Pembelaan Syeikh Nasiruddin Al-Bani Terhadap Muslim Ahmadiyah dari Tuduhan yang Tidak Benar
Oleh: Syamsul Ulum
SIAPA yang tidak kenal dengan Syeikh Nasiruddin Al-Albani (1914-1999) adalah salah satu ulama terkemuka abad ke-20 yang dikenal luas sebagai pakar hadis. Beliau lahir di Shkodra, Albania, dan kemudian pindah ke Suriah bersama keluarganya. Al-Albani memiliki spesialisasi dalam ilmu hadis, terutama dalam bidang takhrij (penelitian derajat hadis).
Beliau terkenal dengan metode kritik ilmiah terhadap hadis, yang sering kali menimbulkan perdebatan di kalangan ulama. Selain itu, Syeikh Al-Albani juga dianggap sebagai tokoh penting dalam gerakan salafi modern. Karya-karyanya, seperti Silsilah Ahadits Shahihah dan Silsilah Ahadits Dha'ifah, menjadi rujukan utama bagi para peneliti hadis hingga hari ini. Meskipun demikian, pandangan-pandangannya dalam beberapa hal sering diperdebatkan dan menuai kontroversi. Syeikh Al-Albani mengabdikan hidupnya untuk menulis, mengajar, dan menyebarkan ilmu Islam, serta memiliki pengaruh besar dalam dunia keilmuan Islam kontemporer.
Syeikh Nasiruddin Al-Bani mengenal banyak Muslim Ahmadiyah, terutama di Damaskus, dan sering berdiskusi dengan mereka. Imam kita tercinta, Hazrat Mirza Masroor Ahmadaa menyebutkan sebuah peristiwa tentang almarhum Nadir al-Husni Sahib yang dihormati dari Suriah, dengan Shaikh al-Albani. Berbicara tentang almarhum Nadir al-Husni Sahib, Hazrat Khalifatul Masih V aba - mengutip keponakan Nasir al-Husni Sahib - mengatakan:
"Beliau memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Chaudhry Zafrulla Khan Sahibra. Almarhum menerjemahkan buku Chaudhry Zafrulla Khan Sahib ra ke dalam bahasa Arab. Beliau memiliki hubungan yang kuat dengan Jemaat. Beliau tidak akan mentolerir komentar yang tidak pantas terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad atau para Khulafa.
"Pada suatu kesempatan, beliau pergi bersama kedua saudaranya untuk mengucapkan belasungkawa kepada seorang non Ahmadi. Seorang ulama terkemuka Suriah, Shaikh al-Albani juga hadir di sana ditemani oleh banyak murid-muridnya, yang mengetahui bahwa Nadir al-Husni Sahib dan saudara-saudaranya adalah Ahmadi. Mereka mulai mendiskusikan poin-poin perdebatan antara para Ahmadi dan ulama lainnya.
Ketika salah satu dari mereka mulai menggunakan bahasa yang tidak senonoh tentang Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Al-Masih yang Dijanjikan), paman saya, almarhum Nadir al-Husni, menjadi marah; ia berdiri dan berkata: '
"Jika ada di antara kalian yang memiliki keberanian, mereka harus berdebat dengan saya', meskipun hanya ada tiga orang [Ahmadi], sedangkan Shaikh al-Albani Sahib didampingi oleh lebih dari 15 orang. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang memiliki keberanian untuk berdebat dengan beliau. Sebaliknya, mereka mulai bertengkar dan berusaha menyerang mereka bertiga. Namun, orang-orang lain yang datang untuk mengucapkan belasungkawa turun tangan dan menghentikan mereka." (Khotbah Jumat, 28 Desember 2018)
Melalui perkataan Shaikh al-Albani, kita akan melihat tuduhan-tuduhan palsu dari para ulama anti-Ahmadiyah dijawab. Ini tidak berarti bahwa Syeikh al-Albani selalu mengatakan kebenaran tentang Ahmadiyah, Namun, beliau telah mengoreksi banyak kesalahpahaman yang disebarkan oleh para cendekiawan Muslim tentang Muslim Amadiyah. Diantara koreksi Syeikh Nasiruddin Al-Bani terhadap para ulama terhadap Muslim atas tudahan-tuduhan yang benar adalah:
TUDUHAN KE-1: Muslim Ahmadiyah menolak rukun iman dan Kalimah syahadat
Salah satu tuduhan yang disampaikan oleh Muslim non-Ahmadi adalah bahwa Muslim Ahmadiyah menolak rukun iman dan rukun Islam. Syaikh al-Albani menyatakan:
Salah satu tuduhan yang disampaikan oleh Muslim non-Ahmadi adalah bahwa Muslim Ahmadiyah menolak rukun iman dan rukun Islam. Syaikh al-Albani menyatakan:
هل تظنون أن الطائفة القاديانية هم لا يقولون لا إله إلا الله محمدا رسول الله لا يصلون لا يصومون لا يحجون؟ لا! هُم معنا في هذا كله
"Apakah kalian mengira bahwa kelompok al-Qadiyaniyyah tidak mengatakan, 'Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah', mereka tidak salat, tidak berpuasa dan tidak menunaikan ibadah haji? Tidak! Mereka bersama kita (sama dg kita sebagai muslim) dalam semua ini." (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 742)
Lalu beliau mengatakan:
طائفة القاديانية يؤمنون بما نؤمن نحن به من الأركان الإسلامية الخمسة، أولها شهادة أن لا إله إلا اللّٰه وأن محمدا رسول اللّٰه
"Kelompok al-Qadiyaniyyah (Jamaah Muslim Ahmadiyah) meyakini apa yang kami yakini dari lima rukun Islam dan yang pertama adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya." (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 486)
TUDUHAN KE-2: Mirza Ghulam Ahmad Sahib[as] tidak berilmu dan tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa Arab. Benarkah?
Beberapa orang Muslim yang tidak tahu apa-apa di zaman sekarang melontarkan tuduhan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as tidak berilmu. Mereka mengatakan bahwa beliau tidak mengetahui Al-Quran, hadits, atau Syariah. Menanggapi mengapa umat Islam menerima Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as dan menolak para pengaku Imam Mahdi yang palsu, Syaikh al-Albani menjelaskan:
تعرف المهدي اللذي اسمه ميرزا أحمد القادياني تبع الهند هذا رجل عارف بالعلم تماما، لكن هؤلاء (أدعياء المهدوية) مساكين جهال ما بعرفوا شيء من الشريعة ولا بعرفوا قراءة قرآن ما بعرفوا لغة ولا بعرفوا شيء
"Kalian tahu al-Mahdi yang bernama Mirza Ahmad al-Qadiani, yang diikuti di India. Orang itu orang yang berilmu dengan pengetahuan yang lengkap. Namun, para pengaku lainnya adalah orang-orang yang miskin pengetahuan dan bodoh. Mereka tidak tahu apa-apa tentang syariah atau qira'ah al-Quran. Mereka tidak mengetahui bahasa (Arab) dan tidak mengetahui hal lainnya." (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 028)
TUDUHAN KE-3: Muslim Ahmadiyah tidak percaya pada finalitas kenabian (khaatamun-Nabiyin)
Tuduhan lain terhadap Muslim Ahmadiyah adalah bahwa Ahmadiyyah menolak finalitas kenabian. Shaikh al-Albani menjelaskan bahwa Muslim Ahmadiyah percaya kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai khaatamun-Nabiyin, namun memberikan interpretasi (penafsiran) yang berbeda. Shaikh al-Albani menyatakan:
هم لا ينكرون أنه خاتم النبيين
"Mereka [Muslim Ahmadiyah] tidak menolak bahwa beliau [Nabi Muhammad saw] adalah khaatamun-Nabiyin." (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 198)
هل أنكروا قوله تعالى ولكن رسول اللّٰه وخاتم النبيين؟ لا . لأنه أي مسلم إذا أنكر آية من القرآن كفر باللّٰه ورسوله
"Apakah mereka (Muslim Ahmadiyyah) mengingkari firman Allah Taala: 'Akan tetapi dia adalah Rasulullah dan khaatamun-Nabiyin? Tidak, karena setiap Muslim yang menolak satu ayat Al-Quran, berarti ia telah menolak Allah dan rasul-Nya." (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 486)
Syeikh Al-Albani mengatakan:
(الأحمدية) ما أنكروا الآية، آمنوا معنا بالآية ولكن تأولوها
"Ahmadiyah tidak menolak ayat-ayat tersebut (Qs.33:40). Mereka (Muslim Ahmadiyyah) beriman kepada ayat-ayat tersebut seperti kita, tetapi mereka menafsirkannya." (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 486)
Pada kesempatan lain beliau berkata:
"Orang-orang Qadiani ini tidak mengingkari ayat: 'Padahal dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi' (Qs Al-Ahzab:40) Mereka (Muslim Ahmadiyyah) mengimani ayat tersebut sebagaimana kita juga mengimani ayat ini, dan tidak mengingkari sabda Nabi Muḥammad ﷺ yang diriwayatkan dalam dua kitab shahihain tentang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
"Al Qadiyaniyyah tidak mengingkari firman Allah, 'Sesungguhnya beliau Saw adalah Rasulullah dan penutup para nabi' (Surat al-Ahzab, ayat 40), bahkan mereka mengimani ayat-ayat tersebut sebagaimana kita mengimani ayat-ayat tersebut. Dengan demikian, mereka tidak mengingkari pernyataan para Nabi yang terdapat dalam riwayat-riwayat yang shahih." (Mu'assisah al-Albani fi al-Aqidah, jilid 1, hal. 257)
TUDUHAN KE-4: Muslim Ahmadiyah menolak beberapa bagian dari Al-Quran.
Beberapa orang anti-Ahmadiyah mengklaim bahwa Muslim Ahmadiyah menolak beberapa ayat Al-Quran dan hanya percaya pada sebagian Al-Quran. Shaikh al-Albani mengajukan tuduhan bahwa kami percaya pada kata-kata Al-Quran tetapi tidak pada makna yang sebenarnya, sebuah tuduhan yang dilontarkan oleh setiap sekte terhadap sekte lainnya. Namun, ia dipaksa untuk menerima bahwa kita percaya pada seluruh isi Al-Quran. Syaikh al-Albani berkata:
... القاديانية ... يؤمنون بكل الكتاب
"Orang-orang Qadiani [...] mereka beriman kepada seluruh kitab (Al-Qur'an) " (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 705)
Beliau juga berkata:
هل (الأحمدية) ينكرون القرآن وينكرون السورة؟ لا
"Apakah mereka [Ahmadiyah] menolak Al-Quran dan menolak Surat-suratnya? Tidak. Apakah Ahmadiyah menolak Al-Quran atau salah satu suratnya? Tidak!" (Ashriatatun Mutafariqa lil-Syaikh, Episode no. 91)
Shaikh al-Albani memiliki banyak jawaban yang berbeda mengenai Ahmadiyah. Pada suatu kesempatan, beliau menerima bahwa kita adalah Muslim dan juga mengatakan bahwa umat Islam tidak dapat melakukan takfir terhadap Ahmadiyah karena kita harus menilai dari yang tampak, dan bahwa Muslim Ahmadiyah membaca Kalimah syahadat.
Beliau berkata:
هؤلاء مسلمون يصلون الصلوات الخمس ويحجّون إلى بيت الله الحرام
"Mereka adalah Muslim, mereka melakukan shalat lima waktu dan melaksanakan haji ke Baitullah al-Haram" (Ashriatatun Mutafariqah lil-Syaikh, Episode no. 91)
Beliau juga berkata:
لا ، نحن لنا ظاهرهم، يشهدون بلا إله إلا اللّٰه، محمداً رسول اللّٰه؛ أما حسابهم عند اللّٰه
"Tidak [kita tidak boleh mengkafirkan mereka]. Kami menghukumi mereka berdasarkan penampilan mereka, dan mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Adapun kesudahan mereka, itu ada di sisi Allah." (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 206)
TUDUHAN KE-5: Nama "Ghulam Ahmad" adalah syirik
Beberapa orang Muslim non-Ahmadi mengajukan tuduhan bahwa nama "Ghulam Ahmad" (hamba Ahmad, yakni Nabi Suci Saw) adalah syirik, karena kita hanya bisa menyebut diri kita sendiri sebagai hamba-hamba Allah.
Syaikh al-Albani menyatakan:
"Tidak, Ghulam Ahmad ... Dalam bahasa Hindi, itu berarti hamba Ahmad; dia bukan Ahmad (Muḥammad Saw) tetapi hamba Ahmad; arti Ahmad adalah Nabi kita, Muḥammad Saw dan orang-orang Arab memiliki silsilah seperti itu untuk membanggakan afiliasi mereka dengan Nabi Saw.
"Tidak, 'Ghulam Ahmad' [hamba Ahmad)] adalah sebuah cara penamaan dalam bahasa Hindi dan artinya adalah hamba Ahmad. Dia bukan Ahmad, melainkan Pelayan Ahmad. Dan maksud dari Ahmad di sini adalah para Nabi kita Muhammad Saw, dan orang-orang non-Arab mempunyai silsilah seperti itu yang menunjukkan bahwa mereka bangga dengan afiliasi mereka dengan para Rasul." (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 198)
TUDUHAN KE-6: Kitab Muslim Ahmadiyah berbeda dengan Al-Qur'an
Salah satu tuduhan yang dilontarkan oleh para penentang Islam Ahmadiyah adalah bahwa kitab kita berbeda dengan Al-Quran. Para ulama Salafi sering mengatakan bahwa kita memiliki sebuah kitab yang disebut "Kitab-ul-Mubeen", sesuatu yang tidak pernah kita dengar dari para Muslim Ahmadiyah! Menanggapi hal ini, Syaikh al-Albani berkata:
هل (الأحمدية) ينكرون القرآن وينكرون السورة؟ لا
"Apakah Jemaat Ahmadiyah menolak Al-Quran atau salah satu suratnya? Tidak!" (Ashriatatun Mutafariqa lil-Shaikh, Episode no. 91)
TUDUHAN KE-7: Ahmadiyah bukan bagian dari 73 sekte Islam.
Beberapa orang mengajukan tuduhan bahwa Muslim Ahmadiyah tidak termasuk dalam 73 sekte Islam. Syaikh al-Albani berkata:
"Tidak, mereka (al-Qadiani) tidak termasuk di antara 73 sekte dalam Islam, tetapi mereka termasuk di antara sekte-sekte yang disebutkan dalam sabda Nabi saw, 'Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga sekte, yang semuanya berada di neraka kecuali satu'.
"Tidak, mereka (al-Qadiyaniyyah) termasuk sekte-sekte yang dimaksud dalam sabda Nabi saw bahwa 'umatku akan terpecah menjadi 73 sekte, semuanya berada di neraka kecuali satu sekte'." (Silsilatul Huda wal-Nur, Episode no. 705)
Ada satu adagium Arab yang mengatakan bahwa:
الحَقُّ مَا شَهِدَتْ بِهِ الأَعْدَاءُ
الفَضْلُ مَا شَهِدَتْ بِهِ الأَعْدَاءُ
"Kebenaran itu adalah apa yang telah disaksikan oleh para penentangnya (musuh-musuhnya) dan Kebaikan (keutamaan) adalah apa yang telah disaksikan oleh musuh-musuh."
[] Wallahu 'Alam
والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan dan kedamaian bagi mereka yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya (Muhammad Saw).
Komentar
Posting Komentar