Mukjizat Dan Nubuwah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad: Bukti Kebenaran Sebagai Imam Mahdi



Kedudukan Imam Mahdi setara dengan Nabi

عن ابن سيرين قيل له المهدي خير أو أبو بكر وعمر رضي الله عنهما؟ قال هو خير منهما ويعدل بنبي

“Suatu kali, Imam Ibnu Sirin pernah ditanya: Yang manakah yang lebih baik, Al-Mahdi atau Abu Bakr dan ‘Umar. Beliau menjawab: Al-Mahdi lebih baik daripada keduanya. Ia setara dengan seorang nabi.” (Kitab al-Fitan oleh Nu’aim bin Hammad, Hadits no. 1027)

-----------------------------------------------------------------------

Oleh: Syamsul Ulum

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّا مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۚ وَيُجَا دِلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِا لْبَا طِلِ لِـيُدْحِضُوْا بِهِ الْحَـقَّ وَا تَّخَذُوْۤا اٰيٰتِيْ وَمَاۤ اُنْذِرُوْا هُزُوًا

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan; tetapi orang yang kafir membantah dengan (cara) yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak (kebenaran), dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan apa yang diperingatkan terhadap mereka sebagai olok-olokan.” (QS. Al-Kahf 18:Ayatt 56)

DEFINISI KEBENARAN.

Kebenaran adalah sesuatu yang tidak mengandung kekeliruan, kesalahan, keraguan, tipuan dan juga tidak mengandung kebathilan. Inilah yang disebut dengan kebenaran muthlak. Untuk mengetahui bagaimana cara untuk memperoleh kebenaran itu? untuk mengetahui kebenaran itu kita harus berdasarkan pada dalil atau alasan-alasan yang benar. Dalil-dalil tersebut di dalam agama Islam dikenal dengan nama dalil Naqli dan dalil Aqli. Dalil Naqli adalah dalil atau keterangan yang berdasarkan pada Al-Qur’an, As-Sunnah dan Al-Hadits. Sedangkan dalil Aqli adalah dalil atau keterangan yang didasarkan pada akal yang sehat (rasio). Oleh karena itu dapatlah kita simpulkan bahwa sesuatu itu bisa disebut benar bila sesuatu itu memenuhi syarat kedua dalil tersebut, bila tidak memenuhi kedua dalil tersebut, maka tidak dapat disebut benar. Sehingga dalam mencari kebenaran jika tanpa menggunakan kedua dalil tersebut (dalil Naqli dan Aqli), maka segala sesuatu itu hanya akan bersifat relatif (belum tentu benar)

Menurut buku Random house dictionary of the english language, kebenaran atau sesuatu dapat dikatakan benar jika mengandung hal-hal sebagai berikut yaitu konstan, akurat, sesuai dengan standar, asli, jujur, sesuai dengan fakta dan dapat diverifikasi kebenarannya.

Berkenaan dengan kebenaran seorang yang mendakwakan dirinya sebagai utusan Tuhan, Allah SWT telah menetapkan berbagai macam standar dan barometer bagi kebenarannya. Tidak sedikit ayat-ayat Al Quran, sunnah, hadits dan kejadian alam yang menjadi saksi dari berlakunya sunnatullah tersebut. Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak para pembaca untuk bersama-sama merenungkan tuntunan yang terdapat di dalam kitab hadits shahih Bukhari yang merupakan kesaksian dari seorang kaisar Romawi yang nashrani berkenaan dengan sunnatullah tentang kebenaran seorang nabi yang telah berjalan sejak dahulu.

Sejarah Singkat Bangsa Romawi dan Persia.

Heraklius (bahasa Latin: Flavius Heraclius Augustus; bahasa Yunani: Φλάβιος Ἡράκλειος, Flavios Iraklios; lahir: ca. 575; wafat: 11 Februari 641) adalah Kaisar Bizantium (Romawi Timur) yang berkuasa selama 30 tahun yaitu sejak 5 Oktober tahun 610 sampai 11 Februari tahun 641. Ia adalah kaisar yang menetapkan bahasa Yunani sebagai bahasa resmi Kekaisaran Romawi Timur. Perjuangannya meraih tampuk kekuasaan bermula pada tahun 608, ketika ia bersama ayahnya, Heraklius Tua, Eksarkus Afrika, memimpin pemberontakan menggulingkan Kaisar Fochus (Wikipedia)

Heraclius atau dalam bahasa latinnya Flavius Heraclius Augustus merupakan Kaisar Bizantium (Romawi Timur) yang berkuasa selama 30 tahun yaitu sejak 5 Oktober 610 – 11 Februari 641 setelah ia mampu melengserkan Pochus.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya (3/514—515) menceritakan tentang sejarah bangsa Rum (Romawi) dan Persia. Dalam tafsirnya dikatakan bahwa bangsa Rum adalah keturunan al-‘Aish bin Ishaq bin Ibrahim, saudara sepupu Bani Israil. Dinamakan pula dengan Bani al-Ashfar. Mereka menganut agama orang-orang Yunani. Bangsa Yunani sendiri adalah keturunan Yafuts bin Nuh yang mereka adalah para penyembah bintang. Bangsa Rum inilah yang membangun kota Damsyik (Damaskus) berikut tempat-tempat ibadahnya. Bangsa ini masih menganut agama mereka sampai datangnya ‘Isa al-Masih ‘alaihissalam, kira-kira selama 300 tahun. Setiap raja yang memerintah mereka, disebut “kaisar”.

Orang pertama yang masuk agama Nasrani dari raja-raja bangsa Rum adalah Konstantin. Namun kemudian orang-orang Nasrani berselisih paham, di mana kemudian para pendetanya (melalui konsili/pertemuan Nicea tahun 325 M) merumuskan suatu undang-undang doktrin agama bagi negara dan mengubah agama Nabiyullah ‘Isa ‘alaihissalam. Mereka tambah dan kurangi agama Nabi ‘Isa ‘alaihissalam semau mereka (salah satu hasil “terpenting” adalah menetapkan Isa sebagai Tuhan melalui pemungutan suara. Mereka juga membuat berbagai acara perayaan atau peringatan serta membagi tingkatan-tingkatan keuskupan atau kependetaan dalam beberapa tingkat seperti yang kita kenal sekarang ini (Paus, Uskup, dan sebagainya).

Tak cuma itu, orang-orang Nasrani (Kristen) juga sangat keterlaluan dalam memuliakan dan mengagungkan kaisar.Yang jelas, mereka tetap memeluk agama tersebut hingga diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap mati seorang kaisar, muncul kaisar penggantinya, sampai akhirnya datang masa pemerintahan Heraklius.Heraklius termasuk seorang raja yang cerdas dan cermat. Kekuasaannya cukup besar dan luas, sehingga Kisra Persia Sabur memusuhinya.Padahal kerajaannya lebih luas daripada Kaisar (Heraklius). Sabur sendiri merupakan penganut Majusi (penyembah api).

Dialog Herakilius Dengan Abu Sufyan


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Abu Sufyan bin Harb mengabarkan bahwa heraklius mengirim seorang utusan kepadanya (Abu Sufyan) ketika ia membawa satu kafilah Quraisy mereka sedang berniaga di negeri Syam. Pada saat yang bersamaan dengan masa gencatan senjata antara Rasulullah saw dengan Abu Sufyan dan kafir Quraish. Abu Sufyan dan kafilahnya menemui Heraklius di Ilya (Yerussalem). Heraklius dan para pembesar Romawi menemui Abu Sufyan dan kafilahnya diruangan sidang. Melalui penerjemah terjadilah perbincangan di antara mereka.

Heraklius bertanya, “Siapa di antara kalian yang hubungannya paling dekat dengan orang yang dirinya mengaku Nabi?”

Abu Sufyan angkat bicara, “Aku.”

Heraklius berkata, “Bawa dia ke dekatku dan biarkan para pengikutnya berada di belakangnya.” Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka bahwa aku akan bertanya tentang orang yang mengaku Nabi tadi, apabila ia (Abu Sufyan) berdusta maka mereka harus menyangkalnya.”

Abu Sufyan mengatakan, “Seandainya tidak karena rasa malu atas para sahabatku, niscaya aku akan berdusta tentangnya (Nabi Muhammad ﷺ).”

Pertanyaan pertama Heraklius adalah, “Bagaimana nasab keturunannya di antara kalian?”

Aku (Abu Sufyan) menjawab, “Dia memiliki nasab yang terpandang di antara kami.”

Heraklius bertanya lagi, “Apakah sebelum dia, ada orang dari kaum kalian yang menyampaikan apa yang dibawanya?”

Aku menjawab, “Tidak ada.”

Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada di antara leluhurnya yang menjadi raja?”
Aku menjawab, “Tidak ada.”

Heraklius bertanya lagi, “Apakah orang yang mengikutinya dari kalangan terpandang atau kaum yang lemah?”
Aku menjawab, “Pengikutnya adalah kaum yang lemah.”

Heraklius bertanya lagi, “Apakah PENGIKUTNYA Terus bertambah atau Berkurang?”

Aku menjawab, “Mereka (Pengikutnya) Terus Bertambah BANYAK”

Heraklius melanjutkan pertanyaannya, “Apakah ada di antara pengikutnya yang telah masuk kemudian keluar lagi karena ia membenci agamanya?”

Aku menjawab, “Tidak ada.”

Heraklius bertanya lagi, “Apakah engkau pernah menuduhnya berdusta sebelum ia menyampaikan pengakuannya sebagai nabi?”

Aku menjawab, “Tidak pernah.”

Heraklius bertanya lagi, “Apakah ia pernah melanggar atau mengkianati perjanjian?”

Aku menjawab, “Tidak pernah, kami sedang melakukan gencatan senjata dengannya, tetapi kita tidak tahu apa yang ia lakukan.”

Sampai pada pertanyaan tadi, aku (Abu Sufyan) tidak dapat memberikan sangkalan atasnya kecuali melalui jawaban yang tadi. Kemudian Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian memeranginya?” Aku menjawab, “Ya.”

Heraklius bertanya lagi, “Bagaimana akhir peperangan antara kalian dengannya?”

Aku menjawab, “Terkadang kami mengalahkannya, dan terkadang ia yang memenangkannya.”

Heraklius bertanya lagi, “Apakah yang diperintahkannya kepada kalian?”
Aku menjawab, “Menyembah Allah dan mengesakan-Nya serta jangan menyekutukan-Nya. Ia memerintahkan agar meninggalkan sesembahan yang disembah leluhur kami, memerintahkan kami shalat, bersedakah, menjaga kehormatan dan menyambung silaturahmi.”

Melalui penerjemahnya, Heraklius menyampaikan perkataannya, “Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, dan engkau mengatakan bahwa ia memiliki nasab yang terpandang.

Demikian juga para Rasul mereka diutus berasal dari keluarga yang terpandang dan mulia. Aku bertanya apakah ada orang yang menyampaikan apa yang disampaikannya sebelum ia, dan engkau menjawab tidak. Apabila engkau menjawab sebaliknya, tentu aku akan beranggapan bahwa ia hanya mengikuti perkataannya orang tersebut.

Aku bertanya apakah leluhurnya ada yang menjadi raja dan engkau menjawab tidak. Apabila ada di antara leluhurnya yang menjadi raja, aku akan beranggapan bahwa dia sedang berjuang untuk merebut kembali kerajaan leluhurnya. Kemudian aku bertanya apakah engkau pernah mendustakannya sebelum ia menyampaiakn pengakuannya, engkau jawab tidak pernah. Dari sana aku tahu bahwa ia tidak pernah berdusta terhadap manusia, apalagi terhadap sesuatu yang diturunkan oleh Allah.

Aku bertanya apakah pengikutnya dari kalangan terpandang atau orang-orang yang lemah, engkau menjawab bahwa pengikutnya kebanyakan adalah orang-orang yang lemah.

Memang para pengikut Rasul adalah orang-orang yang lemah.

Aku bertanya apakah jumlah mereka terus bertambah atau berkurang?.

Engkau menyebutkan bahwa mereka terus bertambah. Demikian halnya sesuatu yang berkaitan dengan keimanan, ia akan TERUS BERTAMBAH bahkan sampai pada puncak kesempurnaannya.

Aku bertanya kepadamu apakah ada dari pengikutnya yang keluar karena benci setelah memeluk agama itu, dan engkau menjawab tidak ada. Itulah salah satu tanda dari keimanan yang benar.

Aku bertanya kepadamu apakah ia berkhianat, dan engkau jawab tidak pernah. Demikianlah seorang Rasul, dia tidak pernah berkhianat. Aku bertanya apa yang ia perintahkan kepada kalian, lalu engkau menyebutkan bahwa ia memerintahkan agar menyembah Allah dan tidak menyekutukannya, dan juga melarang kalian dari menyembah berhala, memerintahkan kalian untuk mendirikan shalat, bersedekah dan menjaga kehormatan.

Apabila apa yang engkau katakan itu adalah benar, maka tidak akan lama lagi ia akan menempati tempat yang aku pijak saat ini. Sungguh aku mengetahui hal itu tetapi aku tidak mengira bahwa ia akan muncul dari kaum kalian. Seandainya aku yakin dapat menjangkaunya niscaya aku akan segera menemuinya, dan apabila aku sudah berada di dekatnya, niscaya aku akan membasuh kedua kakinya.” (HR. Bukhari)

Penjelasan:

Hadits di atas merupakan salah satu standar dan contoh dari ciri-ciri Nabi yang benar. Bilamana ada orang yang mengaku dirinya Nabi, maka lihat saja pengikutnya, Apakah semakin bertambah atau semakin berkurang? Kalau pengikutnya terus bertambah maka dia adalah seorang Nabi yang benar dan sebaliknya jika pengikutnya semakin berkurang, maka dia bukan nabi yang benar. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

بَلْ مَتَّـعْنَا هٰٓؤُلَاۤءِ وَ اٰبَآءَهُمْ حَتّٰى طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ ؕ اَفَلَا يَرَوْنَ اَنَّا نَأْتِى الْاَرْضَ نَـنْقُصُهَا مِنْ اَطْرَافِهَا ؕ اَفَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ

“Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan nenek moyang mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjang usia mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi negeri (yang berada di bawah kekuasaan orang kafir) lalu Kami kurangi luasnya dari ujung-ujung negeri. Apakah mereka yang menang?” (QS. Al-Anbiya: Ayat 44)

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنَّمَاۤ اُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَآءَ اِذَا مَا يُنْذَرُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya memberimu peringatan sesuai dengan wahyu.” Tetapi orang tuli tidak mendengar seruan apabila mereka diberi peringatan.” (QS. Al-Anbiya: Ayat 45)

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Mahdi wal Masihil Mau’ud as) bersabda:

“Suatu hal yang patut disimak, bahwa seandainya gerakan kami ini bukan berasal dari Allah, maka sampai hari ini mengapa tidak kunjung hancur? Pernah ada suatu masa, saya hanya seorang diri kesana kemari, namun sekarang adalah masa dimana lebih dari 200.000 orang yang ada bersama saya” (Malfuzhaat jilid 6, hal.216)

Beliau as Bersabda:

“Ini merupakan bukti kebenaran, yakni dunia berusaha keras melakukan penentangan tetapi ternyata kebenaran semakin menyebar. Tidak ada satu unsur pun yang tidak dilakukan oleh para penentang kita dalam melakukan penentangan, tetapi akhirnya mereka tetap saja gagal. Ini merupakan tanda dari Allah” (Malfuzat jilid 4, hal 185)

Demikianlah, Heraklius seorang kaisar Romawi yang nashrani telah memberikan kesaksiannya bagaimana sunnatullah yang berkenaan dengan kebenaran seorang yang mendakwakan diri sebagai utusan Tuhan yang telah berjalan sejak dahulu. Apa yang pernah terjadi dan mengiringi perjalanan para nabi sebelum Muhammad ﷺ, kini di masa hidupnya terjadi kembali kepada seorang Muhammad yang datang dalam nama Tuhan. Dan ia menjadi saksi atas hal itu, bahkan kini sejarah mencatat kesaksiannya itu sebagai suatu sunnatullah yang tetap berjalan demikian sejak pertama kali ditetapkan Tuhan hingga akhir dari dunia ini.

KESAKSIAN HERAKILIUS SEBAGAI BAROMETER KEBENARAN DAKWAH ḤADHRAT MIRZA GHULAM AHMAD as.

Pada tahun 1891, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. melalui ilham dari Allah SWT mengumumkan bahwa nabi Isa as. yang dulu pernah di utus kepada bani Israil dan yang sedang ditunggu-tunggu kedatangannya yang kedua kali oleh umat Islam telah wafat sebagaimana nabi-nabi yang lain telah wafat. Dan nabi Isa, yang dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah ﷺ di akhir zaman adalah beliau sendiri bukan nabi Isa yang dulu.

Pendakwaan beliau ini telah mengundang reaksi yang sangat hebat dari para ulama dan umat Islam, gelombang penentangan terhadap beliau meluas ke seantero negeri. Para ulama di Hindustan khususnya, ramai-ramai mengeluarkan fatwa kafir, murtad dan keluar dari Islam. Mereka yang dulu simpatik dan memuji beliau karena perjuangan dan kegigihan beliau dalam membela dan mempertahankan ketinggian Islam dan kesucian Hadhrat Muhammad ﷺ, kini serta merta berdiri menentang beliau. Salah satunya yaitu Maulwi Muhammad Husein Batalwi yang dahulu dalam majalahnya Isyaatussunnah sangat memuji beliau as. kini dengan segenap kekuatan menentang beliau as. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ۗ كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُوْلٌ بِۢمَا لَا تَهْوٰۤى اَنْفُسُهُمْ ۙ فَرِيْقًا كَذَّبُوْا وَفَرِيْقًا يَّقْتُلُوْنَ

“Setiap rasul datang kepada mereka dengan membawa apa yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, (maka) sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 70)

Penentangan dan sikap bermusuhan ini tidak hanya ditujukan kepada beliau saja, akan tetapi juga ditujukan kepada semua orang yang menerima pendakwaan dan beriman kepada beliau as. dan tidak hanya terjadi di Hindustan saja akan tetapi telah meluas ke seluruh dunia Islam. Kini setelah pendakwaan tersebut berlalu 130 tahun dan para pengikut beliau telah tersebar di hampir lebih dari 213 negara dengan jumlah pengikutnya yang sudah mencapai puluhan juta bahkan sudah mendekati ratusan juta jiwa, penentangan ini tetap saja berjalan. Bahkan di beberapa negara, seperti Pakistan, Bangladesh termasuk Indonesia, penentangan ini telah melampaui batas-batas prikemanusiaan.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  bersabda:

Ingatlah baik-baik, jika ini merupakan Jemaat buatan manusia maka pasti sudah hancur, sebab dari segala penjuru berlangsung upaya-upaya penentangan untuk menghancurkannya. Dan jika Jemaat ini juga bertentangan dengan Allah Taala, maka tentu Dia pun menjdi musuhnya. Lalu, apa sebabnya shingga bukannya Jemaat ini hancur, melainkan justru smakin berkembang? Sebabnya adalah Jemaat ini berasal dari Allah Taala. Ini bukanlah rancangan manusia. Kalian mengetahui bhw pendakwaan saya bukan sejak hari ini saja, melainkan sejak 24 tahun lalu terus menerus saya mendakwakan bahwa Allah Taala berkata-kata dg saya dn Dia telah mengutus saya” (Malfuzhaatat jilid. 7, hal. 163)

Nah melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak saudara-saudara sekalian untuk membuktikan kebenaran pendakwaan beliau as. yang mana sebagai timbangannya atau barometernya adalah kesaksian Heraklius yang terdapat dalam hadits Bukhari yang telah diuraikan tadi. Yakni sunnatullah yang telah berlaku kepada para nabi-Nya dahulu termasuk Nabi  Muhammad Rasulullah ﷺ, itu pula yang terjadi kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Mahdi wal Masih al-Mau’ud as).

Sembilan poin kesaksian kaisar Heraklius tadi, tidak ada satu pun yang tidak sesuai dengan fakta yang ada dan terjadi kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dan para pengikutnya.

“Dahulu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Hanya seorang diri saja, tidak mempunyai seorang pengikut pun, tetapi sekarang beliau sudah mempunyai satu jama’ah yang sangat cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Dan inilah satu jama’ah yang bekerja memajukan Agama Islam di seluruh dunia di zaman ini.” (Maulana Rahmat Ali H.A.O.T., Kebenaran Al-Masih Akhir Zaman, hal. 112)

Kebenaran Mirza Ghulam Ahmad Sebagai Imam Mahdi 

Berikut ini akan saya sajikan fakta-fakta berkenaan dengan kebenaran Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, ajarannya dan para pengikutnya adalah sebagai berikut:

1). Menurut keasksian Heraklius yang pertama, bahwa sejak dahulu seorang nabi atau utusan Tuhan selalu berasal dari kalangan yang baik. (Q.s Yunus/10:16), yakni golongan bangsawan di antara kaumnya.

Di dalam buku riwayat hidup Mirza Ghulam Ahmad, di sana dijelaskan bagaimana silsilah beliau as. Disebutkan bahwa ayah beliau bernama Mirza Ghulam Murtazha, merupakan keturunan Haji Barlas, raja (gubernur) kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Bahkan salah seorang kakek buyut beliau yang bernama Mirza Hadi Beg, oleh pemerintah pusat Delhi diangkat sebagai Qadhi (Hakim) untuk daerah sekelilingnya. Dari catatan sejarah ini diketahui bagaimana kedudukan beliau di antara kaumnya. Meski demikian, sejak kecil beliau sangat zuhud dan tidak menyenangi kemewahan. Beliau hidup dalam kesederhanaan dan senantiasa menyibukkan diri dalam pengkhidmatan kepada Tuhan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لَّوْ شَآءَ اللّٰهُ مَا تَلَوْتُهٗ عَلَيْكُمْ وَلَاۤ اَدْرٰٮكُمْ بِهٖ ۖ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيْكُمْ عُمُرًا مِّنْ قَبْلِهٖ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Apakah kamu tidak menggunakan akal?” (QS. Yunus 10: Ayat 16)

2). Pada masa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Mahdi wal Masih al-Mau’ud as). pemahaman dan keyakinan hampir seluruh umat Islam dan para ulamanya berkenaan dengan nabi Isa Ibnu Maryam as  (Yesus) adalah sama yakni bahwa beliau as masih hidup di langit dengan jasadnya dan satu hari menjelang hari kiamat akan turun kembali untuk membunuh dajjal. Satu keyakinan yang sangat bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al hadits dan kepercayaan tersebut sangat membantu misi para misionaris kristen yang sedang giat-giatnya dalam bertablig dan yang telah menina bobokan kaum muslimin pada umumnya dalam pengharapan akan kedatangannya kembali Yesus (nabi Isa as) dari langit. Tidak ada seorang ulama pun saat itu yang sanggup menjawab tantangan dari para misionaris keristen. Tapi melalui ilham, Hadits dan petunjuk dari Allah SWT, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menyampaikan bahwa nabi Isa as dari Bani Israil telah wafat. (Qs. Al-Maidah/5: 117).

Allah Ta’ala berfirman:

وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّادُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Artinya: “Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, akan tetapi, setelah Engkau MEWAFATKAN aku (Nabi Isa as) maka Engkau-lah Yang menjadi Pengawas atas mereka dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu;” (Al Maidah 5:117)

Imam Ibnul Qayyim rh berkata:

(فلما توفيتني ) قال الجبائ و في هذه الايه دلالة على انه أمات وتوفاه ثم رفعه الله اليه لانه بين انه كان شهيدا عليهم مادام فيهم فلما وتوفاه الله كان هو شهيدا عليهم لان التوفى لا يستفاد من اطلاقه الا الموت

(Falamma tawaffaitani): Al-Jibai berkata: ayat ini menunjukkan bahwa dia (nabi Isa as) itu telah wafat. Allah telah mewafatkan dia dan mengangkatnya kepadaNya, oleh karena dia menyatakan bahwa dia menyaksikan keadaan umatnya selama ia hidup bersama mereka itu. Apabila Allah telah mewafatkan dia, maka Allah lah yg menyaksikan mereka itu. Sebab perkataan ” Tawwafa” itu tidak ada gunanya untuk diucapkan oleh nabi Isa as itu, jika dia belum wafat”. (Zadul Maad, juz. 1, hal. 302/ Fathul Bayan, juz.2)

Tentang keyakinan bahwa nabi Isa as diangkat ke langit, ‘Allāmah Ibnu Qayyim berpendapat:

وأما ما يذكر عن المسيح أنه رفع إلى السماء وله ثلاث وثلاثون سنة فهذا لا يعرف له أثر متصل يجب المصير إليه.

“Adapun cerita-cerita tentang Al-Masīḥ as bahwa beliau diangkat ke langit pada usia 33 tahun, tidak dikenal baginya satupun hadis muttaṣil yang mewajibkan Kita untuk meyakininya.”[ Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah,Zād al-Ma‘ād FīHadyi Khair al-‘Ibād v. 1(Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1998 M/1418 H), h. 82 ]

Nabi Suci Muḥammad ﷺ bersabda:

وَأَنَّهُ أَخْبَرَنِيْ أَنَّ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَاشَ عِشْرِيْنَ وَمِائَةَ سَنَةٍ

“Jibrīl as mengabarkan kepadaku bahwa ‘Īsā as hidup selama 120 tahun.” (Al-Mu‘jam al-Kabīr,Fī Mā Rawat Umm-ul-Mu’minīn ‘Ā’isyah ‘An Fāṭimah raḍiyallāhu ‘anhumā, no. 1301).

Dan beliau sendirilah orang yang telah dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits. Sebagaimana beliau as sendiri nyatakan:

وَقَدْ بَيَّنْتُ مِرَارًا ، وَأَظْهَرْتُ لِلنَّاسِ إِظْهَارًا، إِنِّيْ أَنَا الْمَسِيْحُ الْمَوْعُوْدُ، وَالْمَهْدِيُّ الْمَعْهُوْدُ، وَكَذٰلِكَ أُمِرْتُ وَمَا كَانَ لِيْ أَنْ أَعْصِيَ أَمْرَ رَبِّيْ وَأَلْحِقَ بِالْمُجْرِمِيْن
َ
Artinya: “Aku telah jelaskan berkali-kali serta nyatakan dengan senyata-nyatanya bahwa Akulah Al-Masih dan Al-Mahdī Yang Dijanjikan. Demikianlah apa yang diperintahkan Tuhanku kepadaku. Aku sama sekali tak berhak untuk membangkang perintah Tuhanku lalu bergabung dengan golongan para pendosa.” (Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad as, I‘jāz al-Masīḥ (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2011, hlm. 9)

Beliau membuktikan hal ini berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an, hadits, dan perkataan para ulama salafushshalih. Beliau as (Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad) diutus oleh Allah sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih al-Mau’ud as (Al-Masih yang dijanjikan) untuk memimpin umat Islam memerangi dajjal dan ajarannya yang sedang merajalela. Beliau as. mengajak umat Islam yang sedang larut dalam kecintaan kepada dunia, untuk berkorban baik harta maupun nyawa untuk memperjuangkan Islam dan memenangkannya diatas semua agama di dunia ini (Qs. 61: 9).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِا لْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saff 61: Ayat 9)

Umat Islam yang sedang tenggelam dalam penghambaan kepada materi, kecintaan yang berlebihan kepada dunia dan perasaan takut kepada maut, begitu kaget ketika mendengar seruan beliau as. untuk banyak berkorban, zuhud, hidup sederhana, lebih mengutamakan agama dari pada dunia dan bersungguh-sungguh dalam penghambaan kepada Allah serta tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Bagi mereka saat itu, seruan ini sangat ganjil. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هٰۤاَ نْـتُمْ هٰۤؤُلَآ ءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۚ فَمِنْكُمْ مَّنْ يَّبْخَلُ ۚ وَمَنْ يَّبْخَلْ فَاِ نَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّـفْسِهٖ ۗ وَا للّٰهُ الْغَنِيُّ وَاَ نْـتُمُ الْفُقَرَآءُ ۚ وَاِ نْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَـبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْۤا اَمْثَا لَـكُم

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya, dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu.”(QS. Muhammad 47: Ayat 38)

Demikianlah sebelum beliau as. mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud, tidak ada seorang pun yang pernah menyatakan hal itu di tengah-tengah beliau, dan tidak ada seorang pun yang menyerukan untuk menghidupkan kembali agama dan menegakkan syariat yang saat itu sudah mereka campakkan ke belakang punggung mereka. Jika pun ada yang pernah mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi atau nabi, tetapi semuanya tidak ada yang datang dengan dukungan Tuhan dan tentara-Nya yang tidak terbatas. Dan pendakwaannya tidak pernah bisa bertahan lama, karena saat ini hanya Jamaat beliau as (yakni Jamaah Muslim Ahmadiyah). saja yang telah berdiri lebih dari 130 yang dari hari ke hari semakin mendapatkan kemajuan dan kemenangan meskipun penentangan tetap saja dilakukan.

3). Beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as bukanlah karena beliau menginginkan kerajaan atau kehidupan dunia, tapi semata-mata karena perintah Allah SWT.

Tujuan dari diutusnya beliau adalah yuhyiddiina wayuqiimusysyari’ah yakni menghidupkan kembali agama Islam dan menegakkan syari’at. Memang betul beliau adalah keturunan bangsawan, tapi sama sekali sangat tidak peduli dengan statusnya itu malah beliau senantiasa menyibukkan diri dalam pengkhidmatan kepada agama. Jadi demikianlah para nabi yang datang dari Allah, tak pernah seorang pun yang mengharapkan dunia meski pada akhirnya dunia itu sendiri akan bersimpuh di bawah telapak kakinya.

4). Sunnah yang ke empat menurut kesaksian Heraklius adalah bahwa orang yang mendakwakan nabi itu, tidak pernah punya catatan yang buruk dengan kejujuran. Dia orang yang dikenal sangat jujur dan tidak pernah sekalipun berkata dusta kepada sesama manusia, apalagi kepada Tuhan.
Dari sejak kecil hingga sebelum pendakwaannya, orang-orang di sekitar Hadhrat Ahmad as. sangat mengenal ketinggian akhlak beliau. Bukan saja kaum muslimin, tapi juga orang-orang Hindu, Kristen dan Sikh yang hidup di sekeliling beliau. Bahkan bukan hanya di Qadian saja, tetapi juga ke kota-kota lainnya di sekitar Qadian. Hanya saja, sebagaimana sunnah para nabi bahwa setelah pendakwaannya orang-orang yang dahulu menyanjung dan membanggakannya serta merta mendustakan, memperolok-oloknya, dan menentangnya.

5). Sunnah kelima yaitu bahwa para pengikut pertama dari seorang nabi yang benar adalah orang-orang lemah, rakyat biasa dan jarang sekali dari golongan bangsawan dan alim ulamanya.

Demikian pula para pengikut Hadhrat Ahmad as. adalah orang-orang lemah dan rakyat biasa. Suatu kali penulis pernah ditanya oleh seorang teman, kalau Mirza Ghulam Ahmad itu benar kenapa para kiayi dan ulama umat ini tidak beriman malah menentangnya. Saat itu penulis jawab, bahwa yang pertama-tama beriman kepada Rasulullah ﷺ juga dulu bukanlah Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan dan para pemuka Quraisy yang lainnya. Akan tetapi yang baiat dari kalangan orang-orang biasa seperti Hadhrat Bilal ra, dari keluarga Hadhrat Yasir ra, Hadhrat Ali bin Abi Thalib ra, dan Hadhrat Abu Bakar Ra yang meski beliau Ra orang terpandang tapi tidak memiliki peranan dan kekuasaan yang besar di kalangan mereka.

Kalau standar kebenaran itu adalah selalu yang diikuti oleh orang-orang besar, lalu bagaimana dengan fakta tadi? Yang ada justru sebaliknya, bahkan dengan mengikuti kebenaran itu akan menjadikan orang yang tadinya biasa saja menjadi luar biasa, yang dianggap hina menjadi mulia, dan sebaliknya mereka yang menentang dan menolak serta mengingkarinya Allah SWT akan menjadikan mereka yang tadinya mulia menjadi hina.

Hal tersebut Sesuai Ilham dari Allah yang diterima Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, yang berbunyi:

إني معين من أراد إعانتك واني مهين من أراد اهانتك

“Sungguh Aku (Allah) akan Menolong orang yang menolongmu dan Aku (Allah) akan Hinakan orang yang menghinakanmu”

6). Sunnah yang ke enam yaitu bahwa pengikut para nabi itu akan senantiasa bertambah banyak, semakin besar dan hebat penentangan maka akan semakin besar pula jumlah para pengikutnya. Ketika pada tanggal 23 maret 1889, beliau pertama kali menerima baiat sebanyak 40 orang di Ludhiana, maka lihatlah saat ini ketika telah berjalan lebih dari seratus tahun berapa jumlah anggota jemaat Ilahi ini. pengikutnya saat ini bertambah banyak bahkan sudah puluhan juta bahkan sudah mendekati ratusan juta jiwa yang tersebar di lebih dari 213 negara. Padahal dari waktu ke waktu gelombang penentangan tidak pernah surut, berbagai macam makar, fitnah dan kekejaman selalu mereka timpakan kepada jemaat ini. Inilah salah satu fakta tidak terbantahkan akan kebenaran Hadhrat Ahmad as, apa yang berlaku kepada rasul-rasul terdahulu maka kini berlaku pula kepada beliau dan para pengikutnya.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Mahdi wal al-Masihil Mau’ud as) Bersabda:

“Ini merupakan bukti kebenaran, yakni dunia berusaha keras melakukan penentangan tetapi ternyata kebenaran semakin menyebar. Tdk ada satu unsur pun yg tdk dilakukan oleh para penentang kita dalam melakukan penentangan, tetapi akhirnya mereka tetap saja gagal. Ini merupakan tanda dari Allah” (Malfuzat jilid 4, hal 185)

7). Sunnah yang ke tujuh yaitu, para pengikut nabi yang benar yang keimanannya telah merasuk ke dalam relung Qalbunya maka tidak akan ada yang keluar atau kembali kepada pengingkarannya. Nah jika saat ini ada keberatan bahwa banyak di antara anggota jemaatnya yang keluar dari Ahmadiyah, yang melepaskan keimanannya maka hendaknya hal itu diselidiki terlebih dahulu. Mereka pasti orang yang keimanannya tidak sampai ke dalam hatinya, tapi tersangkut di tenggorokkannya. Dan bagi yang kondisinya seperti itu, tidak bisa dijadikan standar atas perkara (sunnah ke tujuh) itu. Lihatlah sejak masa Nabi saw. orang-orang seperti itu akhirnya mereka kembali kepada keadaannya semula, dan saat ini entah sudah berapa juta kaum muslimin yang meninggalkan agamanya. Jadi yang dimaksud oleh Heraklius adalah mereka yang memiliki keimanan yang hakiki, yang tertancap di dalam hatinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَا بِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَآءِ

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 24)

8). Sunnah yang ke delapan, bahwa seorang nabi yang benar itu tidak pernah berkhianat. Baik itu sebelum pendakwaannya maupun setelah pendakwaannya. Sejarah telah mencatat bahwa Hadhrat Ahmad as. memiliki akhlak yang sangat tinggi, mulia dan terpuji yang tidak hanya di akui oleh umat Islam saja tapi juga oleh umat-umat agama lain, yang sangat mustahil padanya terdapat sifat pengkhianat.

9). Setiap nabi yang datang dari Allah SWT, senantiasa memerintahkan untuk beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari perbuatan munkar.

Demikianlah yang diperintahkan Hadhrat Ahmad as. kepada para pengikutnya, ini salah satunya bisa dibaca di sepuluh syarat-syarat bai’at. Tidak ada satu kata pun dari beliau as yang berisi penentangan dan pengingkaran terhadap syariat Muhammad ﷺ, bahkan beliau membawa kembali ruhnya itu dari bintang tsurayya ke dalam dada umat Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as Bersabda:

جئت لاقيم الناس على التوحيد (الاستفتاء: ٤٥)

“Aku datang untuk menegakkan manusia diatas Tauhid”. (Kitab Al-istifta hal. 45)

Di akhir hadits, Heraklius berkata bahwa dia yakin nabi itu (Muhammad ﷺ) akan datang tapi dia sedikit pun tidak menyangka bahwa dia akan datang dari tengah-tengah bangsa Arab.

Demikianlah para ulama dan kaum muslimin sejak dulu meyakini, bahwa Imam Mahdi dan Isa (Masih Mau’ud) akan datang, tapi mereka tidak pernah menyangka bahwa dia (Al-Mahdi wal Masihil Mauud as) akan datang dari desa Qadian (India) dan sosoknya adalah Mirza Ghulam Ahmad as. sehingga hal ini memberatkan mereka untuk beriman dan tetap dalam pendirian mereka meskipun seribu satu dalil dan bukti telah nyata di depan mereka.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Mahdi wal Masih al-Mau’ud as) mengatakan bahwa Jamaah yang benar pasti akan lestari dan pengikutnya akan bertambah banyak serta ajarannya akan berkembang dan tersebar ke seluruh dunia, beliau as bersabda :

“Seseorang yang mendakwahkan diri menerima wahyu ilahi dan mendirikan sebuah Jamaah, lalu ajarannya berkembang dengan baik serta tegak di dunia dan berjalan secara permanen, maka hendaknya dipahami bahwa orang itu adalah benar dan ajarannya adalah benar pada zamannya. Sebab ajaran seorang pendakwah palsu tidak akan berkembang dan tidak akan pernah berdiri tegak.” (Siratul Mahdi, oleh Hz. Mirza Bashir Ahmad r.a, jld.3, h. 43-44)

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنَّمَاۤ اُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَآءَ اِذَا مَا يُنْذَرُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya memberimu peringatan sesuai dengan wahyu.” Tetapi orang tuli tidak mendengar seruan apabila mereka diberi peringatan.” (QS. Al-Anbiya: Ayat 45)

Semoga saja Allah SWT memberikan taufik dan petunjuk-Nya kepada mereka yang di dalam hatinya ada fitrat yang baik dan hatinya takut kepada Allah. Dan semoga kisah kesaksian Heraklius ini akan semakin menambah kokohnya keimanan di dalam hati setiap muslim Ahmadi, dan semakin memudahkan sampainya taufiq dan hidayah Allah kepada mereka yang masih meragukan atau menolak pendakwaannya. []
Wallaahu’Alam bis shawab

والسلام على من اتبع الهدى
“Keselamatan dan kedamaian atas mereka yang mengikuti petunjuk (Allah dan Rasul-Nya)”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian