Jangan Mudah Tertipu Oleh Orang-orang yang Mengaku Sakti dan Punya Karomah


Oleh: Syamsul Ulum 

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ “

Katakanlah, ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah..” [An-Naml/27: 65]

 Terkadang Allâh Azza wa Jalla memberitahukan sebagian perkara ghaib itu kepada rasul yang Dia kehendaki lewat wahyu-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman: 

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا ﴿٢٦﴾ إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا 

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya“. [Al-Jinn/72: 26-27] 

Abu Yazid Al-Busthomi (w 784 M) mengatakan:

وَقَالَ أَبُو يَزِيدَ قَدَّسَ سِرَّهُ: لَوْ أَنَّ رَجُلًا بَسَطَ مُصَلَّاهُ عَلَى الْمَاءِ وَتَرَبَّعَ فِي الْهَوَاءِ فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ حَتَّى تَنْظُرُوا كَيْفَ تَجِدُونَهُ فِي الْأَمْرِ وَالنَّهْي.

"Abu Yazid, semoga Allah mensucikan rahasianya, berkata: 'Seandainya ada seorang lelaki membentangkan sajadahnya di atas air dan duduk bersila di udara, maka janganlah kalian tertipu olehnya hingga kalian melihat bagaimana sikapnya terhadap perintah dan larangan (agama).'" (kitab Sirajut Thalibin juz hlm. 64)

Ketika Imam Abu Yazid al-Bistham ditanya, “annaka tamurru fi al-hawa?—kau berjalan di atas angin (terbang)?” Imam Abu Yazid menjawab:

طير يأكل الميتة يمر في الهواء, المؤمن أشرف من الطير

“Burung yang memakan bangkai bisa berjalan di atas angin (terbang), apalagi orang beriman yang jelas-jelas lebih mulia dari burung.” (Dr. Abdul Halim Mahmud, Abu Yazid al-Bastham: Sulthan al-‘Arifin, Kairo: Darul Ma’arif, tt,hlm 167).

Penjelasan:

Abu Yazid Al-Busthami adalah sufi besar abad ke 3 Hijriyah berkebangsaan Persia, lahir tahun 804 M/ 188H dan wafat pada tahun 874 M. Nama kecilnya adalah Tayfur, sedang lengkapnya Abu Yazid Tayfur ibn Isa ibn Surusyan al-Busthami. Dalam literatur-literatur tasawuf, namanya sering ditulis dengan Bayazid Bastami.

Ucapan Abu Yazid al-Busthami ini adalah nasihat yang sangat dalam tentang kriteria sejati untuk menilai kesalehan atau ketinggian spiritual seseorang. Makna ucapan tersebut adalah:

“Seandainya seseorang bisa membentangkan sajadahnya di atas air dan duduk bersila di udara (yakni melakukan hal-hal luar biasa), maka jangan langsung tertipu olehnya, sampai kalian lihat bagaimana dia dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.”

Penjelasan:

1. Karomah bukan tolok ukur utama
Abu Yazid ingin menegaskan bahwa kemampuan seseorang melakukan hal-hal luar biasa (karomah), seperti berjalan di atas air atau melayang di udara, tidak otomatis menjadikannya orang saleh atau wali Allah. Hal itu bisa terjadi karena berbagai sebab, bahkan bisa juga berasal dari godaan setan atau sihir.

2. Yang penting adalah ketaatan pada syariat
Yang harus menjadi ukuran utama dalam menilai kebaikan atau kewalian seseorang adalah bagaimana ia menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, seperti salat tepat waktu, jujur, amanah, menjauhi maksiat, dan sebagainya.

3. Pesan kehati-hatian
Nasihat ini juga mengingatkan agar kita tidak mudah terpesona oleh penampilan luar atau keajaiban, tetapi melihat kepada akhlak, ibadah, dan sikap hidupnya—apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak.

FENOMENA AKHIR ZAMAN 

 Ucapan Abu Yazid ini sangat relevan dengan fenomena akhir zaman, karena dalam banyak hadis dan realita, akan muncul orang-orang yang menampakkan hal-hal luar biasa, tetapi justru menyesatkan. Berikut hubungannya:

1. Akhir zaman penuh fitnah dan tipuan

Rasulullah SAW bersabda bahwa di akhir zaman akan banyak fitnah (ujian, kebingungan) dan penyesat-penyesat yang menampilkan hal-hal luar biasa, seolah-olah mereka wali atau orang saleh.

 "Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipu daya..." (HR. Ahmad)

Ucapan Abu Yazid mengajarkan agar jangan tertipu oleh penampilan luar atau karomah palsu, tapi lihat komitmennya terhadap syariat.

2. Munculnya Dajjal

Dajjal adalah contoh paling besar. Ia akan menunjukkan "mukjizat" luar biasa: bisa menyuruh langit menurunkan hujan, menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati (tipuan), dst. Tapi dia adalah pendusta terbesar dan musuh Allah.

Ucapan Abu Yazid cocok sekali di sini: jangan tertipu oleh keajaiban, tapi nilai dari sisi ketaatan kepada Allah dan Rasul.

3. Maraknya tokoh spiritual palsu

Di akhir zaman banyak orang mengaku guru spiritual, wali, ustaz, atau tokoh agama yang bisa menyembuhkan, memprediksi masa depan, atau melakukan karomah tapi mereka:

1. Tidak shalat
2. Melanggar syariat
3. Menipu orang demi uang atau kekuasaan

Ucapan Abu Yazid adalah peringatan penting agar umat menggunakan ilmu dan hati-hati dalam memilih panutan, agar tidak disesatkan oleh mereka yang kelihatan "wah", tapi sebenarnya menyimpang.

Imam Al-Junaidi pernah mengomentari orang yang mengaku ahli makrifat tetapi dalam gerak geriknya meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan mendekatkan diri kepada Allah, maka beliau mengatakan "Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan".

Suatu ketika Syaikh disapa murid-muridnya ;

"Tuanku, Engkau bisa berjalan di atas air.." Murid-muridnya berkata dengan kekaguman kepada Syeikh Jumadil Qubro.

"Itu bukan apa-apa… Sepotong kayu juga bisa" Syeikh Jumadil Qubro menjawab pertanyaan muridnya.

Murid : "Tetapi engkau juga bisa terbang keangkasa"

Syeikh Jumadil Qubro : "Demikian juga burung-burung itu bisa"

Murid : "Engkau juga bisa bepergian ke Ka’bah dalam sedetik"

Syeikh Jumadil Qubro : "Setiap Jin yang kuat pun akan mampu pergi dari india ke Demavand dalam sedetik"

Murid : "Engkau juga kebal senjata dan kebal api"

Syeikh Jumadil Qubro : "Batu karang di pantai pun bisa kebal seperti itu”

"Kalau begitu. Apa kehebatan seorang manusia sakti yang sebenarnya…?" Murid-muridnya ingin Tahu..

Syeikh Jumadil Qubro tersenyum lalu beliau menjawab :

"Manusia sakti ialah mereka yang bisa menjaga hatinya agar tidak berpaling kepada sesuatu pun selain Allah. Hatinya selalu zikrulloh dalam keadaan apa pun, sehingga bisa bersabar ketika di uji dan bisa bersyukur ketika diberi rizeki. Dengan dzikirnya maka rasanya rata datar seprti air sehingga tidak senang ketika dipuji dan tidak sakit hati ketika dihina. Dengan dzikrulloh maka ia bisa terbang hijrah dari kegelapan perbuatan dosa kejalan ketaqwaan penuh cahaya. Dan kebal dari segala godaan syetan".

Maka Istiqomah lebih hebat dari 1000 Karomah..(Al-Istiqomah khoirun min alfi karomah)

Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ عُرْوَةَ يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ سَأَلَ أُنَاسٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسُوا بِشَيْءٍ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ أَحْيَانًا الشَّيْءَ يَكُونُ حَقًّا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْجِنِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُونَ فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ 

Dari ‘Urwah, dia mengatakan: ‘Aisyah berkata: “Orang-orang bertanya kepada Rasulûllâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang para kahin, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Mereka tidak benar/batil”. Para Sahabat mengatakan: “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya para kahin itu terkadang menceritakan sesuatu yang menjadi kenyataan”. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Itu adalah satu kalimat dari jin, jin mencopet kalimat itu lalu membisikkannya pada telinga wali (kekasih)nya seperti berkoteknya ayam. Kemudian para kahin itu mencampur pada kalimat itu lebih dari seratus kedustaan”. [HR. Muslim, no. 2228]

Disebutkan dalam kitab Hilyatul Auliya’ beberapa perkataan ulama berikut.

وحدثنا ابن المبارك عن بكار بن عبدالله قال سمعت وهب بن منبه يقول مر رجل عابد على رجل عابد فقال مالك قال عجبت من فلان انه كان قد بلغ من عبادته ومالت به الدنيا فقال بعجل لا تعجب ممن تميل به الدنيا ولكن اعجب ممن استقام

Ibnul Mubarok menceritakan dari Bakkar bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa ia mendengar Wahb bin Munabbih berkata, ada seorang ahli lewat di hadapan ahli ibadah yang lain. Ia pun berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Dijawablah, “Aku begitu takjub pada si fulan, ia sungguh-sungguh rajin ibadah sampai-sampai ia meninggalkan dunianya.” Wahb bin Munabbih segera berkata, “Tidak perlu takjub pada orang yang meninggalkan dunia seperti itu. Sungguh aku lebih takjub pada orang yang bisa istiqomah.” (Hilyatul Auliya’, 4: 51).

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (al-Mahdi wal Masihil Mau’ud a.s.) bersabda:

“Jadilah kalian wali, tetapi janganlah kalian menjadi penyembah wali”. 

Di sinipun saya juga sampaikan bahwa sejumlah laporan-laporan datang, informasi-informasi sedemikian rupa diterima, di Pakistan juga dan di tempat- tempat lain juga, di sejumlah tempat di Rabwah juga bahwa sejumlah orang Ahmadi membuat sesepuh (orang pintar) yang bertugas mendoakannya sendiri.  Dan sesepuh (orang suci) itupun –menurut saya– merupakan nama-nama yang sengaja direkayasa, yang mengambil uang atau membuat mantra dan memberikannya seperti itu atau mereka berdoa bawalah obat ini untuk dimakan selama 20 hari, bawalah air ini untuk diminum sampai 20 hari atau bawalah jimat ini. Semua ini merupakan hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna. (Khutbah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Jum'at Oktober 2004)

Kesimpulan:

Ucapan Abu Yazid adalah nasihat emas untuk menghadapi zaman penuh tipu daya. Di akhir zaman, karomah bisa dipalsukan, tapi ketaatan kepada Allah tidak bisa. Maka jangan lihat apa yang bisa dilakukan seseorang secara luar biasa, tapi lihat bagaimana ia taat pada Allah dan Rasul-Nya.

Abu Yazid mengajarkan bahwa keistimewaan spiritual sejati bukan diukur dari mukjizat atau keajaiban, melainkan dari ketaatan total terhadap syariat Islam. Jangan mudah tertipu oleh hal luar biasa, tapi lihat bagaimana orang itu dalam hubungan dengan Allah melalui amal perbuatan sehari-harinya.

Ucapan Abu Yazid & Relevansinya di Akhir Zaman adalah:

1. Jangan Tertipu oleh Keajaiban
Abu Yazid menegaskan bahwa kemampuan luar biasa bukan bukti kesalehan. Karomah bukan standar utama kewalian.

2. Ukur dengan Ketaatan pada Syariat
Nilailah seseorang dari kepatuhannya terhadap perintah dan larangan Allah. Bukan dari penampilan atau hal-hal luar biasa yang ia lakukan.

3. Akhir Zaman Penuh Fitnah & Tipuan
Banyak penyesat yang menampakkan keajaiban, tapi menyimpang dari syariat. Perlu hati-hati dalam memilih panutan.

4. Dajjal: Simbol Penipuan Besar
Akan menunjukkan hal luar biasa, tapi kafir dan menyesatkan. Cocok dengan peringatan Abu Yazid: jangan hanya lihat keajaiban.

5. Munculnya Tokoh Agama Palsu
Banyak yang mengaku wali/guru, tapi melanggar syariat. Tertipu jika hanya melihat “kemampuan” tanpa melihat akhlak dan ibadah.

6. Solusi: Pegang Ilmu & Syariat
 Gunakan ilmu untuk menilai kebenaran. Ikuti mereka yang benar-benar taat kepada Allah dan Rasul.

Wallaahu 'Alam. Semoga bisa dijadikan pencerarahan. 

والسلام على من اتبع الهدى 

"Keselamatan dan Kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian