Makna Laa Nabiya Ba’dahu (لا نبي بعده )



Penjelasan Hadits Setelah Nabi Muhammad ﷺ Wafat Diganti oleh Para Khalifah
Oleh: Syamsul Ulum


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ

Dahulu Bani Israil dipimpin oleh Nabi-nabi, setiap kali seorang nabi wafat, maka dia diganti oleh nabi yang lain. Tetapi sesungguhnya setelah aku (wafat)  tidak ada (tidak diganti) nabi , tetapi yang akan ada (diganti) para khalifah, dan jumlah mereka banyak. [HR. Bukhari, kitab: Ahadits al-Ambiya’, no:3455; Muslim, no:44/1842, dari Abu Hurairah]

PENJELASAN:

1. "كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ" (Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi).

 Pada kata "تَسُوسُهُم" (tasusuhum) berasal dari akar kata سَاسَ - يَسُوسُ yang berarti memimpin, mengatur, memerintah.

Maksudnya, para nabi di kalangan Bani Israil juga menjalankan fungsi pemerintahan dan kepemimpinan, tidak hanya menyampaikan wahyu.

2. "كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ" (Setiap kali seorang nabi wafat, maka segera digantikan oleh nabi lainnya). 

Ini menunjukkan keberlangsungan kenabian di kalangan Bani Israil secara berturut-turut.

3. "وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي" (Dan Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku)

 Hadits tersebut merupakan pernyataan Rasulullah ﷺ bahwa setelah beliau wafat tidak diganti nabi sebagaimana kepemimpinan pada Bani Israil yang setiap seorang nabi wafat maka penggantinya adalah seorang nabi lagi, tetapi setelah beliau Muhammad ﷺ,wafat akan langsung diganti para khalifah. Nah ini makna benar dari kata "tidak ada nabi setelahku" (لَا نَبِيَّ بَعْدِي) dalam konteks hadits tersebut. 

4. "وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ" (dan dalam waktu dekat akan ada para khalifah dan jumlah mereka akan banyak). 

Kalimat pada hadits tersebut (وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ) Menunjukkan bahwa setelah wafatnya Nabi ﷺ, dalam waktu dekat (segera) yang akan melanjutkan kepemimpinan adalah para khalifah, bukan nabi.

Penjelasan:

1. Sin (س) - "Tanfis" (تنفيس) dalam hadits tersebut pada kata Sayakunu  (سَيَكُونُ) Menunjukkan kejadian yang akan terjadi dalam waktu dekat atau segera (استقبال للقريب). Waktu antara sekarang dan terjadinya peristiwa yang ditunjukkan oleh fi'il mudhari' tersebut sangat singkat.

Sin (س) tersebut Sering disebut sebagai Sin at-Tanfis (سين التنفس) yang berarti "sin untuk waktu dekat". Ini mengkhususkan fi'il mudhari' yang asalnya bisa berarti sekarang atau akan datang, menjadi hanya bermakna "akan datang" dalam waktu yang dekat. Misalnya: سيذهب (sa-yazhabu) = Dia akan segera pergi. (Mungkin sebentar lagi, atau dalam waktu dekat) tidak dalam waktu yang lama atau kelak.
   
2. Saufa (سوف) - "Taswif" (تسويف)
 Sedangkan  Saufa (سوف) Menunjukkan kejadian yang akan terjadi di masa depan yang lebih jauh atau nanti (استقبال للبعيد) Ada jeda waktu yang lebih panjang antara sekarang dan terjadinya peristiwa. Sering disebut sebagai Saufa at-Taswif (سوف التسويف) yang berarti "saufa untuk penundaan" atau "saufa untuk waktu yang lebih panjang (kelak)". Ini juga mengkhususkan fi'il mudhari' menjadi bermakna "akan datang", namun dengan indikasi waktu yang lebih lama, misalnya: سوف يذهب (saufa yadzhabu) = Dia akan pergi (nanti/kelak). (Waktunya tidak dalam waktu dekat, bisa besok, lusa, atau kapan pun di masa depan)
  
Kesimpulan:

Hadis ini menggambarkan bahwa Tradisi kenabian sebagai pemimpin bangsa dalam Bani Israil. Berbeda dengan penerus Kepemimpinan setelah beliau ﷺ wafat langsung akan diganti atau dijalankan oleh para khalifah, bukan lagi nabi. Bahwa khalifah tersebut bisa banyak (pluralitas kepemimpinan).

Benar kebiasaan di Bani Israel setelah wafatnya seorang nabi langsung Allah ganti dengan seorang nabi lagi, sedangkan di dalam umat Islam tidak seperti umat Bani Israel yang jika seorang nabi wafat maka akan langsung diganti dengan seorang nabi lagi.

TETAPI Hadīts tersebut jika kita perhatikan sama sekali tidak menunjukkan tertutupnya pintu kenabīan. Ḥadīts ini hanya menginformasikan bahwa akan ada khalīfah-khalīfah dalam waktu yang dekat setelah kewafatan Nabī Muḥammad ﷺ. Hal Ini ditandai dengan penggunaan huruf Sin (س) dalam kalimat:. سيكون خلفاء yang artinya pada waktu dekat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ akan ada para Khalifah sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Rasulullah ﷺ

Jadi penggunaan huruf Sin (س) yang jika masuk ke dalam fi‘l muḍhāri‘ maka akan memberikan faedah istiqbāl li al-qarīb ( استقبال للقريب) yakni waktu yang datang yg dekat/sebentar lagi.

Sabda beliau ﷺ ini sudah terbukti kebenarannya dengan terpilihnya al-Khulafā’ ar-Rāsyidūn ra yang di dalam tempat lain, beliau memprediksi bahwa masa pemerintahan mereka akan berumur 30 tahun:

حدثنا أحمد بن منيع؛ حدثنا سريج بن النعمان؛ حدثنا حشرج بن نباتة؛ عن سعيد بن جمهان، قال: حدثني سفينة؛قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الخلافة في أمتي ثلاثون، سنة ثم ملك بعد ذلك. ثم قال لي سفينة: أمسك خلافة أبي بكر، ثم قال: وخلافة عمر، وخلافة عثمان، ثم قال لي: أمسك خلافة علي، قال: فوجدناها ثلاثين سنة، قال سعيد: فقلت له: إن بني أمية يزعمون أن الخلافة فيهم، قال: كذبوا بنو الزرقاء، بل هم ملوك من شر الملوك.

“Aḥmad ibn Manī‘ menceritakan kepada kami; Surayj ibn an-Nu‘mān menceritakan kepada kami; Ḥasyraj ibn Nubātah menceritakan kepada kami; dari Sa‘īd ibn Jumhān, dia berkata: Ḥaḍrat Safīnah ra menceritakan kepadaku; beliau berkata: Ḥaḍrat RasūluLlāh SAW bersabda: Khilāfah dalam ummat-kuakan berusia 30 tahun. Kemudian, kerajaan akan muncul setelahnya. Ḥaḍrat Safīnah ra lalu berkata kepadaku: Peganglah Khilāfah Ḥaḍrat Abū Bakr ra. Beliau lantas berkata lagi: Juga Khilāfah Ḥaḍrat ‘Umar ra Khilāfah Ḥaḍrat ‘Utsmān ra, Khilāfah Ḥaḍrat ‘Alī ra. Sa‘īd berkata: Kami telah mendapati 30 tahun itu. Sa‘īd berkata: Aku berkata kepada Ḥaḍrat Safīnah ra: Sesungguhnya Banī Umayyah menyangka bahwa Khilāfah berada ditengah-tengah mereka. Ḥaḍrat Safīnah ra berkata: Banī az-Zarqā’ telah berdusta. Bahkan, mereka adalah raja-raja yang termasuk di antara sejelek-jeleknya raja-raja”. [Sunan at-Tirmidzī, Kitāb al-Fitan, Bāb Mā Jā’a ‘An al-Khilāfah, no. 2226]]

Jadi penggantian oleh para Khalifah setelah Rasulullah ﷺ wafat hanya utk waktu dekat saja bukan utk waktu jauh atau masa jangka panjang hal itu bisa kita lihat dalam hadits tersebut dalam kalimat: وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ Artinya akan ada para Khalifah setelah Rasulullah ﷺ wafat dalam waktu dekat maksudnya setelah Rasulullah ﷺ wafat langsung dipilih penggantinya yakni seorang Khalifah bukan nabi.

Jadi kalimat: سيكون خلفاء itu bentuk kalimat  istiqbāl li al-qarīb ( استقبال للقريب) artinya dalam hadits tersebut وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ menunjukkan bahwa dalam waktu dekat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ akan ada para Khalifah saja tapi bukan utk jangka waktu lama atau panjang. Makanya menggunakan huruf Sin (س) dalam kalimat ” Sayakunu Khulafa ( سيكون خلفاء ) tidak menggunakan kata Saufa (سوف) yang maknanya utk menunjukan jangka waktu lama atau panjang. Makanya menggunakan kalimat سيكون bukan سوف يكون.

Kenapa dalam hadits tersebut hanya untuk jangka waktu dekat? Jawabnya Karena Rasulullah ﷺ mengisyaratkan bahwa nanti dalam waktu lama yakni setelah Rasulullah wafat dan setelah Khilafah Rasyidah berakhir, 14 abad setelahnya, Rasūlullah ﷺ mengabarkan tentang akan datangnya seorang Nani yang dikenal dengan sebutan Nabiyullah Isa atau Al-Masih Al-Mau'ud as.

Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ بْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

“Bagaimana menurut kalian apabila putra Maryam turun di tengah-tengah kalian dan yang mengimami berasal dari kalian?” (HR. al-Bukhari, “Kitab Ahaditsul Anbiya”, “Bab 49: Nuzul Isa bin Maryam” no. 3449; Muslim, “Kitabul Iman” 1/135 no. 390)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa setelah  Rasulullah ﷺ akan datang seorang nabi Pengikut atau nabi Ummati yakni nabi yang tidak membawa syariat (Ghair at-tasyri’i) yakni Nabi Isa Ibnu Maryam as tetapi kedatangannya hanya utk menjalankan dan menegakan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ

MAKNA “BA’DIY" (SETELAH KU)

Ada yang bertanya: Dalam Surah Asshaaf (62) tersebut Nabi Isa as mengabarkan bahwa akan diutus seorang Rasul Setelahku (من بعدي) yang bernama Ahmad. Nah bukankah seorang Rasul yang diutus setelah Nabi Isa as itu adalah Nabi Muḥammad ﷺ? Jadi Ahmad itu adalah Muḥammad ﷺ.

Jawab:

Ḥaḍhrat Utsman ra itu adalah seorang khalifah rasyidah setelah Abu Bakar ra. Dalam ilmu mantik dikatakan: C ada setelah B, dan B ada setelah A, maka C ada setelah A.

Perlu diketahui bahwa Kata Setelah (من بعد) tidak selalu menunjukkan dalam waktu dekat, tapi bisa juga menunjukkan untuk waktu yang jauh atau untuk jangka waktu yang panjang/lama..

Coba kita perhatikan kata Setelah (من بعد) dalam ayat Al-Qur’an dibawah ini. Apakan Ba'da dalam ayat “Min Ba’di Musa” (مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰى) itu untuk menunjukan waktu dekat (استقبال للقريب) atau untuk menunjukkan waktu yang jauh (استقبال للبعيد) ?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لُوْا يٰقَوْمَنَاۤ اِنَّا سَمِعْنَا كِتٰبًا اُنْزِلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰى مُصَدِّقًا
لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِيْۤ اِلَى الْحَقِّ وَاِ لٰى طَرِيْقٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Mereka berkata, “Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur’an) yang akan diturunkan Setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran, dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 30)

Penjelasan:

Tafsir (Qs.46:30): Kemudian Allah menerangkan lebih lanjut apa yang dikatakan oleh kelompok jin kepada kaumnya dalam memberi peringatan kepada mereka. Mereka berkata, 'wahai kaum kami! sungguh, kami telah mendengarkan pembacaan kitab yang agung yaitu Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah setelah kitab nabi Musa (Taurat), yang membenarkan kitab-kitab yang datang sebelumnya, yang membimbing siapa yang mengikuti tuntunannya kepada kebenaran dan menunjukkan mereka kepada jalan yang lurus. (Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Ahqaf Ayat 30)

Coba perhatikan, pada ayat diatas dikatakan bahwa Allah SWT akan menurunkan sebuah kitab Al-Qur’an Setelah Musa (من بعد موسى) padahal kitab suci yang diturunkan setelah Kitab Taurat itu adalah kitab Injil bukan AlQur’an.

Pertanyaannya: Apakah kitab Al-Qur’an diturunkan kepada nabi yang diutus langsung setelah Musa as? Tentu tidak. Al-Quran diturunkan sekitar 2000 tahun setelah Musa as.

Jangan Katakan Tidak Ada Nabi Setelah Rasulullah SAW

Rasulullah ﷺ bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ ، عَنْ مَجَالِدٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا عَامِرٌ -الشعبي-، قَالَ : قَالَ رَجُلٌ عِنْدَ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ : صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ , لا نَبِيَّ بَعْدَهُ , قَالَ الْمُغِيرَةُ : ” حَسْبُكَ إِذَا قُلْتُ : خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ , فَإِنَّا كُنَّا نُحَدِّثُ أَنَّ عِيسَى خَارِجٌ , فَإِنْ هُوَ خَرَجَ فَقَدْ كَانَ قَبْلَهُ وَبَعْدَهُ ” .

Artinya: “Dari Sya’bi ra berkata, “Pada suatu hari ada seseorang telah berkata dihadapan Al-Mughirah bin Abi Syubah r.a: Mudah-mudahan Allah memberikan sholawat serta rahmat kepada Muhammad Khaatamul Anbiya, yang tidak ada nabi sesudahnya, mendengar perkataan orang tersebut lalu Mughirah bin Syubah r.a berkata kepadanya: Cukuplah engkau berkata bahwa Nabi Muhammad itu Khaatamul Anbiya saja, karena dahulu kami (para sahabat nabi) diberitahu bahwa nabi Isa a.s akan keluar (diutus) maka apabila ia (Isa a.s) keluar berarti ada nabi sebelum dan sesudah Nabi Muhammad ﷺ. (Tafsir Ad-durul Manstur, Juz. 5, h. 204)

Sayyidatunā Ummm-ul-Mu’minīn aṣ-Ṣiddīqah, Hadhrat Aisyah Ra berkata:

حدثنا حسين بن محمد؛ قال: حدثنا جرير بن حازم؛ عن عائشة، قالت : قولوا: خاتم النبيين؛ ولا تقولوا : لا نبي بعده. (تكملة مجمع البحار ص: ٨٥ )

“Ḥusayn ibn Muḥammad menceritakan kepada kami; dia berkata: Jarīr ibn Ḥāzim menceritakan kepada kami; dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyah ra, beliau bersabda: Katakanlah: Khātam-un-Nabiyyīn tapi Janganlah katakan: Tidak ada nabī setelah beliau”. (Takmilah Majma’ul bihar, Hal. 85)

Kesimpulan:

Hadis Nabi ﷺ yang berbunyi “Tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para khalifah...” (HR. Bukhari dan Muslim) mengandung makna bahwa pengganti langsung Rasulullah ﷺ dalam kepemimpinan umat Islam setelah beliau wafat adalah para khalifah, bukan nabi. Hal ini berbeda dengan tradisi Bani Israil, di mana kepemimpinan selalu diwariskan kepada nabi berikutnya.

Penggunaan kata "سَيَكُونُ" (sayakūnu) yang menunjukkan waktu dekat (istiqbāl li al-qarīb), memperkuat bahwa yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah para khalifah yang segera menggantikan Rasulullah ﷺ dalam waktu dekat, yaitu al-Khulafā’ ar-Rāsyidūn, bukan untuk masa depan yang jauh.

Namun, hadis ini tidak menutup kemungkinan adanya nabi setelah Rasulullah ﷺ secara mutlak, sebab:

1. Hadis ini hanya membahas pengganti dalam waktu dekat.
2. Dalam riwayat-riwayat lain, Rasulullah ﷺ sendiri mengabarkan akan turunnya Nabi Isa as di akhir zaman.
3. Istilah “setelahku” (ba‘dī) dalam bahasa Arab tidak selalu berarti waktu dekat; bisa menunjukkan jarak waktu yang panjang, sebagaimana dalam QS. al-Aḥqāf ayat 30 tentang turunnya Al-Qur’an "setelah Musa".
4. Bahkan, para sahabat seperti al-Mughīrah ibn Syu‘bah dan Sayyidah ‘Āisyah ra menegaskan bahwa turunnya Nabi Isa as setelah Nabi Muhammad ﷺ tidak bertentangan dengan status beliau sebagai Khatam-un-Nabiyyīn.

Dengan demikian, dapatlah disimpulan bahwa:

1. Hadis tersebut berbicara tentang kepemimpinan pasca-wafat Nabi ﷺ yang langsung dilanjutkan oleh para khalifah, bukan tentang penutupan mutlak kenabian.

2. Tidak ada penegasan eksplisit dalam hadis itu yang menutup kemungkinan datangnya nabi lain yang bukan pembawa syariat, seperti Nabi Isa as yang akan datang sebagai nabi ummatī (pengikut Nabi Muhammad ﷺ), bukan sebagai nabi independen dengan syariat baru. [] Wallaahu’Alam.

والسلام على من اتبع الهدى 

Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian