Imam Mahdi dan Pengikutnya akan dimusuhi
Oleh: Syamsul Ulum
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِ نْسِ وَا لْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا ۗ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ
"Dan demikianlah untuk setiap Nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 112)
Tafsir:
Allah menghibur RasulNya Muhammad dengan mengatakan, “Kami jadikan untukmu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangi dan memusuhimu dan hasud kepadamu,” karena ia adalah Sunnah Kami di mana setiap Nabi yang kami utus kepada manusia pasti memiliki musuh-musuh dari kalangan jin dan manusia yang melawan kepada ajaran yang di bawa oleh para Rasul, “Sebagian mereka membisikan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu manusia.” Maksudnya, sebagian mereka menghiasi kebathilan yang mereka serukan kepada kebaikan kepada sebagian yang lain, dan memperindah kata-kata sehingga kereka menyulapnya dalam bentuk yang paling baik untuk mengelabui orang-orang bodoh dan orang-orang dungu yang tidak memahami hakikat yang sebenarnya dan tidak mengerti makna yang sesungguhnya. Mereka terkagum-kagum oleh kata-kata indah dan ungkapan yang mempesona, lalu mereka meyakini kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran. (Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H)
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (al-Mahdi wal Masihil Mau'ud), mengatakan:
"Yang mengherankan adalah tiada seorang pun dari antara orang-orang suci yang lolos dari fatwa murtad dan alangkah suci dan diberkahi mereka itu. Bahkan fatwa murtad inipun merupakan karunia yang diwarisi oleh orang-orang yang mulia dan Saleh yang datang dari Tuhan." (Akbar Al Hakam 18 Mei 1908)
Ka’ab al-Ahbar (w.32 H), seorang Tabiin dan ahli tafsir kitab Bible, beliau hidup di masa Khalifah Umar bin Khattab Ra, beliau pernah mengatakan:
مَاكَانَ رَجُلٌ حَكِيْمٌ فِى قَوْمِهِ قَطُّ اِلَّا بَغَوْا عَلَيْهِ وَحَسَدُوهُ
“Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah komunitas kecuali selalu saja ada orang-orang/kelompok yang mencaci-maki dan mendengki dia.”
Imam Jalaluddin al-Suyuthi (w.1505 / 911 H), ulama besar, seorang ensiklopedis dengan ratusan karya tulisnya yang menjadi referensi umat Islam dunia sampai hari ini mengatakan hal yang sama, meski dengan redaksi bahasa yang sedikit berbeda:
مَاكَانَ كَبِيْرٌ فِى عَصْرٍ قَطُّ اِلَّا كَانَ لَهُ عَدُوٌّ مِنْ السَّفَلَةِ. إِذِ الْاَشْرَافُ لَمْ تَزَلْ تُبْتَلَى بِا لْاَطْرَافِ فَكَانَ لِآدَمَ إِبْلِيس , وَكَانَ لِنُوحٍ حَام وَغَيْرُه وَكَانَ لِدَاوُدَ جَالُوت وَاَضْرَابُه وَكَانَ لِسُلَيْمَان صَخَر وَكَانَ لِعِيْسَى بُخْتَنْصِر وَكَانَ لِاِبْرَاهِيم النَمْرُود وَكَانَ لِمُوسَى فِرْعَون وَهَكَذَا اِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَهُ ابو جَهَل
"Tidak ada orang besar di zaman mana pun kecuali dia memiliki musuh dari golongan rendahan. Karena orang-orang mulia selalu diuji oleh orang-orang hina. Nabi Adam dimusuhi Iblis, Nabi Nuh dimusuhi Ham dan yang lainnya, Nabi Daud dimusuhi Jalut dan pengikutnya, Nabi Sulaiman dimusuhi Shahr, Nabi Isa dimusuhi Bukhtanṣar, Nabi Ibrahim dimusuhi Namrudz, Nabi Musa dimusuhi Fir'aun, dan demikian pula hingga Nabi Muhammad ﷺ dimusuhi Abu Jahal."
Penjelasan:
Menurut Imam Jalaludin As-Suyuthi bahwa setiap orang besar dalam sejarah pasti akan menghadapi musuh dari kalangan yang rendah atau hina. Hal ini adalah sunnatullah, di mana orang-orang yang mulia dan berjuang di jalan kebenaran selalu diuji dengan adanya lawan yang menentang mereka.
Beliau menyebutkan contoh orang-orang yang memusuhi para nabi dan tokoh besar misalnya:
1. Nabi Adam as diuji dengan Iblis.
2. Nabi Nuh as menghadapi anaknya yang membangkang, Ham.
3. Nabi Daud as berhadapan dengan Jalut.
4. Nabi Sulaiman menghadapi Shakhr.
5. Nabi Isa menghadapi Bukhtanashar.
6. Nabi Ibrahim menghadapi Namrud.
7. Nabi Musa menghadapi Fir'aun.
8. Nabi Muhammad ﷺ menghadapi Abu Jahal.
Dari sini, kita bisa memahami bahwa setiap perjuangan menuju kebaikan pasti akan menghadapi tantangan dari orang-orang yang menentangnya. Ini adalah hukum kehidupan, dan siapa pun yang ingin menjadi orang besar harus siap menghadapi ujian seperti ini.
Syeikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rh, beliau adalah seorang tokoh sufi besar dan penulis dari Andalusia (w.1240 M). Dalam kitabnya Futuhatul Makiyah, beliau menjelaskan:
اذا خرج الامام المهدي فليس له عدو مبين الا الفقهاء خاصة (فتوحات المكية )
Apabila Imam Mahdi muncul (diutus) maka tidak ada baginya musuh yg paling nyata (yang menentang) tidak lain adalah para ulama fuqoha (ahli fiqih) khususnya". (Muhyiddin Ibnu Arabi, Futuhatul Makiyah, jilid 3, hal. 374 dan kitab Bayanul Aimah, jilid 3, hal. 99)
Penjelasan:
Dalam tradisi Islam, Imam Mahdi diyakini sebagai pemimpin spiritual dan duniawi yang akan menegakkan keadilan.
Ibnu Arabi dalam konteks sufistiknya melihat bahwa Imam Mahdi membawa kebenaran hakiki (haqiqah), sementara sebagian ahli fikih terjebak dalam formalitas hukum tanpa memahami esensi spiritualnya.
Oleh karena itu, ada kemungkinan terjadi pertentangan antara Imam Mahdi dan sebagian fuqaha yang lebih menekankan aspek lahiriah agama.
Ibnu Arabi bukan menentang ilmu fikih itu sendiri, tetapi mengkritik para fuqaha yang hanya berpegang pada aspek tekstual hukum tanpa memahami dimensi batin atau ruhaniahnya.
Imam Mahdi akan membawa pemahaman yang lebih mendalam dan menyeluruh tentang Islam, yang bisa bertentangan dengan pemahaman sebagian fuqaha konservatif.
Sepanjang sejarah, banyak pembaharu agama (mujaddid), termasuk para wali dan sufi besar, yang menghadapi penolakan dari sebagian ulama yang merasa ajaran mereka bertentangan dengan pemahaman fikih konvensional.
Hal ini bisa menjadi isyarat bahwa Imam Mahdi juga akan menghadapi tantangan serupa dari kelompok-kelompok yang merasa terganggu dengan perubahan yang dibawanya.
Kesimpulan:
Perkataan Syeikh Muhyiddin Ibnu Arabi menggambarkan bahwa kemunculan Imam Mahdi akan membawa perubahan besar dalam pemahaman agama, yang mungkin tidak diterima oleh sebagian fuqaha yang lebih terikat pada pemahaman hukum formal. Ini bukan berarti semua fuqaha akan menjadi musuhnya, tetapi lebih kepada mereka yang menolak pembaruan spiritual yang dibawanya.
وسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.
Komentar
Posting Komentar