BANGSA ISRAEL DIKUTUK DUA KALI: Sebuah Tinjauan Qur’ani dan Historis
Oleh: Syamsul Ulum
Al-Qur’an menjadikan kisah-kisah umat terdahulu sebagai cermin bagi umat akhir zaman. Salah satu yang paling banyak dibahas adalah Bani Israel, yaitu keturunan Nabi Ya'qub (Israel). Mereka adalah kaum yang diberi banyak nikmat oleh Allah, tetapi juga mengalami dua kali kehancuran besar karena kedurhakaan dan pelanggaran yang berulang, mereka pun mengalami dua kali kehancuran besar yang terekam dalam Al-Qur'an maupun kitab-kitab samawi lainnya
Fenomena kehancuran dua kali ini dijelaskan dalam Surah Al-Isra’ ayat 4-8, dan ditafsirkan dengan mengaitkannya pada sejarah yang dicatat dalam kitab-kitab Yahudi maupun catatan sejarah modern. Al-Qur’an mengabadikan tragedi ini sebagai pelajaran bahwa kemuliaan dan kehinaan suatu kaum bergantung pada ketaatan mereka kepada Allah.
1. Kehancuran Bani Israel
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَضَيْنَآ إِلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ فِى ٱلْكِتَـٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى ٱلْأَرْضِ
مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّۭا كَبِيرًۭا
"Dan telah Kami nyatakan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di bumi dua kali, dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar." (QS Al-Isra [17]: 4)
Penjelasan:
Dalam ayat-ayat ini, disebutkan secara eksplisit bahwa Bani Israel melakukan dua kali perusakan besar. Mereka akan ditimpa balasan keras dari musuh-musuh mereka sebagai azab dari Allah. Namun, akan diberi kesempatan untuk bangkit kembali sebelum dihancurkan untuk yang kedua kalinya.
2. Kehancuran Pertama: Invasi Babilonia (597 SM dan 586 SM)
Kehancuran pertama terjadi ketika Bani Israel melanggar perjanjian dengan Allah. Kejadian ini sesuai dengan sejarah, di mana Bani Israel mengalami kehancuran besar. Pada tahun 597 SM, Raja Nebukadnezar dari Babilonia menyerbu Yerusalem dan menculik Raja Yoyakhin dan bangsawan Yahudi ke pengasingan. Dan pada tahun 586 SM, Babilonia kembali menyerbu dan menghancurkan Bait Suci (Solomon’s Temple), serta membawa lebih banyak penduduk ke pengasingan di Babilon.
Peristiwa ini disinggung pula dalam kitab Ulangan 28:15, 47–53, sebagai kutukan atas ketidaktaatan Israel: "Segala kutuk ini akan menimpa engkau... engkau akan melayani musuh yang dikirim Tuhan ke atasmu..." (Ul. 28:15, 47) bangsa Israel dinubuatkan akan dilanda bencana jika berpaling dari Tuhan. Mereka bisa kembali setelah Cyrus Agung dari Persia mengalahkan Babilon dan mengizinkan mereka pulang (Ezra 1:3–5).
Kepulangan di Bawah kekuasaan Cyrus Agung
Setelah Babilonia dikalahkan oleh Raja Cyrus Agung dari Persia pada tahun 539 SM, bangsa Yahudi diizinkan kembali ke tanah mereka. Nabi Uzair (Ezra) dianggap sebagai tokoh spiritual yang memimpin pembaruan agama dan membangun kembali Bait Suci (Ezra 1:3–5). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-isra:
Namun, kemuliaan yang mereka raih tidak sebanding dengan kemegahan zaman Nabi Sulaiman. Tetapi Secara spiritual dan moral mereka tetap jauh dari Tuhan.
