Benarkah Nabi Isa Ibnu Maryam (Yesus) Naik ke Langit?
Ajaran Kristen Yang Masuk Dalam Kepercayaan Umat Islam.
Oleh: Syamsul Ulum
“Meyakini Masih Hidupnya Nabi Isa as di langit itu adalah Kepercayaan Asli umat Kristiani.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُـلْدَ ۗ اَفَاۡئِنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰـلِدُوْنَ
“Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 34)
TAFSIR AYAT
1. Menurut Tafsir Ibnu Katsir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ}
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (Qs. Ar-Rahman: 26-27)’
Sebagian ulama menyimpulkan dalil dari ayat ini, bahwa Khidir a.s. telah wafat dan tidak hidup sampai sekarang, karena dia adalah seorang manusia, baik ia sebagai seorang wali, atau seorang nabi atau seorang rasul, sebab Allah Swt. telah berfirman:
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad)”. (Qs. Al-Anbiya: 34)
Adapun firman Allah Swt.:
{أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ}
“maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (Qs. Al-Anbiya: 34)
Yakni mereka berharap dapat hidup sesudah kamu. Tidak akan terjadi hal seperti ini, melainkan semuanya pasti mati. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ}
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. (Qs. Al-Anbiya: 35)
Telah diriwayatkan dari Imam Syafii, bahwa beliau mengemukakan dua bait syair berikut yang semakna dengan ayat ini, yaitu:
تَمَنَّى رِجَالٌ أَنْ أَمُوتَ وَإِنْ أَمُتْ فَتلْكَ سَبيل لَسْت فيهَا
بأوْحد فقُلْ للَّذي يَبْغي خِلَافَ الَّذِي مَضَى:
تَهَيَّأ لأخْرى مثْلها فكَأن قَدِ
Banyak kalangan lelaki yang mengharapkan aku mati cepat, dan memang mati itu merupakan suatu akhir yang saya tidak menyendiri di dalamnya. Maka katakanlah kepada orang yang menginginkan hal yang berbeda dengan pendahulunya, bersiap-siaplah untuk menghadapi masa hidupnya yang baru, kematian akan tetap menjadi suatu kepastian baginya.” (Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi, Imaduddin Abu Al-Fida Al-Hafizh Al-Muhaddits Asy-Syafi’i)
2. Menurut Tafsir Al-Wajiz
Ayat 34: “Ketika para musuh Rasulullah mengatakan seperti yang diceritakan oleh Allah, “Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu”. (Ath-THur:30), maka Allah berfirman, “Ini merupakan jalan hidup yang dilewati (setiap orang) dan jalan setapak yang meletihkan. Kami belum pernah menetapkan keabadian bagi seorang manusia pun di dunia, wahai Muhammad. Jika engkau meninggal, maka itulah kondisi orang-orang sepertimu, dari kalangan para rasul, nabi, wali, [dan lainnya]. “Maka jikalau engkkau mati, apakah mereka itu kekal?” maksudnya apakah bila engkau meninggal, mereka akan kekal abadi sepeninggalmu? Kalau memang demikian adanya, maka hendaknya keabadian menghalangi mereka (dari kematian). Namun, realitanya tidak demikian adanya. Bahkan setiap makhluk yang berada di atasnya (bumi) akan hancur.” (Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah)
3. Menurut Tafsir Al-Muyassar
Ayat 34: “Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi di kehidupan dunia ini bagi seorang manusia pun sebelum engkau -wahai Rasul-, maka bila datang ajalmu dan engkau wafat, apakah mereka tetap akan kekal sepeninggalmu?! Sekali-kali tidak.”
(Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia)
4. Menurut Tafsir Al-Mukhtashar
Ayat 34: “Hai Rasulullah, Kami tidak menciptakan seorangpun sebelummu yang hidup selamanya tanpa merasakan kematian, maka jika kamu mati apakah mereka akan hidup selamanya setelah kematianmu? Semua jiwa akan mati di dunia ini, tidak ada yang kekal kehidupannya selain Allah Yang Maha Hidup”. (Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)
5. Menurut Tafsir Jalalain
Ayat 34: “Ayat ini diturunkan ketika orang-orang kafir berkata, bahwa sesungguhnya Muhammad itu pasti akan mati (Kami tidak menjadikan hidup kekal bagi seorang manusia pun sebelum kamu) hidup abadi di dunia (maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal?) di dunia? Tentu saja tidak. Jumlah kalimat yang terakhir inilah yang mengandung pengertian ingkar.” (Ditulis oleh Jalaluddin al-Mahalli pada tahun 1459, dan kemudian dilanjutkan oleh muridnya Jalaluddin as-Suyuthi pada tahun 1505)
Allah SWT berfirman:
اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَ رْضَ كِفَا تًا اَحْيَآءً وَّاَمْوَا تًا
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi tempat berkumpul bagi orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati?" (QS. Al-Mursalat 77:25-26)
Dalam Tafsir Al-Azhar, Prof DR Hamka menulis:
“Dari mana asal mula keyakinan bahwa Nabi Isa as itu masih hidup di langit? Secara pasti belum diketahui orang yang pertama menyebarluaskan keyakinan tersebut, tetapi dapat dipastikan bahwa sejak sepeninggal Nabi Muhammad ﷺ keyakinan tersebut sudah masuk ke dalam kaum Muslimin bersamaan dengan berduyun-duyunnya kaum Ahli Kitab masuk Islam. Sebagaimana terlihat dalam beberapa buku Islam. Dan itulah yang disebut Nashraniat, yakni ajaran Nasrani atau Kristen yang masuk ke dalam Islam.” (Lihat Tafsir Al-Azhar)
Apa Kata Bible Tentang Kenaikan Yesus ke Langit?
Bagi kaum Kristen wajib meyakini Isa Al-Masih (Yesus Kristus) masih hidup di langit (surga). Keyakinan itu didasarkan atas ajaran Paulus dan kawan-kawannya antara lain terdapat dalam Injil Markus:
“Setelah Tuhan Yesus selesai berbicara kepada mereka, Ia terangkat ke Surga lalu duduk di sebelah kanan Allah”. (Markus 16: 19).
Juga terdapat dalam Injil Lukas:
“Yesus membawa mereka ke luar kota. Ketika sampai di Betania, ia mengangkat tangan-Nya memberkati mereka, Ia terangkat dan naik ke Surga, mereka menyembah Dia, lalu kembali ke Yerusalem dengan penuh sukacita.” (Lukas, 24: 50-52).
Bahkan sebelumnya di dalam Perjanjian lama dikatakan bahwa Henokh diangkat ke langit:
Kejadian 5 ayat 24 berbunyi: "Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah".
Atas dasar ayat-ayat Injil ini dapat disimpulkan bahwa kepercayaan tentang Nabi Isa as atau Yesus Kristus masih hidup di langit adalah kepercayaan asli Kristen.
Umat Kristiani Sangat Berharap Yesus as (nabi Isa Ibnu Maryam) Turun dari Langit.
kebangkitan dan turunnya Isa Al-Masih dari langit dg tubuh kasarnya itu adalah inti dari keimanan Kristen. Paulus menegaskan:
“…jika Kristus tidak dibangkitkan (diturunkan dari langit/surga), maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.” (1 Korintus 15:17-18).
Dan inilah pesan Tuhan kepada kita, “Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku,” (Matius 28:10).
Bahayanya Meyakini Nabi Isa as Hidup di Langit.
Pada 820 M, terjadi sebuah perdebatan antara seorang rahib Nasrani dari mazhab Melkite, Ibrahim ath-Thabrani dan seorang gubernur (amir) Muslim, ‘Abd-ur-Rahman al-Hasyimi, di Yerusalem. Pada kesempatan itu, Sang Amir berkata:
“Celakalah engkau, wahai Rahib! Tidakkah engkau mengetahui bahwa Muhammad (SAW) lebih agung dan lebih mulia daripada al-Masih, Adam, beserta semua keturunannya?” Sang Pendeta menjawab:
“Tidak, demi Allah, Aku tidak mengetahuinya.” Ia meneruskan:
“Akan tetapi, Aku mengetahui bahwa langit lebih terhormat dan mulia di sisi Allah daripada bumi. Penduduk langit pun lebih terhormat dan mulia di sisi Allah daripada penduduk bumi. Dan, Aku mengetahui bahwa al-Masih berada di atas langit yang tertinggi.” Ia meneruskan:
“Adapun Muhammad (SAW) dan semua nabi berada di bawah tanah. Sementara itu, langit adalah singgasana dan kursi Allah dan al-Masih duduk di atas kursi keagungan di samping kanan Allah di atas para malaikat dan manusia. Lantas, bagaimana mungkin orang yang berada di bawah lebih mulia daripada ia yang berada di langit di atas kursi keagungan?” (Sumber: David Thomas (ed). 2001. Syrian Christians under Islam: The First Thousand Years. Leiden: Brill).
Makna: Rofa’a (رفع)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِذْ قَا لَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰۤى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَا فِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَا عِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَ حْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ
“(Ingatlah), ketika Allah berfirman, Wahai ‘Isa! Aku akan mewafatkanmu (متوفيك) dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 55)
Penjelasan:
Imam Ar-Razi dalam tafsir kabirnya menulis tentang makna kalimat Rofa’a (رفع) pada ayat ورافعك الي sebagai berikut:
واعلم أن هذه الآية تدل على أن رفعه في قوله ورافعك الي هو الرفعة بالدرجة والمنقبة لا بالمكان والجهة
Artinya: “Ketahuilah bahwa ayat ini menunjukan bahwa kalimat Rofa’ahu (رفعه) yang tersebut dalam ayat Wa Rofi’uka Ilayya (ورافعك الي) itu maknanya adalah Ketinggian Derajat bukan Ketinggian Tempat”. (Tafsir al-kabir, jilid 2, hal. 457)
Dalam Lisanul Arab tertulis:
وفي اسماء الله الرافع هو الذي يرفع المؤمنين باسعاد واولياءه بالتقريب
"Dan di antara Nama-nama Allah adalah ar-Rāfi‘ (Yang Maha Meninggikan), yaitu Dzat yang meninggikan (derajat) orang-orang beriman dengan kebahagiaan (di dunia dan akhirat), dan para wali-Nya (kekasih-Nya) dengan kedekatan (kepada-Nya)." (An-Nihayah Ibnu Atsir dan Lisanul Arab)
Penjelasan:
1. Makna Nama Allah "Ar-Rāfi‘"
"Ar-Rāfi‘" berasal dari kata rafa‘a yang berarti "mengangkat" atau "meninggikan". Dalam konteks nama Allah, Ar-Rāfi‘ adalah salah satu dari Asmaul Husna yang menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat meninggikan derajat siapa pun yang Dia kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat.
2. Meninggikan Derajat Orang Beriman.
Allah meninggikan orang-orang beriman dengan kebahagiaan dan kemuliaan, baik secara lahir (misalnya diberi rezeki, kedudukan, kemuliaan) maupun batin (iman yang kuat, hati yang tenang, serta keselamatan di akhirat).
3. Meninggikan Derajat Para Wali dengan Kedekatan
Para wali Allah (yakni orang-orang saleh dan bertakwa) dimuliakan bukan hanya dengan nikmat, tapi dengan kedekatan secara spiritual kepada Allah, yaitu dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba yang dikasihi, diberi cahaya iman, pemahaman agama, dan kedudukan tinggi di sisi-Nya. Nama Allah Ar-Rāfi‘ mengajarkan bahwa Allah-lah yang benar-benar meninggikan derajat manusia, bukan karena nasab, harta, atau jabatan. Kemuliaan sejati datang dari iman, ketakwaan, dan kedekatan kepada Allah.
Jika kata Rafa’a (رَفَعَ) Fa'ilnya (Subyeknya) Allah dan Maf’ulnya manusia, maka maknanya hanyalah meninggikan (mengangkat) derajat atau mengangkat ruh, selain makna tersebut adalah tidak benar.
Allāmah Ibnu Qayyim berpendapat:
وأما ما يذكر عن المسيح أنه رفع إلى السماء وله ثلاث وثلاثون سنة فهذا لا يعرف له أثر متصل يجب المصير إليه.
“Adapun cerita-cerita tentang Al-Masīḥ as bahwa beliau diangkat (naik) ke langit pada usia 33 tahun, tidak dikenal baginya satupun hadis muttaṣil yang mewajibkan Kita untuk meyakininya.” [Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah,Zād al-Ma‘ād FīHadyi Khair al-‘Ibād v. 1(Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1998 M/1418 H), h. 82]
Nabi Suci Muḥammad SAW bersabda:
وَأَنَّهُ أَخْبَرَنِيْ أَنَّ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَاشَ عِشْرِيْنَ وَمِائَةَ سَنَةٍ
“Jibrīl as mengabarkan kepadaku bahwa ‘Īsā as hidup selama 120 tahun.” (Al-Mu‘jam al-Kabīr,Fī Mā Rawat Umm-ul-Mu’minīn ‘Ā’isyah ‘An Fāṭimah raḍiyallāhu ‘anhumā, no. 1301).
Beliau SAW bersabda:
“Wahai saudara-saudara sekalian!. Aku mendengar bahwa kalian takut akan kematian Nabimu. Apakah para Nabi sebelumku itu ada yang mampu mempertahankan hidupnya sehingga aku masih punya harapan untuk bersamamu lagi?. Dengarlah..! Sebentar lagi aku akan menemui Tuhanku, begitu juga dengan kalian. Jadi aku meminta pada kalian untuk memperlakukan kaum muhajir dengan baik”. (Al-anwar ul-Muhammadiyya min al-Muwahib lil-dinnyya, Egypt, hal 317)
Menolak Akidah Kristen Tentang Kenaikan Manusia ke atas langit.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
“Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?” (QS. Ya-Sin 36: Ayat 68)
Raja Romulus (753 – 716 SM) Diyakini Naik ke Langit
Ada satu kisah dalam buku Asathirul awalin dikatakn bahwa 753 tahun sebelum Yesus lahir, ada orang bernama Roemelus (Romulus) yang mendirikan negeri Roem (Romawi). ketika orang-orang Roem sedang berperang dengan bangsa Shabi, lama kelamaan bangsa itu berdamai. Lalu akhirnya Roemelus dibunuh oleh orang Shabi dengan diam-diam.
Kemudian apa keyakinan bangsa Roem terhadap Roemelus? Bangsa Roem tidak pernah mengatakan kalau Roemelus itu telah mati, akan tetapi bangsa Roem berkeyakinan bahwa Roemelus telah naik ke Langit.” (Kitab Asathirul awalin, hal.322)
Setelah Selamat dari Penyaliban Yesus as Pergi Ke Galilea Bukan Naik Ke Langit
Keyakinan Tentang Masih Hidupnya Nabi Isa as di Langit Merupakan Ajaran Kristen yang Masuk kepercayaan Umat Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ( Imam Mahdi wal Masihil Mau’ud as) menjelaskan:
“Salah satu dalil tentang “kenaikan Isa as” di antaranya adalah sebuah sabda yang tegas dari mulut Nabi Isa as: “Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” (Lihat Matius 26:32 )
Dari ayat ini tampak jelas bahwa sesudah keluar dari tempat pekuburab, Nabi Isa (Yesus) telah pergi ke Galilea bukan naik ke langit.
Dan perkataan Yesus (Nabi Isa): “Sesudah Aku bangkit”, dari itu tidak dapat diartikan kehidupan sesudah mati. Melainkan, disebabkan dalam pandangan orang-orang Yahudi dan orang-orang awam bahwa beliau telah mati di atas salib, untuk itulah sejak sebelumnya Nabi Isa telah menggunakan kalimat tersebut sesuai dengan pemikiran-pemikiran mereka [yang bakal timbul] di masa mendatang”. (Al-Masih di Hindustan, hal 6)
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa:
“Terjadi perlawanan antara saya dengan agama Kristen. Agama Kristen ingin supaya orang-orang mempercayai ketuhanan seorang anak manusia. Dan menurut saya mereka itu telah sangat jauh dari Tuhan yang hakiki dan sebenarnya. Saya menginginkan agar akidah-akidah mereka ditolak. (Malfuzat jilid.Vl, hln.447)
Lalu beliau as menjelaskan:
“Secara terus-menerus dan gencar mereka (Umat Kristen) mengatakan bahwa jika Al-Masih bukan Tuhan, bagaimana ia bisa bersemayam di ‘Arasy? Jika ada manusia yang bisa melakukan hal demikian yakni naik ke langit dengan tubuh kasarnya, lantas apa sebabnya sejak dari zaman Adam sampai sekarang tidak ada yang naik ke langit?
Dengan menyampaikan dalil-dalil seperti itu mereka ingin menjadikan Hadhrat Isa as sebagai Tuhan dan mereka telah berhasil menjadikan seperti itu dan menyesatkan satu bagian dunia.
Banyak sekali umat Muslim yang disebutkan berjumlah 3 juta telah menjadi sasaran fitnah tersebut disebabkan karena menganggap kekeliruan tersebut sebagai suatu kebenaran.
Jika memang hal itu benar dan Hadhrat Isa as benar-benar naik ke langit dengan tubuh kasarnya seperti yang dikatakan oleh umat Kristen dan disebabkan oleh kekeliruan dan ketidakfahamannya, sehingga umat Islam pun mendukung akidah tersebut, maka bagi Islam akan menjadi hari belasungkawa, karena Islam datang ke dunia ini bertujuan supaya timbul keimanan dan keyakinan kepada dunia terhadap Zat Allah Ta’ala, dan supaya tauhid-Nya menyebar”. (Buku Apa Perbedaan Ahmadi Dengan Ghair Ahmadi?, hal 4)
Nabi Isa a.s dan Ibunya Hijrah dari Tanah Kelahirannya.
Setelah Nabi Isa a.s diselamatkan Allah SWT dari malapetaka kematian terkutuk di Tiang Salib. Maka atas perintah Allah SWT Nabi Isa a.s dan ibunya (Siti Maryam) hijrah dari kampung halamannya Palestina menuju lembah Kashmir yang subur dan indah dengan mata air yang memancar. Sebagaimana Al-Quran menceritakan:
Allah SWT berfirman:
وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗۤ اٰيَةً وَّاٰوَيْنٰهُمَاۤ اِلٰى رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّمَعِيْنٍ
"Dan telah Kami jadikan ('Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu bukti yang nyata (bagi kebesaran Kami), dan Kami menyelamatkan dan melindungi mereka berdua di sebuah dataran tinggi, (tempat yang tenang, rindang, dan banyak buah-buahan) dengan mata air yang mengalir." (QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 50)
Penafsir terkenal Ibnu Jarir berkata dalam kitabnya Tafsir Ibnu Jarir at-Tabari bahwa:
"Nabi Isa a.s sama dengan Nabi Muhammad SAW. Karena dikejar-kejar kaum Yahudi, Nabi Isa a.s dan ibunya terpaksa pindah dari Palestina dan pergi ke suatu negeri yang jauh sekali dan beliau a.s pergi dari satu negeri ke negeri lain." (Tafsir Ibnu Jarir, jilid III, 197)
Dalam suatu kitab kumpulan Hadits terkenal, Kanzul Umal, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwa Tuhan mewahyukan kepada Nabi Isa a.s:
أَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَى عِيسَى: أَنْ يَا عِيسَى، انْتَقِلْ مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانٍ لِئَلَّا تُعْرَفَ فَتُؤْذَى
Allah Ta‘ālā mewahyukan kepada ‘Isa (AS): "Wahai ‘Isa, berpindahlah (berhijrah) dari satu tempat ke tempat lain, agar engkau tidak dikenal lalu disakiti." (HR. Ibnu Asakir dari Abu Hurairah r.a dan Hadits Kanzul Umal, 1989, jilid.III, h.158).
Penjelasan:
أوحى الله إلى عيسى
Allah memberikan wahyu kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis-salām. Wahyu ini bukan berarti wahyu syariat baru, tapi bisa juga berupa ilham atau petunjuk langsung sebagai bentuk bimbingan.
يا عيسى، انتقل من مكان إلى مكان
Allah memerintahkan Nabi ‘Isa untuk tidak menetap di satu tempat terlalu lama, agar bisa menghindari gangguan atau fitnah dari orang-orang yang menentang dakwahnya.
لئلا تُعرف فتؤذى
Agar engkau tidak dikenal, lalu disakiti.
Makna ini menunjukkan hikmah dalam berdakwah dan menyelamatkan diri dari kezaliman. Nabi pun bisa berpindah demi menjaga keselamatan selama tugas kenabiannya belum selesai.
Begitu pula dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw mengatakan bahwa:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ الْغُرَبَاءُ». قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: «الَّذِينَ يَنْفُونَ أَنْفُسَهُمْ مِنْ أَرْضِهِمْ وَمِنْ أَهْلِيهِمْ دِفَاعًا عَنْ دِينِهِمْ»
"Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yang asing (al-ghurabā’).' Lalu ditanya: 'Wahai Rasulullah, siapa yang dimaksud orang-orang yang asing itu?' Beliau bersabda: 'Yaitu orang-orang yang menjauhkan diri mereka (berhijrah ) dari tanah air dan keluarga mereka demi membela agama mereka.'" (Redaksi ini dikutip dari Kanzul Umal, Jilid II, hlm. 34 dan 71, dan Jilid VI, hlm. 51). [] Wallaahu’Alam
Penjelasan Hadis:
1. “الغُرَبَاءُ” – Orang-orang yang Asing
Kata "الغُرَبَاءُ" secara harfiah berarti orang-orang asing, terasing, atau yang berbeda dari masyarakat umumnya.
Dalam konteks hadis, mereka adalah orang-orang yang Tetap berpegang teguh pada agama ketika mayoritas manusia meninggalkannya dan Rela kehilangan kenyamanan dunia: tanah air, keluarga, kekuasaan, dll demi kebenaran agama. Menghadapi keterasingan sosial, fitnah, bahkan pengusiran karena mempertahankan nilai-nilai Islam.
2. “يَنْفُونَ أَنْفُسَهُمْ” – Menyingkirkan diri
Kalimat tersebut bisa bermakna:
1. Secara fisik: mereka berhijrah, meninggalkan kampung halaman karena tekanan terhadap agamanya.
2. Secara sosial/spiritual: mereka menjauh dari praktik batil di sekelilingnya, hidup dalam keterasingan demi menjaga kemurnian iman.
kesimpulan:
Para sahabat awal seperti Bilal, Ammar, Mush'ab bin 'Umair, dan kaum Muhajirin adalah contoh nyata dari al-ghurabā’. Di masa kini, orang-orang yang istiqamah di tengah kebatilan dan tidak ikut arus, juga termasuk di dalam kelompok ini
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
"بدأ الإسلام غريبًا، وسيعود كما بدأ غريبًا، فطوبى للغُرَبَاء"
"Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti semula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing."
(HR. Muslim)
Keteguhan dalam kebenaran adalah keutamaan, meski harus rela terasing dan kehilangan hal duniawi. Allah mencintai orang yang membela agama, bahkan dengan mengorbankan kenyamanan hidup. Jangan takut jadi “minoritas” dalam kebaikan, selama berada di jalan Allah.
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya (SAW).
Komentar
Posting Komentar