Khilafah Islam Ahmadiyah dan Cinta Tanah Air

        Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba         (Khalifah Islam Internasional)


Oleh: Syamsul Ulum

Khilafah Islam yang tidak membahayakan negara manapun.

JIKA anda saat ini, sedang mencari khilafah dan seorang Khalifah Islam yang selalu mengajarkan dan menyerukan perdamaian dunia, menghilangkan peperangan, menghilangkan diskriminasi, mengajarkan ketaatan kepada Allah SWT dan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ sera Mengajarkan loyalitas kepada Ulil Amri atau ketaatan kepada pemerintah yang sah atau jika anda sedang mencari seorang Khalifah yang mengajarkan kecintaan kepada tanah air yang merupakan bagian dari keimanan atau Khalifah yang selalu menyerukan perdamaian, Khilafah yang terus berusaha dan bekerja dan menyerukan untuk menghapuskan permusuhan serta segala kendala yang timbul karena perbedaan golongan, ras dan warna kulit sehingga seluruh manusia dapat bersatu dalam kecintaan untuk saling mencintai satu dengan yang lainnya atau anda sedang mendambakan Khilafah yang selalu mengupayakan agar perdamaian tegak di seluruh dunia atau Khalifah yang selalu menganjurkan perdamaian, toleransi, kasih sayang dan mengajarkan untuk saling menghormati diantara pengikut agama dan keyakinan yang berbeda sesuai yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Nabi Mulia Muḥammad Rasulullah ﷺ atau Khalifah yang mengusung motto: Love For All Hatred For None (Cinta bagi semua, tiada kebencian bagi siapapun) serta Khilafah yang menentang kekerasan atas nama agama. Atau jika anda sedang mencari Khilafah dan Khalifah yang mengajarkan ajaran islam yang Rahmatun lil’Alamiin dan yang cinta damai seperti yang tersebut diatas, maka jawaban dari semua itu hanya ada pada Khilafah Islam Ahmadiyah, khilafah ruhiyah (spritual), khilafah non politik, Khilafah yang tidak membahayakan kedaulatan negara manapun maka Khilafah tersebut adalah khilafah Islam Ahmadiyyah, yang saat ini dipimpin oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullaahu Taala binashrihil ‘Aziz), Khalifatul-Masih Al-Khamis (Khalifah ke-5 dari khalifatullah al-Mahdī) yang dalam hadits Rasulullah ﷺ disebut sebagai Khilafah ‘Ala Minhajin-Nubuwah periode ke-2 di akhir

Ketaatan Kepada Pemimpin (Ulil Amri)

Allah Ta’ala berfirman:

اٰمَنُوۡۤا اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ اَطِیۡعُوا الرَّسُوۡلَ وَ اُولِی الۡاَمۡرِ مِنۡکُمۡ ۚ فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِیۡ شَیۡءٍ فَرُدُّوۡہُ اِلَی اللّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ ذٰلِکَ خَیۡرٌ وَّ اَحۡسَنُ تَاۡوِیۡلًا ﴿٪﴾

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu. Dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal demikian itu paling baik dan paling bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa: 60).

Siapa Ulil Amri itu?

Pertama adalah para pemegang kekuasaan dan raja dan tingkatan dan Kedua adalah para ulama dan orang arif bijaksana. (Al-Haj Hakim Nurudin Ra, Khalifah Islam Ahmadiyah al-awal )

Tafsir at-Thabari, sebuah kitab tafsir klasik yang ditulis oleh ulama besar Abu Jafar Muhammad bin Jarir at-Thabari dan banyak dirujuk oleh para mufassir berikutnya, menyebutkan bahwa para ahli ta’wil berbeda pandangan mengenai arti ulil amri. Satu kelompok ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ulil amri adalah umara. Berkata sebagian ulama lain, masih dalam kitab tafsir yang sama, bahwa ulil amri itu adalah ahlul ilmi wal fiqh (mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan akan fiqih). Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah-lah yang dimaksud dengan ulil amri. Sebagian lainnya berpendapat ulil amri itu adalah Abu Bakar dan Umar. ( Tafsir at-Thabari, juz 5, h. 147-149)

Ketaatan Kepada Ulil Amri Menurut Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad

Mengenai ayat ini (Qs. An-Nisa:60) Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Pendiri Jama’ah Muslim Ahmadiyyah, Al-Mahdi wal Masihil Mauud as ) mengatakan: “Taatlah kepada Allah, para Rasul, dan para pemimpin (raja-raja) kalian.” [kitab Syahadatul Quran, Ruhani Khazain, Jilid 6, hal. 332)

Kemudian beliau mengatakan : “Yakni taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, serta negara-negara kalian serta Taatlah kepada raja-raja (pemimpin) kalian”.[kitab Al-Hakam, 10 Februari 1901, jilid 5, No. 5, hal. 1)

Dalam kitab Izalah Auham beliau as menyerukan: “Wahai kaum Muslimin! Jika diantara kalian terjadi perselisihan mengenai suatu perkara, maka untuk menyelesaikannya ambilah rujukan dari Allah dan RasulNya. Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, maka lakukanlah ini, karena ini adalah yang paling baik dan paling bagus.” [kitab Izalah Auham, Ruhani Khazain jilid 3, hal. 596)

Beliau juga menegaskan: “Jika kalian berselisih tentang suatu perkara, maka keputusannya kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadikanlah hanya Allah dan Rasul-Nya sebagai hakim, jangan sesuatu yang lain.” [Al-Haqq Mubahatsah Dhelwi, kitab Ruhani Khazain jilid 4, hal. 184)

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Mahdi wal Masihil Mau’ud as) juga menulis di suatu tempat :

“Terdapat perintah dalam Al-Qur’an al-Karim :

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ.

(Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan ulil amri atau para pemimpin dari antara kalian)

Di sini, perintah taat kepada ulil amri (pemimpin) tertera dengan jelas. Jika ada orang yang mengatakan, bahwa pemerintah tidak termasuk ke dalam “minkum” (di antara kamu) maka jelas-jelas ia salah. Pemerintah yang memerintah sesuai dengan syariat, maka ia masuk ke dalam kata minkum (di antara kamu). Misalnya: “orang yang tidak menentangku maka ia termasuk dari antaraku”. Sebagai nash petunjuk, telah terbukti dari Al-Qur’an bahwa “hendaklah taat kepada pemerintah dan mematuhi perintahnya.” [kitab Malfuzhat, jilid 1, hal. 171, Cetakan Rabwah)

Beliau juga mengatakan:

“Jika pemimpin bersikap zalim, maka jangan kesana kemari mengatakan keburukannya, melainkan perbaikilah keadaan kalian sendiri, maka Allah akan mengubahnya, dan akan memperbaikinya. Kesulitan yang datang itu muncul disebabkan amalan-amalan buruk kalian sendiri, jika tidak, naungan Tuhan bersama dengan orang mukmin, Allah Ta’ala sendiri akan menyediakan sarana-sarana untuk orang mukmin. Nasehat saya adalah, dengan segala cara jadilah kalian contoh dalam kebaikan. Jangan merusak hak-hak Tuhan dan jangan pula mengingkari hak-hak makhluk.” [kitab Al-Hakam, 24 Mei 1901, No. 19, Jld. 5, hal. 9, kalam no 2)

Inilah contoh yang seharusnya ditegakkan oleh orang-orang Ahmadi (sebutan bagi pengikut Muslim Ahmadiyah, pen.) Maksud dari “ulil amri minkum” bukan hanya untuk pemerintah Muslim saja.

Mengenai hal itu Hadhrat Mirza Basyirudin Mahmud Ahmad ra (Khalifah Islam Ahmadiyyah yang ke-2) menjelaskan:

“Sebagian kaum Muslimin memahami ayat itu dengan keliru. Mereka menganggap bahwa ini hanya perintah berkaitan dengan pemerintah Muslim, yakni mereka hendaknya ditaati. Tetapi hal ini salah dan bertentangan dengan pokok Al-Qur’an al-Karim. Memang benar, disini terdapat kata ‘minkum’, tetapi ‘minkum’ disini bukan berarti orang yang sama agamanya, tetapi orang diantara kalian yang ditunjuk sebagai pemimpin. Kata ‘min’ digunakan dalam makna itu. Dalam Al-Qur’an al-Karim Allah Ta’ala berfirman, ditujukan kepada orang kafir :أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ — “tidakkah telah datang rasul-rasul dari antara kamu” (QS. Al-An’aam: 131).

Jika kita mengartikan kata minkum dalam ayat itu sebagai “agama yang sama”, maka arti ayat itu, na’uudzubillaahi min dzaalik, bahwa Rasulullah ﷺ sama agamanya dengan orang orang kafir (na’uudzubillaahi min dzaalik,). Jadi, tidak mesti kata minkum itu diartikan “agama yang sama”. Ini juga digunakan dalam makna lain, dan dalam ayat ini artinya adalah pemerintah atau pemimpin di negara kalian bukannya setiap pemimpin kamu harus taati melainkan “taatilah mereka yang merupakan pemimpin kalian”.

 Dan maksud dari ayat:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu kembalilah kepada Allah dan rasul-Nya” bukan artinya “Ambilah keputusan oleh kalian berdasarkan Quran dan hadits”, melainkan maknanya adalah apabila terjadi perselisihan dengan para pemimpin maka kembalikanlah itu kepada hukum-hukum Allah dan RasulNya. Dan hukum (perintah) itu adalah beritahukanlah kepada pemerintah mengenai kesalahan mereka. Jika mereka tidak mau menerima, maka serahkanlah urusannya kepada Allah Ta’ala, Dia sendiri akan memutuskan, dan akan memberikan hukuman kepada orang yang zalim atas perilakunya.”.

Mengenai hal tersebut Hadhrat Al-Haj Hakim Noorudin (Khalifah Islam Ahmadiyyah al-Awal r.a) menjelaskan:

“Bagi setiap orang, taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan ulil amri merupakan keharusan bagi setiap Muslim. Jika Ulil Amri nyata-nyata menentang firman-firman Allah dan sabda-sabda Nabi [saw], maka sesuai dengan kemampuan, orang Islam hendaknya tidak menuruti perintah mereka dalam perkara-perkara pribadi. Allah SWT berfirman:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

merupakan nash yang jelas. [maksud[ ulil amri itu, yang pertama adalah para pemegang kekuasaan dan raja, tingkatan kedua adalah para ulama dan orang arif bijaksana.”[Surat Khabar Al-Badar no. 8, jilid 9, 16 Desember 1909, halaman 4, kalam ke 2)

Rasulullah ﷺ bersabda:

حَدِ يْثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا, أَطِيْعُواللهَ وَأَطِيْعُو الرَّسُوْلَ وَأَوْلِي اْلأَمْرِمِنْكُمْ, قَالَ: نَزَلَتْ فِي عَبْدِاللهِ بْنِ خُذَافَةَ بْنِ قَيْسِ بْنِ عَدِيٍّ, إِذْبَعَثَهُ النَّبِيُّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ. (أخر جه البخاري )

 Ibnu Abbas r.a. berkata: Ayat : Athi’ullaha wa athi’urrasula wa ulil amri minkum (taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasulullah dan pemerintah dari golonganmu). Ayat ini turun mengenai Abdullah bin Hudzaifah bin Qais bin Adiketika diutus oleh Nabi ﷺ Memimpin suatu pasukan. (HR. Bukhari no. 1203)

حَدِيْثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَ مَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَ مَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، مَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي. (أخرجه البخاري)

Ḥaḍhrat Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Siapa yang taat kepadaku maka berarti taat kepada Allah, dan siapa yang maksiat kepadaku berarti maksiat kepada Allah, dan siapa yang taat kepada pimpinan yang aku angkat berarti taat kepada taat kepadaku, dan siapa yangmelanggar amier yang aku angkat berarti melanggar kepadaku (HR. Bukhari, no. 1204)

حَدِيْثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، قَالَ: اَلسَّمْعُ وَ الطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْاِ الْمُسْلِمِ فيما أحب و كره، مالم يؤمر بمعصية، فإذا أمر بمعصية فلا سمع و لا طاعة.أخرجه البخاري)

Abdullah bin Umar ra berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda: mendengar dan taat itu wajib bagi seorang dalam apa yang ia suka atau benci, selama ia tidak diperintah berbuat maksiat, maka jika diperintah maksiat maka tidak wajib mendengar dan tidak wajib taat (HR Bukhari, no.1205)

حَدِيْثُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: بَعَثَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَرِيَّةً وَ أَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلاً مِنَ اْلأَنْصَارِ وَ أَمَرَهُمْ أَنْ يُطِيْعُوْهُ. فَغَضَبَ عَلَيْهِمْ، وَ قَالَ: أَلَيْسَ قَدْ أَمَرَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ تَطِيْعُوْنِي؟ قَالُوْا: بَلَى. قَالَ: عَزَمْتَ عَلَيْكُمْ لَمَا جَمَعْتُمْ حَطَبًا وَ أَوْقَدْتُمْ نَارًا ثُمَّ دَخَلْتُمْ فِيْهَا. فَجَمَعُوْاحَطَبًا، فَأَوْقَدُوْا. فَلَمَّا هَمُّوْا باِلدُّخُوْلِ، فَقَامَ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا تَبِعْنَا النَّبِي صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِرَارًا مِنَ النَّارِ، أَفَنَدْخُلُهَا؟ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذلِكَ اِذْ خَمَدَتِ النَّارِ، وَ سَكَنَ غَضْبُهُ. فَذُكِرَلِلنَّبِي صلي الله عليه سلم فَقَالَ: لَوْ دَخَلُوْهَا مَا خَرَجُوْا مِنْهَا أَبَدًا، إِنَّمَا الطّاَعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ. (أخرجه البخاري)

Hadhrat Ali ra berkata: Rasulullah ﷺ mengirim pasukan dan diserahkan pimpinannya kepada sekorang sahabat Anshar, tiba-tiba ia marah kepada merekadan berkata: Tidakkah Nabi saw telah menyuruh kalian menurut kepadaku? Jawab mereka Benar. Kini aku perintahkan kalian supaya mengumpulkan kayu dan menyalakan api kemudian kalian masuk ke dalamnya. Maka mereka mengumpulkan kayu dan menyalakan api, dan ketika akan masuk ke dalam api satu sama lain pandang memandang dan berkata: Kami mengikuti Nabi saw, hanya karena takut kepada api, apakah kami akan memasukinya. Kemudian tidak lama padamlah api dan reda juga marah pemimpin itu, kemudian kejadian itu diberitakan kepada Nabi saw maka sabda Nabi saw: Andaikan mereka masuk api itu niscaya tidak akan keluar selamanya. Sesungguhnya wajib taat hanya dalam kebaikan (HR Bukhari no.1206)

Seruan Khalifah Islam Ahmadiyyah 

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifah Islam Ahmadiyyah Internasional yang saat ini sedang memimpin ), menyerukan:

1. Agar Mencintai Tanah Air

“PERTAMA-TAMA, saya ingin menyampaikan kepada anda, bahwa Nabi Muhammad s.a.w. sendiri mengajarkan bahwa “Cinta kepada tanah air adalah bagian dari iman”. Karenanya, patriotisme yang tulus adalah suatu keharusan dalam Islam. Kecintaan sejati kepada Tuhan dan kepada Islam, menyaratkan orang itu harus mencintai bangsanya sendiri. Jadi hal ini sangat jelas bahwa tidak ada pertentangan kepentingan kecintaan seseorang kepada Allah dan kecintaannya pada tanah airnya. Karena cinta tanah air telah menjadi bagian dari ajaran Islam, sudah jelas bahwa seorang muslim harus mencapai standar loyalitas tertinggi terhadap tanah airnya, karena hal tersebut adalah jalan untuk meraih Allah dan menjadi lebih dekat kepada-Nya. Dengan demikian, adalah tidak mungkin bahwa cinta seorang muslim sejati pada Tuhannya akan menjadi penghalang baginya untuk menunjukkan cinta dan kesetiaan pada tanah airnya.” (Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012)

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifah Islam Internasional), mengatakan:

“Adalah sangat mudah untuk mendengar atau mengatakan “setia dan cinta tanah air ” namun pada kenyataannya, kalimat tersebut bermakna sangat luas, indah dan dalam. Tentunya, untuk lebih mengerti dan memahami apa arti sesungguhnya dari kalimat tersebut, dan apa yang dituntut oleh kalimat tersebut adalah sangat sulit. Tapi dalam waktu yang pendek ini saya akan mencoba menjelaskan konsep Islam mengenai loyalitas dan cinta tanah air .

Pertama-tama prinsip yang utama dalam Islam adalah perkataan dan perbuatan seseorang tidak boleh mencerminkan standar ganda atau kemunafikan. Kesetiaan sejati membutuhkan suatu hubungan yang dibangun berdasarkan ketulusan dan integritas. Hal ini membutuhkan apa yang seorang tampilkan di permukaan sama dengan apa yang ada dalam hatinya. Dalam konteks nasionalisme, prinsip-prinsip ini sangat penting. Oleh karena itu sangat penting bagi warga setiap warga negara membangun hubungan dengan tanah airnya dengan loyalitas dan kesetiaan yang murni. Tidak peduli apakah ia terlahir sebagai warga negara tersebut, atau mendapatkan kewarganegaraannya dengan cara imigrasi ataupun cara lain.

Loyalitas atau kesetiaan adalah suatu kualitas utama, dan orang yang telah menunjukkan sikap ini dengan derajat dan standar tertinggi adalah para nabi Allah. Cinta dan ikatan mereka dengan Tuhan sangat kuat dalam segala hal sehingga mereka menjaga perintah Tuhannya dan berjuang untuk menjalankannya apapun yang terjadi. Hal ini menggambarkan komitmen mereka pada Tuhan dan standar yang sempurna mengenai loyalitas. Dengan demikian, standar loyalitas seperti itulah yang harus kita gunakan sebagai contoh dan model. Namun demikian, sebelum kita bicara lebih lanjut, adalah penting untuk memahami dahulu apa yang dimaksud dengan loyalitas.” (Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012)

Beliau aba menjelaskan:

“Ketika cinta tanah air merupakan hal mendasar dalam Islam, bagaimana bisa seorang Muslim sejati akan menunjukkan ketidaksetiaan atau mengkhianati bangsanya.” (Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba)

2. Agar Jangan Memberontak

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifah Islam Internasional), menjelaskan:

“Ajaran lain yang diberikan oleh Al-Quran dalam kaitannya dengan loyalitas adalah manusia harus menjauhkan diri dari semua perbuatan keji, dan munkar dan segala bentuk pemberontakan. Sebuah gambaran yang indah dan membedakan Islam adalah ia tidak hanya menarik perhatian kita ke titik kulminasi, dimana hal itu memiliki konsekuensi yang sangat berbahaya, tatapi juga memperingatkan kita tentang masalah-masalah yang lebih kecil, yang dapat menjadi batu pijakan manusia untuk melewati jalan yang penuh bahaya. Jadi, jika petunjuk Islam diikuti dengan benar, maka setiap permasalahan dapat diselesaikan sedini mungkin, sebelum situasinya sebelum situasi menjadi tak terkendali.

Sebagai contoh, sebuah permasalahan yang dapat merugikan Negara adalah korupsi. Seringkali orang terasuki oleh keinginan materialistis yang berputar tanpa kendali, dan akhirnya keinginan tersebut membawa manusia pada tindakan tidak terpuji. Hal tersebut dapat menjadi penyebab penghianatan pada Negara. Mari saya jelaskan sedikit. Dalam bahasa Arab kata bagha telah digunakan untuk menggambarkan orang-orang atau tindakan orang-orang yang menimbulkan kerugian bagi negara mereka, ini merujuk pada mereka yang melakukan hal-hal yang buruk atau mencelakakan orang lain.

Hal ini juga termasuk orang-orang yang melakukan penipuan dan mencoba untuk mendapatkan sesuatu secara ilegal atau tidak adil. Kata ini juga merujuk pada orang-orang yang melewati batas sehingga menyebabkan kerugian dan kerusakan. Islam mengajarkan bahwa orang yang bersikap demikian tidak dapat diharapkan bersikap setia, karena kesetiaan berkaitan erat dengan nilai moral yang tinggi. Kesetiaan tidak akan terjadi tanpa nilai-nilai moral yang tinggi, dan nilai moral yang tinggi tidak akan terjadi tanpa kesetiaan. (Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012)

3. Islam Melarang Pemberontakan

“Menurut ajaran Islam, Allah melarang semua bentuk pengkhianatan atau pemberontakan, baik terhadap negara atau pemerintah. Karena hal itu menjadi ancaman bagi perdamaian dan keamanan suatu bangsa.” (Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Pidato di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012)

Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ Adalah Matahari Kebebasan

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifah Islam Internasional ), mengatakan:

“Di hadapan kita ada matahari kebebasan, dialah sosok Rasulullah (saw) yang memberi petunjuk pembebasan dari perbudakan lahiriah dan juga membebaskan manusia dari belenggu dan ikatan yang mencekik leher-leher manusia.” (Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khutbah 25 November 2011)

“Secara umum, di era modern ini, sebagian besar pemerintah dijalankan secara demokratis. Oleh karena itu jika seseorang atau kelompok berkeinginan untuk mengubah suatu pemerintahan, maka mereka harus melakukannya dengan mengikuti proses demokrasi yang tepat. Mereka harus membuat diri mereka didengar melalui pemungutan suara di kotak suara. Suara tidak boleh diberikan atas dasar preferensi atau kepentingan pribadi, tetapi Islam mengajarkan bahwa memilih seseorang harus diberikan kepada orang yang memiliki rasa kesetiaan dan cinta tanah air nya. Karenanya seseorang tidak boleh melihat pada prioritasnya sendiri atau kandidat mana dan dari partai apa yang bisa mendapatkan keuntungan, namun seseorang harus membuat keputusan secara berimbang dimana ia menilai mana kandidat atau partai yang akan membantu kemajuan bangsa dan Negara. Kunci pemerintah adalah kepercayaan yang tinggi sehingga mereka harus menyerahkan kepada partai dimana para pemilih dengan jujur mempercayakan kepada sosok yang paling pantas dan layak. Ini adalah Islam yang benar dan ini adalah kesetiaan sejati.” (Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012)

Beliau aba juga menjelaskan:

“Sebuah prinsip emas diajarkan oleh Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah yaitu dalam semua keadaan, kita harus selalu taat kepada Allah, kepada Nabi dan para penguasa bangsa kita. Ini adalah ajaran yang sama diajarkan dalam Al-Quran. Oleh karena itu, sekalipun suatu negara mengizinkan aksi mogok atau demonstrasi, maka hal itu hanya boleh dilakukan sebatas mereka tidak membahayakan atau menyebabkan kerusakan pada bangsa atau ekonomi.” (Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012)

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifah Ahmadiyah Internasional), menyerukan:

“Para pemimpin dan pemerintahan mereka harus berusaha membuat undang-undang yang menciptakan lingkungan dan spirit kebenaran serta keadilan, bukannya membuat undang-undang yang menjadi sarana yang menyebabkan kesulitan dan frustrasi warga. Ketidakadilan dan kekejaman harus dihilangkan dan sebaliknya kita harus mengupayakan keadilan sejati. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dunia harus mengenali Sang Pencipta. Setiap bentuk loyalitas harus dikaitkan dengan loyalitas dengan Tuhan. Jika hal ini terjadi maka kita akan menyaksikan dengan mata kita sendiri standar loyalitas yang tinggi akan terbentuk oleh orang-orang dari semua negara dan sebuah jalan baru akan membimbing kita menuju perdamaian dan serta akan membuka keamanan di seluruh dunia..(Pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad, di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman 2012)

4. Memberikan Dedikasi Untuk Bangsa

“Kemanapun para Ahmadi pergi, mereka akan mencintai negara mereka seperti warga negara sejati yang mendedikasikan hidup mereka untuk kebaikan dan kemajuan bangsa.” (Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, 2012)

5. Kesetiaan Pada Negara

“Sebagai Muslim Ahmadi, mereka menjadi warga negara yang setia kepada negara di mana mereka berada. Tidak ada pertentangan antara cinta mereka pada Islam dan negara. Di manapun mereka tinggal, Muslim Ahmadi akan menjadi warga negara yang sangat taat hukum.” (Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba, 2012)

6. Persatuan, Kemerdekaan Dan Keadilan

Pernyataan yang fenomenal dari Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifah Islam Ahmadiyah Internasional), beliau menyampaikan:

“Ajaran Islam bertujuan menyatukan umat manusia di bawah bendera kemanusiaan dan menjamin hak setiap individu untuk hidup dengan bebas, setara, merdeka dan penuh keadilan.” (Hazrat Mirza Masroor Ahmad 2018)

Imam Jalaluddin Al-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih menyebutkan:   

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا»، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: جُدُرَاتِ، تَابَعَهُ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ. (درجات): بفتح المهملة والراء والجيم، جمع “درجة”، وهي طرقها المرتفعة، وللمستملي: “دوحات” بسكون الواو، وحاء مهملة جمع دوحة، وهي الشجرة العظيمة. (أوضع): أسرع السير. (مِنْ حُبِّها) أي: المدينةِ، فِيْهِ مَشْرُوعِيَّةُ حُبِّ الوَطَنِ والحَنينِ إليه   

“Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengkabarkan padaku Humaid, bahwasannya ia mendengan Anas RA berkata: Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Bercerita kepadaku Qutaibah, bercerita padaku Ismail dari Humaid dari Anas, ia berkata: dinding-dinding. Harits bin Umair mengikutinya.” (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih, Riyad, Maktabah Al-Rusyd, 1998, Juz 3, hal. 1360)[] .

Kesimpulan 

Tulisan ini mengupas secara mendalam hubungan harmonis antara ajaran Khilafah Ruhaniyah Ahmadiyah dengan cinta terhadap tanah air. Di tengah maraknya stigma negatif terhadap konsep khilafah, buku ini hadir untuk meluruskan bahwa Khilafah Ahmadiyah bukanlah sistem politik yang mengancam negara, melainkan kepemimpinan spiritual yang membina umat dalam kedamaian, ketaatan hukum, dan pengabdian kepada bangsa.

Melalui kutipan langsung dari Khalifah Ahmadiyah dan kisah nyata para pengikutnya, tulisan ini membuktikan bahwa kesetiaan kepada negara dan kepatuhan kepada Khalifah bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi dari satu nilai: pengabdian yang tulus dan damai. Buku ini adalah pesan untuk dunia, bahwa Islam sejati mendidik manusia menjadi warga negara terbaik.[] Wallaahu ’Alam

و السلام على من اتبع الهدى
Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian