Mengungkap Kebenaran Wafatnya Nabi Isa Ibnu Maryam as



Kuburan Nabi Isa Ibnu Maryam as (Yesus), Srinagar, kasymir

Oleh: Syamsul Ulum

Banyak umat Islam yang masih menunggu turunnya nabi Isa as dari langit, padahal beliau as sudah wafat pada usia 120 tahun dan dimakamkan di Srinagar, India. Tentu tidak mungkin nabi yang sudah meninggal akan diutus kembali ke dunia. Padahal menurut Al-Qur’an dan Al hadits serta qaul ulama bahwa nabi Isa Ibnu Maryam as itu sudah wafat. Bagaimana mungkin nabi yang sudah wafat akan diutus kembali ke dunia?

Dalil Tentang Kewafatan Nabi Isa Ibnu Maryam as.

Allah SWT berfirman:

وَمَا جَعَلْنٰهُمْ جَسَدًا لَّا يَأْكُلُوْنَ الطَّعَا مَ وَمَا كَا نُوْا خٰلِدِيْنَ

“Dan Kami tidak menjadikan mereka (rasul-rasul) suatu tubuh yang tidak memakan makanan, dan mereka tidak (pula) hidup kekal.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 8)

AlQuran mengabadikan pernyataan nabi Isa as tentang kondisi umatnya sebelum dan sesudah kewafatan nya. Allah SWT berfirman:

مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَاۤ اَمَرْتَنِيْ بِهٖۤ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ ؕ وَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau MEWAFATKAN aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Ma’idah: Ayat 117)

Makna “TAWWAFA” ( توفي)

Imam Ibnul Qayyim rh (w.1350 M) berkata:

(فلما توفيتني ) قال الجبائ و في هذه الايه دلالة على انه أمات وتوفاه ثم رفعه الله اليه لانه بين انه كان شهيدا عليهم مادام فيهم فلما وتوفاه الله كان هو شهيدا عليهم لان التوفى لا يستفاد من اطلاقه الا الموت

(Falamma tawaffaitani): Al-Jibai berkata: ayat ini menunjukkan bahwa dia (nabi Isa as) itu telah wafat. Allah telah mewafatkan dia dan mengangkatnya kepadaNya, oleh karena dia menyatakan bahwa dia menyaksikan keadaan umatnya selama ia hidup bersama mereka itu. Apabila Allah telah mewafatkan dia, maka Allah lah yang menyaksikan mereka itu. Sebab perkataan ” Tawwafa” itu tidak ada gunanya untuk diucapkan oleh nabi Isa as itu, jika dia belum wafat”. (Zadul Maad, juz. 1, hal. 302/ Fathul Bayan, juz.2)

 Ibnul Qayyim rh juga berpendapat:

وأما ما يذكر عن المسيح أنه رفع إلى السماء وله ثلاث وثلاثون سنة فهذا لا يعرف له أثر متصل يجب المصير إليه.
(زاد المعاد في هدي خير العباد لابن الجوزية، ج1 ص ٨٤، مؤسسة الرسالة، بيروت/مجلد ص ١٩.)

“Adapun cerita-cerita tentang Al-Masīḥ as bahwa beliau diangkat ke langit pada usia 33 tahun, tidak dikenal baginya satupun hadis muttaṣil yang mewajibkan Kita untuk meyakininya.” [ Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah,Zād al-Ma‘ād FīHadyi Khair al-‘Ibād v. 1(Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1998 M/1418 H), h. 84

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim dan hadis Aṭ-Ṭaḥāwī yang juga dinukil oleh imam-imam lain seperti Al-Baihaqī dan Aṭ-Ṭabrānī di atas maka Imam Asy-Syāmī menyatakan bahwa:

وهو كما قال، فإن ذلك إنما يروى عن النصارى، والمصرح به في الأحايث النبوية أنه إنما رفع وهو ابن مائة وعشرين سنة.

“Hal itu persis sama dengan apa yang Ibnu Qayyim katakan karena cerita bahwa ‘Īsā as diangkat ke langit pada usia 33 tahun sejatinya diriwayatkan dari orang-orang Kristen, sedangkan kejelasan mengenainya yang terdapat dalam hadis-hadis Nabi Muḥammad Rasūlullah ﷺ ialah bahwa beliau diangkat ruhhnya (wafat) pada usia 120 tahun.” (Nawwāb Ṣiddīq Ḥasan Khān, Fatḥ al-Bayān Fī Maqāṣid al-Qur’ān v. 2 (Beirut: Al-Maktabah al-‘Aṣriyyah, 1992 M/1412 H), h. 247.)

Syeikhul Islam Abdul Wahab Asy-Sya’ran rh atau dikenal dengan nama Imam Asy-Sya’rani (898H/973H) menulis dalam kitabnya:

إن عيسى لا يعد من امة محمد صلى الله عليه وسلم لأنه غير داخل في دعوته فلم يكن من امة الدعوة ولا من امة الملة

Nabi Isa as itu tidak termasuk hitungan umat Nabi Muhammad SAW karena dia tdk masuk dalam seruannya (dakwah Rasulullah SAW) dan juga tidak termasuk golongan umat yg dapat seruan(da’wah) Islam dan juga ia bukan termasuk umat dalam agama Islam. (Kitab Al-Yawaqit wal Jawahir fi Bayani‘Aqaidil Akabir, juz.2, hal. 65)

Nabi ‘Īsā bin Maryam as Sudah Wafat pada Usia 120 Tahun

Nabi Suci Muḥammad Rasūlullah ﷺ bersabda:

حدثنا يوسف بن يزيد؛ قال: حدثنا سعيد بن أبي مريم؛ عن نافع بن يزيد، قال: حدثني ابن غزية يعني عمارة؛ عن محمد بن عبد اللّٰه بْن عمرو بن عثمان، أن أمه فاطمة ابْنة الحسين حدثته؛ أن عائشة كانت تقول: إن رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم قال لفاطمة ابنته في مرضه الذي مات فيه مما سارها به، وأخبرت به عائشة رضِي اللّه عنها بعْد وفاته، قالت عائشة: أخبرتني أنه أخبرها: أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَّبِيٌّ كَانَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ إِلا عَاشَ نِصْفَ عُمْرِ الَّذِيْ كَانَ قَبْلَهُ، وَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ عِيسَى صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَاشَ عِشْرِيْنَ وَمِائَةَ سَنَةٍ، وَلا أَرَانِيْ إِلَّا ذَاهِبًا عَلٰى سِتِّيْنَ.

“Yūsuf bin Yazīd menceritakan kepada Kami; dia berkata: Sa‘īd bin Abī Maryam menceritakan kepada Kami; dari Nāfi ‘bin Yazīd, dia berkata: Ibnu Ghaziyyah menceritakan kepada Kami, yakni ‘Umārah dari Muḥammad bin Abdillah bin ‘Amrū bin ‘Utsmān, bahwa Fatimah bin Al-Ḥusain, ibunya, menceritakan kepadanya; bahwa Ḥaḍrat ‘Ā’isyah ra berkata: Ḥaḍrat Rasūlullāh SAW bersabda kepada Ḥaḍrat Fāṭimah ra ketika beliau tengah sakit untuk yang terakhir kalinya.Ḥaḍrat Fāṭimah ra mengabarkannya kepada Ḥaḍrat ‘Ā’isyah ra setelah kewafatan beliau.Ḥaḍrat ‘Ā’isyah ra berkata: Ḥaḍrat Fāṭimah ra mengabarkanku bahwa beliau mengabarkan kepadanya: Tidaklah ada seorangpun nabi, kecuali hidup paling tidak setengah dari umur seorang nabi yang datang sebelumnya. Dia (Jibrīl as) juga mengabarkan kepadaku bahwa ‘Īsā bin Maryam as hidup selama 120 tahun. Oleh karena itu, Aku tidaklah melihat diriku, kecuali akan pergi pada permulaan umur yang ke-60.” [ Musykil al-Ātsār Li Abī Ja‘far Aṭ-Ṭaḥawī Al-Ḥanafī, no. 1937 dan Al-Mu‘jam al-Kabīr,Fī Mā Rawat Umm-ul-Mu’minīn ‘Ā’isyah ‘An Fāṭimah raḍiyallāhu ‘anhumā, no. 1301 ]

Keterangan: 

Jelas dari hadis ini bahwa ‘Īsā Al-Masīḥ as yang diutus kepada Banī Isrā’īl telah wafat dalam usia 120 tahun, tidak diangkat ke langit dan tidak pula akan turun dari langit.

foto Makam Nabi Isa Ibnu Maryam as

Syeikh Syarafuddin Abu Abdullah Muhammad bin Abi al-Fadhl al-Mursi rh (wafat sekitar 655 H / 1257 M) adalah seorang ulama besar, ahli tafsir, dan pakar bahasa asal Andalusia (sekarang Spanyol) yang kemudian menetap di Mesir. Beliau dikenal sangat mendalam dalam ilmu bahasa Arab dan ilmu qira'at. Salah satu karyanya yang paling masyhur adalah kitab tafsir berjudul An-Nayyiran (Dua Cahaya). Beliau sering menggunakan pendekatan logika bahasa yang kuat untuk menarik kesimpulan hukum atau akidah, seperti yang terlihat pada argumentasi yang beliau tulis ini. Tentang telah wafatnya nabi Isa as, beliau mengutip sebuah hadits Nabi Saw sebagai berikut:

وَقَالَ شَرَفُ الدِّيْنِ أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي الْفَضْلِ الْمُرْسِيُّ: أَمَّا خَضِرُ مُوسَى بْنِ عِمْرَانَ فَلَيْسَ بِحَيٍّ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ حَيًّا لَلَزِمَهُ الْمَجِيْءُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاتِّبَاعُهُ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: لَوْ كَانَ مُوسَى وَعِيسَى حَيَّيْنِ لَمَا وَسِعَهُمَا إِلَّا اتِّبَاعِي

"Dan Syarafuddin Abu Abdullah Muhammad bin Abi al-Fadhl al-Mursi rh berkata: Adapun Khidir (yang sezaman dengan) Musa bin 'Imran, maka ia tidaklah hidup (wafat). Karena seandainya ia masih hidup, niscaya ia wajib datang kepada Nabi (Muhammad Saw), beriman kepadanya, dan mengikutinya. Dan sungguh telah diriwayatkan dari beliau (Nabi Muhammad Saw) bahwasanya beliau Saw bersabda:"Sekiranya Musa dan Isa masih hidup (di tengah-tengah kalian di dunia), tidak ada pilihan lain bagi mereka berdua kecuali mengikuti aku." 

(Tafsir Al-Bahrul Muhith (تفسير البحر المحيط) Atsiruddin Muhammad bin Yusuf bin Hayyan al-Andalusi al-Gharnathi (Ibnu Hayyan) Juz 6 (Surah Al-Kahf, Ayat 60-70), hal: 183, Penerbit: Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, Beirut)

Nabi Isa Ibnu Maryam as Wafat Pada Malam 27 Ramadhan

Ibn Sa’d, (168-230 H/ 784-845 M) dalam kitabnya menulis bahwa Ketika Ḥaḍhrat Ali bin Abi Thalib ra disyahidkan (wafat), maka Hadhrat Imam Hasan bin Ali Ra naik mimbar dan berkata:

ولقد قبض في الليلة التي عرج فيها بروح عيسى ابن مريم ليلة سبع وعشرين من رمضان.(الطبقات الكبرى - ط دار صادر نویسنده : ابن سعد جلد : ٣ صفحه :٣٩)

Dan sungguh dia (Ḥaḍhrat Ali Ra) telah diambil ruhnya (wafat) pada malam di mana pada malam itu juga ruh Isa putra Maryam diangkat (wafat) yakni pada malam ke dua puluh tujuh bulan Ramadhan. (Ibnu Sa'd, At-Thobaqot Al-Kubro juz 3, hal. 39)

ويرى ابن حزم وهو فقهاء الظاهر.. إن الوفاة في الآيات تعني الموت الحقيقي، وإن صرف الظاهر عن حقيقته لا معنى له وإن عيسى بناء على هذا قد مات. (الفصل في الأهواء والملل والنحل (عند الكلام عن المسيحية))

Ibnu Hazm, (w.1064 M) seorang ulama, sejarawan, ahli fikih, dan imam Ahlus Sunnah di Spanyol Islam. Ia dikenal karena produktivitas keliteraturannya, luas ilmu pengetahuannya, dan kepakaran dalam bahasa Arab dari mazhab Zhahiriyah, berpendapat bahwa kata "tawaffa" (meninggal) dalam ayat-ayat tersebut berarti kematian yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa memalingkan makna literal dari makna aslinya tidak memiliki dasar, sehingga menurutnya Isa telah wafat. (Kitab Al-Fasl fi al-Milal wa al-Ahwa' wa al-Nihal - dalam pembahasan tentang Kristen).

وقد تعرض الأستاذ الإمام محمد عبده إلى آيات الرفع وأحاديث النزول، فقرر الآية على ظاهرها، وأن التوفي هو الإماتة العادية وأن الرفع يكون بعد ذلك وهو رفع الروح. (تفسير المنار عند شرح الأيات السابقة)

Ustaz Imam Muhammad Abduh (w.1905) juga membahas ayat-ayat tentang pengangkatan (رفع) dan hadis-hadis tentang turunnya Isa. Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut harus dipahami secara literal, bahwa tawaffa berarti kematian biasa, dan raf' (pengangkatan) yang dimaksud adalah pengangkatan roh setelah wafat. (Tafsir Al-Manar dalam penjelasan ayat-ayat sebelumnya).

Wafatnya Ulama, Cara Allah Mencabut Ilmu. Dalam hadits yang riwayat Muttafaqun ‘alaih dikatakan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. متفق عليه

Dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, etika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan’. (Mutafaqun alaih)

Penjelasan:

يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ

"Mencabut ilmu maknanya MEWAFATKAN Ulama"

LALU ISA IBNU MARYAM YANG MANA YANG DIJANJIKAN OLEH RASŪLULLAH AKAN DIUTUS DI AKHIR ZAMAN, APAKAH ISA IBNU MARYAM AS DARI BANI ISRAEL YANG SUDAH WAFAT ATAUKAH SESEORANG DARI UMAT NABI MUHAMMAD ﷺ YANG BERGELAR ISA IBNU MARYAM ?

Akan Diutus Seorang yang Menyerupai Isa Ibnu Maryam as

Ibnu al-Wardī (w. 749 H) menerangkan bahwa akan diutusnya seseorang yg menyerupai Isa Ibnu Maryam as:

وقالت فرقة: نزل عِيْسى: خُرُوْجُ رَجُلٍ يُشَبِّهُ عِيْسٰى فِي الْفَضْل ِ وَالشَّرَفِ، كَمَا يُقَالُ لِلرَّجُل الْخَيْرِ مَلَكٌ وَلِلشِّرِّيْرِ شَيْطَانٌ، تَشْبِيْهًا بِهِمَا وَلَا يُرَادُ الْأَعْيَانُ 

Artinya: “Segolongan ahli takwil berkata: Turunnya ‘Īsā as adalah “Keluarnya seseorang yang menyerupai ‘Īsā a.s dalam kemuliaan dan kehormatan sebagaimana seorang yang baik hati disebut malaikat dan seorang yang buruk hati disebut setan semata-mata untuk penyerupaan dan bukan berarti sosok yang berlainan.”(Ibnu al-Wardī,Kharīdat al-‘Ajā’ib Wa Farīdat al-Gharā’ib; Kairo: Maktabat ats-Tsaqāfah ad-Dīniyyah, 2007), hlm. 442.

Penjelasan:

Di dalam al-Qur’ān, kata خرج (keluar) digunakan untuk menunjukkan lahirnya seorang manusia dari rahim ibu. Kita membaca:

وَا للّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصٰرَ وَا لْاَ فْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur."(QS. An-Nahl 16: Ayat 78)

Ulama dan juga hakim dari Persia, Qadi Kamaluddin Husein Ibn Mu‘inuddin ‘Ali al-Maybudi (w. 1504 M), yang kemungkinan berafiliasi dengan tariqah Nurbakhshi, berkorespondensi dengan al-Lahiji dalam bab tentang kenabian dan kewalian dalam karya utamanya, Sharhi Divani ‘Ali (Penjelasan tentang Puisi ‘Ali) yang juga dikenal sebagai al-Fawatih sebagai berikut:

وَ بَعْضِي بَرَانَدْ كِهْ رُوحِ عِيسَى دَرْ مَهْدِي بُرُوزْ كُنَدْ وَ نُزُولِ عِيسَى عِبَارَتْ أَزْ اِينْ بُرُوزْ أَسْتْ وَ مُطَابِقِ اِينْ أَسْتْ حَدِيثْ: لَا مَهْدِيَّ إِلَّا عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ

“Sebagian ulama mengatakan bahwa ruh Isa as akan diburuzikan (dipancarkan) ke dalam diri Imam Mahdi. Dimana maksud turunnya Isa as adalah sebuah proses manifestasi ruh ini (kepada sosok Imam Mahdi). Hal ini sesuai dengan pandangan hadits nabi yang berbunyi, ‘Laa Mahdiyya illa ‘Isa ibn Maryam’ (Ia tidak hanya bergelar Al-Mahdi tapi juga bergelar Isa putra Maryam).’ (Husein ibn Mu‘inuddin al-Maybudi, Sharhi Divanul Mansub ila li Imam, Tehran, 1868, hal. 89).

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. juga mengemukakan prihal kedatanganya sebagai Al-Masih yang kedua pada tahun 1400 dimana beliau as. bersabda:

 “Al-Masih yang kedua ini telah datang dengan kekuatan dan sifat Al-Masih yang pertama-pada zaman yang sama dengan dan setelah lewat jangka waktu yang sama setelah zaman kalimnya sendiri, yakni setelah kurang lebih 1400 tahun.” [Kemenangan Islam, Hz. Mirza Ghulam Ahmad as, JAI, 1987, h.12]

Beliau juga mengatakan:

مسیح ابن مریم رسول اللہ فوت ہو چکا ہے اور اس کے رنگ میی ہو کر وعدہ کے موافق تو ایا ہے

"Masih bin Maryam, Rasulullah, telah wafat, dan engkau telah datang dalam rupanya (nabi Isa as) sesuai dengan janjiNya." (Ruhani khazain jilid 3 hal. 402)

Analogi

Ada undang-undang dalam bahasa Arab yang mengatakan bahwa:

وإطْلاقُ اسْمِ الشَّيْءِ عَلى ما يُشابِهُهُ في أكْثَرِ خَواصِّهِ وصِفاتِهِ جائِزٌ حَسَنٌ.

“Menyebutkan satu nama pada beberapa barang oleh karena banyak persamaannya di dalam keadaan tertentu atau dalam sifatnya adalah boleh dan bagus.” ( Tafsir Kabir, Juz.2, hal. 689)

يستعار لعالم فقيه لفظ ابي حنيفة (التوضيح)

“Nama Abu Hanifah itu boleh dipinjamkan pada orang ‘Alim yang menguasai Ilmu Fiqih.” (Attaudih)

Ketika Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar, Rasulullah ﷺ bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: هذا فرعون هذه الا مة

Abu Jahal adalah Firaun umat ini”. (lihat Tafsir Khazin, j. 7, h. 156).

Jadi kenapa Rasulullah ﷺ memberi julukan Abu Jahal sebagai Firaun untuk umat ini?

Hal itu karena ada banyak persamaan antara Abu Jahal dengan Firaun. Abu Jahal sang Penentang Rasūlullah ﷺ itu digelari dengan nama Firaun di umat ini oleh Rasulullah ﷺ. Padahal Fir’aun asli nya sudah mati.

Orang yang suka Azan itu biasa disebut atau digelari dengan nama BILAL padahal nama aslinya bisa saja Udin. Sedangkan kita tau sahabat Bilal bin Rabah Ra itu sudah wafat.

Begitupun dengan Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad as yang oleh Allah SWT dijuluki atau digelari dengan nama Isa Ibnu Maryam pada umat Islam. Sedangkan Isa Ibnu Maryam as aslinya sudah wafat sebelum Rasūlullah ﷺ lahir.

TIDAK AKAN ADA NABI YANG TURUN DARI LANGIT.

Berkenaan dengan orang-orang islam yang masih menunggu Nabi Isa Ibnu Maryam as turun dari làngit, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as Menjelaskan:

Ingatlah…! Tiada seorangpun yang akan turun dari langit. Semua orang yang memusuhi ku dan hidup saat ini akan mati dan tidak seorangpun diantara nya yang akan menyaksikan Kedatangan Isa Ibnu Maryam turun dari surga. Kemudian anak-anak mereka, cucu-cucu mereka dan cicit-cicit mereka akan mati pula dan Isa anak Maryam belum juga turun. Kemudian Allah akan merasukan ketakutan kedalam hati mereka bahwa hari-hari Kedatangan Isa dari langit tak juga nampak. Mereka akan lelah dengan penantiannya. Dan sebelum tiga abad dari hari ini berakhir, kaum Muslim dan Kristen yang mempercayai hal ini akan mencampakkan dogma yang salah ini Dengan perasaan malu dan putus asa.

Selanjutnya hanya akan ada satu agama (islam) di bumi ini dan hanya ada satu petunjuk. Saya telah datang utk menyamai benih dan benih itu telah ditanam oleh tanganku akan tumbuh darinya dan berbuah dan tidak akan ada kekuatan di bumi ini yang dapat menghancurkan nya. (Tadzkiratul syahadatain, hal. 64-65)

SEMUA PARA NABI MASIH HIDUP DI ALAM KUBUR

Apabila ada orang yang tetap bersikukuh bahwa ‘Īsā bin Maryam as hidup di langit maka akan bertentangan dengan ‘aqīdah ijmā‘iyyah ini, jika mereka tetap mengatakan nabi Isa as masih hidup, Kami akan katakan, “Ya, benar! Nabi ‘Īsā as memang masih hidup, tetapi hidup secara rohani di dalam kubur beliau sebagaimana seluruh nabi hidup di alam kubur mereka masing-masing.” Kita membaca dalam sebuah hadis syarif:

حدثنا أبو الجهم الأزرق بن علي؛ حدثنا يحيى بن أبي بكير؛ حدثنا المستلم بن سعيد؛ عن الحجاج، عن ثابت البناني، عن أنس بن مالك، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: اَلْأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ.

“Abū al-Jahm Al-Azraq bin ‘Alī; Yaḥyābin Abī Bukair menceritakan kepada Kami; Al-Mustalim bin Sa‘īd menceritakan kepada Kami; dari Al-Ḥajjāj, dari Tsābit Al-Bunānī, dariḤaḍrat Anas bin Mālik ra, beliau berkata: Ḥaḍrat Rasūlullāh SAW bersabda:

"Para nabi tetap hidup di dalam kubur mereka, mereka tetap salat.”[ Al-Maqṣad Al-‘Alī Fī Zawā’id Abī Ya‘lā Al-Mauṣilī, Bāb Ḥayāt al-Anbiyā Fī Qubūrihim, no. 1239)


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَ رْضَ كِفَا تًا اَحْيَآءً وَّاَمْوَا تًا 

"Bukankah Kami telah menjadikan bumi tempat berkumpul bagi orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati?" (QS. Al-Mursalat /77:25-26)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (w.2001 M) menjelaskan,

أنه لا يمكن العيش إلا في الأرض لبني آدم؛ لقوله تعالى : ( ولكم في الأرض مستقرٌ ومتاع إلا حين ) ؛ ويؤيد هذا قوله تعالى: ( فيها تحيون وفيها تموتون ومنها تخرجون ) ؛ وبناءً على ذلك نعلم أن محاولة الكفار أن يعيشوا في غير الأرض إما في بعض الكواكب ، أو في بعض المراكب محاولة يائسة؛ لأنه لا بد أن يكون مستقرهم الأرض. اهـ

“Tidak mungkin hidup di selain bumi bagi keturunan adam berdasarkan firman Allah Allah (surat AL-Baqarah ayat 36 & Al-A’raf ayat 25), berdasarkan kedua ayat ini kita mengetahui bahwa usaha orang kafir untuk hidup di selain bumi baik itu di sebagian planet atau gugus bintang adalah usaha yang sia-sia karena tidak ada tempat yang “stabil untuk kehidupan” kecuali bumi.” [As-Silsilah Adz-Dzahabiyah min Tafsir 1/133]

Syaikh Shalih Al-Munajjid (lahir 1961) seorang ulama Islam Palestina-Saudi kelahiran Suriah menjelaskan,

كله في الأرض وليس في غيرها، وبناء عليه فلا يمكن أن يعيش البشر في غير الأرض، يعني: يستقرون ويتوالدون يكون لهم مستقر يتناسلون، وأجيال، ما يمكن، ممكن يطأ كوكبًا آخر لكن ما يمكن يستقر فيها

“Kehidupan itu di bumi dan tidak ada pada planet lainnya. Manusia tidak mungkin hidup di selain planet bumi yaitu hidup stabil, beranak-pinak dan hidup bergantian setiap generasi. Hal ini tidak mungkin. Memungkinkan bagi manusia menginjakkan kaki pada planet lainnya tetapi untuk hidup secara stabil (mustaqar) hal ini tidak mungkin.”

Syeikh ‘Ali al-Tantawi seorang ahli hukum Sunni Suriah yang lahir pada tahun 1909 dan meninggal pada tahun 1999. Ia merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam dakwah Islam dan sastra Arab pada abad ke-20. ketika mengulas sifat-sifat para rasul a.s, beliau menjelaskan.: 

“ Para rasul kesemuanya manusia. Mereka dilahirkan seperti mana dilahirkan manusia, mereka mati seperti mana manusia mati, mereka sakit dan sihat seperti mana manusia sakit dan sihat. Mereka tidak berbeza dengan manusia pada bentuk tubuh badan dan anggota, tidak pada perjalanan darah dan pergerakan jantung. Mereka makan dan minum seperti mana manusia makan dan minum. Tidak pada mereka sedikit pun unsur uluhiyyah (ketuhanan), kerana ketuhanan untuk Allah semata. Namun mereka adalah manusia yang telah diwahyukan kepada mereka” (Ali al-Tantawi, Ta’rif ‘Am bi din al-Islam, m.s. 161, Mesir: Dar al-Wafa).

INGAT.. ! Rasūlullah ﷺ pernah bersabda bahwa Umat Islam akan mengikuti Jejak kelakuan Yahudi dan Nashrani. 

والسلام على من اتبع الهدى
Keselamatan dan kedamaian atas orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya(Saw).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian