Mengungkap Nama “Ahmad” dalam Surah As-Shaaf


Menjawab tulisan dari buku yang ditulisan oleh ust. Dede. A. Nashrudin (DAN) dengan judul: Koreksi Ahmadiyyah dalam Masalah Kenabian”.


Oleh: Syamsul Ulum

Dalam bukunya: “Koreksi Terhadap Pemahaman Ahmadiyah (KTPA)”. sdr. DAN menulis sebagai berikut:

KEBERATAN KE-VIII: “Tentang Nabi Yang Bernama Ahmad”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰٮةِ وَمُبَشِّرًا بِۢرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗۤ اَحْمَدُ ۗ فَلَمَّا جَآءَهُمْ بِا لْبَيِّنٰتِ قَا لُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad.” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”” (QS. As-Saff 61: Ayat 6)

Dalam bukunya (KTPA) Sdr. DAN berkomentar:

“Ringkasnya dhamir yang kembali kepada من bisa dua macam, yaitu bisa kembali kepada lafazhnya dan bisa kembali kepada maknanya. Begitu pula dhamir (هو) dalam kalimat يدعى الى الإسلام وهو adalah kembali pada dhamir lafazh (من) yang ada pada kalimat ممن افترى bukan kembali kepada kata “AHMAD”. Andaikan dhamir (هو ) yang ada dalam kalimat tersebut kembali pada AHMAD, sebagaimana penjelasan pengikut Ahmadiyah diatas dia (Ahmad] diajak kepada agama Islam), maka itu berarti bahwa rasul yang bernama Ahmad tersebut pada mulanya belum masuk agama Islam, alias tadinya orang kafir. Buktinya dia harus diajak kepada Islam (nauudzu billahi min dzalik). Adakah seorang rasul yang tadinya orang kafir? Sungguh ini sangat kacau”. (KTPA, hal. 168)

TANGGAPAN:

Sebenarnya pikiran sdr. DAN yang kacau balau itu, karena mencoba memaksakan hawa nafsunya yang dipenuhi dengan kesombongan dengan melakukan silat lidah untuk memalingkan pengertian yang sebenarnya. Sdr. DAN mengemukakan pendapatnya bahwa dhamir ( هو ) itu kembali kepada ( من ) yang ada pada kalimat ممن افترى (orang yang mengada-adakan dusta).

Pertanyaannya siapa (من) orang itu? Sayangnya Sdr. DAN tidak bisa menjelaskannya.

Perlu sdr. DAN ketahui bahwa ayat ومن اظلم ممن افترى على الكذب adalah teguran dan dampratan Tuhan terhadap orang yang dalam ayat sebelumnya (ayat 7) telah menolak seruan Nabi Ahmad sebagaimana dinubuwatkan oleh Nabi Isa a.s dan menganggap apa yang dibawa Nabi Ahmad itu sihir (kedustaan). Dengan ayat itu Tuhan bermaksud mengatakan bahwa tidak mungkin Nabi Ahmad itu seorang Muftari (mengada-ada dusta) terhadap Allah, karena orang yang mengada-ada itu adalah seorang yang paling zhalim. Oleh karena itu dalam kaitan diantara ayat-ayat itu jelaslah bahwa perkataan (هو ) harus dikembalikan kepada Nabi Ahmad. Perkataan ( هو ) itu berarti “ia”.

Dalam ilmu bahasa manapun perkataan “ia” harus dikembalikan kepada orang atau benda yang disebutkan terlebih dahulu.
Jadi Pertanyaan sdr. DAN diatas itu seperti pertanyaan orang bodoh lagi buta.

Perlu diketahui oleh sdr. DAN bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s adalah seorang muslim sejati yang dalam hidupnya dihabiskan untuk menyebarkan serta membela Islam dari orang-orang yang hendak menghancurkan Islam, dan hal tersebut diakui oleh ulama pada zamannya baik yang setuju ataupun yang tidak setuju. Tetapi karena pengakuan beliau a.s sebagai Imam Mahdi dan al-Masih Mau’ud (yang dijanjikan) oleh Rasulullah ﷺ itu, maka para ulama yang tidak setuju dan tidak menerima dengan pengakuannya tersebut memberikan fatwa dan tuduhan kepada beliau a.s sebagai seorang non Muslim dan kafir. Lalu para ulama tersebut menyerukan serta mengajak beliau a.s (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s) dan para pengikutnya agar kembali kepada Islam yang benar menurut mereka karena dianggap sesat dan murtad.

Itulah maksud dari ayat:
وهو يدعى الي الإسلام
(dan dia diajak ke dalam Islam)
artinya bahwa kata (هو) yakni Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s dan juga para pengikutnya diajak oleh para ulama yang menentangnya untuk masuk ke dalam Islam karena dianggap bukan orang Islam (muslim). Jadi bukan karena beliau a.s telah diajak ke dalam Islam oleh para ulama, berarti beliau a.s itu adalah seorang kafir, seperti yang dikatakan oleh sdr. DAN dalam tulisannya itu. Oleh karena itu perbuatan sdr. DAN yang menganggap perkataan ( هو ) pada orang yang sebelumnya tidak disebut namanya adalah perbuatan tukang sulap yang sedang kebingungan.

MUHAMMAD dan AHMAD.

Di dalam salah satu ayat dari surah Ashaaf ayat 6 ada di terangkan bahwa Al-Masih (Nabi Isa as) berkata: “Saya membenarkan apa-apa yang ada di dalam Taurat”. Karena di dalam Taurat banyak khabar gaib tentang kedatangan Nabi Muhammad ﷺ. di dalam injil juga ada disebutkan nama Muhammad bukan Ahmad seperti tersebut di dalam Injil Barnabas.

Nawab Siddik Hasan Khan, menulis di dalam tafsir Fatahul Bayan, bahwa di dalam Injil Barnabas ada tertulis demikian:

لكن هذه الإحانة والإستهزؤ تبقيني الي ان يجيىء محمد رسول الله

Artinya: “Al-Masih (Yesus) berkata: ini penghinaan dan perolok-olokan terhadap diriku akan tetap berlaku sampai datangnya Muhammad Rasulullah.

Syeikh Muhammad Tahir dalam Majma Biharul Anwar, berkata: “Bila nanti Muhammad ﷺ hampir datang, maka orang-orang ahli kitab seringkali menamakan anak-anaknya dengan nama Muhammad.”

Di dalam kitab Tajul ‘Urus ada tertulis bahwa: Ibnu Bari menerangkan bahwa di jaman Jahiliyah (sebelum Nabi Muhammad saw lahir) ada 7 orang yang diberi nama Muhammad, diantaranya:
1. Muhammad bin Sufyan bin Majasi Tamimi.
2. Muhammad bin Atwarah Allabtsil Kinani
3. Muhammad bin Ahihah bin Hallaj Alausi
4. Muhammad bin Khamran bin Malik Al-Ja’fi yang mashur disebut Attanwir
5. Muhammad bin Khaza’i bin Al-Hanah
6. Muhammad bin Muslimah Al-Anshari
7. Muhammad bin Hirmaz bin Malik Tamimi
Kemudian dalam As-shaaf ayat 6, dijelaskan pula bahwa menurut Al-Masih (Nabi Isa as) dibelakang beliau akan datang seorang utusan yang bernama Ahmad.

Sekarang coba sdr. DAN perhatikan. Siapakah yang dimaksud dengan Ahmad ini?. Apakah Nabi Muhammad ﷺ sendiri ataukah untuk seorang Nabi yang bernama Ahmad, yang akan datang setelah Nabi Muhammad ﷺ?

Untuk lebih jelasnya atas pertanyaan diatas marilah kita selidiki lebih mendalami lagi tentang nama AHMAD dalam surah As-shaaf ayat 6 tersebut .Kita lihat terlebih dahulu kepada namanya.

1. Dalam surah As-Shaaf ayat 6 disebutkan namanya AHMAD. Jika kita perhatikan, di dalam Al-Qur’an tidak ada sebutan nama AHMAD kecuali pada ayat ini. Dibeberapa tempat Allah SWT memanggil Rasulullah ﷺ selalu dengan nama MUHAMMAD.

2. Abdul Muthalib sendiri menamakan beliau Saw dengan nama MUHAMMAD, tidak pernah memanggil beliau ﷺ dengan nama AHMAD.

3. Di dalam hadits tidak pernah orang-orang menyebut nama beliau ﷺdengan nama AHMAD, tetapi selalu dengan nama MUHAMMAD

4. Di dalam 2 kalimat syahadat kita diwajibkan menyebut nama MUHAMMAD Rasulullah ﷺ dan tidak diizinkan sama sekali untuk memakai nama AHMAD

5. Di dalam azan, umat Islam tidak boleh menyebut AHMAD Rasulullah tetapi harus MUHAMMAD Rasulullah.

6. Di dalam Shalawat, tidak pernah disebut nama Rasulullah ﷺ dengan nama AHMAD melainkan selalu MUHAMMAD.

7. Rasulullah ﷺ selalu menulis surat-surat kepada Raja-raja dengan tanda tangan MUHAMMAD tidak pernah dengan nama AHMAD.

8. Pada cap atau setempelnya sendiri tidak pernah beliau ﷺ melukiskan dengan nama AHMAD melainkan dengan nama MUHAMMAD.

9. Sahabat-sahabat beliau ﷺ sendiri belum pernah sekali juga menyebut dan memanggil nama beliau ﷺ dengan dengan nama AHMAD, melainkan selalu dengan nama MUHAMMAD.

10. Orang Musyrikin di zaman itu belum pernah menyebut Rasulullah ﷺ sekalipun di dalam caci maki dengan nama AHMAD, akan tetapi senantiasa mereka mengatakan MUZAMMAM, dengan wazan (perbandingan) MUHAMMAD.

11. Dari keterangan diatas kita mengetahui dengan jelas bahwa nama dzat dari Rasulullah saw itu adalah MUHAMMAD bukan AHMAD.

12. Bahkan di zaman Jahiliyah sebelum Nabi Muhammad ﷺ lahir, banyak orang tua pada masa itu memberi nama MUHAMMAD kepada anak-anak mereka, dikarenakan menurut nubuwatan di dalam Injil bahwa nama nabi yang akan datang di bangsa Arab itu bernama MUHAMMAD, mungkin barangkali mereka berharap mudah-mudahan kenabian itu turun kepada anak-anak mereka. Oleh karena itu, nyata sekali bahwa nabi yang mereka nantikan itu namanya MUHAMMAD bukan AHMAD.

UMAT MUHAMMAD DAN UMAT AHMAD


Dalam kitab Dalailun Nubuwwah,

Abu Naim al-Asbahani (w. 430 H/1038M) menulis bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:


“Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Maha Agung, setelah mendekatkan Musa dan dia bermunajat dan berkata: “Ya Tuhan, aku jumpai dalam Taurat suatu umat yang paling baik diantara manusia ini, mereka suka amar ma’ruf nahi munkar (perintah berbuat baik dan melarang berbuat kemungkaran), mereka beriman kepada Allah, maka jadikanlah umat itu, umatku”. Allah menjawab: “Itu adalah umat Muhammad.

Musa berkata: “Ya Tuhan, aku jumpai di dalamTaurat suatu umat, mereka itu umat terakhir, tetapi paling depan pada hari kiyamat (aku mohon), jadikanlah mereka itu umatku”. Tuhan menjawab: “Mereka itu adalah umat Ahmad”.

Musa berkata: “Ya Tuhan, aku jumpai di dalamTaurat bahwa ada umat yang kitab sucinya berada dalam dada (hati) mereka, mereka senang membacanya, sedang orang-orang sebelumnya membaca kitab-kitabnya dengan mata melihat dan tidak menghafalnya, maka jadikanlah umat itu, umatku”. Tuhan menjawab: “Itu adalah umat Muhammad”.

Musa berkata: “Ya Tuhan, aku jumpai di dalamTaurat suatu umat yang percaya kepada kitab-kitab pertama dan yang akan datang kemudian dan mereka memerangi para pemimpin kesesatan, sampai akhirnya memerangi Si pece pendusta (Dajjal), maka jadikanlah mereka itu umatku”. Tuhan menjawab: “Itu adalah umat Ahmad”. (HR. Abu Hurairah, Baihaqi dan kitab Dalailun Nubuwah 1/14)

Dan perlu juga diketahui oleh sdr. DAN, bahwa kami juga tidak menyanggah bahwa ayat “Ismuhu Ahmad” pada surat Ash-Shaaf tersebut pada awal turunnya memang untuk Rasulullah ﷺ karena Al-Qur’an turunnya kepada Rasulullah Saw, tetapi nama “Ahmad” itu bukanlah nama dzat (proper name) Rasulullah ﷺ, tetapi nama sifat beliau Saw, sebagaimana sabdanya:
صفتي أحمد المتوكل
“Ahmad al-Mutawakil adalah nama sifatku”. (Jamius Shagir)

Dan nama sifat “Ahmad” Rasulullah ﷺ ini, nanti di akhir zaman akan zhahir pada diri Imam Mahdi atau Masih Mau’ud a.s (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad) sebagai Buruz nya (cerminan Rasulullah ﷺ) dan juga sebagai pewaris nama “Ahmad” tersebut.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, berkata tentang kedudukan dan hubungan dekatnya dengan Rasulullah ﷺ, beliau a.s bersabda:

“Imam Mahdi itu akan menjadi pewaris dari beliau ﷺ (Nabi Muhammad ﷺ) seperti seorang anak akan menjadi pewaris bapaknya, juga akan mewarisi yang mulia Rasulullah saw dalam hal Nama, Ilmu dan Keruhanian. Jelasnya dalam segala hal dan aspek akan memperlihatkan gambar kemuliaan dan kepribadian beliau saw. hal ini bukan datang dari pihaknya sendiri, akan tetapi semua itu diambilnya dari yang mulia Rasulullah ﷺ dikarenakan kepatuhannya. Dia (Imam Mahdi) benar-benar memperlihatkan wajah yang mulia Rasulullah saw keseluruh dunia. Dengan jalan “ Buruzi” (cerminan) atau “Zhilli” (bayangan) dia akan mewarisi dan menunjukan nama, akhlak, ilmu pengetahuan dan juga gelar kenabian Nabi kita Muhammad ﷺ.”

Dalam buku I’jazul Masih, beliau a.s bersabda:

كذالك ورث المسيح الموعود إسم أحمد الذى هو مظهر الرحيمية و الجمالية

Artinya: “Demikian juga Dia (Allah SWT) mewariskan kepada Al-Masih Al-Mau’ud nama Ahmad yang menjadi Mazhar dari sifat Rahimiyah (kasih sayang) dan Jamaliyah (keindahan)”.

Beliau a.s juga bersabda:

وإنّ نبيّنا خاتم الا نبياء لانبي بعده الذي ينوّر بنوره وسيكون ظهوره ظلّ ظهوره

Artinya: “Dan sesungguhnya Nabi kita (Muhammad ﷺ) adalah Khaataman-Nabiyyin tidak ada nabi sesudah beliau kecuali nabi yang disinari cahayanya sehingga kehadirannya sebagai Zhil (bayangan) dari kehadirannya (Nabi Muhammad ﷺ)”.

Mirza Basyirudin Mahmud Ahmad r.a (Khalifatul Masih al-Tsani) bersabda :

“Siapakah yang tidak mengerti bahwa tanda seorang guru yang cakap ialah adanya sejumlah murid yang cakap, dan tanda seorang maharaja yang berkuasa ialah ada raja-raja besar bernaung (Zhil) dibawah kedaulatannya “.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, bersabda:

وجعلني بروزا لخاتم النبيين وسيّد المرسلين

Artinya: “Dan Dia (Allah SWT) telah menjadikan saya sebagai Buruzi (cerminan) dari Khaataman-Nabiyyiin dan penghulu para rasul (Muhammad ﷺ)”.

Penjelasan:

Perlu juga sdr. DAN mengerti istilah-istilah Tashawwuf. Menurut Ahli Tashawwuf, Zhilli atau Buruzi berarti pemunculan seseorang dalam kekuatan dan semangat orang lain yang sudah meninggal. Seperti Yahya Pembaptis adalah Elia kedua (Nabi Ilyas a.s) yang ditunggu akan datang oleh umat Yahudi. Padahal Nabi Ilyas a.s telah wafat dan beliau a.s tidak akan hidup kembali. Keyakinan “Datang Kembali” terhadap orang yang sudah meninggal ini, diapakai oleh Ahli Tashawuf dalam pengertian Keruhanian dan Kiasan. Istilah Isa kedua atau Buddha kedua bukanlah berarti bahwa kedua orang yang telah meninggal dunia itu memperoleh suatu kelahiran baru (reinkarnasi), bukanlah seperti itu pengertiannya. Istilah Orang kedua (seperti Isa kedua atau Buddha kedua) itu secara pribadi (personalnya) berbeda dari orang pertama. (misalnya Nabi Isa yang pertama yang sudah wafat, tidak sama dengan Nabi Isa Kedua atau Al-Masih yang dijanjikan akan turun), tetapi mempunyai persamaan dengan prototipenya (jenis atau modelnya) dalam beberapa sifat dan ruhaninya.

Ahli-ahli Tashawwuf dulu mengemukakan salah satu sabda Nabi Muhammad saw bahwa beberapa orang diantara para pengikut beliau lahir dalam jiwa Ibrahim a.s, sedangkan lainnya dalam semangat Musa a.s, Isa a.s dan nabi-nabi lainnya, tetapi mereka tidak sama. Hanya penonjolan dalam persamaan yang memberi hak kepada seseorang untuk memakai nama tertentu.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s dari Qadian, telah bangkit di zaman ini dengan kekuatan dan jiwa Isa ibnu Maryam a.s, dan itulah sebabnya mengapa kedatangannya adalah merupakan kedatangan Nabi Isa ibnu Maryam yang kedua. Oleh karena itu menurut para Ahli Tashawwuf bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah Manusia sempurna (Insan Kamil). Maka untuk merealisasikan aspek dari Nur Muhammad tersebut, maka para nabi lain telah muncul di dunia ini, dan kesempurnaan itu secara penuh telah terwujud tatkala Muhammad ﷺ sendiri muncul. Semua nabi yang datang sebelum beliau Saw adalah hanya sebagian pantulan, realitasnya hanyalah Muhammad ﷺ sendiri. Persis halnya Yahya Pembaptis adalah kedatangan kedua Nabi Ilyas a.s. Maka demikian pula para nabi terdahulu merupakan pelopor dari kedatangan Muhammad Saw. dan sekarang beliau ﷺ telah datang, maka beliau menjadi materai nabi-nabi. Para nabi lain datang hanya untuk memberitakan kedatangan beliau ﷺ. mereka adalah perintis dan dalam ketidak hadiran sang penghulu kepada mereka diberikan kebebasan bergerak. Karena itu mereka disebut Nabi-nabi yang berdiri sendiri (Nabi Mustaqil). Oleh karena, sekarang Sang Penghulu (Nabi Muhammad ﷺ) sedang memerintah dan menjalankan kekuasaannya, maka tak seorangpun dapat berdiri sendiri. Setiap orang harus bertindak dibawah pimpinan dan naungan beliau Saw. Itulah sebabnya mengapa para Ahli Tashawwuf, seluruhnya menganggap hukum (syari’at) beliau ﷺ adalah final dan Nabi Muhammad ﷺ adalah yang terakhir dari nabi-nabi.

Berikut ini isi Injil Barnabas yang menyebut tentang Nabi Muhammad bukan Ahmad :

1) Bab 39 Barnabas: ”Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Allah Tuhan kita… Tiada Tuhan Selain Allah dan dan Muhammad adalah utusan-Nya”.

2). Masih pada bab 39 yang mengisahkan tentang Nabi Adam, nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam dialog antara Nabi Adam dengan Tuhan. ”…Apa arti kata-kata, Muhammad utusan Allah, apakah ada manusia sebelum aku?”

3) Bab 41 Barnabas: “Atas perintah Allah, Mikael mengusir Adam dan Hawa dari surga, kemudian Adam keluar dan berbalik melihat tulisan pada pintu surga ‘Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah…”

4) Bab 44 Barnabas: Pada bab ini Yesus atau Nabi Isa menyebut nama Nabi Muhammad. ”Oh, Muhammad Tuhan bersamamu…”

5) Bab 97: Yesus menjawab, “Nama Mesias sangat mengagumkan, karena Allah sendiri yang memberinya nama, ketika menciptakan jiwanya dan menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: ‘Tunggu Muhammad; karena kamu Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan banyak makhluk… Siapa pun yang memberkatimu akan diberkati, dan barangsiapa mengutukmuu akan dikutuk..”

6) Bab 112: Dalam bab ini Nabi Isa (Yesus) bercerita kepada Barnabas bahwa dirinya akan dibunuh. Namun, kata Nabi Isa, Allah akan membawanya naik dari bumi. Sedangkan orang yang dibunuh sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu adalah Nabi Isa. ”Tetapi Muhammad akan datang… Rasul Allah yang suci,” kata Nabi Isa. Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220. (Isi Injil Barnabas di atas dikutip dari barnabas.net).

MENYINGKAP KALIMAT “ISMUHU AHMAD” DALAM AL-QUR’AN.

1. Ismuhu Al-Masih Isa Ibnu Maryam (اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ)

Allah SWT berfirman:

اِذْ قَالَتِ الْمَلٰٓئِكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ ۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ

“(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih ‘Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),”
(QS. Ali ‘Imran: Ayat 45)

Qs. Ali Imron: 46. (ISMUHU AL-MASIH ISA IBNU MARYAM). Ayat tersebut sebagai nubuwatan tentang kedatangan seorang rasul yang bernama Al-Masih Isa ibnu Maryam as dan dunia mengenal nya sebagai NABI ISA IBNU MARYAM as.

2. Ismuhu Yahya (اۨسْمُهٗ يَحْيٰى)

Allah SWT berfirman:

يٰزَكَرِيَّاۤ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ اۨسْمُهٗ يَحْيٰى ۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

“(Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.””
(QS. Maryam: Ayat 7)

Qs. Maryam: 8. (ISMUHU YAHYA) Ayat tersebut sebagai nubuwatan tentang kedatangan seorang rasul yang bernama Yahya as dan dunia mengenal nya sebagai NABI YAHYA as.

3. Ismuhu Ahmad (اسْمُهٗۤ اَحْمَد)

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰٮةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى *اسْمُهٗۤ اَحْمَد*ُ ؕ فَلَمَّا جَآءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad.” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”” (QS. As-Saff: Ayat 6)

Qs. As-Shaaf: 7 (ISMUHU AHMAD). Ayat tersebut sebagai nubuwatan tentang kedatangan seorang rasul yang bernama Ahmad. Tapi kenapa Muhammad ﷺ.? padahal Muhammad adalah nama yg diberikan oleh kakeknya Abdul Muthallib berdasarkan mimpi dari Ḥaḍhrat Aminah, ibunda Rasūlullah ﷺ. Sedangkan Ahmad adalah seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa asa dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an nama Muhammad disebut hanya 4 kali sedangkan nama Ahmad hanya 1 kali. Nama Ahmad adalah nama seorang rasul yang disampaikan oleh nabi Isa as dalam Al-Qur’an surah As-shaaf yang akan diutus setelah dirinya. Kenapa Nabi Isa as tidak mengatakan Ya’tiy mim ba’dis muhu Muhammad tapi beliau as mengatakan ya’tiy mim ba’dis Ismuhu Ahmad, apa rahasianya?.

AHMAD DALAM SURAH AS-SHAF SEBAGAI NAMA SIFAT RASŪLULLAH DAN SEBAGAI NAMA DZAT BAGI AL-MAHDI as.

Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad as menjelaskan tentang nama “AHMAD dalam surah As-Shaf ayat 7:

“Orang-orang ini bertanya berulang-ulang dimana dalam Al-Qur’an nama itu disebutkan? Tampaknya mereka tidak mengetahui bahwa Allah memanggilku dengan nama Ahmad.  Janji baiat diambil dengan nama Ahmad. Bukankah nama ini terdapat dalam Al-Qur’an?”. ( Al Hakam 17 Oktober 1905 hal 10)

Beliau as mengatakan:

“Dalam kata-katanya seperti “dedaunan mencuatkan ujung-ujung kecambahnya” nabi Isa menunjukkan kepada kaum yang datang kemudian supaya menggabungkan diri ke dalam kelompok sahabi Nabi Muhammad ﷺ dengan imam mereka yang dengan jelas disebutkan dengan nama Ahmad”. (Ijazul Masih, bab 2 hal 22-23)

Mln. Muhammad Ali (Ahmadiyyah Lahore) sebelum kemudian membentuk golongan tersendiri beliau berkata: siapa Mirza Ghulam Ahmad itu? dengan kata-kata Al-Qur’an kami menjawab ia akan datang sesudahku namanya Ahmad.” (review of religions Urdu vol 12 no 7 hal 236)

Lalu beliau Ra menjelaskan:

“Dari kutipan-kutipan ini kita dapat melihat bahwa Masih Mau’ud mengenakan nubuatan ini pada diri beliau sendiri. kita tinggal lah persoalan kenapa beliau juga menggunakan itu pada diri nabi Muhammad SAW? jawabannya ialah apa juapun nubuatan-nubuatan yang terdapat mengenai kebangkitan dan kemajuan umat beliau pada tingkat pertama itu terutama sekali berlaku terhadap beliau, kalau beliau ﷺ bukan Ahmad yang disebutkan disini mana mungkin Masih Mau’ud dapat menjadi Ahmad tertentu itu? padahal apa pun yang sudah diterima Masih Mau’ud semuanya datang kepada beliau dari nabi Muhammad ﷺ dan dengan perantaraan beliau. seandainya suatu sifat yang tidak berlaku terhadap nabi Muhammad dengan sendirinya itu juga harus dianggap tidak berlaku terhadap Masih Mau’ud. sakirana suatu zat tidak terdapat dalam sumber mata air ia juga harus tidak ada dalam sebuah gelas yang penuh dengan air dari sumber itu. oleh karena itu Nabi Muhammad ﷺ adalah Ahmad sebagai penggenapan nubuat itu pada tingkat pertama.” (Qaul-e-Faisal hal. 29)

Dari keterangan-keterangan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa menurut paham Ahmadiyah nama Ahmad yang terdapat dalam surah as-shaff dapat dikenakan pada diri nabi Muhammad ﷺ dan pada diri hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi as pada nabi Muhammad ﷺ sebagai nama sifati dan pada hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai nama dzati.

BA’DIY BA’ID DAN SEBUAH SILOGISME

Ada yang bertanya: Dalam Surah Asshaaf tersebut Nabi Isa as mengabarkan bahwa akan diutus seorang Rasul SETELAH KU yang bernama AHMAD. Nah bukankah seorang Rasul yang diutus setelah Nabi Isa as itu adalah Nabi Muḥammad ﷺ? Jadi Ahmad itu adalah Muḥammad ﷺ.

Jawab:

Ḥaḍhrat Utsman ra itu adalah seorang khalifah rasyidah setelah Abu Bakar ra. Dalam ilmu mantik dikatakan: C ada setelah B, dan B ada setelah A, maka C ada setelah A.

Perlu diketahui bahwa Kata SETELAH (من بعد) tidak selalu menunjukkan dalam waktu dekat, tapi bisa juga menunjukkan untuk waktu yang jauh. Coba kita perhatikan kata SETELAH (من بعد) dalam ayat Al-Qur’an dibawah ini. Apakan BA’DA dalam ayat “Min Ba’di Musa” itu untuk menunjukan waktu dekat atau untuk menunjukkan waktu yang jauh?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لُوْا يٰقَوْمَنَاۤ اِنَّا سَمِعْنَا كِتٰبًا اُنْزِلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰى مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِيْۤ اِلَى الْحَقِّ وَاِ لٰى طَرِيْقٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Mereka berkata, “Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur’an) yang akan diturunkan SETELAH MUSA, membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran, dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 30)

Coba perhatikan, pada ayat diatas dikatakan bahwa Allah SWT akan menurunkan sebuah kitab Al-Qur’an SETELAH MUSA (من بعد موسى) padahal kitab suci yg diturunkan setelah Kitab Taurat itu adalah kitab Injil bukan AlQur’an.

Pertanyaannya: Apakah kitab Al-Qur’an diturunkan kepada nabi yang diutus langsung setelah Musa as?

SIAPA YANG MEMBERI NAMA MUHAMMAD ?

MUḤAMMAD Adalah Nama Pemberian Allah Lewat Mimpi Ḥaḍhrat Aminah ra Ibunda Rasūlullah ﷺ..

Nabi Muhammad ﷺ lahir di Mekkah pada hari Senin 12 robiul awal tahun Gajah yang bertepatan (20 april 571 M). Nabi Muhammad ﷺ lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya wafat kira-kira 7 bulan sebelum beliau lahir, ketika beliau lahir kakeknya memberi nama Qustam (serupa nama anaknya yang telah meninggal), namun ibunya Aminah berkata kepada Abdul Mutholib bahwa: “Dalam mimpiku aku diperintahkan Tuhan untuk memberi nama Muhammad“. Maka Abdul Mutholib pun mengumumkan nama cucunya itu dengan nama Muhammad. Masyarakat Arab Quraisy merasa heran karena nama itu kurang lazim di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Ketika ditanya tentang hal itu Abdul Mutholib menjawab: “aku berharap agar ia dipuji Tuhan di langit dan dipuji manusia di bumi. Dalam bahasa Arab Muhammad artinya orang yang terpuji atau dipuji.” (syifazaqia.blogspot.com)

NAMA MUḤAMMAD ADALAH NAMA YANG DIBERIKAN ALLAH MELALUI IBUNDA RASŪLULLAH ﷺ.

Dalam sebuah riwayat yang dicatat Imam Ibnu Hisyam dalam al-Sirah al-Nabawiyyah dikatakan:

أَنَّ آمِنَةَ بِنْتَ وَهْبٍ أُمَّ رَسُولِ اللَّهِ كَانَتْ تُحَدِّثُ
: أَنَّهَا أُتِيَتْ، حِينَ حَمَلَتْ بِرَسُولِ اللَّهِ فَقِيلَ لَهَا: إنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، فَإِذَا وَقَعَ إلَى الْأَرْضِ فَقُولِي: أُعِيذُهُ بِالْوَاحِدِ، مِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ، ثُمَّ سَمِّيهِ مُحَمَّدًا.

“Sesungguhnya (Sayyidah) Aminah binti Wahab, Ibu Rasulullah SAW menceritakan bahwa beliau didatangi seseorang (Malaikat) ketika mengandung Rasulullah, kemudian dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya engkau mengandung pemimpin umat ini. Ketika dia lahir ke dunia ini, ucapkanlah: “Aku memohon perlindungan untuknya pada yang Maha Esa dari keburukan setiap orang-orang yang hasud, kemudian namai dia dengan nama Muhammad.” (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut: Darul Kutub al-A’rabiy, 1990,juz 1, hlm 180).

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:

مسند أحمد ١٦٥٢٥: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ صَالِحٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ الْكَلْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هِلَالٍ السُّلَمِيِّ عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَام لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ وَسَأُنَبِّئُكُمْ بِأَوَّلِ ذَلِكَ دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبِشَارَةُ عِيسَى بِي وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ وَكَذَلِكَ أُمَّهَاتُ النَّبِيِّينَ

Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad:
 Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur-Rahmān bin Mahdī, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Mu‘āwiyah — maksudnya Ibnu Ṣāliḥ — dari Sa‘īd bin Suwayd al-Kalbī, dari ‘Abdullāh bin Hilāl as-Sulamī, dari ‘Irbāḍ bin Sāriyah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan benar-benar penutup para nabi, sementara Nabi Ādam ‘alayhis-salām masih berada dalam bentuk tanah liatnya.
Dan akan aku kabarkan kepada kalian permulaan dari itu semua: yaitu doa bapakku Ibrāhīm, kabar gembira ‘Īsā tentang diriku, dan mimpi ibuku yang ia lihat — dan demikian juga halnya dengan para ibu dari para nabi." (Musnad Ahmad, Hadis no. 16525)

Menurut para ulama, tidak diketahui seorang pun dalam bangsa Arab yang menggunakan nama ini sebelum Rasulullah ﷺ. Ketika Abdul Muttalib ditanya oleh seseorang,“ma sammayta ibnâka? akan kau namai apa cucumu?” Abdul Muttalib menjawab: “Muhammadun.” Kemudian orang itu bertanya lagi:

كَيْفَ سَمَّيْتَ بِاسْمٍ لَيْسَ لِأَحَدٍ مِنْ آبَائِكَ
وَقَوْمِكَ؟ فَقَالَ: إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَحْمَدَهُ أَهْلُ الْأَرْضِ كُلُّهُمْ

“Bagaimana bisa kau menamainya dengan nama yang tidak seorang pun dari nenek moyang dan kaummu pernah menggunakannya?” Abdul Muttalib menjawab: “Sesungguhnya aku mengharapkan seluruh penduduk bumi memujinya.” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, Beirut: Darul Kutub al-Islamiyyah, juz 2, hlm 150-151).

Para Sejarawan mengatakan bahwa nama Muhammad tidak biasa dipakai di kalangan bangsa Arab, hanya tiga orang sebelum Rasulullah ﷺ yang menggunakan namanya. Ibnu Faurak menyebutkan, mereka adalah Muhammad bin Sufyan bin Mujasyi’ (nenek moyang al-Farazdaq sang penyair), Muhammad bin Uhaihah bin al-Julah bin al-Harits bin Jahjaba bin Kulfah bin Auf bin Amr bin Auf bin Malik bin al-Aus, dan Muhammad bin Humran bin Rabi’ah.

Dalam al-Raudl al-Unuf, Imam al-Suhaili menjelaskan:

لَا يُعْرَفُ فِي الْعَرَبِ مَنْ تَسَمَّي بِهَذَا الْإِسْمِ قَبْلَهُ-صلي الله عليه وسلم-إِلَّا ثَلَاثَةٌ طَمِعَ آبَاؤُهُمْ حِيْنَ سَمِعُوا بِذِكْرِ مُحَمَّدٍ وَيَقْرَبُ زَمَانُهُ وَأَنَّهُ يُبْعَثُ فِي الْحِجَازِ….

“Tidak diketahui di kalangan Arab seseorang yang menggunakan nama ini (Muhammad) sebelum Rasulullah ﷺ kecuali tiga orang yang ayahnya menjadi tamak ketika mendengar kenabian Muhammad, kedekatan masanya dan bahwa dia diutus di Hijaz…..” (Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm 151).

Menurut Ibnu Faurak, tiga orang itu telah mendatangi sebagian kerajaan yang memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab agama terdahulu dan mengabarkan kepada mereka kehadiran seorang nabi beserta namanya yang membuat mereka berwasiat kepada keluarganya, “in wulida lahu dzakar an yusammiyahu muhammadan, fa fa’alû dzalika, jika dilahirkan seorang anak laki-laki, namai dia Muhammad, kemudian mereka pun melakukannya.” (Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm 152).

Mengenai asal nama Muhammad, Imam al-Suhaili mengemukakan:

وَأَمَّا مُحَمَّدٌ فَمَنْقُوْلٌ مِنْ صِفَّةٍ أَيْضًا, وَهُوَ فِي مَعْنَي مَحْمُوْدٌ. وَلَكِنْ فِيْهِ مَعْنَي الْمُبَالَغَةِ وَالتِّكْرَارِ, فَالْمُحَمَّدُ هُوَ الَّذِي حُمِدَ 
مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ كَمَا أَنَّ الْمُكَرَّمَ مَنْ أُكْرِمَ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ

"Adapun 'Muhammad' juga berasal dari kata sifat, dan ia bermakna 'Mahmud' (yang dipuji). Namun, dalam kata 'Muhammad' terdapat makna muballagoh (menunjukkan arti sangat) dan pengulangan. Maka, 'Muhammad' adalah seseorang yang dipuji berulang kali, sebagaimana 'Mukarram' adalah seseorang yang dimuliakan berulang kali.” (Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm 153).

NUBUWAH KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DALAM TAURAT DAN UNJIL.

MUḤAMMAD ﷺ adalah seorang nabi dan rasul yang kedudukannya seperti Musa as (pembawa hukum syari’at atau agama) yang kedatangannya telah dinubuwatkan dalam Taurat dan Injil ( Taurat: Ulangan 18: 18-19, 34: 10. Injil: Matius 17, Yahya 16, Barnabas 43: 15-18, Barnabas 72: 13.).

1. Nubuwatan Nabi Muḥammad ﷺ dalam Taurat.

Taurat, Kitab Ulangan 18:18:

“Seorang nabi akan kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka (seorang Nabi dari keturunan nabi Ismail yakni Nabi Muhammad ﷺ) seperti engkau ini (Musa as adalah seorang nabi pembawa syariat); Aku akan menaruh FirmanKu dalam mulutnya (Wahyu Al-Qur’an), dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya ( sebagai rasul Allah)”.

2. Nubuwatan Nabi Muḥammad ﷺ dalam Injil.

Injil, Yohanes 14: 15-17:

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.” (Yohanes 14: 15-17)

AHMAD as adalah seorang rasul seperti Nabi Isa as (seorang nabi yang tidak membawa syari’at baru atau agama, tugasnya hanya melanjutkan dan menjalankan Taurat) sedangkan Ahmad as adalah Al-Mahdi wal Masihil Mau’ud as adalah seorang dari umat Islam yang kedatangannnya telah dinubuwatkan dalam AlQuran dan Hadits ( Qs. Ashaaf: 7) yang tugasnya hanya untuk meneruskan dan menjalankan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

Dalam Kitab Mardawih dan An-Najmus tsaqib dikatakan bahwa nama Imam Mahdi adalah Ahmad:
عن انس رضي اللّه عنه قال : قال رسول اللّه عليه : عصابة تغزوا الهند و هى تكون مع المهدى اسمه احمد

Dari Anas Ra berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ” ada segolongan orang akan berperang dengan India, dan golongan itu bersama Al-Mahdi yang bernama AHMAD”. (Kitab An-Najmu Ats-Tsaqib jilid 2 hal 41-42/Jawaahir al-Asrar, hal. 56).

Dalam kitab Musnad Ahmad dikatakan:

عن عبدالله بن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “تغزو عصابة الهند وهي مع المهدي اسمه أحمد”.

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sebuah pasukan akan menyerang India, dan pasukan itu bersama dengan Al-Mahdi yang bernama Ahmad.” (HR. Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya (nomor hadits:12017/kitab Al-Fitan karya Nu'man bin Hammad).

Salah satu Nama Imam Mahdi as adalah AHMAD dan ISA IBNU MARYAM (al-Masih al-Mau’ud as)

Hadhrat Abi Ja’far meriwayatkan tentang nama-nama Imam Mahdi, yang berbunyi :

عن أبي جعفر الباقرعليه السلام في الآية الشريفة ، قال : سمّي اللّه المهديّ المنصور كما سمّي أحمد ومحمّد محموداً ، وكما سمّي عيسى المسيح عليهم الصّلاة والسَّلام (تفسير فرات الكوفي : ص ٢٤٠ ج ٣٢٤/بحار الانوار ج. ه١, ص. ٣١)

Dari Abu Ja’far al-Baqir (As) dalam ayat yang mulia dia berkata: “Allah SWT memberi nama Al-Mahdi Al-Manshur, sebagaimana Ahmad dan Muhammad dipanggil (dinamakan) Mahmud, dan sebagaimana Isa dipanggil (dinamakan): Al-Masih (As)”. (Abul Qasim Furat bin Ibrahim bin Furat Kufi dalam Tafsir Furat Al-Kufi, vol. 324, hal.240/ Allamah Syaikh al-Islam Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi al-Majlisi dalam kitab Biharul Anwar, juz. 51, hal.31)

عن حذيفة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وذكر المهدي فقال: إنه يبايع بين الركن والمقام، اسمه أحمد وعبد الله والمهدي فهذه أسماؤه ثلاثتها …(بحار الانوار العلامة المجالسي ج ٥٢ ص: ٢٩١)

Dari Hudzaifah ra berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw, menyebutkan al-Mahdi dan beliau Saw bersabda: Dia akan dibaiat di antara rukun dan maqom namanya adalah Ahmad, Abdullah, dan al-Mahdi, ini adalah tiga namanya… (Bihar al-Anwar al-Alamah al-Majlisi, jilid 52, hal. 291)

روى الشيخ الصدوق في (كمال الدين) عن أمير المؤمنين عليه السلام أنه قال: ” يخرج رجل من ولدي في آخر الزمان ـ إلى أن يقول ـ له اسمان اسم يخفى، واسم يعلن. فأما الذي يخفى فأحمد ” كمال الدين (الصدوق): ص ٦٥٣، ج ٢.”

Syekh al-Saduq (ulama Syiah) meriwayatkan dalam kitab Kamaluddin bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Ra mengatakan: “Seorang laki-laki dari keturunanku akan keluar (diutus) di akhir zaman – hingga beliau ra berkata: ia memiliki dua nama, satu nama yang disembunyikan dan satu nama yang ditampakkan. Nama yang tersembunyi adalah Ahmad.” (Kitab Kamal al-Din (al-Saduq): Jilid 2, Hal. 653).

روى الشيخ الصدوق في (كمال الدين) عن أمير المؤمنين عليه السلام أنه قال: ” يخرج رجل من ولدي في آخر الزمان ـ إلى أن يقول ـ له اسمان اسم يخفى، واسم يعلن. فأما الذي يخفى فأحمد ” كمال الدين (الصدوق): ص ٦٥٣، ج ٢.”

Syekh al-Saduq (ulama Syiah) meriwayatkan dalam kitab Kamaluddin bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Ra mengatakan: “Seorang laki-laki dari keturunanku akan keluar (diutus) di akhir zaman  hingga beliau ra berkata: ia memiliki dua nama, satu nama yang disembunyikan dan satu nama yang ditampakkan. Nama yang tersembunyi adalah Ahmad.” (Kitab Kamal al-Din (al-Saduq): Jilid 2, Hal. 653).

٢١٣٦٢ – حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ لُقْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الْوُصَابِيِّ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى بْنِ عَدِيٍّ الْبَهْرَانِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عِصَابَتَانِ مِنْ أُمَّتِي أَحْرَزَهُمْ اللَّهُ مِنْ النَّارِ عِصَابَةٌ تَغْزُو الْهِنْدَ وَعِصَابَةٌ تَكُونُ مَعَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام

Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr telah bercerita kepada kami Baqiyyah telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Salim dan Abu Bakr bin Al Walid Az Zubaidi dari Muhammad bin Al Walid Az Zubaidi dari Luqman bin ‘Amir Al Wushabi dari ‘Abdul A’la bin ‘Adiy Al Bahroni dari Tsauban, pelayan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda; “Ada dua golongan ummatku yang Allah jaga Allah dari neraka; satu golongan yang memerangi India dan golongan lain bersama Isa putra Maryam Alaihissalam.” (HR Musnad Ahmad, hadits no. 21362)

IMAM MAHDI LAHIR KEMBAR

Pendiri Jemaat Ahmadiyah bernama Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Mahdi dan al-Masih yg dijanjikan oleh Rasulullah ﷺ) Nama beliau yang asli hanyalah Ghulam Ahmad. Mirza melambangkan keturunan Parsi (gelar Mirza, Merupakan panggilan bagi durriyah Rasūlullah ﷺ dari pihak ibu). Kebiasaan beliau adalah suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka, waktu menerima baiat dari orang-orang, beliau hanya memakai nama Ahmad. Dalam ilham-ilham, Allah Ta’ala sering memanggil beliau dengan nama Ahmad juga. Hazrat Ahmad as lahir pada tanggal 13 Februari 1835 M, atau 14 Syawal 1250 H, hari Jumat, pada waktu shalat Subuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar, yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama kemudian meninggal dunia (saudara kembar beliau as dinamai Jannat). Demikianlah sempurna sudah kabar ghaib yang tertera di dalam kitab-kitab agama Islam bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar. Qadian terletak 57 km sebelah Timur kota Lahore, dan 24 km dari kota Amritsar dipropinsi Punjab, India.

Syeikh Muḥammad Sidiq Hasan Khan (wafat, 26 Mei 1890 M) beliau adalah seorang ulama besar Ahlussunnah (Sunni) dan ahli hadits yang sangat masyhur dimasanya. Nama lengkapnya adalah Sayyid Shiddiq bin Hasan bin Ali bin Luthfullah al-Husaini, dan nasabnya bersambung sampai kepada al-Imam Husain. Lahir pada tahun 1248 H di Berlhi, kemudian pindah ke Qinnauj. Dalam kitabnya beliau menulis bahwa:

يُوْلَدُ مَعَهُ فِى بَطْنٍ وَاحِدٍ اُخْتٌ لَهُ فَتَخْرُجُ اُخْتُهُ قَبْلَهُ وَيَخْرُجُ هُوَ بَعْدَهَا

Artinya, ; “(Imam Mahdi) akan lahir bersama-sama dengan seorang saudara wanita (kembarnya) dari perut yang sama. Maka Saudara wanitanya akan lahir lebih dahulu, kemudian ia (Imam Mahdi) lahir sesudahnya” {Hujajul Kiramah, hal. 358}.

TEMPAT LAHIRNYA IMAM MAHDI as

Hadhrat Mirza. Ghulam Ahmad as. dilahirkan disebuah kampung kecil yang tidak terkenal yang bernama Qadian (serapan dari nama Kadiah), distrik Gurdaspore, propinsi Punjab. Seperti yang dikatakan Rasulullah ﷺ bahwa:
يخرج المهدي من قرية يقال لها كادعة

“Imam Mahdi akan keluar (lahir) dari kampung yang dikenal dengan nama Kadi’ah”. (Jawahirul Asrari disusun pada tahun 840 H oleh syeh Ali Hamzah ibnu Ali Athusi).

Rasulullah ﷺ bersabda:

عن خذيفة بن يمان قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : اذا مضت الف ومأتان واربعون سنة يبعث الله المهدي

Hadhrat Hudzaifah bin Yaman r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : Apabila sudah lewat 1240 tahun Hijrah, Allah SWT. Akan membangkitkan Imam Mahdi a.s. (An-Najmu Tsaqib Jil.2 hal. 209).

٢١٣٦٢ – حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ لُقْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الْوُصَابِيِّ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى بْنِ عَدِيٍّ الْبَهْرَانِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عِصَابَتَانِ مِنْ أُمَّتِي أَحْرَزَهُمْ اللَّهُ مِنْ النَّارِ عِصَابَةٌ تَغْزُو الْهِنْدَ وَعِصَابَةٌ تَكُونُ مَعَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام

Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr telah bercerita kepada kami Baqiyyah telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Salim dan Abu Bakr bin Al Walid Az Zubaidi dari Muhammad bin Al Walid Az Zubaidi dari Luqman bin ‘Amir Al Wushabi dari ‘Abdul A’la bin ‘Adiy Al Bahroni dari Tsauban, pelayan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda; “Ada dua golongan ummatku yang Allah jaga Allah dari neraka; satu golongan yang memerangi India dan golongan lain bersama Isa putra Maryam Alaihissalam.” (HR Musnad Ahmad, hadits no. 21362)

IMAM MAHDI LAHIR KEMBAR

Pendiri Jemaat Ahmadiyah bernama Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Mahdi dan al-Masih yg dijanjikan oleh Rasulullah ﷺ) Nama beliau yang asli hanyalah Ghulam Ahmad. Mirza melambangkan keturunan Parsi (gelar Mirza, Merupakan panggilan bagi durriyah Rasūlullah ﷺ dari pihak ibu). Kebiasaan beliau adalah suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka, waktu menerima baiat dari orang-orang, beliau hanya memakai nama Ahmad. Dalam ilham-ilham, Allah Ta’ala sering memanggil beliau dengan nama Ahmad juga. Hazrat Ahmad as lahir pada tanggal 13 Februari 1835 M, atau 14 Syawal 1250 H, hari Jumat, pada waktu shalat Subuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar, yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama kemudian meninggal dunia (saudara kembar beliau as dinamai Jannat). Demikianlah sempurna sudah kabar ghaib yang tertera di dalam kitab-kitab agama Islam bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar. Qadian terletak 57 km sebelah Timur kota Lahore, dan 24 km dari kota Amritsar dipropinsi Punjab, India.

Syeikh Muḥammad Sidiq Hasan Khan (wafat, 26 Mei 1890 M) beliau adalah seorang ulama besar Ahlussunnah (Sunni) dan ahli hadits yang sangat masyhur dimasanya. Nama lengkapnya adalah Sayyid Shiddiq bin Hasan bin Ali bin Luthfullah al-Husaini, dan nasabnya bersambung sampai kepada al-Imam Husain. Lahir pada tahun 1248 H di Berlhi, kemudian pindah ke Qinnauj. Dalam kitabnya beliau menulis bahwa:

يُوْلَدُ مَعَهُ فِى بَطْنٍ وَاحِدٍ اُخْتٌ لَهُ فَتَخْرُجُ اُخْتُهُ قَبْلَهُ وَيَخْرُجُ هُوَ بَعْدَهَا

Artinya, ; “(Imam Mahdi) akan lahir bersama-sama dengan seorang saudara wanita (kembarnya) dari perut yang sama. Maka Saudara wanitanya akan lahir lebih dahulu, kemudian ia (Imam Mahdi) lahir sesudahnya” {Hujajul Kiramah, hal. 358}.

TEMPAT LAHIRNYA IMAM MAHDI as

Hadhrat Mirza. Ghulam Ahmad as. dilahirkan disebuah kampung kecil yang tidak terkenal yang bernama Qadian (serapan dari nama Kadiah), distrik Gurdaspore, propinsi Punjab. Seperti yang dikatakan Rasulullah ﷺ bahwa:
يخرج المهدي من قرية يقال لها كادعة

“Imam Mahdi akan keluar (lahir) dari kampung yang dikenal dengan nama Kadi’ah”. (Jawahirul Asrari disusun pada tahun 840 H oleh syeh Ali Hamzah ibnu Ali Athusi).[] Wallaahu ‘Alam.

والسلام على من اتبع الهدى
Dan keselamatan serta kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk (Allah dan RasulNya)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian