Dimana Letak Kesesatan Ahmadiyah?

Ahmadiyah Adalah Organisasi Islam  yang legal dan Bukan Aliran sesat. 

Syahadat yang diikrarkan Jamaah Muslim Ahmadiyah 

اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمدا رسول الله 

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad bin Abdullah  adalah Rasul Allah”.
———————————————————————----
ANGGOTA JAMAAH AHMADIYAH HARUS BERAGAMA ISLAM 

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  (Al-Mahdi wal Masihil Mau’ud ) menyatakan: 

لاَ يَدْخُلُ فيِ جَمَاعَتِناَ إِلاّ الَّذِي دَخَلَ فيِ دِينِ الْإِسْلاَمِ، واتّبَعَ كِتَابَ اللهِ وسُننَ سيدِنا خَيْرِ الأَنَامِ، وآمَنَ باللهِ ورَسُولِهِ الكَريمِ الرَّحيمِ، وبالحَشْرِ والنَّشْرِ والجنَّةِ والجَحِيْمِ. ويَعِدُ ويَقِرُّ بأنَّهُ لَنْ يَبْتغِيَ دِينًا غيرِ دينِ الإِسْلاَمِ، ويَمُوْتُ عَلى هَذا الدِّينِ دِينَ الفِطرةِ. مُتَمَسِّكاً بِكتَابِ اللهِ العَلَّامِ، ويَعْمَلُ بكُلِّ ما ثَبَتَ مِنَ السُّنَّةِ والقرآنِ وإِجْمَاعِ ِالصَحَابةِ الكِرَامِ. ومَنْ تَرَكَ هذهِ الثلاثةَ فقد تَرَكَ نفسَه في النارِ، وكَانَ مآ لُهُ التبابَ والتبارَ” (كتاب روحاني خزائن جلد ١٩ ص:  ۷۷/ كتاب مواهب الرحمان ص: ٣١٥). 

"Tidak boleh masuk ke dalam Jamaah kami (Jamaah Muslim Ahmadiyah) kecuali orang yang masuk ke dalam agama Islam, mengikuti kitab Allah Al-Qur’an dan sunah-sunah junjungan kita sebaik-baiknya manusia Nabi Muhammad ﷺ serta beriman kepada Allah dan rasul-Nya yang mulia lagi penyayang. Ia beriman kepada hari penghimpun penghimpunan dan hari kiamat, surga dan neraka serta ia (setiap ahmadi) berjanji dan berikrar tidak akan memilih agama selain agama Islam. Ia akan mati di atas agama Islam ini yaitu agama fitrah dengan berpegang teguh kepada kitab Allah (Al-Qur’an) yang Maha Tahu dan mengamalkan setiap apa yang ditetapkan Sunnah, Al-Qur'an dan Ijma sahabat yang mulia dan siapa yang mengabaikan tiga hal ini sungguh ia telah meninggalkan dirinya dalam api neraka dan nasibnya akan hancur dan terhina." (Kitab Mawaahibur Rahman hal. 415)
______________________________________________

Oleh: Syamsul Ulum 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا عَلَيْكُمْ اَنْفُسَكُمْ ۚ لَا يَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ اِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُـنَـبِّـئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 105) 

ISLAM berasal  dari kata masdar: اسلم-يسلم-اسلاما “(aslama-yuslimu- islaaman)” yang berarti Taat, tunduk, patuh, pasrah dan selamat. Islam juga berarti berserah diri secara total kepada Allah SWT. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗۤ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ 

"Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?" (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 83) 

Islam adalah agama sempurna yang diridhai Allah (QS 5:4).  Agama yang paling sempurna dalam membicarakan dan memerhatikan seluruh sisi kehidupan manusia (QS 97:5), baik dalam urusan duniawi maupun urusan ukhrawi (QS 2:201).Oleh karena itu, siapapun yang mencari agama selain Islam maka agama itu tertolak. Allah ta’ala berfirman, 

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

“Dan barang siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan pernah diterima darinya dan di akhirat nanti dia akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85) 

Islam juga merupakan agama yang menghimpun semua kebenaran agama-agama yang pernah dibawa oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw (QS 98: 3-4). 

Maka dari itu Islam disebut sebagai agama sempurna dan terakhir dan akan berlaku sepanjang masa.  Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19) 

Dalam Al-Qur'an Allah memerintah kita agar bertanya kepada ahlinya apabila kita tidak tahu keadaan dan fakta yang sebenarnya. Begitu pula jika kita ingin mengetahui tentang Jamaah Muslim Ahmadiyyah maka hendaknya kita bertanya pada ulama Ahmadiyah atau penganut muslim Ahmadiyah. Karena kita akan mendapati pengetahuan secara obyektif tentang Ahmadiyyah jika kita bertanya pada ahlinya, karena hal itu merupakan ajaran Islam dan merupakan perintah dari AlQur'an. Adalah satu kekeliruan andaikan kita ingin mengetahui tentang Islam tapi malah bertanya pada non Muslim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ 

“… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (Qs. an-Nahl: 43) 

Penjelasan

Ayat ini merupakan kaidah dan juga bimbingan dari Al Qur'an kepada kita bahwasanya jika kita tidak mengetahui tentang suatu perkara, maka hendaknya kita bertanya kepada orang yang telah mengkhususkan diri (ahlinya) dibidangnya." 

Tabayyun Adalah Perintah Allah Dalam Al-Qur'an. 

Dalam ayat lain bahkan Allah SWT mengajarkan kita agar senantiasa waspada Terhadap Khabar berita yang dapat merugikan orang lain, AlQur'an membimbing kita agar selalu bertabayun atau melakukan klarifikasi dahulu sebelum menyimpulkan. Allah Ta’ala memerintahkan agar kaum muslimin  mencari kejelasan dari berita yang diterimanya. Sebagaimana firmanNya: 

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌ  ۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ  تُصِيْبُوْا قَوْمًا  ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat 49: 6) 

Secara etimologis “Tabayyun” adalah mencari kejelasan tentang sesuatu berita atau khabar hingga benar sesuai dengan keadaan dan fakta yang sesungguhnya. 

Secara terminologis “Tabayyun” adalah meneliti dan menyeleksi suatu berita dalam memutuskan suatu permasalahan, baik yang berkaitan dengan hukum, agama, sosial, politik dan lain sebagainya hingga jelas permasalahnnya, dan tidak ada pihak yang terzalimi atau tersakiti. 

Asbabun Nuzul Perintah Bertabayun. 

“Asbab nuzul” atau kisah yang melatarbelakangi ayat ini adalah; riwayat dari Ibn ‘Abbās, tentang kasus al-Walīd bin ‘Uqbah, yang menjadi utusan Rasulullah saw, untuk memungut zakat dari Bani Musthaliq. Ketika Bani Musthaliq mendengar kedatangan utusan Rasulullah, mereka menyambutnya secara berduyun-duyun dengan sukacita. 

Mendengar hal itu, al-Walīd, menduga bahwa mereka akan menyerangnya, mengingat pada zaman Jahiliah mereka saling bermusuhan. Di tengah perjalanan, al-Walīd kembali dan melapor kepada Nabi saw, bahwa Bani Musthaliq tidak bersedia membayar zakat, malah akan menyerangnya. Rasulullah saw marah, dan siap mengirim pasukan kepada Bani Musthaliq. Tiba-tiba, datanglah utusan Bani Musthaliq seraya menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. 

“Tabayyun” atau klarifikasi dalam menerima suatu berita atau informasi  sangat penting dan Allah Ta’ala secara eksplisit memerintahkan agar setiap muslim melakukan cek and recek terhadap semua informasi yang diterimanya, apalagi dalam pergaulan di dunia  media sosial. Informasi yang tidak valid akan menghancurkan persaudaraan dan persatuan umat. 

Jangan Karena Kebencian Terhadap Satu Golongan Sehingga Berlaku Tidak Adil. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِا لْقِسْطِ  ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا  ۗ اِعْدِلُوْا  ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى  ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ  ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 8)

Penjelasan

Prof. DR. Hamka dalam tafsirnya (Tafsir Al-Azhar juz VI) menjelaskan tentang hakikat kesaksian yang adil, beliau menulis sebagai berikut: 

“Kalau seorang Mukmin diminta kesaksiannya dalam satu hal atau perkara, hendaklah ia memberikan kesaksian yang sebenarnya saja, yakni yang adil. Tidak membelok-belik karena pengaruh sayang atau benci, karena lawan atau kawan, karena yang dihadapi akan diberikan kesaksian tentangnya kaya, lalu segan karena kayanya. Atau miskin, lalu kasihan karena kemiskinannya. Katakan apa yang engkau tahu dalam hal itu, katakan yang sebenarnya, walaupun kesaksian itu akan menguntungkan orang yang tidak engkau senangi, atau merugikan orang yang engkau senangi.” 

Kemudian tentang kebencian yang dapat merintangi seseorang bersikap adil, Hamka menafsrkan: 

“Misalnya orang yang akan engkau berikan kesaksianmu atasnya itu, dahulu pernah berbuat sesuatu penghalangan yang menyakitkan hatimu, maka janganlah kebencianmu itu menyebabkan kamu memberikan kesaksian dusta untuk melepaskan sakit hatimu kepadanya, sehingga kamu tidak berlaku adil lagi. Kebenaran yang ada di pihak dia, jangan dikhianati karena rasa bencimu. Karena kebenaran akan kekal dan rasa benci adalah perasaan bukan asli dalam jiwa, itu adalah hawa dan nafsu yang satu waktu akan mereda teduh. 'Berlaku adillah! Itulah yang akan melebihdekatkan kamu kepada takwa. 

Keadilan adalah pintu yang terdekat kepada takwa, sedang rasa benci adalah membawa jauh dari Tuhan. Apabila kamu telah dapat menegakkan keadilan, jiwamu sendiri akan merasai kemenangan yang tiada taranya, dan akan membawa martabatmu naik di sisi manusia dan di sisi Allah. Lawan adil adalah zalim; dan zalim adalah salah satu dari puncak maksiat kepada Allah. Maksiat akan menyebabkan jiwa sendiri menjadi merumuk dan merana. 

Jiwa manusia selalu berada dalam sorotan Allah. Hamka menulis: 

Jiwa manusia di bawah pengawasan Tuhan, apakah dia setia memegang keadilan atau tidak. Jika masyarakat Islam telah diberi Allah kekuasaan, mengatur pemerintahan, adakah dia adil atau tidak. Selalu dikisahkan dalam Alquran bahaya yang menimpa suatu ummat karena zalimnya. 

Apabila yang berkuasa (pemerintah) tidak adil, maka yang dikuasai akan menderita dan patah hati, masa bodoh. Akhirnya hilanglah wibawa dan kemegahan ummat itu, dan mudahlah masuk kekuatan musuh ke dalamnya, dan mudahlah dirampas kemerdekaannya. Itulah ancaman azab siksaan dunia, dan akan datang lagi di akhirat. Nabi kita s.a.w menurut sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh at-Thabrani dari Jabir pernah bersabda [dikutip artinya]: Kalau ahli dzimmah [pemeluk agama lain di dalam pemerintahan Islam yang wajib dilindungi dan diperlakukan adil] telah dianiaya, maka pemerintahan negeri itu adalah pemerintahan musuh.” (Prof DR Hamka, Tafsir al-Azhar Juzu' VI. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984, hlm. 154-157). 

MENGENAL AKIDAH DAN KEYAKINAN JAMAAH MUSLIM AHMADIYYAH 

Masih banyak dari kaum muslimin yang belum mengetahui apakah keyakinan dan akidah dari Jamaah Muslim Ahmadiyyah itu? Oleh karena itu pada kesempatan ini, saya akan sampaikan Akidah dan keyakinan dari Jamaat Muslim Ahmadiyah berdasarkan yang diambil dari tulisan-tulisan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. 

Berkenaan dengan akidah dan keyakinan dari Jamaah Muslim Ahmadiyyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, bersabda: 

اِعْلَمُوا أَنَّ اْلإِسْلاَمَ دِينِي وَعَلى التَّوْحِيدِ يَقِينِي 

“Ketahuilah bahwa Islam itu agamaku, tauhid itu keyakinanku”. (Miraati Kamaalaatil-Islam, hal. 388). 

Beliau juga mengatakan bahwa Islam adalah agama yang hidup, sebagaimana penjelasannya: 

"Peneyelidikan yang teliti menyatakan, bahwa terkecuali Islam semua agama-agama lain dalam dunia ini mengandung salah satu kesalahan di dalamnya. Sebenarnya agama-agama itu bukanlah palsu dari asal mulanya, hanya setelah agama Islam datang ke dunia ini, maka Allah SWT tidak memelihara lagi agama-agama itu. Ibarat sebuah kebun yang tidak lagi disirami dan  tidak dipelihara oleh tukang kebunnya, sehingga lambat laun akan menumbuhkan berbagai macam semak belukar di dalamnya dan pohon-pohonnya akan berubah menjadi kering dan mati. Dan timbullah bermacam-macam tumbuh-tumbuhan yang liar dan berduri. Begitulah perumpamaan kerohanian yang menjadi pokok agama terdahulu yang telah hilang,  lenyap dan yang tinggal hanya perkataan kosong belaka. Akan tetapi Allah SWT tidak melakukan begitu terhadap Islam. Dia menghendaki bahwa kebun (Islam) itu harus tetap subur dan menghijau untuk selama-lamanya”. (Islam, pidato Hz. Pidato dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, tanggal 2 Nov’ 1904 di kota Sialkot, Pakistan) 

Dari dua pernyataan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tersebut, jelaslah bagi kita bahwa agama yang dianut beliau dan Jamaah muslim Ahmadiyah adalah ISLAM sebagaimana Islam yang dibawa oleh yang mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW. 

Apakah Jemaah Ahmadiyah Meyakini dan mengikrarkan dua kalimat Syahadat? 

Jawabannya: Ya.
"Jamaah Ahmadiyah sangat meyakini dan menjunjung tinggi dua kalimat syahadat karena hal itu sebagai bukti akan keislamannya". Hal ini dinyatakan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri, beliau bersabda: 

"Inti dari kepercayaan kami adalah: 

لا اله  إلا الله محمد رسول الله 

"Laa Ilaaaha Illallaahu Muḥammad-ur- Rasulullah" (Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah) Kepercayaan kami inilah yang menjadi tempat bergantung dalam hidup ini, dan yang padanya, dengan rahmat dan karunia Allah kami berpegang teguh sampai akhir hayat kami.” (Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891, h.137). 

Jadi jelas sekali dari pernyataan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad diatas bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyyah adalah Islam. Dan tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengeluarkan Jamaah Muslim Ahmadiyyah dari agama Islam. 

Bahkan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  menegaskan kepada para pengikutnya Sebagai berikut: 

“Aku mengingatkan para anggota Jemaatku bahwa mereka harus mempunyai keyakinan penuh pada keimanan: 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ 

bahwa “Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Yang Mulia Nabi Muhammad adalah Rasul Allah”, serta mereka seharusnya mati dalam keadaan beriman demikian. Mereka harus mengimani semua Nabi-nabi dan semua Kitab samawi yang kebenarannya dikukuhkan oleh Al-Quran. Mereka harus melaksanakan puasa dan shalat serta membayar zakat dan melaksanakan ibadah haji serta melaksanakan seluruh perintah yang diberikan Allah SWT dan Rasul-Nya dan menahan diri dari segala hal yang dilarang, secara keseluruhan sejalan dengan peraturan Islam. Kami menganggap adalah menjadi kewajiban kami untuk menerima segala hal yang didukung oleh consensus (ijma) dari orang-orang shaleh yang telah berlalu (Salafussholeh) dan semua yang dianggap sebagai bagian dari agama Islam oleh para Ahli Sunnah. Kami bersaksi demi langit dan bumi, inilah agama kami (Islam).” (kitab Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 323, London, 1984 (dikutip dari buku inti ajara Islam, hal. Xxxv)

Syahadat Pintu Masuk Agama Islam.

Syahadatain merupakan pintu masuk ke dalam agama Islam. Oleh sebab itu, seseorang yang akan masuk Islam tidak diperintah terlebih dahulu untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan atau Haji ke Baitullah. Melainkan ia harus bersyahadat terlebih dahulu dengan bersaksi bahwa tiada ilah (yang berhak) disembah melainkan Allah, dan bersyahadat bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Bersyahadat merupakan syarat utama seseorang untuk bisa mengerjakan amalan rukun Islam lainnya. Tidak diterima amal ibadah seseorang kalau tidak berdasarkan pada syahadat yang terpatri dalam qalbu, dinyatakan dengan lisan dan teraplikasikan dalam perbuatan.

Dalam kitab Nurul Haq, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  mempertegas tentang ke-islamannya dengan menyatakan: 

اِنَّا نَحْنُ مُسْلِمُوْنَ نُؤْمِنُ بِاللهِ الفَرْدِ الصَّمَدِ الأَحَدِ قَائِلِيْنَ لَا اِلَهَ اِلاَّ هُوَ وَنُؤْمِنُ بِكِتَابِ اللهِ القُرْاَنِ ورَسُوْلِهِ سَيِّدِناَ محُمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ

"Sungguh kami adalah orang-orang Islam yang beriman kepada Allah yang Tunggal yang segala sesuatu bergantung kepadaNya yang Maha esa seraya mengucapkan: "Tidak ada Tuhan kecuali Dia (Allah)" dan kami beriman kepada kitabullah Al-Qur'an serta beriman kepada rasul-Nya yakni junjungan kita sayyidina Muhammad Khaataman Nabiyyin." (kitab Nurul Haq hal. 7) 

Selanjutnya beliau as berkata:

لا اله الا الله محمّدا رسول الله آمنتُ بالله وملائكته ورسوله وكتبه والجنّة والنار والبعث بعد الموت

“Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah. Saya beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, Surga, Neraka dan kebangkitan setelah mati”. (Anwarul Islam, h. 388)

Jadi jelas sekali dari pernyataan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad diatas bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyyah adalah Islam. Dan tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengeluarkan Jamaah Muslim Ahmadiyyah dari agama Islam”. 

Apakah Dasar dan Sumber Hukum yang Dijadikan Pegangan Jamaah Muslim Ahmadiyah? 

Jawab: 

Sumber pokok yang dipegang oleh jamaah Ahmadiyah adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.  

Sebagaimana yang dijelaskan oleh pendiri Jama'ah Muslim Ahmadiyah sendiri. Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad  mengatakan: 

اِشْهَدُوُا إِنَّا نَتَمَسَّكُ بِكِتَابِ اللهِ الْقُرْآنِ وَنَتَّبِعُ أَقْوَالَ رَسُولِ اللهِ مَنْبَعَ الْحَقِّ وَالْعِرْفَانِ وَنَقْبَلُ مَا انْعَقَدَ عَلَيْهِ اْلإِجْمَاعُ بِذَالِكَ الزَّمَانِ لاَنَزِيدُ عَلَيْهَا وَلاَ نَنْقُصُ مِنْهَا وَعَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَمَنْ زَادَ عَلَى هَذِهِ الشَّرِيعَةِ مِثْقَالَ ذَرَّةِ أَوْ نَقَصَ مِنْهَا أَوْ كَفَرَ بِعَقِيدَةٍ إِجْمَاعِيَّةٍ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ 

“Saksikanlah!, bahwa kami (jamaah muslim Ahmadiyah) berpegang teguh kepada Kitab Allah Al-Quran dan kami mengikuti sabda-sabda Rasulullah yang menjadi sumber kebenaran dan makrifat, dan kami menerima apa yang telah disepakati (ijma’) atasnya pada masa itu, kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu darinya; dan di atasnya kami hidup dan mati. Siapa saja yang menambah pada syari’at Al-Quran ini seberat dzarroh (atom) atau menguranginya atau menolak aqidah ijma‘iyah, maka baginya kutukan Allah, Malaikat dan manusia semuanya.” (kitab Anjami Atam, hal. 144)

SETIAP PENGIKUT AHMADIYAH HARUS MENGAMALKAN AJARAN AL-QUR'AN AL-KARIM

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s memerintahkan kepada pengikutnya untuk mengamalkan ajaran Al-Qur’an sebagaimana sabdanya:

وما أمُرُ الناسَ إلا بالقران وإلى القران وإلى طاعة الربّ الذي إليه يُرجعون

“Aku tidak menyuruh manusia kecuali dengan Al-Qur’an dan kembali kepada Al-Qur’an serta taat kepada Tuhan yang kepada-Nya mereka akan dikembalikan”.(Aina Kamalati Islam, h. 486)

وَبِأَنَّ الْقُرْآنَ الْمَجِيدَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ مَحْفُوظٌ مِنْ تَحْرِيفِ الْمُحَرِّفِينَ وَخَطَأِ الْمُخْطِينَ وَلاَ يُنْسَخُ وَلاَ يَزِيدُ وَلاَ يَنْقُصُ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ وَلاَ يُخَالِفُهُ إِلْهَامُ الْمُلْهَمِينَ الصَّادِقِينَ 

“Dan sungguh Al-Quranul-Majid itu sesudah Rasulullah terpelihara dari perubahan yang dilakukan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al-Quran itu tidak akan dimansukh dan tidak akan bertambah serta berkurang sesudah Rasulullah; dan ilham orang-orang yang diilhami yang benar tidak akan menyalahinya.” (kitab Ainah Kamalati Islam, hal. 21) 

APAKAH SUMBER HUKUM DARI JAMAAH AHMADIYAH? 

Jawab: 

"Sumber pokok yang dipegang oleh jamaah Ahmadiyah adalah AlQur'an dan Sunnah Rasulullah SAW."  Sebagaimana yang dijelaskan oleh pendiri Jama'ah Muslim Ahmadiyah sendiri. 

Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad as bersabda: 

اِشْهَدُوُا إِنَّا نَتَمَسَّكُ بِكِتَابِ اللهِ الْقُرْآنِ وَنَتَّبِعُ أَقْوَالَ رَسُولِ اللهِ مَنْبَعَ الْحَقِّ وَالْعِرْفَانِ وَنَقْبَلُ مَا انْعَقَدَ عَلَيْهِ اْلإِجْمَاعُ بِذَالِكَ الزَّمَانِ لاَنَزِيدُ عَلَيْهَا وَلاَ نَنْقُصُ مِنْهَا وَعَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَمَنْ زَادَ عَلَى هَذِهِ الشَّرِيعَةِ مِثْقَالَ ذَرَّةِ أَوْ نَقَصَ مِنْهَا أَوْ كَفَرَ بِعَقِيدَةٍ إِِجْمَاعِيَّةٍ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ 

“Saksikanlah, bahwa kami berpegang teguh kepada Kitab Allah Al-Quran dan kami mengikuti sabda-sabda Rasulullah yang menjadi sumber kebenaran dan makrifat, dan kami menerima apa yang telah disepakati oleh ijmak pada masa itu, kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu darinya; dan di atasnya kami hidup dan mati. Siapa saja yang menambah pada syari’at Al-Quran ini seberat dzarroh (atum) atau menguranginya atau menolak aqidah ijma‘iyah, maka baginya kutukan Allah, Malaikat dan manusia semuanya.” (Anjami Atam, hal. 144)

Beliau as bersabda: 

وَبِأَنَّ الْقُرْآنَ الْمَجِيدَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ مَحْفُوظٌ مِنْ تَحْرِيفِ الْمُحَرِّفِينَ وَخَطَأِ الْمُخْطِينَ وَلاَ يُنْسَخُ وَلاَ يَزِيدُ وَلاَ يَنْقُصُ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ وَلاَ يُخَالِفُهُ إِلْهَامُ الْمُلْهَمِينَ الصَّادِقِينَ 

“Dan Al-Quranul-Majid itu sesudah Rasulullah terpelihara dari perubahan yang dilakukan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al-Quran itu tidak akan dimansukh dan tidak akan bertambah serta berkurang sesudah Rasulullah; dan ilham orang-orang yang diilhami yang benar tidak akan menyalahinya.” (Ainah Kamalati Islam, hal. 21) 

APAKAH JAMAAH MUSLIM AHMADIYYAH BER-NABI KAN NABI MUHAMMAD SAW? 

Jawab: Ya.

"Nabinya Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad dan Jamaah Ahmadiyyah adalah Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Karena itu merupakan salah satu rukun iman yang harus diimani bagi seorang mukmin."

Bukti kalau Nabi Muḥammad Rasūlullah SAW adalah Nabi diikuti dan dianuti oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dan Jamaahnya. Sebagaimana Beliau as bersabda: 

وَنَعْتَقِدُ أَنَّ رَسُولَنَا خَيْرُ الرُّسُلِ وَأَفْضَلُ الْمُرْسَلِينَ  وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَأَفْضَلُ مِنْ كُلِّ مَنْ يَأْتِي وَخَلاَ 

"Dan kami beri’tiqad bahwa  Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama daripada semua Rasul dan beliau berpangkat Khaataman-Nabyyin dan lebih mulia daripada semua manusia yang akan datang nanti dan yang sudah berlalu”. (Miratu Kamalati Islam, hal. 387). 

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, bersabda: 

"Inti dari kepercayaan kami adalah: Laa ilaaha Illallahu, Muhammad-ur-Rasulullah (Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah) Kepercayaan kami inilah yang menjadi tempat bergantung dalam hidup ini, dan yang padanya, dengan rahmat dan karunia Allah kami berpegang teguh sampai akhir hayat kami.”  (kitab Izalah Auham, 1891, h.137). 

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as menulis, : 

“Wahai kalian yang bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semua yang ada di barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran hakiki di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang terdapat di dalam Al Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan sekarang bertahta diatas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud terpilih Muhammad SAW." ( Kitab Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 141). 

Beliau as bersabda: 

"Dibawah kolong langit ini hanya ada satu Rasul dan satu Kitab. Rasul itu adalah Hadhrat Muhammad SAW yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua Rasul, Kitab tersebut adalah Al Quran yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna.” (kitabRuhani Khazain, vol. 1 hal. 557) 

Bahkan beliau as meyakini bahwa hanya Nabi suci Muḥammad SAW saja yang mampu memberi Syafaat kelak di akherat nanti. Sebagaimana  sabdanya:
                       
"Tidak ada rasul atau juru syafaat untuk seluruh umat manusia, kecuali Muhammad Rasulullah saw. Oleh sebab itu, kembangkanlah kecintaan sejati kepada Nabi yang paling mulia Muhammad saw yang mengagumkan ini, dan jangan mengutamakan yang lain selain beliau saw, sehingga kalian tertulis diantara mereka yang mencapai keselamatan di surga".  [Kitab Ruhani Khazain, vol. 19, h. 16] 

APAKAH AGAMA DARI  JAMA'AH MUSLIM AHMADIYAH? 

Jawab: 

"Agama yang dianut oleh jamaah Ahmadiyah adalah ISLAM sebagaima yg disampaikan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. " 

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, bersabda: 

"Aku hanya beriman kepada islam saja sebagai satu-satunya agama yang benar dan menganggap agama-agama lain sebagai kumpulan berkas kepalsuan. Aku meyakini bahwa dengan beriman kepada agama Islam maka curahan Nur mengalir di seluruh tubuhku. Melalui kecintaan kepada Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah saw, aku telah mencapai tingkat kedekatan samawi yang tinggi, serta terkabulnya doa-doaku yang hanya bisa dicapai oleh seorang pengikut Nabi yang benar Yang Mulia Rasulullah saw dan bukan dengan cara lain. Aku telah diperlihatkan dan diberitahukan serta dijadikan menyadari bahwa hanya Islam saja yang merupakan agama yang benar di dunia. Juga diungkapkan kepadaku bahwa semua yang aku terima itu adalah karena berkat dari mengikuti Hadhrat Khatamul Anbiya Saw". (Kitab Inti Ajaran Islam, hal 27) 

Bahkan untuk meyakinkan kaum muslimin akan keislamannya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sampai menyatakan sumpah. Sebagaimana pernyataan beliau as: 

"AKU sampaikan kepada khalayak umum bahwa aku BERSUMPAH atas nama Allah SWT bahwa AKU BUKANLAH KAFIR. Laa ilaaha illallaahu Muḥammadur Rasūlullah adalah akidahku dan aku meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah Khaatamun Nabiyyin dengan ayat Alqur'an berikut yang berbunyi: 

ولكن رسول الله و خاتم النبيين (سورة الأحزاب: ٤١) 

Aku bersumpah atas Shahih nya keimanan ini sebagaimana shahihnya nama-nama suci Allah SWT begitu juga huruf-huruf AlQuran alkarim dan kesempurnaan Hadhrat Rasūlullah SAW dalam pandangan Allah SWT. akidahku tidak ada yang bertentangan dengan firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW. jika ada yang beranggapan demikian itu adalah kesalahan fahamannya sendiri. Orang.  menganggapku kafir dan dia tidak bertaubat dari perbuatan itu, maka ingatlah..! bahwa setelah kematiannya nanti dia akan ditanyai (mempertanyakan nya)." (Karamatus shadiqiin, Ruhani Khazain jilid 7, hal. 67) 

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad juga menyatakan dengan sumpah kalau beliau as adalah Muslim pengikut nabi Muhammad SAW.  Sebagaimana beliau as Bersabda: 

"Aku katakan dengan sebenar-benarnya, dan aku katakan dengan bersumpah demi Tuhan, bahwa aku dan Jemaatku adalah Muslim, dan Jemaatku mengimani Al-Quran Karim dan Nabi Muhammad saw. sebagaimana seharusnya seorang Muslim sejati wajib mengimaninya. Aku meyakini bahwa satu zarah saja melangkah keluar dari Islam merupakan penyebab kebinasaan. Dan inilah keyakinanku, bahwa seberapa besar pun karunia dan berkat yang dapat seseorang peroleh, dan seberapa pun taqarub ilahiyah (kedekatan pada Allah) yang bisa ia dapatkan, semua itu dapat diperoleh semata-mata hanya karena ketaatan sejati dan kecintaan sempurna kepada Nabi Muhammad saw.. Tanpa mengikuti beliausaw., itu semua adalah mustahil. Selain beliau saw. tidak ada lagi jalan kebaikan saat ini." (pidato Ludhiana, h. 17) 

Bahkan untuk meyakinkan kepada umat Islam, bahwa beliau adalah seorang mukmin, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dalam bukunya menulis sebagai betikut: 

فَاعْلَمْ يَاأَخِي إِنَّا آمَنَّا بِاللهِ رَبَّا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَآمَنَّا بِأَنَّه‘ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَآمَنَّا بِالْفُرْقَانِ أَنَّه‘ مِنَ اللهِ الرَّحْمَنِ وَلاَ نَقْبَلُ كُلَّ مَا يُعَارِضُ الْفُرْقَانَ وَيُخَالِفُ بَيَانَه‘ وَمُحْكَمَاتِهِ وَقَصَصَه‘ وَلَوْ كَانَ أَمْرًا عَقْلِيًا أَوْ كَانَ مِنَ اْلآثَارِ الَّتِي سَمَّاهَا أَهْلُ الْحَدِيثِ حَدِيثًا أَوْ كَانَ مِنْ أَقْوَالِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ 

"Ketahuilah wahai saudaraku, kami beriman kepada Allah, sebagai Tuhan dan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan kami beriman bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Khaatamun-Nabiyyiin, kami beriman kepada Al-Quran bahwa itu dari Allah Yang Pengasih dan kami tidak menerima apa saja yang menyalahi Al-Furqan (Al-Quran) dan keterangan-keterangan, dan hukum-hukumnya, kisah-kisahnya meskipun perkara itu timbul dari akal manusia atau dari riwayat-riwayat yang dinamakan Hadis oleh para Ahli Hadis atau dari kata-kata sahabat dan tabi’in." (Tuhfah Al-Baghdad, hal. 23). 

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, : 

“Wahai kalian yang bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semua yang ada di barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran hakiki di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang terdapat di dalam Al Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan sekarang bertahta diatas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud terpilih Muhammad SAW. ( Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 141). 

Beliau as bersabda: 

"Dibawah kolong langit ini hanya ada satu Rasul dan satu Kitab. Rasul itu adalah Hadhrat Muhammad SAW yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua Rasul dan Kitab tersebut adalah Al Quran yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna.”  (kitab Ruhani Khazain, vol. 1 hal. 557) 

Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad as menjelaskan: 

"Semenjak awal telah aku jelaskan bahwa menurutku, sedikit saja berpaling dari mengikuti Al-Quran karim dan Rasulullah saw adalah merupakan keingkaran. Keyakinanku adalah, barangsiapa yang meniggalkannya maka ia adalah ahli neraka. Keyakinan ini bukan hanya dalam ceramah-ceramah semata, bahkan aku terangkan dengan teramat jelas dalam hampir 60 buah tulisanku, dan hal ini siang malam menjadi pemikiran dan perhatianku". (Pidato Ludhiana hal 15) 

Beliau menyatakan:

"Aku katakan dengan sebenar-benarnya, dan aku katakan dengan bersumpah demi Tuhan, bahwa aku dan Jemaatku adalah Muslim, dan Jemaatku mengimani Al-Quran Karim dan Nabi Muhammad saw. sebagaimana seharusnya seorang Muslim sejati wajib mengimaninya. Aku meyakini bahwa satu zarah saja melangkah keluar dari Islam merupakan penyebab kebinasaan. 

Dan inilah keyakinanku, bahwa seberapa besar pun karunia dan berkat yang dapat seseorang peroleh, dan seberapa pun taqarub ilahiyah (kedekatan pada Allah) yang bisa ia dapatkan, semua itu dapat diperoleh semata-mata hanya karena ketaatan sejati dan kecintaan sempurna kepada Nabi Muhammad saw. Tanpa mengikuti beliau saw, itu semua adalah mustahil. Selain beliau saw tidak ada lagi jalan kebaikan saat ini". (Pidato Ludhiana hal 17)

Mengikrarkan Dua Kalimat Syahadat Merupakan Tanda Keislaman Seseorang. 

Imam Nawawi dalam Raudhah At-Tolibin menyatakan: 

وقال الشافعي في موضع إذا أتى بالشهادتين صار مسلما 

Artinya: Imam Syafi'i berkata, "Apabila seseorang mengucapkan dua kalimah syahadat, maka ia menjadi muslim." 

APA KITAB SUCI YANG DIPEGANG OLEH JAMA'AH AHMADIYAH? 

Jawab : 

"Kitab Suci bagi Jamaah Muslim Ahmadiyyah adalah Al-Qur'an Al-karim, yang berisi 30 Juz, 114 surat dan 6666 ayat, yang diawali dari Surah Al-fatihah dan diakhiri Surah An-Nas."

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Selalu Mengajarkan dan memerintahkan kepada Jama'ah nya agar selalu Mengamalkan ajaran dari AlQur'an. Sebagaimana beliau as Bersabda: 
                      
"Nasehat yang yang amat penting lagi ialah agar saudara jangan menjadikan Qur’an Suci sebagai Kitab yang ditinggalkan, karena di dalam Qur’an Suci terletak kehidupan saudara. Barangsiapa menghormati Qur’an Suci, ia akan dihormati di langit. 

Barangsiapa menjunjung Qur’an Suci di atas yang lain, ia akan diberi keistimewaan di langit. Tak ada Kitab yang teramat penting bagi manusia di seluruh muka bumi ini selain Qur’an Suci, dan tak ada Rasul yang lebih mulia dariapda Nabi Suci Muhammad saw. Maka dari itu berjuanglah agar saudara menikmati kecintaan Nabi Suci Muhammad Saw. 

Janganlah saudara mencintai orang lain melebihi cinta saudara terhadap Nabi Suci Muhammad saw sehingga saudara akan masuk sorga sebagai orang yang diselamatkan. 

Hendaklah diingat bahwa keselamatan itu bukan hal yang terjadi sesudah mati. Keselamatan sejati itu harus diusahakan di dunia ini. Siapakah yang akan diselamatkan? Ialah orang yang memelihara iman yang kuat bahwa Allah Yang Maha Hidup itu kenyataan dan bahwa Nabi Muhammad saw. itu syafî’ (yang mensyafa’ati) antara Allah dan manusia, dan bahwa di bawah kolong langit tak ada orang yang derajatnya menyamai beliau saw, dan tak ada Kitab yang menyamai Qur’an Suci. Dan bahwa tak ada orang lain selain Nabi Suci yang Allah menghendaki agar terus hidup sampai akhir zaman. (Buku Ajaranku) 

Beliau as Bersabda: 

"AlQuran al-Majid merupakan sebuah kitab yang paling Kamil dan paling sempurna. Allah Ta'ala melihat bahwa dikalangan umat manusia sudah terdapat akal pikiran untuk meraih ilmu2 sejati itu, maka Dia pun menurunkan sebuah kitab Al Quran ini". (Malfuzat jilid 4, hal. 380) 

Beliau as bersabda: 

"Alangkah sayangnya orang-orang yg lebih mengutamakan sesuatu selain AlQuran. Sumber segala kebahagiaan dan keselamatan bagimu terdapat di dalam Al-Quran. Tiada sebuah pun keperluan agamamu yg tidak terdapat di dalam AlQuran" (Bahtera Nuh hal. 41) 

Beliau as bersabda: 

"Di bawah kolong langit ini tidak ada sebuah Kitab pun yg secara langsung dapat memberi petunjuk kepadamu kecuali Al-Qur'an. Allah Ta'ala telah berkenan berbuat banyak kebajikan kepadamu dgn menganugerahkan kepadamu sebuah kitab Suci seperti AlQuran". (kitab Bahtera Nuh hal. 41)
Beliau as bersabda: 

" Adalah bagian dari keimanan kami bahwa kitab dan syariat yang terakhir adalah Al-Quran dan setelah itu sampai dengan Hari Kiamat tidak akan ada lagi Nabi yang membawa syariat baru, tidak juga ada penerima wahyu yang bukan dari pengikut Hadhrat Rasulullah s.a.w. Pintu itu sudah ditutup sampai dengan Hari Penghisaban, namun pintu wahyu sebagai pengikut dari Rasulullah s.a.w. akan selalu terbuka. Wahyu seperti itu tidak akan pernah dihentikan, tetapi kenabian yang membawa syariat baru atau pun kenabian yang berdiri sendiri sudah ditutup dan tidak akan dibukakan lagi sampai dengan Hari Kiamat. Ia yang mengatakan bahwa ia bukan pengikut Nabi Suci Muhammad s.a.w. dan mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi yang membawa syariat, atau seorang nabi yang tidak membawa syariat, adalah sama dengan seorang yang hanyut oleh banjir dahsyat dimana ia akan terlempar dan tidak akan selamat sampai ia mati." (Review debat di antara Muhammad Hussain dari Batala dan Abdullah Chakralvi, Qadian, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 213, London, 1984). 

Beliau as bersabda: 

"Tidak ada agama bagi kami kecuali agama Islam dan tidak ada Kitab bagi kami kecuali Al-Quran Kitab Allah Yang Maha Tahu. Tidak ada Nabi panutan bagi kami kecuali Nabi Muhammad, Khatamunnabiyyin saw”. (Kitab Anjami Atham, h. 143) 

APAKAH JAMAAH AHMADIYAH BERPEGANG PADA ULAMA SHALAFUSH SHOLIHIN ? 

Jawab: Ya. 

"Jamaah Ahmadiyah juga berpegang pada pendapat ulama shalafush Sholihin. Sebagaimana Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifah/Pemimpin Ahmadiyyah Internasional) menyatakan dalam khutbahnya menegaskan: 

"Menerima semua hal yang secara kepercayaan dan secara amalan para SALAFUSH SHAALIHIIN dan AHLUS SUNNAH adalah suatu kewajiban. kami hadapkan langit dan bumi sebagai saksi bahwa itulah MAZHAB kami". (Ayyamush shulh, ruhani khazain jilid 3 Hln 323/Khotbah jum'at tanggal 30 maret 2011.Vol. Vl, Nomor 26 tgl 15 ihsan 1391 HS / juni 2012, hal. 8) 

LARANGAN MENGHAKIMI ISI DALAM HATI

Ada satu pelajaran dari kisah Rasulullah SAW dalam menyikapi orang yang mengucapkan kalimat syahadat yang dibunuh oleh sahabat Nabi: 

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari seorang sahabat mulia yang juga merupakan cucu angkat kesayangan Rasulullah SAW, yaitu Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: 

بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ قَالَ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ قَالَ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ قَالَ فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ لِي يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا قَالَ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ 

Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: “Rasulullah SAW mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Marga Huraqah, bagian dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami mengalahkan mereka. Saya dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba ia mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ (Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya. Adapun saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.” 

Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku: 

يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَه ُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ « قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

“Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96)
Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ «. قَالَ قُلْت ُ يَا رَسُولَاللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ » أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ «. فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

“Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” (HR. Muslim no. 96)

Penjelasan: 

Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إني لم أومر أن أنقب قلوب الناس ولا أشق بطونهم 

“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk memeriksa isi hati manusia dan membelah perut mereka” (HR Al-Bukhari no 4351) 

LARANGAN MENGATAKAN KAFIR KEPADA ORANG YANG MENGIKRARKAN DUA KALIMAT SYAHADAT DAN MELAKSANAKAN RUKUN ISLAM DAN IMAN. 

Rasulullah ﷺ bersabda: 

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ) 

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : 

“Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: 

,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi (disembah) dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,” Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya." 

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,: 

”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi: 

“Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: 

”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu berkata lagi : 

“Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,: 

”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.” Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab: ,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no.8] 

Dari Abu ‘Abdillah Thariq bin Asy-yam, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِن دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ 

“Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari setiap yang diibadahi selain Allah, maka harta serta darahnya haram. Sedangkan hisabnya adalah terserah kepada Allah.” (HR. Muslim no. 23) 

Jadi Menurut hadits Rasulullah ﷺ orang yang melaksanakan ke lima rukun Islam dan iman itu adalah seorang muslim dan kita tidak boleh mengkafirkannya hanya karena berbeda Mazhab. 

Diriwayatkan dari Abu Dzar r.a dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: 

لا يرمى  رجل رجلا با لفسوق ولا يرميه با لكفر الا ارتدت عليه ان لم يكن صاحبه كذا لك 

“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan ataupun kekafiran, kecuali akan kembali kepada yang menuduh, jika yang dituduh tadi tidak demikian keadaannya”.(HR. Bukhari dan Muslim) 

Beliau ﷺ bersabda: 

من دعا رجلا  با لكفر او قال عدوالله  وليس كذالك  الا حار عليه 

“Barang siapa memanggil atau menyebut seseorang sebagai kafir atau musuh Allah padahal tidak demikian, maka ucapannya itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya (menuduhnya) itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Menurut Nabi suci Muḥammad ﷺ Seseorang dikatakan muslim apabila ia mengerjakan sholat sebagaimana yang telah beliau ﷺ ajarkan dan ia menghadapkan wajahnya ke arah kiblat (Ka'bah) dan ia juga memakan dari binatang halal yang disembelih sesama Muslim, maka orang tersebut adalah Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda: 

من صلى صلوتنا واستقبل قبلتنا واكل ذبيحتنا فذالك 
المسلم

“Barangsiapa yang shalat seperti shalatnya kami, dan menghadapkan wajahnya ke kiblat kami (Kabah), dan makan makanan yang kami sembelih, maka dia itu adalah muslim”. (HR. Bukhari, kitabus shalat jld.1, hal. 56)

LARANGAN MENGATAKAN KAFIR DAN MUNAFIK KEPADA AHLUL KIBLAT. 

Imam Abul Hasan al-Asy'ari, (w. 330 H) di Baghdad – Pendiri Mazhab Asy‘ariyyah – yang sangat dihormati di Nusantara, menjelang kewafatannya, beliau memanggil salah seorang sahabatnya, Zahir bin Ahmad as-Sarkhasi, untuk menemuinya. Mereka berdua pun bertemu. Dalam pertemuan tersebut, Imam al-Asy‘ari berpesan kepada karibnya itu: 

“Bersaksilah untukku bahwa Aku tidak pernah mengafirkan seorangpun di antara ahli kiblat (yakni, setiap muslim yang bersembahyang dengan menghadap Ka‘bah di Mekkah al-Mukarramah). Sebab, semua orang mengarah untuk menyembah Tuhan yang sama. Apa yang terjadi di antara mereka pada hakikatnya hanyalah perselisihan mengenai beberapa kata.” 

Mengacu pada perkataan Imam al-Asy‘ari ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah tidak patut dikafirkan, apalagi oleh orang-orang yang mengaku bermazhab Asy‘ari, karena para Muslim Ahmadi melaksanakan salat lima waktu tiap harinya dengan menghadapkan wajah ke arah kiblat, yakni Baitullah di Tanah Suci Mekkah. (Sumber: Syamsuddin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi, _Siyar A‘lam an-Nubala_, vol. 15 (Beirut: Mu’assasat ar-Risalah, 1996 M/1417 H), hlm. 88) 

Imam al-Ghazali juga telah mengingatkan kita semua dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah. Beliau Rh bersabda: 

‎ولا تقطع بشهادتك على أحد من أهل القبلة بشرك أو كفر أو نفاق؛ فإن المطلع على السرائر هو الله تعالى، فلا تدخل بين العباد وبين الله تعالى، واعلم أنك يوم القيامة لا يقال لك: لِم لمَ تلعن فلانا، ولم سكت عنه؟ بل لو لم تعلن ابليس طول عمرك، ولم تشغل لسانك بذكره لم تسأل عنه ولم تطالب به يوم القيامة. وإذا لعنت أحدا من خلق الله تعالى طولبت به، 

“Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : 'mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?' Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)" 

Syeikh Abdul Qadir al-Jilani rh juga melarang mengatakan Kafir kepada Ahlul Kiblat. 

 Syeikh Abdul Qadir Jilani Rh, bersabda: 

( الـسـادسـة ) أن لا يقطع الشهادة على أحد من أهل القبلة بشرك و لا كفر و لا نفاق، فإنه أقرب للرحمة، و أعلى في الدرجة و هي تمام السنة، و أبعد عن الدخول في علم الله، و أبعد من مقت الله و أقرب إلى رضاء الله تعالى و رحمته، فإنه باب شريف كريم على الله تعالى يورث العبد الرحمة للخلق أجمعين. 

"Janganlah seorang hamba itu mengatakan bahwa orang yang mengikuti kiblat yang sama, yaitu orang yang beragama Islam itu adalah musyrik, munafik atau kafir. Jika kamu tidak mengkafirkan, memunafikkan atau memusyrikkan seseorang, maka itu menunjukkan bahwa kamu mengikuti sunnah Nabi besar Muhammad SAW, menjauhkan diri kamu dari berbuat kekacauan dalam perkara yang hanya diketahui oleh Allah saja dan menjauhkan diri dari siksaan-Nya, serta Allah akan mendekatkan kamu kepada rahmat dan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, ini adalah pintu yang mulia untuk menuju Allah SWT. Yang mengkaruniakan sifat ini kepada hamba-hamba-Nya yang beriman sebagai balasan atas kasih sayangnya kepada semua orang." (Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Futuhul Ghaib, Risalah ke 78) 

Kesimpulan 

Hukumilah atau nilailah seseorang dari lahiriyahnya. Karena kita tak bisa menelusuri dalam hatinya. Kita bisa menuduh orang tidak ikhlas atau riya’, karena seperti itu butuh penglihatan dalam hati. Menerawang hati seseorang sungguh amat sulit dilakukan. 

Imam Nawawi rahimahullah membawakan bab dalam Riyadhus Sholihin: 

نحن نحكم الظواهر والله يتولّى السرائر

Menjalankan hukum-hukum terhadap manusia menurut lahiriyahnya. Sedangkan keadaan hati mereka diserahkan kepada Allah Ta’ala.” []Wallahu'alam bishawab. 

والسلام على من اتبع الهدى 

“Keselamatan dan kedamaian atas mereka yang mengikuti petunjuk (Allah dan Rasul-Nya)”.












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluruskan Kekeliruan Fatwa Sesat MUI Terhadap Muslim Ahmadiyyah

Makna Dajjal Bermata Satu dalam Persepektif Ahmadiyah: Tafsir Alegoris atas Hadits Nabi SAW

Studi Kritis Terhadap Tafsir Finalitas Kenabian