيدٌ تَقُولُونَهُ؟ وَمَتَى سَيَقُولُ أَحَدُكُمْ: قَلْبِي نَقَلَ عَنْ إِلَـهِي كَذَا وَكَذَا. بَدَلًا مِنْ أَنْ تَسْتَعِيدُوا كَلَامًا مُكَرَّرًا مَسْمُوعًا وَمَعْرُوفًا؟ (شَمْسُ التَّبْرِيزِيّ).
"Sampai kapan kalian menghabiskan waktu-waktu kalian dengan mengutip ucapan dari si Fulan dan si Fulan? Apakah kalian tidak memiliki sesuatu yang baru yang kalian katakan sendiri? Kapan ada orang yang mengatakan: 'Hatiku Menerima Dari Tuhanku Begini Dan Begini,' daripada kalian terus mengulang-ulang perkataan yang sama, yang telah didengar dan dikenal sebelumnya?" ¹
Ucapan Syams Tabriz ini adalah pukulan telak bagi kepasifan intelektual dan spiritual. Ia mengkritik kecenderungan untuk hanya meniru dan mengutip, tanpa merenung atau memperdalam secara pribadi. Baginya, ilmu sejati bukan sekadar dihafal, tetapi harus dihidupkan dalam hati dan diamalkan.
Syams Tabriz mendorong para pencari ilmu untuk mengalami kebenaran secara langsung, untuk mendekat kepada Allah hingga hati mereka sendiri menjadi sumber ilham dan pemahaman (Wahyu). Ungkapan: قَلْبِي نَقَلَ عَنْ إِلَـهِي كَذَا وَكَذَا. "qalbī naqala 'an ilāhī" (hatiku menukil dari Tuhanku) menandakan kedalaman hubungan batin seseorang dengan Allah, di mana ilmu dan hikmah muncul dari hati yang bersih dan terhubung langsung dengan Tuhan. Inilah yang disebut pentingnya orisinalitas dalam jalan ruhani. Seorang salik (penempuh jalan spiritual) harus berjalan hingga merasakan cahaya ilahi dalam hatinya sendiri, bukan hanya mengandalkan wacana dan pendapat dari luar.
Kritik Syams Tabrizi yang tajam ini tentu saja mengundang kontroversi dan kemarahan para ulama eksoteris. Ia dikecam dan dicap sebagai liberal, namun Syams Tabrizi tak peduli. Di tangan Syams Tabrizi inilah, Maulana Rumi, yang awalnya seorang faqih rigid (kaku), berubah total menjadi seorang sufi yang terbuka, inklusif, toleran, dan penyair besar.
Wahyu Ilahi yang Tak Pernah Mati.
Gagasan tentang ilmu yang bersumber langsung dari Ilahi ini juga digaungkan oleh sufi besar lainnya, Ibnu 'Arabi (w. 1240 M). Dalam karyanya, Al-Futuhat Al-Makkiyah, beliau mengutip perkataan Abu Yazid al-Bustami:
أَخَذْتُم عِلْمَكُمْ مَيِّتًا عَنْ مَيِّتٍ، وَأَخَذْنَا عِلْمَنَا عَنِ الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ
"Kalian mengambil ilmu kalian dari yang mati, melalui yang mati pula, sedangkan kami mengambil ilmu kami dari Yang Maha Hidup yang tidak pernah mati." ²
Penjelasan:
"Kalian mengambil ilmu dari yang mati": Merujuk pada proses belajar dari manusia biasa (guru atau ulama) yang telah wafat.
Dalam konteks ini, "orang mati" merujuk pada manusia biasa, yaitu para ulama atau guru yang telah wafat, tempat ilmu biasa diperoleh melalui pembelajaran. Sebaliknya, "Kami mengambil ilmu dari Yang Maha Hidup yang tidak mati": Mengacu pada ilmu yang diperoleh langsung dari Allah melalui Wahyu, ilham, kasyf (penyingkapan batin), bukan sekadar dari teks atau hafalan.
Ini bukan berarti meremehkan ilmu yang diperoleh dari guru atau kitab. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis Rasulullah ﷺ :
وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ
"Dan Allah membenci kalian yang menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya (hanya katanya dan katanya)...." ³ . Hadis ini justru menekankan pentingnya validitas sumber ilmu.
Kesimpulan:
Kritik-kritik ini, baik dari Ibnu Rusyd maupun Syams Tabrizi dan Abu Yazid al-Bustami, bukanlah bertujuan meremehkan peran ulama atau kekayaan khazanah keilmuan Islam. Sebaliknya, mereka mengajak kita untuk naik tingkat dari sekadar penghafal ilmu menjadi orang yang merasakan, menghayati, dan memancarkan ilmu dari kedalaman hati yang tersambung dengan Allah SWT.
Ini adalah ajakan untuk tidak hanya terpaku pada kulit luar ilmu (teks dan hafalan), tetapi juga menyelami kedalamannya (substansi, filosofi, dan esoterisme/sufisme). Ilmu sejati adalah yang mampu menghidupkan hati, menginspirasi pemikiran baru, dan membimbing umat menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang kebenaran ilahi, sesuai dengan dinamika zaman yang terus berubah.
Bagaimana menurut Anda, sudahkah kita mampu beralih dari sekadar "katanya dan katanya" menuju "hatiku menerima dari Tuhanku (Wahyu)"?
Wallaahu 'Alam
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya
_____________________________________________
Footnote:
¹Syarh Qawa'id al-Isyq al-Arbaun/Empat puluh Kaedah Cinta.
² Al-Futūḥāt al-Makkīyah, halaman 253, jilid kedua.
³ HR. Muslim no. 1715
Komentar
Posting Komentar