3. Kehancuran Kedua: Invasi Romawi (Tahun 70 Masehi)
Sekitar 600 tahun kemudian, pada tahun 70 M, Jenderal Titus, putra Kaisar Vespasianus dari Romawi, menghancurkan Yerusalem, membakar Bait Suci kedua, dan menyebabkan pengasingan global (diaspora) bangsa Yahudi. Sebagaimana Al-Qur'an menyebutkan:
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَ نْفُسِكُمْ ۗ وَاِ نْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا ۗ فَاِ ذَا جَآءَ وَعْدُ الْاٰ خِرَةِ لِيَسٗٓئُوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 7)
Hal ini juga dikaitkan dalam Matius 23:37-39 dan 24:1-2, di mana Nabi Isa (Yesus as) menggambarkan kehancuran Yerusalem sebagai hukuman atas penolakan mereka terhadap para nabi. Sebagaimana dikatakan dalam Matius 23:37: "Yerusalem, Yerusalem engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu". Seperti yang disebutkan dalam Matius 24:1-2 (TB):
1. Kemudian Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk menunjukkan bangunan-bangunan Bait Allah.
2. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan."
Ayat-ayat ini menubuatkan kehancuran Bait Suci yang megah di Yerusalem. Para murid, yang melihat kemegahan bangunan tersebut, terkejut mendengar perkataan Yesus. Kehancuran Bait Suci ini kemudian terjadi pada tahun 70 Masehi ketika pasukan Romawi menghancurkan kota Yerusalem dan Bait Suci.
5. Bani Israil Menjadi Bangsa yang Terkutuk
Namun, seiring waktu Kristen menjadi pewaris Tanah Suci sejak abad ke-4 M, setelah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Sejak abad ke-7 M, umat Islam menjadi pewaris sah Tanah yang dijanjikan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:
"...Maka di antara mereka ada yang diberi petunjuk, dan banyak di antara mereka yang fasik... maka Kami wariskan kepada orang-orang yang beriman..." (QS An-Nisa: 51–55)
Hal ini sejalan dengan penglihatan spiritual Nabi Muhammad ﷺ dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, di mana beliau mengimami para nabi, sebagai simbol bahwa risalah beliau adalah yang terakhir dan paling sempurna.
Kemuliaan tidak diwariskan secara etnis, melainkan berdasarkan ketaatan. Bangsa mana pun, jika menolak wahyu dan menghina para rasul, akan menerima akibatnya. Umat Islam hari ini harus belajar, jangan sampai mengikuti jejak kebinasaan dengan menjauhi petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita termasuk golongan yang mewarisi bumi dan berkah Ilahi karena ketakwaan, bukan karena keturunan atau sejarah belaka.[] Wallaahu 'Alam
Referensi:
1. Al-Qur’an surah Al-Isra’ [17]: 4–8, 60; Al-Baqarah: 61, 65; Ali ‘Imran: 87–88; Al-Ma’idah: 13, 60, 64, 78.
2. Bible Kitab Ulangan 28:15, 47–53; Ulangan 30:1–5; Ulangan 32:18–26.
3. Ezra 1:3–5; Yesaya 49:6–7; Galatia 6:16; Matius 23:37–39; Matius 24:1–2.
4. Tafsir Al-Quran al-karim, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad – Tafsir Kabir (penafsiran QS Al-Isra').
5. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as, Barahin Ahmadiyyah, Izala Auham (membahas pewarisan kenabian dan kebinasaan Bani Israel).
Dalam ayat-ayat ini, disebutkan secara eksplisit bahwa Bani Israel melakukan dua kali perusakan besar. Mereka akan ditimpa balasan keras dari musuh-musuh mereka sebagai azab dari Allah. Namun, akan diberi kesempatan untuk bangkit kembali sebelum dihancurkan untuk yang kedua kalinya.
Dua kedurhakaan Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa as (Ulangan 28: 15, 49-53, 63-64 & 30: 15) disinggung dalam ayat ini. Mereka, di antara Bani Israil, yang tidak beriman, telah dua kali dikutuk, ialah oleh Nabi Daud as dan Isa Ibnu Maryam as (QS.5: 79), dan sebagai akibatnya telah dihukum pula dua kali.
Azab Ilahi yang pertama menimpa Bani Israil sesudah Nabi Daud as dan yang kedua sesudah Nabi Isa as Nampak dari Bibel, bahwa sesudah Nabi Musa as, orang-orang Yahudi telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat, dan di masa Nabi Daud as mereka meletakkan dasar suatu kerajaan kuat, yang setelah wafatnya pun, untuk beberapa waktu terus berlanjut kejayaan dan kemuliaan-nya semula. Kemudian kerajaan itu menjadi sasaran kemunduran yang berangsurangsur, dan pada sekitar 733 S.M. Samaria ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang mencaplok seluruh daerah Israil di sebelah utara Yezreel.
Pada tahun 608 S.M., Palestina telah diserang oleh satu lasykar Mesir di bawah Fir‘aun Necho, dan Bani Israil takluk kepada kekuasaan Mesir (Yew. Enc. Jilid 6, halaman 665). Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi mereka serta kehancuran dan ketelantaran mereka tidak mendorong mereka untuk memperbaiki cara-cara mereka. Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara buruk mereka yang lama. Nabi Yermiah As, memperingatkan mereka supaya meninggalkan cara-cara buruk mereka, sebab kemurkaan Tuhan tidak lama lagi akan menimpa mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan-peringatan Nabi Yermiah As tersebut.
Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar dari Babil melancarkan serbuan pertamanya ke Palestina dan membawa pulang perkakas rumah peribadatan, tetapi ketika itu kota Yerusalem sendiri selamat dari kekejaman akibat pengepungan. Pada tahun 597 S.M. pun kota itu dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan yang sangat parah. Tetapi pemberontakan raja Zedekia membawa akibat adanya serbuan kedua oleh Nebukadnezar pada tahun 587 S.M., dan sesudah masa pengepungan yang berlangsung satu tahun setengah, kota itu ditaklukkan dengan serangan cepat laksana halilintar. Putra-putranya dibunuh dan matanya sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babil. Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yew. Enc. Jilid 6, hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”).
2. Kehancuran Pertama: Invasi Babilonia (597 SM dan 586 SM)
Kehancuran pertama terjadi ketika Bani Israel melanggar perjanjian dengan Allah. Kejadian ini sesuai dengan sejarah, di mana Bani Israel mengalami kehancuran besar. Pada tahun 597 SM, Raja Nebukadnezar dari Babilonia menyerbu Yerusalem dan menculik Raja Yoyakhin dan bangsawan Yahudi ke pengasingan. Dan pada tahun 586 SM, Babilonia kembali menyerbu dan menghancurkan Bait Suci (Solomon’s Temple), serta membawa lebih banyak penduduk ke pengasingan di Babilon.
Peristiwa ini disinggung pula dalam kitab Ulangan 28:15, 47–53, sebagai kutukan atas ketidaktaatan Israel: "Segala kutuk ini akan menimpa engkau... engkau akan melayani musuh yang dikirim Tuhan ke atasmu..." (Ul. 28:15, 47) bangsa Israel dinubuatkan akan dilanda bencana jika berpaling dari Tuhan. Mereka bisa kembali setelah Cyrus Agung dari Persia mengalahkan Babilon dan mengizinkan mereka pulang (Ezra 1:3–5).
Kepulangan di Bawah kekuasaan Cyrus Agung
Setelah Babilonia dikalahkan oleh Raja Cyrus Agung dari Persia pada tahun 539 SM, bangsa Yahudi diizinkan kembali ke tanah mereka. Nabi Uzair (Ezra) dianggap sebagai tokoh spiritual yang memimpin pembaruan agama dan membangun kembali Bait Suci (Ezra 1:3–5). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-isra:
ثُمَّ رَدَدْنَا لَـكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَاَ مْدَدْنٰـكُمْ بِاَ مْوَا لٍ وَّبَنِيْنَ
وَجَعَلْنٰكُمْ اَكْثَرَ نَفِيْرًا
"Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 6)
Namun, kemuliaan yang mereka raih tidak sebanding dengan kemegahan zaman Nabi Sulaiman. Tetapi Secara spiritual dan moral mereka tetap jauh dari Tuhan.
3. Kehancuran Kedua: Invasi Romawi (Tahun 70 Masehi)
Sekitar 600 tahun kemudian, pada tahun 70 M, Jenderal Titus, putra Kaisar Vespasianus dari Romawi, menghancurkan Yerusalem, membakar Bait Suci kedua, dan menyebabkan pengasingan global (diaspora) bangsa Yahudi. Sebagaimana Al-Qur'an menyebutkan:
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَ نْفُسِكُمْ ۗ وَاِ نْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا ۗ فَاِ ذَا جَآءَ وَعْدُ الْاٰ خِرَةِ لِيَسٗٓئُوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 7)
Penjelasan:
Ayat ini membicarakan jatuhnya kembali orang-orang Yahudi ke lembah keburukan, dan tentang azab yang menimpa mereka sebagai akibatnya. Mereka menentang dan menganiaya Nabi Isa As serta berusaha membunuh beliau di kayu salib dan memusnahkan pergerakan beliau. Oleh sebab itu Tuhan menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras, ketika pada tahun 70 M pasukan-pasukan Romawi di bawah pimpinan Titus melanda negeri itu, dan di tengah-tengah kejadian-kejadian mengerikan yang tiada bandingannya dalam sejarah itu, kota Yerusalem telah dihancurkan dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman dibumi hanguskan (Enc. Bib. pada kata “Yerusalem”). Malapetaka itu terjadi ketika Nabi Isa As masih hidup di Kasymir. Hal ini pun dinubuatkan oleh Nabi Musa As (Ulangan 32: 18-26).
Perlu pula dicatat di sini, bahwa nubuatan mengenai azab kedua kali itu telah disebut dalam Bibel sesudah adanya nubuatan yang membicarakan hukuman pertama (Ulangan Bab 28). Lebih dari itu, bahkan nubuatan ini disebut sesudah nubuatan mengenai kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem (Ulangan 30: 1-5).
Hal ini menunjukkan, bahwa nubuatan ini (Ulangan 32: 18-26) merujuk kepada azab yang kedua, yang telah disinggung dalam Al-Qur’an, yakni:
وَقَضَيْنَاۤ اِلٰى بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ فِى الْكِتٰبِ لَـتُفْسِدُنَّ فِى الْاَ رْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيْرًا
"Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, "Kamu pasti akan berbuat kerusakan di Bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar."" (QS. Al-Isra' 17: Ayat 4)
Ayat ini mengandung peringatan bagi umat Islam, bahwa seperti orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Tetapi, umat Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk; dan oleh karena itu telah dihukum dua kali.
Hukuman menimpa mereka (umat Islam), ketika kota Baghdad jatuh pada tahun 1258 M. Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang biadab itu sama sekali memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang agung itu, dan konon kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu. Tetapi dari malapetaka yang mengerikan itu akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk agama Islam. Hukuman kedua telah ditakdirkan akan menimpa umat Islam di akhir jaman. (Al-Quran Terjemah dan Tafsir Singkat, catatan no. 1595)
Peristiwa ini selaras dengan nubuatan Yesus dalam Matius 23:37–39 dan 24:1–2, serta ditafsirkan sebagai penggenapan kutukan atas bangsa yang menolak para nabi (lihat juga QS Al-Baqarah: 61, 65; Al-Ma’idah: 13, 78).
Mereka juga disebut dalam Al-Qur’an sebagai "Kera dan babi" (QS Al-Ma’idah: 60), Kikir dan selalu menyalakan peperangan (QS Al-Ma’idah: 64) dan Dilaknati oleh Allah, para malaikat, dan seluruh manusia (QS Ali Imran: 87-88)
Hal ini juga dikaitkan dalam Matius 23:37-39 dan 24:1-2, di mana Nabi Isa (Yesus as) menggambarkan kehancuran Yerusalem sebagai hukuman atas penolakan mereka terhadap para nabi. Sebagaimana dikatakan dalam Matius 23:37: "Yerusalem, Yerusalem engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu". Seperti yang disebutkan dalam Matius 24:1-2 (TB):
1. Kemudian Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk menunjukkan bangunan-bangunan Bait Allah.
2. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan."
Ayat-ayat ini menubuatkan kehancuran Bait Suci yang megah di Yerusalem. Para murid, yang melihat kemegahan bangunan tersebut, terkejut mendengar perkataan Yesus. Kehancuran Bait Suci ini kemudian terjadi pada tahun 70 Masehi ketika pasukan Romawi menghancurkan kota Yerusalem dan Bait Suci.
5. Bani Israil Menjadi Bangsa yang Terkutuk
Dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَا لْمَسْکَنَةُ وَبَآءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَا نُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَا نُوْا يَعْتَدُوْنَ
" Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 61)
Penjelasan:
"Yaqtulūn al-Nabiyyīn" (وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ ) tidak berarti bahwa orang-orang Bani Israil sungguh-sungguh membunuh para nabi, sebab hingga zaman Nabi Musa As tiada nabi yang diketahui pernah dibunuh oleh mereka. Pada kenyataannya Nabi Musa As adalah nabi pertama yang diutus kepada kaum Bani Israil sebagai suatu bangsa. Ia dan saudaranya, Nabi Harun As, itulah orang-orang yang diisyaratkan oleh kata-kata tersebut tetapi ternyata keduanya tidak terbunuh oleh orang-orang Bani Israil, meskipun mereka itu kadang-kadang cenderung hendak membunuh keduanya (Keluaran 17:14). Jadi kata Qatl dalam ayat ini tidak mungkin berarti “pembunuhan sebenarnya” melainkan hanya berarti bahwa mereka sangat menentang para nabi dan tentu akan membunuh para nabi itu seandainya mereka mampu. (Lihat QS.3:22 dan QS.40:29) (Catatan no. 103)
لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ
"Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israel oleh lisan Daud dan Isa putra Maryam...(QS Al-Ma’idah: 78)
لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ
"Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israel oleh lisan Daud dan Isa putra Maryam...(QS Al-Ma’idah: 78)
Penjelasan:
Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud as dan Nabi Isa as tergolong paling menderita di tangan orang-orang Yahudi. Penganiayaan orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa as mencapai puncaknya, ketika ia diletakkan di atas kayu salib, dan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud as dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu, tercermin di dalam Mazmurnya yang sangat merawankan hati. Dari lubuk hati yang penuh kepedihan, Nabi Daud as dan Nabi Isa as mengutuk mereka.
Kutukan Nabi Daud as mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum oleh Nebukadnezar, yang menghancur luluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi; dan sebagai akibat kutukan Nabi Isa as mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi di dalam rumah-ibadah itu. (Al-Quran Terjemah dan Tafsir Singkat, Catatan no. 782)
6. Pewarisan Tanah Yang Dijanjikan
Pewarisan Tanah Suci tidak tetap milik satu bangsa. Dalam Alkitab:
• Yesaya 49:6-7: Israel adalah umat pilihan, tetapi hanya jika mereka taat.
• Galatia 6:16: Paulus menyebut umat Kristen sebagai “Israel Allah”.
Pewarisan Tanah Suci tidak tetap milik satu bangsa. Dalam Alkitab:
• Yesaya 49:6-7: Israel adalah umat pilihan, tetapi hanya jika mereka taat.
• Galatia 6:16: Paulus menyebut umat Kristen sebagai “Israel Allah”.
Namun, seiring waktu Kristen menjadi pewaris Tanah Suci sejak abad ke-4 M, setelah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Sejak abad ke-7 M, umat Islam menjadi pewaris sah Tanah yang dijanjikan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:
"...Maka di antara mereka ada yang diberi petunjuk, dan banyak di antara mereka yang fasik... maka Kami wariskan kepada orang-orang yang beriman..." (QS An-Nisa: 51–55)
Hal ini sejalan dengan penglihatan spiritual Nabi Muhammad ﷺ dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, di mana beliau mengimami para nabi, sebagai simbol bahwa risalah beliau adalah yang terakhir dan paling sempurna.
7. Penglihatan Isra’ Mi’raj: Isyarat Kemenangan Umat Islam
Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar perjalanan spiritual Nabi ﷺ ke langit. Menurut pandangan Ahmadiyah, peristiwa ini adalah visi ruhani agung di mana Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya dan kemenangan masa depan Nabi Suci, sebagaimana disebutkan:
لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ
“…agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami…”(QS Al-Isra [17]: 1)
Salah satu simbol kemenangan itu adalah Nabi Muhammad ﷺ mengimami para nabi dalam shalat. Ini adalah pernyataan spiritual bahwa risalah beliau akan menyempurnakan dan menggantikan syariat para nabi sebelumnya.
8. Kemenangan atas Romawi dan Persia
Nabi ﷺ secara tersirat diperlihatkan dalam Mi’raj mengenai wilayah-wilayah yang akan dikuasai umatnya, yaitu kawasan yang pernah menjadi pusat kekuasaan dunia: Mesir dan Mesopotamia.
Dalam Hadis Mi’raj, beliau melihat dua sungai di surga yang juga ada di bumi: Nil (Mesir) dan Eufrat-Tigris (Mesopotamia). Wilayah ini juga disebut dalam QS Al-Isra [17]: 2–3, melalui penyebutan Musa (Mesir) dan Nuh (Mesopotamia). Dalam Kejadian 15:17–21, disebutkan bahwa keturunan Ibrahim akan mewarisi dari Sungai Mesir hingga Sungai Besar (Eufrat). Kemenangan ini terjadi secara nyata:
1. Kekaisaran Persia ditaklukkan sejak tahun 638 M, dan hancur sepenuhnya pada 652 M.
2. Romawi Timur (Byzantium) dimulai kejatuhannya sejak Yerusalem direbut 637 M, hingga puncaknya ketika Konstantinopel ditaklukkan pada 1453 M oleh Sultan Muhammad II (Al-Fatih) dari Turki Utsmani.
9. Pewarisan Tanah Suci: Umat Islam sebagai Pewaris Spiritual.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةًۭ وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ
“Kami hendak memberikan karunia kepada kaum yang tertindas... dan menjadikan mereka pemimpin serta pewaris bumi.”
(QS Al-Qashash [28]: 5)
Ayat-ayat lain seperti QS An-Nisa [4]: 51–55 menegaskan bahwa umat yang beriman adalah pewaris sejati warisan kenabian, bukan semata-mata berdasarkan keturunan. Umat Kristen pernah mewarisinya saat Romawi memeluk Kristen (abad ke-4), tetapi sejak munculnya Islam pada abad ke-7, umat Islam menjadi pewaris sah tanah yang dijanjikan kepada Ibrahim as.
Penutup
Penutup
Al-Qur’an telah memberikan pelajaran universal yang berharga melalui kisah dua kehancuran Bani Israel yang penuh makna, bahwa:
1. Kejayaan suatu bangsa tergantung pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
2. Penolakan terhadap wahyu dan kenabian akan mendatangkan laknat dan kehinaan.
3. Melalui Isra’ dan Mi’raj, Nabi Muhammad ﷺ ditunjukkan kejayaan masa depan umatnya, termasuk kemenangan atas kekuatan duniawi besar seperti Romawi dan Persia.
4. Pewarisan Tanah Suci bukan milik abadi satu etnis, tetapi berganti sesuai ketaatan kepada Tuhan. Hari ini, umat Islamlah yang memikul amanah itu.
Kemuliaan tidak diwariskan secara etnis, melainkan berdasarkan ketaatan. Bangsa mana pun, jika menolak wahyu dan menghina para rasul, akan menerima akibatnya. Umat Islam hari ini harus belajar, jangan sampai mengikuti jejak kebinasaan dengan menjauhi petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita termasuk golongan yang mewarisi bumi dan berkah Ilahi karena ketakwaan, bukan karena keturunan atau sejarah belaka.[] Wallaahu 'Alam
و السلام على من اتبع الهدى
Keselamatan dan kedamaian bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya.
____________________________________________
Referensi:
1. Al-Qur’an surah Al-Isra’ [17]: 4–8, 60; Al-Baqarah: 61, 65; Ali ‘Imran: 87–88; Al-Ma’idah: 13, 60, 64, 78.
2. Bible Kitab Ulangan 28:15, 47–53; Ulangan 30:1–5; Ulangan 32:18–26.
3. Ezra 1:3–5; Yesaya 49:6–7; Galatia 6:16; Matius 23:37–39; Matius 24:1–2.
4. Tafsir Al-Quran al-karim, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad – Tafsir Kabir (penafsiran QS Al-Isra').
5. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as, Barahin Ahmadiyyah, Izala Auham (membahas pewarisan kenabian dan kebinasaan Bani Israel).
Komentar
Posting Komentar